Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Rahasia Nurul terhadap Tommy


__ADS_3

Nurul baru saja tanpa sengaja mengungkapkan kejujurannya.  Hal pertama yang dia ungkapkan adalah kepolosannya mengenai bagaimana sebuah keperawanan terenggut, Nurul sangat polos mengenai hal itu.  Hal kedua, ia mencintai Tommy, ia ingin Tommy mencintainya.  Berbeda halnya dengan karakter Maria yang hanya mengejar kesenangan dalam bercinta.  Seorang Maria tidak terlalu mempermasalahkan perasaan cinta.


Hal tersebut membuat Tommy menyadari sesuatu.  “Sebenarnya siapa dirimu?” ucap Tommy ketika mencegah Nurul menuju untuk meninggalkan Tommy.  Langkah Nurul terhenti.  “Apa maksudmu?  Aku adalah Maria,” ucap Nurul.  Tommy pun membalikkan tubuh Nurul dengan cepat, mencengkeram kedua lengan Nurul.


“Tatap aku… “ ucap Tommy dengan tatapan yang curiga.  Nurul ragu-ragu mengalihkan pandangannya.  Tommy dengan paksa mendongakkan wajah Nurul, menarik dagunya hingga ia tertengadah lalu menatap mata Tommy.  Nurul pun memberanikan diri menatap mata Tommy.


“Siapa sebenarnya dirimu?  Aku yakin ada yang sedang kamu sembunyikan!” ucap Tommy dengan nada suara yang pelan.  “Jangan-jangan benar, kamu adalah Nurul,” lanjutnya.  


Nurul tersentak, ia tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.  Tommy menangkapnya dengan tepat, menangkap kebohongan yang sedang ‘Maria’ sembunyikan.  Nurul menarik wajahnya, mengelak cengkeraman tangan Tommy di dagunya.  Ia membuang wajahnya ke samping.


“Benar! Kamu adalah Nurul!” bentaknya geram.  Nurul menahan gumpalan air mata.  Belum ada sepatah kata yang ia keluarkan.  Bibirnya gemetar.  Ia berharap penyamaran ini tidak akan hancur berantakan.


“Apa yang telah kamu lakukan, Nurul?  Kenapa?  Kenapa kamu melakukan ini?” tanya Tommy dengan memelankan nada suaranya.  Ia begitu geram, tapi ia ingin membujuk Nurul agar angkat bicara.


“Aku mohon… “ ucap Nurul memelas.  “Apa yang kamu lakukan, Nurul Sayang?” ucap Tommy mendekap tubuh Nurul dengan lembut.  Mencoba membuatnya tenang.  “Percayalah padaku.  Aku peduli kepadamu, Nurul,” ucap Tommy.  “Aku ga butuh belas kasihanmu, Tommy,” ucap Nurul.


“Bukan, bukan rasa belas kasihan!” ucap Tommy.  “Lalu apa?  Sekarang Maria sudah tidak ada bukan?  Tinggal seorang gadis kampung yang sangat tidak menarik bagimu.  Apa lagi kalau bukan bersisa rasa kasihan?” ucap Nurul.

__ADS_1


“Sejak pertemuan pertama kita di dalam hutan itu, aku memang sudah tertarik sama kamu, Nurul.  Kamu tahu?  Semenjak itu aku jarang berhubungan dengan perempuan-perempuan lain.  Pikiranku selalu mengarah kepadamu.  Kamu begitu berbeda bagiku,” jelas Tommy.


Nurul merasa tersanjung dengan pengakuan itu.  Tapi, Nurul masih belum bisa percaya kalau seorang Tommy menaruh hati kepada dirinya yang tidak punya nilai apapun sebagai seorang perempuan yang layak disukai, jauh dari kata memikat.  Nurul hanyalah seorang perempuan yang membosankan.


“Kalau benar apa yang kamu katakan barusan, lalu apa yang udah kamu lakukan dengan Maria?” tanya Nurul.  Maria itu kamu, kamu itu Maria!  Sejak awal aku sudah curiga dengan hal itu.  Tapi, aku rasa diri Nurul punya dua kepribadian hingga menjadi seorang Maria yang sangat memikat.  Dua karakter dalam satu orang, aku merasa kamu begitu lengkap,” ucap Tommy.


“Nurul, kamu telah menyiksaku.  Aku selalu dalam kebingungan semacam ini.  Tapi, Maria berhasil membuatku melakukannya.  Aku minta maaf kalau hal itu sudah menyakitimu, Nurul,” ucap Tommy.


Nurul terdiam.  Beberapa saat kemudian ia melepaskan dekapan Tommy.  “Biarkan aku pergi, Tommy.  Biarkan aku menjadi Maria.  Aku mohon, jangan katakan ini kepada siapapun,” ucap Nurul.


“Tidak sebelum kamu mengatakan apa yang sedang terjadi!  Mengapa kamu melakukan ini?” ucap Tommy.  “Aku ga bisa mengatakannya, Tommy.  Aku ga bisa!  Kamu ga bisa memaksaku, atau semua kehidupanku akan berakhir di tanganmu,” ucap Nurul.


“Aku mohon biarkan aku pergi, Tommy,” mohon Nurul sekali lagi.  “Nurul!” bentak Tommy.  “Kamu mau aku berteriak di sini?” ancam Nurul.  Ini adalah ruangan di dalam gedung galeri, ada banyak pengunjung di sini.  Ini bukan mobil sewaan Tommy yang berhenti di tengah hutan sepi.  Teriakan seorang perempuan akan membuatnya ditahan, orang-orang akan mendengarnya.


 “Baiklah, Nurul.  Aku akan membiarkan kamu pergi, tapi aku tak akan melepaskanmu.  Aku akan mencari tahu apa yang membuat kamu melakukan penyamaran ini,” ucap Tommy.  Melaukan permohonan berulang-ulang Nurul pikir tidak akan berhasil.  Ia ingin segera pergi dari tempat ini.


“Yang hanya perlu kamu ingat, Tommy.  Apabila ada orang lain yang tahu tentang diriku selain kamu, berarti itu adalah ulahmu.  Lalu kehidupanku akan berakhir.  Secara tidak langsung berarti kamu adalah seorang pembunuh,” ucap Nurul sambil memunggungi Tommy.  Tangan Nurul sudah memegang gagang pintu untuk keluar.  Nurul pun mengetuk pintu itu agar petugas membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


Tommy membiarkannya pergi.  Ia mematung, otak Tommy seakan berasap, pikirannya begitu berkecamuk.


“Sayang… kamu dari mana saja?” ucap Tante Lupita menyambutnya.  “Ma, bisakah kita pulang sekarang?  Kepala Maria sakit,” keluh Nurul.  “Apa kamu demam, sayang?” ucap Tante Lupita sambil melekatkan punggung tangannya di dahi Nurul.


Rudi melihat sesuatu yang mungkin akan mencurigakan.  “Permisi, Nona.  Di punggungmu ada laba-laba,” ucap Rudi.  Rudi lalu langsung mengibaskan sebuah sapu tangan yang ia kantongi ke punggung Nurul.  Tanpa sengaja Tante Lupita melihatnya.  Sebenarnya itu bukan karena seekor laba-laba, melainkan debu.  Rudi ingin menghilangkan jejak debu di pakaian belakang Nurul.  Tapi, Tante Lupita pura-pura tidak mengetahuinya.


Tante Lupita pun pamit kepada Rudi dan meninggalkan galeri itu bersama Nurul.  Tanpa sengaja saat Tante Lupita ada di pintu keluar dan membalikkan tubuhnya untuk berkata sesuatu kepada Rudi, ia menangkap sekelibat bayangan dari jauh.  Itu adalah Tommy.  Tommy tampak berjalan begitu cepat sambil celingukan ke sekitar.


Hal yang mencurigakan itu membuat ia menatap Nurul sebentar saja.  Lagi-lagi Tante Lupita tidak mengatakan apapun, ia hanya tersenyum menutupinya.  


“Terima kasih, ya, Nak Rudi.  Tempat ini sangat luar biasa,” ucap Tante Lupita untuk terakhir kalinya. 


Sepanjang perjalanan di dalam mobil Nurul hanya diam saja.  Wajahnya begitu pucat.  Jelas saja ia sedang menyimpan isi pikiran yang berkecamuk, perasaan yang tak menentu.  Nurul ingin bisa mati saat ini juga agar beban seberat ini tak lagi ia rasakan.


“Kita ke dokter, Sayang?” ucap Tante Lupita memecah keheningan di antara mereka.  “Ga perlu, Ma.  Sepertinya aku cuma mau datang bulan seperti biasa aja,” ucap Nurul.  “Oh, baiklah.  Sekarang lebih baik kamu istirahat aja sambil nunggu sampai di rumah,” ucap Tante Lupita.


*

__ADS_1


Waktu berganti.  Nurul dan Tante Lupita sudah di rumah sejak beberapa jam yang lalu.  Tante Lupita mendatangi kamar Nurul.  Nurul pun mempersilahkannya masuk.  “Ada yang ingin Mama tanyakan sama kamu,” ucap Tante Lupita.


Itu adalah sebuah kalimat pembuka yang membuat Nurul ketar-ketir.  Apakah Tante Lupita akan menanyakan menghilangnya Nurul tadi siang di galeri?  Nurul baru saja membongkar rahasianya kepada Tommy, apakah kali ini ia juga tidak berhasil merahasiakan sebuah kejadian memalukan yang dilakukannya bersama Tommy?  Nurul masih terlalu gugup dengan kejadian tadi siang.


__ADS_2