Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Tommy Merayu Nurul (revised)


__ADS_3

Tommy menelusuri kulit leher Nurul yang lembut.  Kali ini mereka tanpa hambatan, sebab kaca mobil adalah kaca yang gelap dan tidak tembus pandang apabila dilihat dari luar.


Tommy menelusuri Nurul hingga turun ke dadanya di mana ujung bertali membatasi kedua gundukan sempurna yang menggoda Tommy.  Meskipun Nurul mengizinkan Tommy untuk menciumnya, Tommy bisa merasakan ketegangan dalam tubuh Nurul.  Tommy akan menghalau ketidakpastian itu secara menyeluruh.  Ia akan melakukannya walaupun misalnya nanti memerlukan waktu seharian untuk melakukannya.


Tangan Tommy dengan cekatan meluncur di sepanjang atasan Nurul sampai ke suatu celah yang membunyikan relesting.  Tommy membukanya dan menurunkan atasan Nurul.  Nurul tersentak ke belakang, jemarinya segera meraih atasannya yang setengah terbuka.  “Tommy, kamu harusnya ga boleh… “ ucap Nurul.


“Kenapa, Sayang?” tanya Tommy.  Tommy menunduk untuk menyelipkan tangannya ke bawah rok Nurul, lalu menelusurkan jemarinya ke tungkai Nurul.  Jari-jarinya membelai Nurul.  Nurul merapatkan kedua telapak tangannya di atas pakaiannya.  “Kita belum menikah!” ucap Nurul.  “Itu ga jadi masalah kemarin malam?” ucap Tommy.


“Iya, tapi… tapi… di sini?  Sekarang?” ucap Nurul tergugup.  “Iya, Sayang,” jawab Tommy.   “Ayo, Sayang,” ucap Tommy.  Nurul menggeser duduknya untuk menjauh dari Tommy.  “Aku menginginkanmu, Sayang,” ucap Tommy.


“Bukan aku.  Tubuhku.  Kamu menginginkan tubuhku.  Kamu ga menginginkan gadis lugu yang punya harapan-harapan bodoh tentang cinta,” ucap Nurul.  “Kamu lupa kalau kamu itu udah ga lugu lagi?” cecar Tommy.  Tommy membuka atasannya.  “Aku memang menginginkanmu, seluruh dirimu,” ucap Tommy.


Bergerak mendekat, Tommy meraih atasan Nurul lagi.  Nurul meraih tangan Tommy.  “Kayaknya jangan melakukannya di sini, Tom,” ucap Nurul.


Tommy menatap Nurul, memandang bibirnya yang terbuka dan ekspresinya yang terluka.  “Oh, jadi gitu?  Kamu bisa merayuku kapanpun kamu mau, tapi aku dilarang untuk melakukan hal yang sama.  Ga adil banget ya!” ucap Tommy.


“Kamu juga ga punya hak untuk menculikku dan memaksaku menikah denganmu!” ucap Nurul.  “Benar.  aku ga ingin dirayu dan kamu ga ingin diculik,” ucap Tommy memelankan suaranya.  “Tapi kita berdua menginginkan ini,” ucap Tommy.

__ADS_1


“Aku… aku gak… “ ucap Nurul dengan ragu saat Tommy menyelipkan tangan di bawah roknya lagi.  “Kumohon, Tom.  Kamu ga boleh… “ ucap Nurul.  “Kamu bilang begitu hanya karena amarahmu kepadaku, karena menggagalkan rencana-rencanamu.  Tapi, aku ga bermaksud seperti itu.  Apa alasan yang mungkin kamu punya untuk menyangkal tentang yang kita berdua inginkan?  Terutama saat kamu tahu bahwa bagaimanapun kita akan segera menikah,” ucap Tommy.


“Karena… karena… “  Nurul bingung saat tangan Tommy merayap ke atas kakinya.  Tommy menemukan bagian yang menarik dan menelusurkan jari-jarinya, membelainya dengan ringan dan menggoda.  Nurul menghirup napas dengan susah payah.  “Ya ampun, Tommy… Ya… ampun…” ucap Nurul.


Tommy membenamkan jarinya, aliran darahnya makin cepat dan mendapati jika bagian itu telah siap untuk menerimanya.  Membelai bagian itu dengan ritme, Tommy berbisik, “Dengarkan tubuhmu yang tidak pernah berbohong,” ucap Tommy.


Nurul terbelalak dan aura kepuasan terpancar di wajah Nurul.  “Kamu laki-laki yang licik,” ucap Nurul dengan suara yang tercekik.


*


Nurul menghela napas.  Helaan napas kecil yang menyatakan persetujuannya dan Tommy memagut mulut Nurul dengan ciumannya.  Ia mengalami penderitaan yang sangat hebat dalam usahanya untuk tidak menakut-nakuti Nurul dengan intensitas dari kebutuhannya.  Tapi, yang bisa dilakukan Tommy hanyalah menjaga agar ia bisa mencium Nurul dengan lembut.


Padahal, sebenarnya ia ingin memaksa Nurul seperti yang biasa dilakukan seorang perampok.  Semula Nurul menanggapinya dengan malu-malu dan enggan.  Tapi, saat lidah mereka saling bertemu, Nurul mencondongkan tubuh ke arah Tommy.  Ia meraih pinggang Tommy untuk menariknya semakin dekat.


Tommy melepas pakaian bawahnya.  Lalu, tangan-tangan Nurul membelai kedua sisi tubuh Tommy dan memutar untuk membelai punggung Tommy.  Tapi saat Nurul meluncurkan tangannya ke tubuh Tommy di bagian bawah, Tommy nyaris hilang kendali.  “Ya Tuhan,” gumam Tommy saat menarik lepas mulutnya dari mulut Nurul.


Mata Nurul diselubungi oleh gairah dan senyum kepuasan menghiasi bibirnya.  Beberapa waktu berlalu, apa yang mereka lakukan membuat Tommy Mendengar Nurul mengatakan, “Aku mencintaimu… Aku mencintaimu, Tommy,” ucap Nurul.

__ADS_1


Hanya itu yang diperlukan.  Dengan saruan keras, Tommy menaburkan benihnya ke dalam tubuh Nurul dan merasakan Nurul bergetar pada saat yang bersamaan.  “Aku mencintaimu,” kata-kata itu menggema di kepala Tommy saat ia memeluk Nurul dengan kencang ke arahnya.  “Aku mencintaimu.”


Beberapa saat kemudian, Nurul yang duduk dengan mengenakan pakaian dalamnya sedang memakai kembali pakaian luarnya.  Tommy, yang hanya mengenakan pakaian dalamnya, mencondongkan tubuh ke belakang untuk mengaduk-aduk beragam makanan yang memenuhi keranjang makanan dari penginapan.


Rasa sayang melingkupi Nurul saat ia memperhatikan noda-noda lebam di punggung Tommy.  Noda biru kehitaman kecil yang melintang di sepanjang bahu Tommy yang kokoh.  Tommy adalah miliknya.  Untuk waktu yang singkat, mungkin hanya beberapa jam, Tommy adalah milik Nurul.


Benak Nurul mendengungkan pernyataan yang terus terngiang.  “Kamu seharusnya tidak mengatakan kepada Tommy bahwa kamu mencintainya, Nurul!  Kamu seharusnya tidak membiarkan Tommy bercinta denganmu!  Kamu seharusnya memegang teguh pendirianmu!” batin Nurul.


Nurul mengabaikan semua itu.  Seseorang seharusnya memberinya peringatan bahwa bercinta memberikan beragam kesenangan.  Mungkin dengan demikian rayuan Tommy tidak akan membuatnya sedemikian terkejut.  Mungkin ia tidak akan berseru penuh kesenangan dan mengatakan bahwa ia mencintai Tommy atau memaparkan dirinya dengan sangat ceroboh.


Tapi, tatapan di wajah Tommy saat Nurul menggodanya sejak awal, itu membuat Nurul menahan tawanya.  Ia akan melakukan hal itu lagi lain kali, setelah mereka menikah.


Nurul segera tersadar.  Apa yang dipikirkannya?  Mereka tidak akan menikah.  Ia harus kembali ke Jakarta, bahkan jika itu berarti berusaha melarikan diri di manapun mereka berhenti.


Dengan setiap jam yang berlalu, bahkan hari berganti lagi dan lagi, jarak tempuh mereka sudah semakin jauh.  Tidak ada yang bisa mengatakan apa yang akan segera dilakukan Tuan Sudarsono saat tahu bahwa Nurul telah menghilang.  Tante Lupita mungkin bisa menahan Tuan Sudarsono untuk sementara, tapi jika Nurul akhirnya benar-benar tidak muncul, riwayat Nurul akan tamat.


Ketakutan yang dalam mencengkram dada Nurul.  Jika itu terjadi, semua ini akan berakhir juga.  Jadi ia harus kuat.  Ia harus menemukan cara untuk melarikan diri dari Tommy.

__ADS_1


__ADS_2