
Seekor monster mengeluarkan kukunya yang panjang. Ia mengamuk mengerahkan segenap kekuatan tubuhnya. Ada poster koyak yang sudah tidak bisa diperbaiki, tapi monster itu tak kunjung mau berhenti.
Tembok dipenuhi bekas cakaran yang tak terhitung jumlahnya.
“Hentikan. Stop. Aku tak bisa memaafkan orang yang merusak barang berhargaku,” batin Nurul.
TING… TONG…
Lalu, bergemalah sebuah suara bernada tinggi. Bel gerbang. Siapa yang bertamu pada jam seperti ini? Lapisan plastik yang menyelimuti Nurul pun luruh seketika.
Ia turun ke lantai satu, kemudian memeriksa monitor yang menampilkan gerbang depan. Di sana, muncul wajah seorang nyonya paruh baya yang tersenyum-senyum. Nenek Sulatin, tetangga sebelah rumahnya. Nurul pun membuka pintu.
Nenek Sulatin mengenakan setelah baju training. Sebuah tas kecil berkilau tersampir miring di pundaknya. Belum sempat Nurul mengalihkan pandangan dari payet-payet emas seukuran koin di tas kecil itu, Nenek Sulatin sudah menyelinap memasuki gerbang depan.
“Ini cokelat oleh-oleh dari tetangga. Kami berdua sudah tua, jadi tidak bisa menghabiskannya. Kalau berkenan, silahkan diterima, ya.”
Nurul disodori kantung kertas kecil berlabel sebuah merek terkenal. Ini adalah cokelat yang begitu Nurul inginkan sejak lama. Nurul mengucapkan terima kasih begitu menerima kantung kertas itu. Tetapi, Nenek Sulatin tak kunjung beranjak.
Nenek Sulatin sedang mencuri pandang ke dalam rumah melewati pundak Nurul.
“Ah, anu, apa teriakan-teriakan kami tadi mengganggu?” tanya Nurul. “Ada kecoa muncul di kamar anak perempuan saya, jadi kami ribut. Kadang muncul. Sungguh maaf, karena saya dan anak perempuan saya berlebihan,” ucap Nurul.
Namun, Nenek Sulatin mengibaskan tangannya di depan wajah. “Aduh, aduh, apa sih? Saya tidak dengar suara apa-apa, kok. Maaf, ya, kalau saya datang jam segini. Saya tidak sopan. Nah, saya permisi dulu ya,” ucap Nenek Sulatin.
Nenek Sulatin berbalik masih sambil tersenyum, kemudian pergi. Nurul menutup pintu, menghembuskan napas lega.
Memalukan. Tantrum Putri dan teriakan Nurul jelas bergema di sekitaran sini. Pasti tidak cuma hari ini. Nenek Sulatin pasti merasa terganggu karenanya. Namun, ia nyonya yang kelihatan baik.
Mungkin ia memang benar-benar khawatir, bukan cuma sekedar ingin tahu. Barangkali hari ini kekhawatirannya semakin menjadi-jadi dan kebetulan ia punya cokelat sebagai alasan.
Akan tetapi, meski rumah mereka bersebelahan, memangnya suara mereka kedengaran? Suara dari luar kadang memang terdengar sampai ke dalam rumah, tetapi Nurul belum pernah sekali pun mendengar suara dari rumah keluarga Nenek Sulatin.
Apa karena mereka cuma berdua dan sudah tua? Namun, Nurul juga belum pernah mendengar suara-suara dari rumah Keluarga Saman di seberang rumahnya. Padahal, mereka punya anak seumuran Putri.
Meski anak-anak, mereka bisa dibilang terpelajar. Mereka masih remaja. Pasti sering menyetel musik dan menonton televisi.
Kalau dipikir-pikir lagi, rumah keluarga Nenek Sulatin yang berada tepat di samping mereka bukanlah rumah murahan. Berbeda dengan keluarga Nurul. Jadi, mustahil mereka terganggu oleh suara-suara gaduh itu.
__ADS_1
Apa benar Nenek Sulatin cuma ingin mengirim cokelat? Kalau benar begitu, Nurul sudah terlanjur menceritakan hal memalukan tentang kecoa.
Kalau apartemen kumuh tempat mereka tinggal, dulu, wajar sih. Tetapi mana mungkin ada kecoa di rumah yang baru berdiri selama tiga tahun ini? Kalau memang benar kecoa, ia harus menelepon developer rumah.
Apa Nenek Sulatin bakal menggosip soal ini? “Katanya rumah Nurul kedatangan kecoa, loh. Idih, saya sih, ogah,” kata-kata terngiang di kepada Nurul.
Nurul kehilangan tenaga untuk naik ke lantai dua, jadi ia kembali ke ruang keluarga. Televisi dan pendingin ruangannya masih menyala. Ia mengeluarkan buku kas dan kalkulator dari dalam laci, meletakkannya di meja.
Apa Nenek Sulatin sudah pulang? Nurul membuka jendela, menghadap ke jalan, sekitar 10 menit. Angin hangat sedikit menggerakkan kardigan katun tipis yang ia kenakan. Ia membuka tirai dan jendelanya lebar-lebar. Dimatikannya pendingin ruangan, lalu ia kembali ke meja. Kemudian, mulai mengisi buku kas sembari menggunakan kalkulator.
Malam ini berangin, cuacanya nyaman.
*
Beberapa jam kemudian, terdengar lengking suara seorang wanita.
“Hentikan!”
Nurul menoleh ke layar televisi. Televisi itu menayangkan sebuah acara dokumenter yang dimulai pukul sepuluh tadi. Seorang aktor veteran, yang baru kembali bekerja, sedang berbicara soal agungnya kehidupan setelah bertarung lama dengan penyakit yang ia derita.
Studio sangat hening, seolah memang sengaja dibuat begitu.
“Tolong!”
“Tolong!”
Bukan. Itu bukan suara televisi. Nurul memelankan volume televisinya. Kelihatannya teriakan dan suara gaduh itu datang dari luar jendela.
Ia memelorotkan pinggang, turun dari kursi, diam-diam mendekati jendela masih dalam posisi merangkak. Ia sedikit mengaitkan jari telunjuknya ke tirai untuk mengintip ke keadaan di luar.
Di balik pagar yang cuma bisa berfungsi sebagai hiasan itu, tidak ada tanda-tanda ada orang di jalanan yang diterangi cahaya lampu.
“Tolong hentikan!”
Suara itu kedengarannya begema dari dalam sebuah rumah. Nurul melepaskan jari telunjuknya dari tirai.
Apakah itu perampok? Apa harus melapor ke polisi? Namun, gawat juga kalau ia salah sangka.
__ADS_1
Saat ia sedang menimbang-nimbang, berikutnya bergemalah sebuah suara teredam.
Apa tidak ada orang lain yang dengar? Pada jam segini, seharusnya hampir semua tetangga ada di rumah atau malah jangan-jangan sudah ada yang melapor?
“Maaf!”
Nurul menutup kedua telinganya dengan tangan. Masih merangkak, ia menjauh dari jendela, lalu meninggalkan rang keluarga sambil berusaha agar tidak membuat sauara. Ia pun menaiki tangga.
Begitu membuka pintu kamar paling ujung, ia disambut udara dingin, seolah baru saja membuka pintu lemari es.
“Jangan seenaknya masuk! Ada urusan apa sekarang?”
Putri menoleh dengan raut sebal. Ia sedang tidur-tiduran di atas karpet yang masih berantakan, menonton televisi. Ada pelawak di layar. Volumenya tidak begitu kencang.
“Ada kejadian gawat,” bisik Nurul sambil menutup pintu.
“Apa?” Putri membalas dengan dingin.
Benar juga, suara gaduh dari luar tidak kedengaran di kamar ini. Hmm, tapi kalau memusatkan perhatian, suara gaduh itu bisa sedikit terdengar.
Nurul mengambil pengendali jarak jauh yang tergeletak di karpet, kemudian memelankan volume televisi. Ia merunduk sebelum mendekati jendela. Ia geser sedikit tirainya, lalu ia buka kunci jendela sambil berhati-hati agar tidak menimbulkan suara.
“Ma! Ngapain, sih?”
Putri yang sudah hendak memprotes mengubah posisi tubuhnya. Ia duduk, pun ikut melempar padangannya ke luar jendela.
“Uwaah!” Bergemalah suara teriakan rendah seorang laki-laki. “Tolong!” diikuti suara seorang wanita.
Suara itu terdengar jauh lebih jelas di sini ketimbang dari lantai satu tadi.
“Dengar, kan? Gawat.”
Mereka berdua memandang ke luar. Namun, Putri segera berdiri, lalu menutup jendela. Ia mengunci jendela, menyeret tirai sampai tertutup rapat, kemudian menaikkan volume televisi.
“Dasar Mama aneh. Biarin aja. Dari rumah seberang, kan, itu?”
Nurul baru sadar setelah diberi tahu begitu. Teriakan tadi rupanya suara Dian, nyonya rumah Keluarga Saman.
__ADS_1
Kenapa tadi Nurul tak langsung menyadarinya? Ah, wajars , sih. Selama ini, ia memang belum pernah mendengar wanita itu berteriak. Namun, kalau nyonya pendiam tersebut ternyata mampu menjerit sekencang itu, bukankah itu berarti memang ada sesuatu yang gawat?
“Kalau ada perampok bagaimana? Bagaimana kalau dia nanti bilang, ‘sudah berteriak tapi tidak ada tetangga yang mau menolong’?” ucap Nurul.