
Nurul memandangi Tommy dengan waspada dan Tommy meluruskan gaunnya sampai ke atas bahu hingga gaun itu menyembunyikan bagian tubuh Nurul yang paling menggoda. “Aku ga akan mengatakan apapun kepada Sudarsono atau Brian, jika itu yang kamu inginkan,” ucap Tommy.
“Dan soal menikahimu…” lanjut Tommy. Nurul menyentuhkan jarinya ke bibir Tommy. “Tidak ada lagi pembicaraan tentang pernikahan. Aku ga mengharapkanmu mengorbankan diri demi alasan kehormatan,” ucap Nurul.
“Itu bukan pengorbanan,” bisik Tommy. Tommy bersungguh-sungguh mengatakannya. “Sama aja, kamu ga perlu menikahiku,” ucap Nurul. Saat Tommy berubah kaku, Nurul menambahkan, “Kumohon, jangan membahas hal ini lagi. Aku hanya ingin pergi, sebelum mereka mengetahui aku ga ada di rumah,” ucap Nurul.
“Aku ga akan membiarkan kamu pulang dengan mobil sewaan online. Ini udah malam banget,” tegas Tommy. “Aku akan mengantarmu pulang,” lanjutnya. “Gimana kalau ada seseorang yang melihat kita bersama dan menduga…” ucap Nurul.
“Pada jam tiga pagi? Ga akan ada seorangpun yang melihat, Sayang. Dan jika bisa membuatmu merasa lebih baik, aku akan berhenti sedikit lebih jauh dari rumah Sudarsono,” ucap Tommy.
Nurul merasa lega. “Terima kasih. Sebenarnya aku juga ga suka pulang sendirian. Belum pernah aku berangkat larut ini dengan orang yang ga dikenal,” ucap Nurul.
“Sekarang bersihkan diri kamu, kita akan carikan pakaian adikku yang sesuai ukuranmu. Jangan pakai gaun ini lagi, terlalu terbuka,” ucap Tommy.
Saat melihat Nurul merona, Tommy nyaris tersenyum. Entah bagaimana, bahkan dalam kondisinya yang telah ‘rusak’, Nurul masih bersikap lugu.
“Sembari kamu bersiap, aku akan mempersiapkan mobil dan driver-ku,” ucap Tommy.
*
Nurul naik ke mobil Tommy di ruang tengah, duduk berdua dengan Tommy, sementara supirnya duduk sendirian di depan. Pakaian Nurul begitu tertutup, berlengan panjang dan rok hampir terseret. Saudari tiri Tommy pasti sepantaran dengan Nurul.
__ADS_1
Setelah memerintahkan supirnya, Pak Yeyet, untuk menjalankan mobilnya, Tommy menggenggam tangan Nurul. “Kamu terlihat lelah. Ini pasti merupakan suatu malam yang panjang buatmu kan?” ucap Tommy.
“Ya,” jawab Nurul. Sebenarnya Nurul memang sangat kelelahan. Rayuan memang memberikan kenikmatannya sendiri tapi juga menguras tenaganya.
Kaca mobil Tommy yang gelap meredupkan suasana. Tommy bergeser dan menarik Nurul dan meletakkan kepala Nurul di dadanya. “Kemarilah, tidurlah sebentar. Aku akan membangunkanmu saat kita tiba di tujuan,” ucap Tommy.
Saat Tommy melingkarkan lengan untuk memeluknya, Nurul merasa rileks di atas tubuh Tommy. Nurul memang kelelahan. “Aku ga menyakitimu sama sekali kan, Sayang?” ucap Tommy. “Enggak. Selain itu, mungkin ini terakhir kali aku bisa memelukmu seperti ini,” ucap Nurul.
Air mata tiba-tiba memenuhi mata Nurul dan ia lega karena Tommy tidak bisa melihat air mata itu di kegelapan. Ini adalah waktu terakhirnya bersama Tommy. Meski berada di pelukan Tommy menjadi kesenangan yang sulit dilupakannya, Nurul tak tahan jika harus mengabaikan momen ini.
Tapi, Nurul ragu jika ia bisa tidur. Terlalu banyak hal yang telah terjadi, jadi terlalu banyak hal yang dipikirkannya.
Tampaknya baru beberapa detik kemudian, Nurul terbangun. Nurul terbangun oleh suara seseorang. Ia menolehkan kepalanya untuk memandang Tommy. Itu adalah suara dengkuran Tommy. suara dengkuran itu membuat Nurul tersenyum.
Nurul menyentuh pipi Tommy, kasar dengan cambang baru yang mulai tumbuh di rahangnya dan menatap Tommy yang rileks dalam tidurnya seperti seorang bayi.
Sengatan pahit sekaligus manis membuat Nurul menyentakkan tangannya. Terlalu menggoda untuk memandang Tommy seperti ini. Sampai Nurul berpikir bahwa ia bisa melihat pemandangan ini setiap pagi jika saja bersedia mengorbankan kehormatan dirinya.
Nurul tidak percaya Tommy telah menawarkan diri untuk menikahinya. Ia menduga Tommy akan merasa senang karena tidak harus menikahinya setelah menidurinya. Jelas sekali, ia telah salah menilai karakter Tommy sepenuhnya.
Nurul melepaskan diri dari Tommy dengan berhati-hati. Ia bergeser hingga tak lagi berada di pelukan Tommy yang lemas itu. Nurul melihat ke samping, sepenuhnya berharap melihat lampulampu jalanan yang ramai dan gedung-gedung tinggi khas jalan protokol ibukota.
__ADS_1
Mobil melambat, memang ada lampu yang menerangi, tapi itu bukan lampu jalan kota, itu adalah lampu gerbang tol. Fajar sudah menyingsing. Nurul bisa melihat jalanan lurus yang menjemukan dengan sangat lebar. Itu adalah jalan tol! Untuk apa melintasi jalan tol?
“Pak! Kita mau kemana?” tanya Nurul kepada supir. Supir itu hanya diam. “Bangun, Tom!” teriak Nurul. Dengkuran Tommy terhenti seketika, ia membuka matanya yang masih kabur untuk menatap Nurul. “Hah? Apa?” ucap Tommy mengantuk.
“Kita di luar Jakarta! Aku ga tahu seberapa jauh kita sudah meninggalkan Jakarta, tapi ini sudah pagi. Kita pasti sudah pergi terlalu jauh! Kita harus putar balik, Tom! Jika aku belum sampai di rumah saat seseorang menyadari kepergianku… “ ucap Nurul. Keresahan melanda Nurul.
*
“Sial! Kakiku kesemutan,” ucap Tommy. Ia mengusap kakinya dengan kedua tangannya. “Ini semua karena kamu ketiduran, Tommy!” ucap Nurul kesal. Nurul meraih salah satu lengan Tommy dan berkata, “Udahlah, jangan repot sama kaki! Cepat minta driver putar balik!”
Seandainya Nurul membawa tas tangan, ia ingin memukul kepala Tommy dengan tasnya itu. seolah akhirnya memahami apa yang Nurul coba katakan, Tommy menatap ke luar jendela. “Oh, iya, ya…” ucap Tommy santai.
“Kamu sengaja bawa kabur aku, ya?” ucap Nurul. “Ya jelas dong. Mana berani Pak Yeyet yang inisiatif bawa keluar kita dari Jakarta,” ucap Tommy. “Dasar brengsek!” ucap Nurul. “Kita mau kemana, Tom?” lanjutnya.
Mata Tommy menatap mata Nurul, tenang dan tajam. “KIta mau pergi ke timur,” jawab Tommy. Itu membuat Nurul terenyak. “Timur?” ucapnya. “Seperti yang kukatakan sebelumnya, kita akan menikah,” ucap Tommy.
Perlu waktu sejenak untuk menangkap maksud Tommy. Tapi setelah bisa mencernanya, Nurul menegak penuh amarah. “Mau membawaku ke villa-nya Rudi? Menentang kemauanku? Dasar brengsek brengsek brengsek!” ucap Nurul kesal.
“Hei… hei… Jaga bicaramu. Kamu sedang berbicara dengan calon suamimu,” ucap Tommy sambil tersenyum angkuh. “Pak! Pak Yeyet! Hentikan mobil ini sekarang!” ucap Nurul mencondongkan tubuhnya ke depan, di antara dua kursi di depannya. Mobil tetap melaju.
“Pak Yeyet ga akan berhenti, kecuali aku yang memintanya. Lagipula kamu mau ngapain berhenti di sini? Mau minta diturunkan di tengah jalan? Apa kamu mau jalan kaki ke Jakarta?” ucap Tommy.
__ADS_1
“Kalau terpaksa, aku akan jalan kaki!” ucap Nurul. “Udahlah, Sayang. Jangan begini terus. Kamu pun tahu kalau menikah adalah satu-satunya solusi sekarang,” ucap Tommy.
“Menikah? Menikah dengan cara apa? Bahkan kamu bukan seorang muslim. Apa kamu akan menyeretku masuk ke gereja walaupun aku menjerit-jerit dan menendang-nendang? Bagaimana aku akan diterima oleh keluargaku? Bagaimana ayahku akan menerimamu?” ucap Nurul. “Aku muslim, nanti. Aku sunat, nanti! Jika terpaksa aku akan melakukannya!” Tommy mengulang perkataan yang diucapkan Nurul sebelumnya.