
Nurul menghabiskan waktu di kampus, Brian menemaninya. Kali ini Brian benar-benar mengabaikan urusannya dengan dosen pembimbing sebagaimana yang dikatakan Tommy tadi. Brian menganggap itu hanya akal-akalan Tommy untuk membuat kesan kepada Maria bahwa dirinya akan meninggalkan Maria terkatung-katung sendirian. Lalu, Tommy akan mengambil kesempatan untuk mendekati Maria. Maria, si cantik yang mereka kenal di balik penyamaran Nurul.
Ternyata yang terjadi tidak demikian. Selama berada di kampus, Brian menghabiskan waktunya bersama Nurul. Sempat sesaat saja Brian meninggalkan Nurul di perpustakaan besar. Nurul adalah perempuan yang suka membaca. Perpustakaan adalah surga lainnya bagi Nurul, ia senang berdiam di sana. Brian meninggalkan Nurul tidak lama, hanya setengah jam saja. Brian saat itu harus mengikuti perkuliahan, tapi ia berniat untuk secara diam-diam keluar dari kelas setelah absensi usai dijalankan.
Menjadi seorang mahasiswa adalah salah satu impian Nurul. Ia akan mendaftar untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Tapi, karena kesibukannya di dunia antah-berantah ini, waktu belajar Nurul menjadi jauh berkurang. Berada di perpustakaan kampus seperti ini membuat motivasinya tumbuh kembali.
Nurul memperhatikan para mahasiswa yang sedang khusyuk membaca, ada yang sedang serius mengetik di laptopnya dengan setumpuk buku di sisinya, dan ada pula yang membuat forum belajar bersama. Nurul membayangkan bagaimana ia berada di antara mereka. Melihat mereka semua, Nurul pun jadi senyum-senyum sendiri.
Senyum Nurul tiba-tiba hilang ketika seseorang menghampirinya, Tommy. Ia langsung duduk begitu saja di sisi Nurul. Nurul langsung bersiap-siap memutar otak ketika pemuda tampan ini mengintrogasinya lagi untuk mengungkap sosok Nurul di dalam tubuh Maria.
“Benar kan kalau Brian akan membuatmu terkatung-katung sendirian di sini?” ucap Tommy sambil tersenyum meledek kepada Nurul. “Apa sih lu, Tom?” balas Nurul. “Sekarang ngomongnya udah lu gua, ya? Lady Maria yang memikat dan disegani banyak orang… kini menjadi sosok gadis yang gaul,” goda Tommy. “Maksud lu apa? Jadi selama ini gua cupu parah gitu?” protes Nurul.
__ADS_1
“Bukan begitu, aku cuma merindukan Lady Maria yang kutemui malam itu,” ucap Tommy. “Malam itu?” Nurul tersentak. “Malam itu maksudnya adalah malam yang mana? Malam saat dia keliru menjemputku, atau malam di taman saat pesta?” batin Nurul. Hanya duduk berdekatan dengan Tommy seperti ini sudah membuat Nurul tidak dapat berpikir jernih lagi.
Yang terbayang di pikiran Nurul adalah mulut yang sedang berbicara saat ini adalah mulut yang memberinya kecupan termanis. Mata yang menatapnya sekarang adalah mata yang lapar menelanjangi tubuhnya. Jemari yang ada di atas meja sekarang adalah jemari yang menyentuhnya berpiknik sejauh lekukan-lekukan yang bisa terjangkau. Nurul terdiam bukan karena tidak bisa membalas kata-kata Tommy terakhir, melainkan pikirannya yang sedang sulit untuk menyadarkan diri.
“Kamu memandangiku seperti itu. Bilang aja kalau naksir, atau biar lebih terdengar romantis katakan kamu jatuh cinta kepadaku,” ucap Tommy menggodainya. “Huh, apa yang kamu tahu tentang cinta! Ga usah terlalu drama, sedangkan diri sendiri aja anti sama cinta-cintaan!” protes Nurul dengan suara yang datar. Nurul kembali kepada gaya bicaranya yang biasa. Kedekatan ini yang membuatnya begitu. Kadang Nurul lupa kalau sedang berperan sebagai Maria.
“Oh ya? Darimana kamu mengenaliku seperti itu?” tanya Tommy sambil menumpukan kedua sikunya di meja, membuat tubuhnya condong mendekati Nurul. Tommy baru saja tertarik dengan ucapan terakhir Nurul. “Siapapun tahu gimana seorang Tommy, si mahasiswa populer yang berhati keras, sekeras batu,” jawab Nurul. “Hahaha… Oh, aku tahu… Siapa lagi yang menceritakanku seperti itu kalau bukan Brian. Penggosip itu memang sialan!” ucap Tommy kesal.
“Kalau kamu sendiri suka tipe cowok yang seperti apa? Bukankah kebebasan adalah prinsipmu? Aku tebak kamu pun lebih mengutamakan gairah bercinta daripada perasaan cinta, iya kan?” ucap Tommy. Percakapan ini benar-benar bukan percakapan yang diharapkan Nurul saat ini. Nurul takut ia tidak bisa mengendalikan prinsip pribadi Nurul yang menjunjung tinggi ketulusan daripada hawa nafsu.
Tapi, kalau dipikir-pikir seorang Maria pun tidak ada salahnya kalau dijadikannya sebagai pemuja perasaan cinta. Maria adalah gadis dari keluarga terhormat, jangan terlalu terkesan murahan dan liar seperti itu. “Ya, ampun… Jangan menyamakanku dengan orang berhati batu sepertimu, Tom. Hidupmu itu terlalu menyedihkan, sampai ga bisa ngerasain perasaan cinta,” jawab Nurul.
__ADS_1
“Oh ya? Terlalu menyedihkan?” Tommy baru saja tersinggung dengan kata-kata itu. Ia lantas melanjutkan saja apa yang Nurul kira sesuka hatinya. “Aku bukan menyedihkan, tapi realistis! Ga ada yang bisa diharapkan dari perasaan abstrak yang ga jelas kaya gitu. Tiba-tiba patah hati, terus ga produktif lagi cuma gara-gara perasaan abstrak yang mengikat dua orang dengan ikatan yang ga jelas. Beda halnya dengan ikatan hubungan bisnis misalnya, jelas untung ruginya, jelas status hukumnya, saat dirugikan bisa ada penuntutan dan sebagainya,” ucap Tommy dengan emosional.
Kata-kata Tommy dengan suara yang meninggi membuat orang-orang memandangi Tommy dan Nurul. “Ssst… Ini perpus, Bung! Bukan meja pengadilan!” tegur salah satu di antaranya. Nurul yang malu karena apa yang dilakukan Tommy itupun bangkit lalu menarik tangan Tommy. Bagaimanapun ini adalah kesalahannya karena sudah menyulut emosi Tommy.
“Maaf… Maaf ya, Kakak-kakak,” ucap Nurul sambil tersenyum terpaksa sambil menarik Tommy beralih dari tempat itu. Nurul membawa Tommy ke tempat yang lebih sepi, menyusuri koridor rak buku yang tinggi-tinggi, lalu berhenti di sudut gedung beraroma debu. Mereka berada di tempat yang tidak dikunjungi siapapun.
“Kamu cuma bikin malu tahu ga!” protes Nurul. “Oh, iya, My Lady. Aku lupa kalau kamu itu ga suka jadi pusat perhatian. Dan apa yang kamu lakukan malam itu persis sama dengan sekarang, menarikku ke tempat sepi,” ucap Tommy yang menyudutkan tubuh Nurul bersandar pada dinding dipagari oleh tangan-tangan Tommy yang bertopang ke dinding. Nurul berusaha menguasai dirinya, jangan sampai ia tergoda dengan Tommy pada posisi seperti ini.
“Dan katamu dengan tidak ada orang yang memperhatikan, maka kita bisa berbuat sesukanya,” lanjut Tommy dengan wajah yang semakin mendekat. Nurul memalingkan wajah. “Maaf, Tommy. Aku sedang tidak menginginkannya,” ucap Nurul. Tommy lalu memundurkan kembali wajahnya. Ia lagi-lagi merasa tersinggung. Mungkin benar, ada lelaki lain yang gaya bercintanya lebih memikat bagi Maria. Bagaimanapun belum ada perempuan yang menolak Tommy selain Maria.
Ponsel Nurul pun bergetar. Getaran di saku celananya bisa terdengar oleh Tommy. “Permisi, Tommy,” ucap Nurul. Tommy pun melepaskan Nurul. Nurul lalu mengangkat panggilan di ponselnya itu sambil berjalan meninggalkan Tommy. Tommy hanya mematung.
__ADS_1
“Halo… Ya, gua masih di perpus, Kak,” ucap Nurul dalam obrolan telepon. Sebenarnya Nurul menyesal dengan apa yang baru saja dilakukannya kepada Tommy. Ia sebenarnya ingin bersama Tommy, tapi ia harus menjauhinya. Nurul melirik bahunya sambil melangkah pergi. Ia ingin melihat wajah Tommy yang baru saja dicampakkannya itu, tapi gengsi seorang seorang Maria mencegahnya.