Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Insiden Kecil di Bazar


__ADS_3

Nurul dan Tommy kembali ke kursi penonton depan pentas teater.  Mereka pun menghabiskan sisa waktu pementasan dengan menikmati pertunjukan yang ada di depan mereka.  Saat pertunjukan menunjukkan bahwa cerita yang dipentaskan akan segera berakhir, Tommy pun pergi.   Tommy pergi meninggalkan kursinya setelah mencolek bahu Rudi dan berbisik padanya.


Acara penutupan pun tiba.  Nurul, Tante Lupita dan Rudi tampak berbincang dari kursi mereka.  Nurul dan Rudi berbincang untuk mengakrabkan diri dan Tante Lupita memberikan mereka ruang dengan alasan pergi ke toilet lalu kembali beberapa saat kemudian saat acara pementasan benar-benar usai.


Seusai acara, mereka pun membicarakan rencana untuk berkunjung ke bazar di taman kota.  Mendengar rencana itu Nurul langsung merasa was-was.  Ia memucat.  “Ma, Maria ga enak badan nih.  Boleh Maria pulang duluan?” bujuk Nurul kepada Tante Lupita.  Tante Lupita menempelkan punggung tangannya ke kening Nurul.


“Maria ga demam, Ma. Sejak awal Maria merasa ga cocok dengan udara di dalam.  Maria kedinginan.  Kayanya sekarang Maria masuk angin deh,” jelas Nurul.  “Iya, saya rasa AC di dalam tadi memang dingin sekali,” tambah Rudi.  Nurul senang karena alasannya secara tidak langsung mendapat dukungan.


Nurul tidak ingin kembali ke bazar itu karena ia takut bertemu dengan Ustadz Beni.  “Baiklah, Sayang.  Kamu pulang duluan saja, sementara Mama dan Nak Rudi akan mencari Icha dulu,” ucap Tante Lupita.  “Iya, biar nanti Tante saya yang antar pulang,” ucap Rudi.  “Oh, kalau begitu begitu Pak Pit selesai mengantarmu pulang, kamu bilang saja dia ga perlu jemput Mama, ya?” ucap Tante Lupita.  “Oke, Ma.  Kak, saya permisi pulang duluan,” pamit Nurul.  Mereka pun berpisah.


Tante Lupita dan Rudi pun berangkat ke taman kota.  Begitu sampai di sana, Rudi mengajak Tante Lupita untuk masuk ke dalam sebuah tempat makan.  Setelah menikmati pentas teater mereka tentu merasa lapar dan haus, maka Rudi meneraktir Tante Lupita.  Ia benar-benar pemuda yang baik, begitu menghormati wanita paruh baya dengan sopan.

__ADS_1


Mereka membicarakan rencana mereka untuk mengadakan liburan di villa Rudi di daerah Bogor.  Rudi adalah laki-laki yang sedikit kaku, jarang bahkan ia sendiri lupa kapan terakhir mengadakan perjamuan di tempatnya.  Dengan pengalaman Tante Lupita yang baik mengenai penyelenggaraan pesta perjamuan, Tante Lupita pun membantu Rudi untuk mempersiapkannya.


Seakan hal itu benar-benar akan terjadi dalam waktu dekat, padahal Icha sendiri belum ditemukan.  Namun, dengan kepandaian bicara Tante Lupita mampu membuat Rudi yakin bahwa Icha akan segera ditemukan, ibarat ia menemukan ponselnya yang hilang karena lupa menaruhnya di bagian mana di dalam rumahnya. 


Usai menghabiskan makanan dan minuman mereka dan membicarakan banyak hal tentang persiapan liburan mereka, Tante Lupita dan Rudi pun mulai berjalan kaki menelusuri stand demi stand yang berdiri di acara bazar.


Tibalah mereka pada sebuah bazar.  “Boleh dicoba, Madam… Ini adalah parfum alami terbaik.  Formula racikannya sudah ada secara turun temurun, bahan-bahannya asli dari Madura,” ucap salah seorang penjaga stand kepada Tante Lupita.  Madura?  Penyebutan tempat itu mengingatkan Tante Lupita pada Nurul.


Madura adalah asal daerah Nurul.  Ia menebak pasti Nurul tadi sengaja menghindar untuk ikut ke tempat ini karena kekhawatirannya bertemu dengan seseorang yang mengenalinya.  Tidak mungkin Nurul bertemu dengan orang-orang asal daerahnya dengan penampilan yang sudah berubah, tanpa kerudung.  Hal itu akan menimbulkan skandal bagi orang-orang di kampung halaman Nurul.


“Sa-saya… saya minta maaf, Mas.  Saya tidak sengaja,” ucap salah seorang remaja.  “Lalu bagaimana dengan ini semua?  Mau tidak mau saya juga yang akan mengganti ini semua!  Tahu tidak, Dek… cari uang sekarang itu susah!” ucap pria itu.  Rudi dengan segera mendatangi bagian belakang stand.  Ia merasa terpanggil dengan suara remaja yang terdengar menyedihkan itu.  Tante Lupita pun mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


“Ada apa ini?” tanya Rudi.  “Oh, maaf.  Ya, Allah… suara saya terdengar sampai ke depan ya?” ucap pria yang tadi menegur remaja itu.  “Tidak perlu memarahi adik ini sampai segitunya, Bang,” ucap Rudi.  “Habis bagaimana lagi.  Dia ini ceroboh sekali.  Sudah saya wanti-wanti sejak awal supaya ndak usah mengurusi bagian ini, sekarang kejadian kan?  Semua barang-barang ini pecah,” jelas pria itu sembari memelototi remaja itu.


“Biar saya yang ganti rugi,” ucap Rudi.  Tante Lupita memegang bahu Rudi, mencoba menahan aksinya yang seperti pahlawan itu.  Rudi menoleh sejenak dan mengerjapkan mata dan mengangguk kepada Tante Lupita.  Tante Lupita pun melepaskan tangannya.


“Saya memang kesulitan dengan ganti rugi semua ini, Mas… Tapi tetap saja adik ini harus diberi pelajaran.  Tidak bisa Masnya datang-datang begitu saja dan dia lolos dari perbuatannya ini,” ucap pria itu.  Tante Lupita menarik napas.  Ia merasa kesal.  Pria yang ada di hadapannya ini mengingatkannya pada Sudarsono.  Sosok protektif yang perfeksionis dan memperumit segala hal.  Walaupun niatnya baik yaitu memberi pelajaran kepada orang lain, tapi tetap saja caranya begitu menyebalkan.


“Bagini, adik ini akan saya berikan tugas sebagai hukumannya, sementara Abang melepaskan pertanggungjawaban masalah ini dengan membiarkan saya membayar ganti rugi,” ucap Rudi.  “Adik ini mau Mas kasih tugas apa?  Saya harus mempertimbangkannya, apakah sesuai atau tidak hukuman yang didapatkannya,” ucap pria itu.


“Sudahlah, Mas!  Kenapa harus ribet sekali begini.  Adik ini akan kami bawa ke rumah saya untuk mengerjakan pekerjaan tukang kebun di pekarangan rumah saya tanpa upah,” ucap Tante Lupita dengan emosi.  “Maaf, Nyonya.  Saya tidak bermaksud membuat perkara ini menjadi rumit seperti yang Nyonya kira.  Saya hanya ingin memberi adik ini pelajaran saja, karena sebelumnya dia tidak bisa dibilangin kalau pekerjaan ini tidak cocok untuk dia,” ucap pria itu dengan melembutkan suaranya.


Keputusan pun sudah disetujui, pemasalahan itu sudah usai.  “Ustadz Beni!  Ada telepon untuk Ustadz!” ucap seseorang memanggil pria itu.  Tante Lupita yang sudah melangkahkan kaki meninggalkan stand itu pun sempat mendengar saat pria tadi dipanggil.  “Oh jadi dia seorang ustadz!” batin Tante Lupita.

__ADS_1


Rudi dan Tante Lupita pun meneruskan perjalanannya menelusuri area bazar itu.  Stand demi stand sudah mereka kunjungi.  Rudi sampai berprasangka betapa Tante Lupita memanfaatkan keadaan, karena ia selalu mampir dengan waktu yang lama ke beberapa stand untuk melihat-lihat produk yang menarik perhatiannya.  


“Tante… Dimana Icha?  Tante tidak mempermainkan saya kan?” tanya Rudi.  Sepertinya Rudi hampir kehabisan kesabarannya setelah dari tadi menemani Tante Lupita berkeliling.


__ADS_2