Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Ukhti-Ukhti Ga Boleh Ikutan


__ADS_3

Pertemuan Nurul dengan Tuan Sudarsono malam ini membuat amarahnya membara.  Bagaimana bisa Nurul disebut-sebut hanya mengambil keuntungan dari kondisi ini?  Nurul sangat tidak terima dengan ucapan Tuan Sudarsono itu.  Nurul lalu menghabiskan waktu semalaman suntuk untuk mempelajari bagaimana pergaulan muda-mudi di kota besar melalui ponselnya.


Nurul ingin mencontoh sosok perempuan muda tangguh yang bisa ia tiru perannya.  Tidak biasanya Nurul menghabiskan waktu dengan begadang semalaman suntuk hanya untuk memperhatikan layar ponsel.  Nurul mau tidak mau harus melakukannya.  Ia akhirnya menemukan referensi yang menurutnya cukup nyata untuk ditiru.  Nurul menonton film berseri secara maraton.


Keinginannya yang begitu kuat membuat Nurul kuat menghabiskan serial panjang yang ditamatkannya dalam satu malam itu.


Pada keesokan harinya, Tante Lupita menemukan Nurul dalam kondisi yang kurang baik.  Wajah pucat, lingkaran mata yang gelap, mata merah serta tatapan Nurul yang sayu.  Di sebuah meja makan, di mana Nurul dan Tante Lupita menghabiskan sarapannya, kali ini tidak dengan kehadiran Tuan Sudarsono.


“Kamu kelihatan ga sehat loh, Sayang.  Apa kamu baik-baik saja?” tanya Tante Lupita.  “Iya, Ma.  Tapi, apa saya boleh tidur sebentar pagi ini, Ma?” ucapnya lemas.  “Kamu semalam habis begadang?” tanya Tante Lupita.  Nurul pun menceritakan bahwa dirinya selama semalaman suntuk telah menghabiskan waktu di depan layar ponselnya.  Semua itu dilakukan untuk menyiapkan peran terbaiknya sebagai Maria.


“Ya, ampuun… Nurul!” ucap Tante Lupita sambil menggelengkan kepalanya.  Ia begitu menyayangkan apa yang dilakukan Nurul itu.  Nurul telah mengabaikan kesehatannya demi sebuah peran.  Tante Lupita pun mengijinkan Nurul untuk menggenapi waktu tidurnya yang kurang itu pagi ini.


Beberapa waktu kemudian, Tuan Sudarsono pun datang.  Tampak olehnya Tante Lupita sedang membaca majalah dengan santai di sebuah ruang tengah dengan ditemani cemilan.  “Dimana anak itu?  Apakah dia sedang melakukan pekerjaannya?” tanya Tuan Sudarsono sambil baru saja duduk.

__ADS_1


“Anak itu sedang istirahat.  Kondisinya sedang ga sehat,” jawab Tante Lupita tanpa mengalihkan pandangannya dari halaman majalah yang dipegangnya.  “Istirahat?  Bisa-bisanya kamu mudah ditipu oleh anak itu.  Dia hanya ingin bersantai!” ucap Tuan Sudarsono bangkit dari duduknya.


“Mas!  Mau kemana, Mas?” ucap Tante Lupita.  Tuan Sudarsono beranjak pergi dengan geram.  Ia berjalan menuju kamar Nurul.  Sesampainya di depan pintu kamar Nurul, Tuan Sudarsono pun mengetuk-ngetuknya dengan kasar.  “Mas!  Nurul beneran ga sehat!  Semalam itu dia habis begadang, jadi biarkan dia tidur dulu,” ucap Tante Lupita yang berusaha menghentikan keributan yang Tuan Sudarsono timbulkan.


Nurul pun membuka pintu kamarnya.  Ia memang menampakkan wajah yang berantakan, tidak terlihat bugar.  “Jangan hanya bermalas-malasan!  Bersihkan dirimu, siap-siap karena kamu akan ikut Om sebentar lagi,” ucap Tuan Sudarsono.


“Kamu mau bawa Nurul kemana, Mas?” tanya Tante Lupita khawatir.  “Ke tempat dia seharusnya bekerja untuk kita!” jawab Tuan Sudarsono.  “Mas!  Membawa Nurul itu pekerjaanku, jangan kau campuri! Lagipula Nurul harus aku temani.  Nurul akan pergi kemana aku akan mengajaknya, bukan kamu Mas!” protes Tante Lupita.  “Ah!  Kelamaan!  Kamu cuma membuat waktu terbuang sia-sia.  Saya perhatikan dari kemarin-kemarin kalian hanya bersenang-senang, bukan melakukan pekerjaan itu.  Apa kalian tidak memikirkan Icha?” ucap Tuan Sudarsono dengan suara yang menggelegar.


Nurul menyaksikan perdebatan itu.  Hal itu semakin membuat Nurul bergelora untuk segera memulai perannya.  “Kamu!  Ngapain hanya bengong seperti itu?  Cepatlah bersiap!  Cepat!” bentak Tuan Sudarsono.  Nurul pun mengangguk cepat dan menutup pintu kamarnya.  Perdebatan antara kakak dan adik itu masih berlangsung dan tak terdengar lagi ketika mereka sudah pergi dari depan kamar Nurul.


Tante Lupita pun menemui relasinya di gedung itu dengan membawa Nurul di sisinya.  Malam ini akan dilaksanakan konser band terkenal di tempat itu.  Saat Tante Lupita bercakap-cakap dengan relasinya, tiba-tiba ada seorang lelaki muda mendekati Nurul.  Nurul pun diajaknya berkenalan.  Ia adalah seorang pemuda tampan yang begitu lancar membicarakan segala hal.  Hal itu membuat Nurul dengan mudah tergoda untuk menjalin obrolan bersamanya.


“Apa itu Mama lu?” tanya pemuda itu dengan senyuman mengejek.  “Iya, Kak,” jawab Nurul.  Mereka berjalan menjauhi Tante Lupita setelah Nurul meminta izin untuk berkeliling dengan teman barunya ini.  Dalam waktu singkat pemuda yang mengaku sebagai anak dari pemilik Production House besar yang menangani penyelenggaraan konser ini, telah membawa Nurul berkeliling.  Mereka menonton beberapa bagian dari pertunjukan konser itu melakukan gladi.

__ADS_1


Kemudian, dengan mudahnya pemuda itu membawa Nurul ke tempat lain, dengan alasan tempat ini begitu menjemukan baginya.  Nurul diajak untuk menghirup udara segar.  Namun, bukannya membawa Nurul ke tempat terbuka, pemuda ini justru membawa Nurul ke sebuah tempat tersembunyi dengan tembok dipenuhi grafiti-grafiti aneh.


Pemuda itu baru saja membawa Nurul masuk ke dalam tempat anak-anak penikmat hiburan jalanan bergengsi berkumpul.  Ada sebuah pertunjukan battle dance di sana.  Irama musik dengan bit cepat memenuhi seluruh ruangan yang bercahaya remang itu.  Dengan sopan pemuda itu mempersilahkan Nurul untuk menonton pertunjukan itu bersamanya.


Tanpa sadar, penampilan Nurul menjadi perhatian bagi banyak muda-mudi yang ada di sana.  “Tumben lu jalan sama ukhti-ukhti, Bray!” sapa teman pemuda itu.  Nurul mendapati dirinya sedang ditelanjangi oleh tatapan banyak pasang mata.  Beberapa ada yang berbisik sambil memandangi Nurul.


Membandingkan penampilannya dengan penampilan orang-orang yang ada di sini, tentu Nurul sudah salah kostum.  Tanktop, rok mini, celana jeans yang sobek-sobek di daerah lutut, tatanan rambut yang aneh dengan warna-warna yang mencolok, dandanan para gadis dengan eyeliner dan lipstik dengan warna menonjol, semua itu begitu kontras dengan penampilan Nurul.


Namun, Nurul tetap menunjukkan wajah yang seakan tidak peduli, ia selalu meninggikan dagunya dan suaranya yang mantap tanpa gemetar.  Tiba-tiba, di tengah suasana musik yang berisik itu, di antara dua pemuda yang ada di hadapannya, Nurul mendengar mereka membicarakan nama Icha.  “Icha!”  Nurul tidak salah dengar, ia yakin nama itu baru saja disebut. Nurul menyela mereka dan menanyakan apakah yang didengarnya itu nama Icha. Mereka pun mengiyakan lalu melanjutkan obrolan mereka yang tidak begitu Nurul pahami.


Nurul pun memutuskan untuk bisa berhubungan lebih dekat dengan pemuda yang mengajaknya ke sini itu.  Bertukar nomor telepon, bahkan ia mengajukan diri untuk ikut di acara yang baru saja dibicarakan oleh pemuda itu dan temannya.


“Lu yakin mau ikut ke acara balap liar besok malam?” tanya pemuda itu terkejut.  Pemuda itu memandangi Nurul dari kepala hingga kakinya.  “Apa mama lu bakal ngijinin lu keluar malem?” lanjut pemuda itu.  Pemuda itu menggeleng.  “Mending lu ga usah ikut deh,” ucap pemuda itu lalu segera mengalihkan perhatiannya ke penampilan dance di depan mereka.

__ADS_1


Nurul baru saja merasa diremehkan.  Ia diabaikan hanya karena pakaian yang digunakannya ini.  Setelah mendengar nama Icha disebut, seakan Nurul rela melakukan apa saja untuk bisa bertemu dengan sahabatnya itu.  Pikirnya, peran ini akan begitu mudah dan dapat ia akhiri segera apabila ia berhasil menemukan Icha pada acara besok malam.


__ADS_2