
“Aku perlu bicara dengan Nurul berdua saja,” ucap Tuan Sudarsono dengan nada angkuhnya. “Oke, tapi jaga sikapmu, Mas. Jangan gertak Nurul,” ucap Tante Lupita. Tante Lupita melemparkan tatapan yang menusuk pada Nurul. “Sangat ga bagus kalau nantinya Nurul membantu kita dengan terpaksa,” lanjutnya.
Tuan Sudarsono menarik lengan Nurul dengan keras. Ia sudah tidak sabar. Mereka pun berada di ruangan di mana Tuan Sudarsono menguncinya dari dalam. Hati Nurul terpuruk. Ia menyadari apa yang akan terjadi. “Tolong, Om, Om harus memaklumi Nurul,” mohonnya.
“Kamu lihat ini, Nurul?” Tuan Sudarsono memegang sebuah kantong yang baru saja ia ambil dari laci mejanya, lalu ia mengeluarkan sesuatu yang ia genggam dalam kepalan tangannya. “Om sudah punya firasat kamu akan mempersulit hal ini. Ga masalah bagi Om memberi donasi ke yayasan atau membiayai pendidikanmu nantinya, tapi kenapa kamu justru mengacaukannya! Tentu Om ga akan membiarkan hal itu terjadi,” ucap Tuan Sudarsono.
Tuan Sudarsono membuka kepalan tangannya. Ada beberapa buah botol seukuran botol parfum kecil dengan sisa beberapa tetes cairan di dalamnya. Nurul sangat mengenal apa yang dipegang Tuan Sudarsono. Ramuan itu adalah ramuan yang membantu Nurul untuk menolong mendiang ibunya dulu menghilangkan rasa sakit dari penyakit yang dideritanya.
Saat Tuan Sudarsono merasa yakin bahwa Nurul mengenali isi botol itu, ia memasukkannya kembali ke dalam kantong dengan senyumannya yang kejam. “Om tahu kamu pasti paham. Sampai sekarang Om berpikir bahwa sungguh baik membuat setiap orang percaya bahwa ibumu meninggal karena penyakitnya. Lagi pula, akan merusak nama baik rekananku, pemilik yayasan kalau diketahui bahwa ibumu meninggal karena bunuh diri. Itu akan menjadi skandal yang hebat,” ucap Tuan Sudarsono.
“Nurul ga yakin kalau ibu bunuh diri,” protes Nurul. Padahal tentu saja Nurul punya rasa bersalah yang mengarah ke sana.
Nurul sedang sendirian di tempatnya pada pagi yang mengerikan saat ia menemukan ibunya meninggal dan ada beberapa botol sisa ramuan buatan Nurul tergeletak di lantai dekat ranjangnya. Malangnya, tepat ketika Nurul melihat ibunya , pemilik yayasan baru saja tiba di rumah mereka itu untuk berbicara dengan ayah Nurul. Nurul telah melihat semua peristiwa itu dan segera menyadari apa yang telah terjadi.
Karena bingung, Nurul meminta nasihat pemilik yayasan. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya pada ayahnya, tapi pemilik yayasan melarangnya dan bersikeras agar Nurul menutup mulutnya. Pemilik yayasan mengatakan bahwa ayah Nurul akan sangat kecewa jika mengetahui bagaimana ibunya itu meninggal. Belum ditambah lagi pendapat orang lain seandainya mereka tahu peristiwa yang sebenarnya.
__ADS_1
Seorang istri ketua yayasan pondok pesantren melakukan dosa besar, menimbulkan skandal yang menghebohkan dan akan menghancurkan ayah Nurul selamanya. Jadi, Nurul setuju untuk menceritakan kepada setiap orang bahwa ibunya meninggal karena penyakit yang dideritanya. Tidak seorang pun, bahkan ayahnya, yang perlu tahu tentang ramuan jamu buatannya itu.
Rasa bersalah yang menyakitkan melanda Nurul seperti yang dulu pernah dialaminya. Itu adalah kesalahannya sehingga ibunya meninggal, murni kesalahan Nurul. Seandainya saja ia lebih berhati-hati saat menyimpan ramuan buatannya itu! Saat mengalami rasa sakit yang hebat, ibunya tak mampu menahan godaan. Dalam hati Nurul tidak menyalahkan ibunya.
Mungkin sungguh jahat ketika ia bersikap demikian, tapi Nurul berpikir bahwa lebih mengerikan bila jenazah ibu tidak dimandikan dan disholatkan karena masalah bunuh diri ini.
“Jadi, Nurul,” kata Tuan Sudarsono dengan dingin. “Kita berdua dan pemilik yayasan tahu bahwa ibumu dengan sengaja meminum ramuan buatanmu dengan dosis besar untuk mengakhiri penderitaannya. Jika Om memilih untuk menceritakannya, ayahmu akan hancur,” lanjutnya.
Mungkinkah pemilik yayasan telah melakukan hal sejahat ini padanya? Lalu, pria yang angkuh ini, pasti ia akan dengan mudah berlaku jahat demi apa yang diinginkannya.
Di sisi lain ayah Nurul pasti tidak rela kalau Nurul terlibat dalam penyamaran nanti, sebuah tipu daya. Bahkan itu mungkin bisa mengacaukan prinsip kereligiusannya.
Nurul terperanjat saat menatap Tuan Sudarsono. Lelaki Itu tidak pernah berteman dekat dengan keluarganya, justru rasanya selalu membuat tekanan-tekanan tak kasat mata bagi keluarganya.
Tanpa rasa sesal, Tuan Sudarsono mengangkat kacamatanya untuk menatap Nurul lebih tajam. “Om ga tahu apa yang sesungguhnya terjadi, bukan? Lalu mengapa pemilik yayasan berusaha menutupi hal ini? Orang-orang bisa saja berspekulasi bahwa ada hubungan apa pemilik yayasan dengan ibumu yang bukan mahram itu. Dan kamu terlibat sebagai ahli pengobatan yang bertanggung jawab dengan ramuan yang diteguk ibumu itu,” ucap Tuan Sudarsono.
__ADS_1
Ruangan itu seolah bergoyang di sekitar Nurul. Jawaban untuk desakan demi desakan itu sudah pasti hal yang tak diinginkan Nurul. Nurul sama sekali tak punya kesempatan untuk menantang kekuasaan Tuan Sudarsono dan jabatannya yang tinggi.
“Ayahmu sungguh malang kalau melihat putrinya dibawa ke pengadilan karena pembunuhan. Ga bisa dibayangkan lelaki yang suka sakit-sakitan itu pasti akan sangat menderita. Kenyataan itu akan membunuhnya juga,” ucap Tuan Sudarsono.
Nurul terdiam. “Kenapa harus saya,Om? Kenapa ga teman-teman Icha lainnya yang Om minta untuk melakukan ini?” ucap Nurul terisak. “Karena kamu adalah kandidat terbaik kami,” ucap Tuan Sudarsono.
Mata Tuan Sudarsono yang tak berperasaan menatap Nurul dengan suatu keteguhan. “Nurul adalah sahabat Icha yang mengetahui segala sesuatu tentang Icha, apa kemauannya, bagaimana moodnya, akan kemana saja Icha pergi. Kecurigaan Om juga terletak pada saat Icha jauh dari Om di mana Nurul ada bersama Icha saat itu. Om dengar kamu adalah gadis yang cerdas, bisa mempelajari sesuatu dengan cepat. Orang-orang di kalangan kami dan para keluarga berkedudukan lainnya juga ga akan mengenali kamu, sebab asalmu yang jauh,” jelasnya.
Sembari melipat tangan di dadanya, Tuan Sudarsono berkata, “Jadi Nurul tinggal melakukan saja apa yang kuminta. Tidak seorangpun akan mengenalimu, atau memperhatikanmu saat kamu menghilang atau kembali ke kehidupanmu,” ucap Tuan Sudarsono.
Air mata Nurul merebak. Sekuat tenaga, ia berusaha menahannya. Sungguh lelaki sombong yang kejam! Ini sungguh tidak adil bagi Nurul. Jika Nurul bertemu Icha suatu saat nanti, ia akan mencekik Icha karena telah menimpakan masalah ini padanya.
Tidak, Nurul tidak seharusnya menyalahkan Icha. Ini adalah kesalahannya sendiri. Seandainya dulu Nurul berhati-hati dengan ramuan obatnya itu, tak satupun masalah ini akan terjadi. Tuan Sudarsono tidak akan pernah menjadikannya sebagai ancaman bagi Nurul. Ini adalah hukuman untuk Nurul.
Nurul tidak punya pilihan lain. “Baiklah. Saya akan melakukan apa yang Om inginkan.” Perkataan itu dengan cepat meluncur dari mulut Nurul. “Satu hal lagi,” ucap Tuan Sudarsono. Mata Nurul terasa terbakar oleh air mata yang belum dihapusnya. “Apa lagi yang Om inginkan dari Nurul?” rengeknya.
__ADS_1
“Kamu harus merahasiakan alasan kenapa kamu bersedia menolong Om, bahkan dari saudariku. Kalau tidak, Om akan membocorkan semua skandal kematian ibumu itu!” ucap Tuan Sudarsono.
"Jadi, Tante Lupita tidak akan membiarkan aku diperas seperti ini?" batin Nurul.