Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Rencana Tommy


__ADS_3

Nurul memperhatikan perempuan yang sedang duduk bersama Tommy.  “Udah kaya mau nyakar tu cewek, lu, Mar,” bisik Brian di telinga Nurul.  Tommy melihat Brian membisiki Nurul.  Ia begitu membenci apa yang telah Rudi atur, bagaimana bisa Nurul duduk di sebelah Brian?  Seharusnya putri terhormat tidak duduk sendirian tanpa pendamping seperti itu.  Seharusnya Tante Lupita duduk di sebelahnya, bukan Brian atau laki-laki manapun.


Mungkin karena Rudi masih bujang jadi dia tidak mengetahui hal itu.  Lagi pula, Rudi sudah bilang bahwa ini pertama kalinya ia mengadakan jamuan makan.  Seharusnya Tante Lupita mengajarinya bagaimana mengatur letak duduk para tamunya.


Tentu saja Rudi tidak sepenuhnya salah dalam pengaturan tempat duduk lainnya.  Tommy baru menyadari, itulah alasan mengapa Tommy duduk di antara Tante Lupita dan janda itu.  Perempuan janda itu yang matanya memang benar-benar ingin dicakar Nurul, meskipun ia tidak akan pernah mengakuinya kepada siapapun.  


“Gua ga paham apa yang lu omongin,” ucap Nurul mengatakan kebohongan dengan ceria kepada Brian saat ia memusatkan perhatian untuk mengiris sepotong daging panggang.  “Janda cantik yang duduk di dekat Tommy.  Dia adalah tipe perempuan kesukaan Tommy.  Kamu pasti tahu juga.  Dia sudah sangat berpengalaman dengan laki-laki,” ucap Brian.


Tangan Nurul yang memegang pisau bergetar.  Ia memang mengetahuinya dengan sangat baik.  Perempuan itu sempurna untuk Tommy.  Dia begitu sensual, penuh gairah dan jelas bersedia, jika seseorang menilai dari cara perempuan itu terus menghadapkan dadanya yang besar ke wajah Tommy dan bersandar di lengan laki-laki itu.


Biarkan perempuan itu mendapatkan Tommy.  Karena Tommy tampaknya hanya menginginkan perempuan murahan, ia bisa mendapatkan perempuan itu.  “Gua tahu bahwa kita udah mengawali hubungan kita dengan buruk,” bisik Brian lagi.  “Tapi, bisa kan kita melupakan semua itu?  Gua berjanji kalau gua akan menjadi pendamping yang lebih baik daripada Tommy,” ucap Brian.


Brian meletakkan tangannya yang dibebat di atas paha Nurul.  “Setiap laki-laki yang lebih memilih tembikar daripada porselen adalah orang yang tolol!” ucap Nurul.  Si brengsek ini ternyata tidak pernah menyerah.  Dengan hati-hati meletakkan pisau di piringnya, Nurul meluncurkan tangannya ke bawah meja dan segera meraih tangan Brian yang terluka dan meremasnya sampai ia mendengar Brian mengucapkan sumpah serapah di sela-sela napasnya.

__ADS_1


“Brian… Kalau lu nyentuh gua lagi, gua bakal melempar satu porselen ke kepalalu.  Apa sekarang kita bisa saling paham?” ucap Nurul.  Mengangkat tangan Brian, Nurul menaruhnya di pangkuan Brian.  Lalu ia kembali memotong daging di piringnya.  “Gua rasa lu memang menginginkan cowok itu untuk lu kuasai sendiri,” kata Brian dengan suara kasar saat ia mengusap tangannya yang sakit.  “Sayangnya dia ga akan menikahi lu,” lanjutnya.


“Menikah dengan Tommy bakal kejadian kalau udah ga ada yang namanya cowok di permukaan bumi ini,” jawab Nurul.  Sungguh kebohongan yang lihai.  Selama berhari-hari Nurul berpura-pura pada dirinya sendiri bahwa ia sama sekali tidak peduli tentang apa yang dipikirkan atau dilakukan Tommy.  Kurangnya minat Tommy untuk menjadikannya sebagai istri juga bukan merupakan masalah.  Sepanjang waktu tersebut, ia sebenarnya terlalu memikirkannya.


Nurul ingin merusak wajah perempuan yang duduk di seberangnya.  Seorang perempuan yang punya keberuntungan karena menjadi seorang janda yang memikat.  Ia ingin memprotes Tommy karena sikapnya yang dingin dan kendalinya yang mutlak terhadap emosinya.  Ia ingin membenci Tommy karena mempercayai semua cerita buruk yang mungkin dikatakan Brian tentang dirinya.


Tapi Nurul tidak bisa membenci Tommy.  Jika ini terjadi di tempat dan waktu lain, jika ia dan Tommy punya kedudukan dan kekayaan setara, ia mungkin akan mengambil resiko apapun untuk mendapatkan Tommy.  


Seolah bisa mendengar pikiran Nurul, Tommy memandangnya sekilas.  Tatapannya yang membara ditujukan kepada Brian, lalu kepada Nurul. Rahangnya menegang, lalu Tommy segera memalingkan kepalanya dan mencondongkan tubuh untuk membisikkan sesuatu ke telinga di janda yang membuat perempuan itu tertawa.


Tampaknya waktu berjalan sangat lambat untuk mengakhiri jamuan makan malam ini.  Rasanya masih lama sebelum Nurul dan para perempuan lain bisa mengundurkan diri dari ruang makan dan kembali ke ruang besar lalu menjauh dari para laki-laki.


Jika penyamaran yang melelahkan ini berakhir nanti, ia tidak akan bicara lagi dengan laki-laki manapun.  Mereka semua hanya mendatangkan masalah dibandingkan manfaat.  Namun, sayangnya saat Nurul merasa agak nyaman di kursinya, seorang laki-laki lain muncul di sebelahnya.  Setiap orang memandang ke arah mereka saat orang itu, yang adalah seorang pelayan, menyerahkan sebuah sapu tangan yang terlipat dan berkata “Nona meninggalkan sapu tangan ini di ruangan itu,” ucapnya.

__ADS_1


“Tapi ini bukan punya saya,” jawab Nurul.  Lalu ia melihat lambang paraf Tommy dan merasakan tajamnya ujung lipatan kertas di dalam sapu tangan itu.  “Oh, iya.  Maafkan saya.  Ini benar punya saya.  Terima kasih,” ucap Nurul.  Nurul menanti sampai perhatian setiap orang teralih ke hal lain, lalu ia dengan hati-hati membuka catatan di pangkuannya.


“Buatlah sejumlah alasan untuk meninggalkan ruangan,” begitu yang tertulis.  “Aku akan menemuimu di lorong.  Aku punya sesuatu untuk dibicarakan denganmu,” lanjut yang tertulis.


Sambil mengutuk dalam hati, Nurul menggulung kertas itu menjadi gumpalan mungil.  Ia bisa membayangkan apa yang ingin dibicarakan Tommy.  Tidak diragukan lagi, Tommy pasti akan mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan tentang dirinya dan Brian.  Apa Tommy berpikir ia menurut begitu saja tiap kali pria itu memanggilnya dan memintanya datang? 


Tentu saja Tommy merasa yakin.  Dengan alasan yang bagus ia telah mengetahui identitas Nurul.  Ia bisa membuat Nurul menuruti kehendaknya kapanpun yang ia inginkan, dan ia tahu dengan pasti.  Nurul menunggu sampai perhatian Tante Lupita teralihkan, lalu ia menggumam kepada perempuan yang duduk paling dekat dengannya bahwa ia ingin keluar sebentar.  Syukurlah, tidak seorang pun terlalu memperhatikan saat melihatnya menghilang dari pintu.


Tommy sudah menanti Nurul, di lorong seperti yang dijanjikannya.  Ia bersandar ke dinding dengan kedua kepalan tangannya tersembunyi di dalam sakunya.  Menjauhkan diri dari dinding yang disandarinya, ia memandang Nurul dengan tatapan seolah ingin melucuti semua pertahanan Nurul.


Nurul membungkus rapat dirinya dengan selendang berenda.  “Apa yang kamu inginkan?” tanya Nurul.  Mencengkeram lengan Nurul, Tommy membawanya sedikit menjauh dari lorong.  “Kita harus bicara.  Tapi ga sekarang.  Lusa pagi aku akan menjemputmu, kamu akan pergi bersamaku, ngerti?” ucap Tommy.  


“Carilah alasan agar kamu bisa meninggalkan pelayanmu dan Tante Lupita di rumah.  Kamu dan aku akan berbicara secara pribadi dan memerlukan banyak waktu dan kamu akan mengatakan kepadaku yang sebenarnya,” lanjut Tommy.  “Oh?  Masa begitu?  Apa yang membuatmu berpikir kalau aku bersedia menceritakannya sekarang daripada sebelumnya?” tanya Nurul.

__ADS_1


Senyum sini menghiasi bibir Tommy…


__ADS_2