Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Bertemu Teman Rudi


__ADS_3

Sore hari tiba.  Tante Lupita dan Nurul sudah bersiap akan memenuhi undangan Rudi.  Sebagaimana rutinitas Rudi sebagai seorang seniman, ia mengundang Tante Lupita dan Nurul pada acara teater binaan rekan Rudi.  Tante Lupita dan Nurul berangkat dengan menggunakan mobil pribadi yang dibawa oleh supir mereka.


“Rudi adalah laki-laki yang baik, berprestasi, dan mapan.  Walau, kekayaannya masih di bawah Sudarsono.  Aku ingin Icha berjodoh dengannya.  Kalaupun tidak berjodoh dengan Icha, aku harap Nak Rudi bisa berjodoh denganmu,” ucap Tante Lupita.  Nurul tersenyum dengan tidak tulus.  Tentu saja, sebab Nurul tidak punya perasaan apapun terhadap Rudi, Nurul pun yakin Rudi juga demikian.


Tante Lupita sedang duduk di ruang tengah mobil bersama Nurul.  Membicarakan laki-laki yang dikagumi Tante Lupita adalah hal yang tidak terlalu buruk.  Daripada membahas mengenai Icha, Icha dan Icha.  Hal yang benar-benar membosankan.


“Kamu belum punya pacar kan, Sayang?  Oh, iya… Anak pesantren tidak punya banyak waktu untuk berpacaran, bukan? Hahaha… “ celoteh Tante Lupita.  “Iya, Ma.  Hehe… “ jawab Nurul.  “Tapi, aku bukan anak pesantren lagi.  Kita ga pernah tahu takdir yang terukir nanti, apalagi aku merantau di kota besar seperti ini,” lanjutnya.


“Benar… Oh, ya… Ayahmu apa keberatan kalau kamu ga menikah dengan orang-orang dari kalangan pesantren?” tanya Tante Lupita.  “Ga tahu, Ma.  Hehe… Nurul ga pernah bertanya hal yang kaya gitu ke bapak,” jawab Nurul.  “Lagi pula, Nurul masih ingin kuliah dulu.  Belum terpikir menikah dalam waktu dekat,” ucap Nurul.


“Kuliah?  Wah, bagus dong,” ucap Tante Lupita.  “I-iya, Ma.  Tapi belum tahu apakah bisa kuliah tahun ini atau enggak,” ucap Nurul murung.  Tante Lupita menumpuk tangannya di atas punggung tangan Nurul.  “Mama paham situasimu, Sayang.  Kamu sukanya kuliah dimana?  Jujur kamu sudah seperti anak kandung Mama sendiri.  Kalau boleh Mama bantu fasilitasi kuliahmu, Mama akan senang sekali,” ucap Tante Lupita.


Wajah Nurul begitu sumringah mendengarnya.  “Ah, yang benar, Ma?” ucapnya dengan nada girang.  Tante Lupita mengangguk dan tersenyum dengan sangat tulus.  Nurul langsung memeluk Tante Lupita dengan erat.  

__ADS_1


“Aaa… Mama baik banget sama aku.  Nanti aku pingin kuliah di Fakultas Keguruan dan Pendidikan, Ma.  Rencananya sih mau daftar di perguruan tinggi negeri di Jawa Timur, biar dekat dengan bapak,” ucap Nurul.  “Nurul, kamu kan sekarang sudah belajar mandiri.  Ga ada salahnya loh kuliah di tempat yang lebih jauh kalau kualitas perguruan tingginya lebih bagus.  Seperti anak Mama.  Kami rela tinggal berjauhan demi cita-cita anak Mama yang lebih berkembang nantinya.


“Jepang, Ma?” tegas Nurul.  “Ya.  Mau bagaimana lagi.  Terkadang kita harus rela mengorbankan suatu hal demi untuk mencapai hal lainnya,” ucap Tante Lupita.  Apa yang dikatakan Tante Lupita benar, tapi yang sering kali Nurul hadapi adalah bukan berkorban karena ada pilihan, melainkan karena keterpaksaan atau tak ada pilihan yang lain.  “Nurul tersenyum mendengarkan perkataan Tante Lupita tanpa banyak mengeluarkan isi pikirannya yang mungkin nantinya lebih banyak mengeluhnya.


Beberapa saat kemudian, Nurul dan Tante Lupita pun sampai di sebuah gedung kesenian.  Setelah turun dari mobil, Tante Lupita menelepon Rudi.  Rudi pun menyambut mereka di pintu masuk.  Sambil mengobrol dengan sopan, berbasa-basi dan bersapa hangat, Rudi mengarahkan mereka berdua ke kursi penonton yang sudah tersedia.


“Emh, saya minta maaf sekali Tante dan Maria.  Karena tiket VIP di sini cepat habis, jadi kita harus terima kalau Maria tidak bisa duduk satu baris dengan kita.  Maria duduk satu baris di belakang kita, tapi tetap bisa berdekatan, yaitu kursinya tepat di belakang kita,” ucap Rudi.  “Benarkah?  Jadi anak Mama duduk sendirian, dong?” ucap Tante Lupita kecewa.


“Tenang saja, Tante.  Di belakang kita masih dari penonton kelas VIP, kok.  Ada teman saya juga nanti yang bisa menemani Maria,” ucap Rudi.  “Maria?  Gimana?” ucap Tante Lupita menunggu pendapat dari Nurul.  “Ga apa-apa, Ma.  Kita kan tetap bisa ngobrol bareng-bareng, karena ga jauh.  Maria ada di belakang Mama,” ucap Nurul.


Sementara, pembukaan acara sudah dimulai, tapi satu kursi di samping Nurul masih saja kosong.  Sementara di samping satunya lagi duduk seorang lelaki tua yang begitu uzur.  Sangat tidak memungkinkan mengobrol dengannya, sebab lelaki itu hanya terfokus pada kursi di sebelahnya yang lain dan fokus menonton acara pembuka. 


Tak lama, seseorang dengan pakaian perlente bertopi datang.  Tubuhnya sangat tegap dan tinggi, sepertinya masih muda.  Mungkin ini adalah teman Rudi yang tadi Rudi bicarakan.  

__ADS_1


Lampu sorot terfokus menerangi panggung, tidak pada kursi penonton.  Selain itu, teman Rudi ini menggunakan topi yang menutupi sebagian wajahnya, jadi Nurul tidak mengenalinya sewaktu ia baru saja datang.  Semantara, Tante Lupita sempat menengok ke belakang dan tersenyum lalu lelaki muda ini memberikan hormatnya dengan menganggukkan kepalanya.


Lima belas menit berlalu sejak lelaki muda ini menempati kursinya.  Tante Lupita begitu fokus dengan pertunjukkan sembari sesekali mengobrol dengan berbisik gembira dengan Rudi di depan.  Pemuda ini masih belum bersuara.  Ia seperti patung bernyawa.  Maka, Nurul pun mengabaikan kehadirannya.


Perlahan, tangan Nurul yang berada di sandaran tangan disentuh oleh lelaki muda itu.  Nurul bergeming dan menengok kesebelahnya.  Lelaki muda itu membuka sedikit topinya.  Dari sisa cahaya sorot panggung yang menerpa wajahnya, Nurul bisa melihat sosok yang ia kenal.  Ia adalah Tommy.


Tommy tersenyum padanya lalu menutupkan kembali topinya.  “Kamu ga menyangka kan kalau aku di sini?” ucap Tommy.  “Kak Rudi… “ gumam Nurul.  “Ya, benar.  Dia yang mengatur semuanya.  Dia adalah sahabatku yang paling baik,” ucap Tommy.


Jantung Nurul berdetak kencang lagi.  Ia tak bisa menahan rasa senangnya, tapi di sisi lain Nurul takut akan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan Tommy lancarkan kepadanya.  “Apa kamu merindukanku?  Oh, tentu iya, karena ekspresi wajahmu itu sudah mengatakannya secara jujur,” goda Tommy.  Nurul menarik tangannya dari genggaman Tommy.  Ia memberikan lengkungan di bibirnya dengan sepat.


“Jangan cegah aku.  Aku sudah menunggu masa-masa ini, kesempatan yang selalu kunantikan untuk bisa bersama denganmu,” ucap Tommy.  “Aku sedang tak bernafsu, maaf,” ucap Nurul menolak tangan Tommy.  Nurul sadar Tommy mengejarnya ke sini hanya karena Tommy ingin menikmati tubuhnya atau yang lebih mengerikan lagi adalah mungkin Tommy begitu penasaran dengan teka-teki yang ada di depan matanya.  Berhasil memecahkan teka-teki mungkin bagian dari pembuktian diri seorang Tommy.


“Ayolah, Nurul… “ ucap Tommy.  Sejak tadi mereka bicara berbisik-bisik, tapi satu kata yang baru saja disebutkan Tommy sangat mengganggu bagi Nurul.  “Ssst… Jangan sebut nama itu di sini!  Dimanapun! Kapanpun!” ucap Nurul kesal.  “Aah… Kalau begitu kamu akan melakukan apa yang kuminta agar aku tidak kembali menyebutkannya,” ucap Tommy.  “Hei!  Kamu coba-coba memerasku ya?” ucap Nurul kesal.

__ADS_1


Tommy menaikkan kedua bahunya, memberikan pilihan sepenuhnya kepada Nurul.  Tak lama kemudian, Nurul berbicara kepada Tante Lupita bahwa ia akan pergi ke belakang sebentar ditemani oleh teman Rudi.  Tante Lupita pun mengijinkan mereka berdua pergi.  Tommy menggenggam tangan Nurul, mengarahkannya untuk mengikutinya pergi.


Yang ada di pikiran Nurul, pasti Tommy akan mengajaknya masuk ke sebuah ruangan sepi, tertutup dan terkunci.  Sebuah ruangan yang menjaga privasi mereka berdua.  Nurul begitu ingin menolaknya, tapi tak kuasa melepaskan genggaman tangan hangat dan lembut Tommy.


__ADS_2