
Nurul begitu terpana dengan bayangan dirinya di depan cermin seusai di-make over. Nurul sampai lupa menyebutkan zikir yang biasa ia ucapkan sangking terpananya. “Masya Allah,” kata itu tidak diucapkannya.
Nurul lalu tersadar dari lamunannya ketika mendengar Tante Lupita dan temannya mengoceh-ngoceh berisik di dekatnya. “Apa ini udah selesai, Tante?” tanya Nurul sambil memandang kedua wanita sosialita itu dari pantulan cermin. “Tentu saja sudah, Sayang,” ucap teman Tante Lupita. “Gimana, kamu suka ga?” tanya Tante Lupita dengan mata berbinar. “Emh… Tante, tapi pashminanya belum dipakai. Nurul belum mahir gimana cara pakai pashmina,” jawab Nurul lalu bergantian memandangi kedua wanita itu.
Yang sering Nurul lihat, gadis-gadis memakai pashmina dengan berbagai gaya. Nurul selama ini hanya bisa menggunakan kerudung tipe bergo yang langsung pakai dengan tali yang melingkari kepalanya, atau kerudung segitiga yang pemakaiannya cukup dikaitkan di bagian dagunya saja dengan peniti. Kedua wanita sosialita itu berpandangan. “Tuh, kan… bener aku bilang.” Sorot mata Tante Lupita seakan berbicara begitu kepada temannya. Temannya itu pun melemparkan senyum masam kepada Tante Lupita.
“Iya, Cantik… Tante yang pasangkan pashminanya,” ucap teman Tante Lupita yang dengan cekatan meraih sehelai kain panjang yang disebut pashmina itu. Rambut indah Nurul pun terpaksa diikat dan digulung. “Duh, sayang banget rambut cantik-cantik gini,” gumam wanita itu. Lagi-lagi Tante Lupita mencegahnya meneruskan gumamannya, “Ck… “ lalu memelototi temannya itu.
Ketika wanita itu hendak menutupi kepala Nurul, Nurul protes. “Loh, ciputnya mana? Tadi kita ga beli ciput ya, Tante? Pakai ciput Nurul yang tadi aja,” ucapnya sembari hampir bangkit untuk meraih barang-barangnya. “Eh… “ teman Tante Lupita menahannya agar tetap duduk. “Biar cantik, Sayang. Ini, jidatnya diperlihatkan ya? Sayang loh make up-nya nanti habis kena ciput,” ucap wanita itu.
“Ga bisa, Tante. Nanti rambut Nurul jatuh-jatuh,” ucap Nurul. Tante Lupita pun mengangguk kepada temannya agar melakukan apa yang Nurul pinta. Pemasangan pashmina pun diteruskan. Hasilnya, Nurul begitu berbeda. Sedikit balutan di bagian leher dan dadanya oleh sisa kain pashmina membuat bahunya berbentuk. Tidak lagibtertutupi seperti biasanya. Sementara, sisa ujung pashmina lainnya dijulurkan untuk menutupi dada Nurul. Nurul tidak bisa berkelit tentang batasan untuk menutupi dadanya, lagi pula bagi Nurul mode ini tidak begitu buruk baginya.
Penampilan Nurul pun berubah. Masih dengan berpakaian muslimah, tapi kali ini lebih bergaya. Ia menggunakan celana kulot dan cardigan longgar yang sifat bahannya lemas terjatuh, tidak kaku seperti pakaian-pakaian Nurul biasanya. Tubuh Nurul terlihat lebih tinggi semampai dengan sedikit lekukan yang indah. Ditambah lagi dengan sepatu dan aksesoris berupa tas tangan bermerek.
__ADS_1
Usai melakukan perubahan pada penampilan Nurul yang kini jadi lebih bergaya, Tante Lupita pun membawa Nurul makan siang di tempat yang instagramable. Tempat itu sangat bagus untuk berfoto. Berulang-ulang Tante Lupita mengajaknya berfoto selfie bersama. Nurul yang usianya lebih muda justru diajari Tante Lupita untuk bergaya di depan kamera.
Tidak bisa dipungkiri penampilan Tante Lupita memang trendi, tidak kalah dengan gaya anak muda yang kekinian. Sikap Nurul dan Tante Lupita saat berfoto selfie bersama membuat orang-orang yang melihatnya mengukirkan senyum mereka. Mereka benar-benar selayaknya pasangan ibu dan anak yang menarik, bahkan sebagian orang mengira mereka adalah kakak-adik.
Sambil menikmati makanan mereka yang juga menarik untuk difoto, Tante Lupita menunjukkan foto-foto mereka kepada Nurul. Tanpa mengunggahnya ke media sosial tentunya, untuk menghindari terbongkarnya penyamaran Nurul oleh orang lain. Nurul sangat menyukai foto-foto itu. Di situ Nurul masih terlihat malu-malu untuk bergaya.
Ketika Tante Lupita hendak mengirimkan foto-fotonya itu kepada Nurul, Nurul mengeluarkan ponselnya. Sebuah ponsel keluaran lama. Tante Lupita pun mengeluhkan ponsel Nurul yang sudah ketinggalan jaman itu. Ia berjanji setelah ini akan membelikan Nurul ponsel terbaru.
Tante Lupita juga meracuni Nurul dengan berbagai sosial media. “Ih, malu, Ma, kalau joget-joget gitu,” ucap Nurul menonton video-video orang lain di ponsel Tante Lupita. “Ini lucu-lucuan aja, Sayang. Jangan yang ini deh, terlalu heboh. Nah, ini ni. Tetap bisa anggun, kan?” ucap Tante Lupita menunjukkan video lainnya kepada Nurul.
Tante Lupita mulai masuk ke ranah kereligiusan Nurul untuk membuatnya dapat berbaur. Semula Nurul mengerutkan dahinya, tapi bukan saat yang tepat untuk mendebat wanita ini mengenai prinsip kereligiusannya. Nurul melunak dan menjawab bujukan Tante Lupita dengan sikap mengikuti gaya tangan yang sering ia lihat di sosial media.
“Itu tandanya gini, love kecil. Telunjuk sama jempol disilangin gini. Sarangheooo… “ ucap Tante Lupita lalu menunjukkan gaya tangan itu di depan wajahnya. Mereka pun berada di suasana yang begitu ceria. Tante Lupita terkekeh dengan cara Nurul bergaya dan Nurul sendiri pun ikut tertawa. Kedua perempuan cantik ini benar-benar terlihat manis. Sebuah kebahagiaan bagi orang-orang di sekitar mereka yang tanpa sengaja memandangi mereka dengan asik.
__ADS_1
*
Usai bersenang-senang dengan Tante Lupita selama seharian, mereka pun pulang. Tidak seperti biasanya, Tuan Sudarsono ada di rumah. Biasanya ia begitu sibuk dengan urusan bisnisnya dan jarang menempati rumahnya sendiri.
“Asik banget ya kalian. Jangan lupa kalau keberadaan Nurul disini untuk melakukan misi. Jangan terlalu lama bermimpinya, Nurul! Sepertinya kamu cukup betah jadi putri semalam, sampai lupa dengan misimu,” ucap Tuan Sudarsono.
“Mas! Datang-datang udah ngoceh gitu. Aku nih lagi membantu Nurul biar bisa berbaur. Lihat aja nih, dia udah berubah kan sekarang?” tegur Tante Lupita. “Saya sudah siap, Om. Om tenang saja, peran itu baru saja akan saya mainkan,” ucap Nurul dengan tatapan nanar kepada Tuan Sudarsono.
“Kita lihat sampai dimana ucapanmu itu benar-benar kamu lakukan!” ucap Tuan Sudarsono. “Sayang, lebih baik kamu istirahat sekarang. Kamu perlu energi untuk melakukan aktivitas besok. Jangan sampai terkuras dengan sia-sia di sini,” ucap Tante Lupita ketus dengan melirik ke kakaknya yang menyebalkan itu. Nurul pun segera pergi dari hadapan Tuan Sudarsono. Kehadiran lelaki itu membuat mood Nurul tiba-tiba berubah. Lelaki angkuh itu memang tidak pernah terlihat menyenangkan bagi orang-orang di sekitarnya.
“Mas! Kamu ga boleh menekan Nurul seperti itu!” “Halah! Aku sudah tidak sabar! Dia lebih terlihat hanya mengambil keuntungan… “ Sambil berjalan menjauh, Nurul masih dapat mendengarkan perdebatan di antara Tante Lupita dan Tuan Sudarsono. “Aku akan segera beraksi! Lihat saja! Lihat saja!” gumam Nurul dengan berapi-api sambil mempercepat langkahnya.
*
__ADS_1
Malam itu juga mood Nurul membuatnya sulit tidur. Ia berkeinginan untuk segera menyelesaikan penyamarannya itu. Bagaimana bisa cepat selesai kalau dimulai saja belum? Ia tak ingin berlama-lama mempersiapkannya. Untungnya Tante Lupita membantunya dengan sangat baik untuk beradaptasi.
Nurul meraih ponsel barunya yang lebih canggih itu. Ia berselancar bukan untuk mencari hiburan atas moodnya yang hampir seperti gunung berapi yang nyaris meletus itu. Ia mencari-cari referensi pergaulan muda-mudi di kota besar. Nurul lalu menemukan sebuah referensi yang begitu berarti baginya. Ia menghabiskan waktu semalaman suntuk untuk mempelajari itu. Nurul mau tidak mau harus menonton sebuah tayangan...