Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Tommy Menyucikan Diri


__ADS_3

Tommy kini terlihat lebih tenang daripada sebelumnya sewaktu dulu ia pertama kali datang ke klinik ini.  Kali ini Tommy lebih mantap.  Beberapa minggu ia telah mempersiapkan diri.  Tommy telah mengambil keputusan.  Setelah ia mempelajari apa yang baru baginya itu, ia dengan mudah dapat menerimanya.


*


Waktu itu, beberapa minggu yang lalu, ia memberanikan diri mengutarakan niatnya kepada salah seorang temannya, bukan Rudi apalagi Brian.  Di sebuah lingkungan kampus dengan keadaan yang sangat terik.


“ALLAHU AKBAR… ALLAAAHU AKBAR… “


“Dimas!  Lu mau kemana?” tanya Tommy menghentikan langkah kaki salah seorang temannya yang baru saja hendak meninggalkan ruang meeting kemahasiswaan.  “Kita lagi break, kan?” tanya pemuda itu kepada Tommy.  “Iya, maksud gua, lu mau pergi kemana.  Shalat?” tanya Tommy.


“Iya, lu tahu sendiri, gua kan muslim.  Itu di luar sudah terdengar kumandang adzan dzuhur, jadi gua mau ke masjid sekarang.  Gua mau shalat.  Kenapa, Tom?” ucap Dimas.  “Gua… gua… boleh ikutan shalat?” ucap Tommy ragu-ragu.


“Lu?  Lu serius, Tom?  Nih ya, perkara kaya beginian ga boleh lu becandain loh!” ucap Dimas.  “Serius gua!  Sebenarnya gua tertarik belajar jadi seorang muslim,” ucap Tommy.  “Oh, belajar.  Belajar doang ya?  Jangan lu politisasi ntar, urusan begini bahaya kalau dipolitisasi,” ucap Dimas.

__ADS_1


Tommy merangkul Dimas sembari mengajaknya berjalan bersama meninggalkan ruangan itu.  Suaranya pelan, ragu-ragu, dan ia sempat celingukan melihat ke sekeliling sebelum ia mengungkapkan sesuatu kepada Dimas.


“Gua serius, Bro.  Gua lihat lu adalah teman gua yang paling alim, paling rajin ibadah.  Gua harap lu bisa bantu gua soal ini,” ucap Tommy dengan suara rendah yang masih terdengar jelas sebab dilakukannya dalam jarak dekat.  “Tapi lu pernah nemuin ustadz atau ulama ga, Tom?  Gua saranin sih elu belajar sama orang-orang kaya gitu,” ucap Dimas sembari berjalan bersama Tommy.


“Sama elu aja dulu dah, Bro,” ucap Tommy sembari menggaruk punuknya.  Ia merasa enggan dengan pilihan yang baru saja dikatakan oleh temannya itu.  Melihat ekspresi Tommy yang begitu kikuk, Dimas pun berpikir ulang.  “Mungkin gua bisa nunjukin jalan buat Tommy.  Insya Allah kalau ni anak benar-benar jadi mualaf nantinya itu adalah sebuah kebaikan buat gua juga,” batinnya.


Dimas mengizinkan Tommy untuk mengikutinya ke masjid.  Mereka berjalan kaki di lingkungan kampus.  Jarak gedung tempat mereka sebelumnya dengan masjid fakultas tidak terlalu jauh, tapi dengan cuaca yang terik begini, berjalan kaki saja dapat membuat jarak seolah terasa lebih jauh.


Langkah mereka pun terhenti di teras masjid, Dimas yang menghentikannya.  “Sebelum masuk ke dalam masjid, kita harus dalam keadaan suci, Bro.  Bersih.  Alas kaki kita lepas di sini, nah taruh aja di rak sebelah sini.  Lalu, ada yang namanya wudhu, bersuci dengan air.  Sini, gua tunjukin, sekalian lu ikutin cara wudhu gua, ya?” ucap Dimas.


Dimas memberi tahu makna gerakan setiap basuhannya, lalu memberi tahu maksud dari doa yang diucapkan setelah semua prosesi basuhan itu dilakukan.  “Apa setiap doa ada persaksian Muhammad sebagai rasul?  Gua dengar di bacaan lain ada juga yang menyebutkan itu?” tanya Tommy.


Dimas tersenyum.  “Ucapan itu bukan sekedar persaksian dari segi ucapan, itu adalah akidah semua muslim.  Tidak ada muslim yang meragukan kerasulan Muhammad shalallahu alaihi wa salam.  Shalat adalah ritual utama dalam ibadah seorang muslim, yang syaratnya harus suci.  Kita baru saja bersuci dan berniat untuk shalat.  Jadi, mengerti kan kenapa di dalam doa ini menyebutkan Muhammad shalallahu alaihi wa salam sebagai rasul?” jelas Dimas.  “Oke, paham-paham,” jawab Tommy.

__ADS_1


“Soal ucapan doa, sebagai umat yang mengikuti petunjuk-petunjuk rasulullah, ya jadi setiap doa yang diajarkan beliau yang diikuti.  Kalau belum sampai ilmunya, cukup baca basmallah aja.  Kita diperbolehkan memanjatkan doa apapun, meminta dan berserah diri semata-mata kepada Allah subhanahu wa ta’ala, tapi sebisa mungkin kita menuntut ilmu.  Bagaimana doa yang diajarkan, adab-adab dalam berdoa, dan lain sebagainya” lanjut Dimas.


“Wah, berarti banyak sekali ya yang diajarkan nabi Muhammad?  Sampai kalian para muslim banyak hafalan doanya.  Itu semua sesuai yang diajarkan?” ucap Tommy menunjukkan raut takjub.  “Gua sebagai muslim yang ilmu dua masih cetek cuma bisa tahu sedikit-sedikit, Bro.  Yang terpenting bukan hafalannya, tapi maknanya kita tahu apa enggak,” ucap Dimas.


“Bener… bener… Sebab doa-doa muslim kebanyakan pakai bahasa Arab, ya,” ucap Tommy.  “Ya udah, deh.  Ngobrolnya dilanjutin nanti lagi.  Sekarang kita siap-siap buat shalat dulu,” ucap Dimas.


Sambil beranjak meninggalkan tempat wudhu, Tommy berkomentar kepada Dimas, “Wudhu tadi udah sering gua lihat sih secara online.  Gua lumayan familiar.  Tapi, baru kali ini gua ngelakuinnya secara langsung yang benar-benar dibimbing sama elu.”  “Ah, dibimbing?  Bahasa lu!  Ubah deh, emang gua apaan, ngebimbing?  Tingkatan kita sama, Bro.  Gua bukan guru lu,” ucap Dimas.


Ketika hendak memasuki ruang shalat, Dimas menghentikan langkahnya dan langkah Tommy.  “Nah, gini, gua kan mau shalat berjamaah, gua yakin lu belum hafal cara shalat, jadi gua saranin lu perhatikan dulu dari sini.  Nanti kalau gua sama yang lain udah kelar shalat berjamaahnya, gua bakal nunjukin ke elu caranya dan doa-doa di dalamnya itu kaya gimana,” ucap Dimas.


“Jadi, kita shalatnya berdua aja?” tanya Tommy.  “Yup,” jawab Dimas.  Tommy pun menyanggupinya.  Ia hanya duduk di salah satu sudut dengan arah pandangan yang masih dapat menjangkau para laki-laki shalat berjamaah.


Tommy memperhatikan orang-orang shalat berjamaah.  Gerakan itu begitu kompak.  Suasana begitu kondusif.  Memang ada anak-anak di barisan belakang yang tampak kurang disiplin, tapi mereka dijaga oleh pria tua yang mengondusifkan suasana dengan cara yang santun.  Tidak ada kegaduhan yang benar-benar mengganggu.

__ADS_1


Tommy benar-benar tidak meragukan sekumpulan orang yang ada di depannya.  Sikap kritisnya benar-benar hilang saat ini.  Bagi Tommy, ini adalah satu di antara beberapa cara beribadah kepada Tuhan.  Setiap orang bisa memilih dengan bebas atas keyakinannya, atas agama yang dipilihnya.  Pikiran Tommy begitu terbuka saat ini.  Ia tidak membanding-bandingkan perbedaan agama-agama yang diketahuinya.


Yang sedang Tommy percaya, tidak ada yang akan berubah dari dirinya.  Sebelum ini pun ia adalah seorang penganut agama lainnya, berkeyakinan kepada Tuhan.  Baginya, Tuhan punya banyak bahasa yang dimengerti-Nya, termasuk bahasa peribadatan orang yang berbeda-beda.  Tuhan punya hak prerogatif atas segala hukum yang dikenal manusia, walaupun itu hukum yang berbeda-beda menurut manusia.  Tommy hanya menjalani hidup, menjalani takdir yang menuntunnya.


__ADS_2