Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Dibawa Lari Tommy (revised)


__ADS_3

Badai amarah melanda Nurul saat ia mencari sesuatu, apapun untuk dilemparkan kepada Tommy.  Tapi Tommy bergerak dengan lihai menghindari pukulan Nurul.  “Tenang, Sayang! Tenang!  Kamu udah kaya orang mau dieksekusi mati aja,” ucap Tommy.


Perlawanan itu tiba-tiba berhenti dan Nurul menghempaskan tubuhnya ke kursi sambil mengerang.  Apa yang akan dikatakan Tuan Sudarsono jika ia tahu kepergian Nurul?  Berapa lama waktu yang diperlukan sebelum ia menduga Nurul telah melarikan diri?  Lalu berapa lama waktu yang dibutuhkan Tuan Sudarsono sebelum memutuskan untuk mengambil tindakan?


“Kamu ga tahu apa yang sudah kamu lakukan,” bisik Nurul dengan sedih.  Tommy meremas tangan Nurul.  “Jadi katakan kepadaku, sayang.  Aku janji, aku akan melakukan apapun untuk membebaskanmu dari kendali Sudarsono,” ucap Tommy.


Nurul mengarahkan tatapannya untuk memandang Tommy, sama sekali tak berdaya karena bimbang antara desakan untuk melepaskan bebannya dengan pemahaman yang pasti bahwa ia tidak bisa melakukannya.


Jika ia mengatakan kepada Tommy tentang semua ancaman Tuan Sudarsono, tidak diragukan lagi kalau Tomy akan bergegas kembali ke Jakarta dalam kemarahan dan akan menggertak Tuan Sudarsono dengan ancaman fisik.  Apa ayng bisa dicapai dengan melakukan hal itu?


Tuan Sudarsono punya satu bukti yang sangat kuat untuk melawan Nurul, dan tak satupun ancaman menakutkan dari Tommy bisa mengubahnya.  Tentu saja, campur tangan Tommy akan semakin mendorong Tuan Sudarsono untuk merealisasikan ancamannya.  Tidak ada yang bisa dilakukan Tommy untuk menghentikannya.


Tidak peduli sebesar apapun pengaruh yang dimiliki Tommy, ia tidak bisa mengulang kembali peristiwa-peristiwa yang menyebabkan kematian ibu Nurul.  Atau nasib buruk yang membuat Tuan Sudarsono bisa menguasai Nurul.


Seberapapun besar keinginan Nurul untuk menceritakannya kepada Tommy, ia tetap tidak bisa melakukannya.  Satu-satunya jalan keluar bagi Nurul adalah meyakinkan Tommy untuk kembali ke Jakarta, atau menemukan cara lain untuk melarikan diri dari Tommy.


Perjalanan ini kenyataannya sangat panjang dan mereka harus berhenti secara berkala.  Itulah saat Nurul bisa melarikan diri.  Jika ia bisa melakukannya secepatnya, ia bahkan mungkin bisa tiba di Jakarta sebelum terlalu banyak kekacauan yang terjadi.


Nurul menatap Tommy dengan penuh harap.  Sementara itu, ia harus bisa menghentikan Tommy.  “Nurul, Sayang?” bujuk Tommy.  “Kenapa kamu ga menceritakan saja semuanya padaku?” tanya Tommy.  “Itu bukan hal yang penting lagi sekarang,” jawab Nurul.


Tommy meringis, tampaknya merasa yakin Nurul akhirnya akan menceritakan kebenaran itu.  “Itu penting bagiku, Sayang,” ucap Tommy.


“Aku akan menceritakannya padamu, tapi tidak sekarang,” ucap Nurul.  “Kapan?” tanya Tommy.

__ADS_1


Apa yang seharusnya dikatakan Nurul yang akan bisa menyenangkan Tommy untuk sementara waktu sampai ia berhasil melarikan diri?  Tiba-tiba terlintas pikiran yang cerdik.  “aku akan menceritakannya kepadamu setelah kita menikah,” ucap Nurul.


Kecurigaan menyelimuti tatapan Tommy.  “Jadi kamu telah berubah pikiran?  Kamu bilang kalau kamu akan menikah denganku?” tanya Tommy.  Nurul sebenarnya tidak suka membohongi Tommy, terutama tentang masalah ini, tapi ia tak punya pilihan lain.  “Ya,” jawab Nurul.


“Kenapa?” tanya Tommy.


*


Nurul mengibaskan tangan ke atas dengan gerakan yang menunjukkan ketidakberdayaan.  “Aku mau menikah denganmu?” ucap Nurul.  Tommy menunggu jawaban Nurul.  “Karena kamu ga memberiku pilihan lain, dasar bego!  Aku cukup praktis untuk menyadari bahwa aku ga bisa melawanmu.  Jadi, aku akan menikah denganmu,” ucap Nurul.


Saat Tommy masih terlihat ragu, Nurul menambahkan dengan tegas, “Meskipun kamu ga bisa mengharapkan aku untuk menyukainya.”  Bibir Tommy mengencang.  “Kamu ga perlu membuat ini seolah hukuman mati,” ucap Tommy.  “Maaf ya, Tom.  Hanya saja aku rasa ini akan mengubah hidupku dengan dramatis,” ucap Nurul.


“Menjadi lebih baik,” sambung Tommy.  Setelah melepaskan tangan Nurul, Tommy bersandar kembali ke kursinya.  “Ga perlu ada alasan untuk menunggu sampai kita menikah untuk membuatmu mengatakan kebenaran itu kepadaku, kamu tahu itu,” ucap Tommy.


Sungguh menyakitkan bagi Nurul saat melihat perasaan terluka di wajah Tommy, terutama sekarang, saat ia sama sekali tidak terlihat seperti seorang bangsawan.  Semua penampilannya kusut termasuk rambutnya.  Tapi Nurul tidak punya pilihan lain.


“Kumohon, Tommy,” kata Nurul dengan lembut.  “Kamu udah menang.  apa artinya kalau kamu menunggu seminggu atau dua minggu untuk mendengar kisah sedihku?” ucap Nurul.  Tommy tersenyum dengan terpaksa, menandakan ia menyetujuinya.


Nurul duduk santai di kursinya.  Sekarang ia harus memikirkan cara agar ia bisa melarikan diri dari Tommy.  Pertama, ia harus menghentikan laju mobil ini.  Lalu, ia harus mengalihkan perhatian Tommy sebisa mungkin agar bisa melarikan diri.  Bagian yang terberat, ia harus mencari transportasi menuju Jakarta.  Bagaimana mungkin ia mengatur itu sekarang secara sekaligus?


Tiba-tiba perutnya berbunyi, membuat Nurul mendapatkan ide.  “Apa kamu mau membuatku kelaparan sampai kita tiba di tempat Rudi?” ucap Nurul.


“Aku ga bermaksud membuat kita berdua kelaparan,” kata Tommy sambil tersenyum.  “Kayaknya kita bisa makan pagi di rest area terdekat,” ucap Tommy.

__ADS_1


“Seberapa jauh?” ucap Nurul.  Tommy menanyakan hal itu kepada supirnya, ternyata mereka harus menunggu lagi karena rest area terdekat baru saja mereka lalui tadi.  Tommy pun meminta supirnya berhenti ketika sudah menemukan rest area nanti.


Nurul dan Tommy berhenti di rest area.  Mereka mengisi perut mereka, demikian juga dengan Pak Yeyet.  Pengawasan Tommy membuat Nurul tidak bisa berpikir untuk melarikan diri sedikitpun.  Bahkan toilet yang ada di rest area tidak punya celah untuknya agar bisa diam-diam kabur.


Mereka pun melanjutkan perjalanan.  Semakin jauh jarak tempuh yang mereka lampaui, Nurul tidak juga menemukan daerah yang disebut-sebut sebagai tempat Rudi tinggal.  Kenapa tidak belok ke Bogor?  Tidak ada papan rambu yang menuliskan Bogor.


Ternyata Tommy membawa Nurul lebih jauh lagi.  Tidak juga kunjung sampai di tempat peristirahatan, yang bukan sekedar untuk makan, Nurul curiga bahwa perjalanan mereka mengarah ke bagian lebih timur dari Pulau Jawa.


*


Waktu yang begitu panjang telah terlewati.  Akhirnya mobil mereka keluar dari jalur tol dan berhenti di sebuah hotel.  Desakan demi desakan Nurul akhirnya membuahkan hasil.  Tapi Nurul tidak ingin sebuah layanan hotel, ia menginginkan sebuah tempat dengan tingkat keamanan yang kurang untuk bisa melarikan diri.


Nurul menolak tempat itu.  Tommy menuruti permintaan Nurul.  Ia meminta supirnya untuk mencarikan penginapan yang sederhana, Nurul menunjukkan jalannya, di mana itu harus dekat dengan jalan lintas.  Ia beralibi tidak ingin terkungkung di tempat yang membosankan.  Definisi membosankan yang sangat abstrak tentunya, tapi Tommy menurutinya.


“Di sini,” kata Nurul.  “Ayo berhenti di sini,” lanjutnya.  Tommy memberikan tatapan jijik ke halaman penginapan.  “Wah, Sayangku, kamu sungguh sangat pemberani.  Selain bersentuhan dengan para pengunjung yang jarang mandi, mungkin kamu juga akan melihat seekor atau dua ekor kecoa di mejamu,” ucap Tommy.


“Aku ga peduli,” ucap Nurul sembari memberikan tatapan menantang kepada Tommy.  “Seorang bangsawan masa ga bisa nyewa tempat pribadi untuk kita berdua?” ucap Nurul.  “Tempat pribadi untuk berdua… “ gumam Tommy.  Tatapan penuh perhitungan terlintas di wajah Tommy.  “Oke, demi kamu, Sayang,’ ucap Tommy.


Seperti yang diduga, pemilik penginapan cukup senang memenuhi permintaan mereka.  Pria itu menatap Tommy dengan kekaguman yang tidak ditutup-tutupi, wajahnya begitu cerah.


“Aku dan istriku mau sebuah ruangan terbaik yang Bapak punya,” ucap Tommy.  “Pastikan supir saya juga dapat tempat terbaiknya,” lanjutnya.  Tommy lalu memberikan uang tambahan lalu dengan menatap Nurul sekilas, ia menggumamkan sesuatu yang lain ke telinga si pemilik penginapan.


Kepala si pemilik penginapan mengangguk dengan penuh semangat, Nurul berpikir kepala itu bisa saja terlepas karena terlalu semangat.

__ADS_1


Nurul meraih tangan Tommy saat ia menawarkan lengannya, berusaha untuk tidak terlanjur dalam kesenangan yang dirasakannya saat mendengar Tommy menyebutnya sebagai istrinya.


__ADS_2