
Berkenalan dengan Brian membawa angin segar bagi Nurul. Beberapa hari berlalu sejak pesta pertunangan mewah itu usai. Hari ini Nurul dan Brian mengadakan janji temu.
“Kali ini bukan tempat sembarangan, Ma. Kak Brian itu ngajakin aku ke kampusnya. Katanya dia pernah melihat Icha di sana. Kita ga pernah tahu kan, mungkin cowok yang melarikan Icha itu satu kampus sama Kak Brian,” ucap Nurul kepada Tante Lupita.
Mereka tengah menyantap sarapan mereka. Tuan Sudarsono ada di situ bersama mereka. Kali ini Nurul mulai terbiasa dengan kehadiran lelaki arogan yang menyebalkan itu. Nurul mulai berani menampakkan diri di hadapannya karena ia punya progres yang bagus untuk diceritakan kepada Tuan Sudarsono. Ia begitu percaya diri bahwa pergerakannya begitu cepat. Nurul bisa membuktikan bahwa dirinya bisa menjangkau lingkungan yang tak bisa dijangkau oleh mata-mata Tuan Sudarsono sebelumnya, lingkungan pergaulan anak muda.
“Sudahlah. Bocah ini akan bisa menjaga diri. Dia sudah besar. Lagipula dia pergi dengan orang baik-baik, anak dari rekanan bisnis kita,” ucap Tuan Sudarsono. Pria itu tampak memihak pada Nurul, tapi sebenarnya ia tidak pernah peduli dengan keadaan di sekeliling Nurul, bahkan keadaan yang membahayakan gadis itu.
Atas desakan dua orang di hadapannya, Tante Lupita akhirnya tidak bisa melarang Nurul pergi tanpa pendampingannya. Secara logika dari segi tempat, tujuan Nurul pergi hari ini adalah lingkungan yang aman dan dari segi orang yang bersamanya, teman Nurul itu punya latar belakang keluarga yang terhormat. Nurul pun dilepasnya pergi hari ini.
Brian menjemput Nurul dengan menggunakan motor berbodi besar. Tidak seperti biasanya. Nurul terheran dengan menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum lucu. “Tumben lu ga takut sama matahari, Kak?” goda Nurul begitu tiba di depan pintu rumahnya. “Jangan salah… Cowok berkulit gelap itu seksi tahu!” ucap Brian. “Oh, jadi lagi ngikutin tren baru sekarang?” goda Nurul lagi.
__ADS_1
Ocehan-ocehan pembuka hari di antara mereka berdua cukup membuka suasana menjadi ceria. Brian adalah cowok yang suka dengan hangatnya keceriaan. Hal itu membuatnya dekat dengan Nurul. “Lu udah pernah naik motor belum, sih?” protes Brian ketika mereka sudah melaju bersama di atas motor. “Hah? Emang kenapa, Kak? Bobot motorlu nambah banyak? Motorlu oleng?” ucap Nurul. “Mariaaaa… Bukan soal bobot! Lu udah cakep kok, cakep! Semampai, kaga gembrot,” ucap Brian yang mengencangkan suaranya untuk mengalahkan angin yang menerpa mereka.
“Terus kenapa lu bilang gua belum pernah naik motor?” tanya Nurul. “Mariaaa… Kalau boncengan itu lu harus pegangan yang bener. Emang lu mau nyungsruk ke belakang?” ucap Brian. “Iya, iya… Maap,” ucap Nurul. Nurul sebenarnya memang sengaja menjaga jaraknya dengan Brian. Prinsip pergaulan baginya terkadang masih ia pegang sampai sekarang. Nurul lupa kalau perannya sekarang adalah sebagai Maria, seorang gadis yang mengabaikan batasan pergaulan di antara lawan jenis.
“Nah, majuan dikit napa!” protes Brian. Nurul pun kali ini duduk lebih rapat. Lalu, Brian menarik tangan Nurul untuk melingkari pinggangnya sehingga tubuh Nurul berlekatan dengan Brian. “Ini bukan motor kang ojek! Beda CC. Kalau pelan-pelan malah sayang. Sementara kalau gua ngebut ntar lu terbang gara-gara ga pegangan!” protes Brian.
Pagi itu mereka melintasi jalanan ibukota untuk mencapai kampus Brian. Tidak ada perasaan saling tertarik sedikitpun di antara mereka, itu yang Nurul rasakan. Brian adalah teman yang asik, tidak lebih. Nurul rasa Brian pun merasakan hal yang sama. Nurul adalah gadis ceria yang cocok untuk mengimbangi sikap Brian.
“Woy!” teriak Tommy yang baru saja membuka kaca jendelanya. “Pantes lu kemarin dicariin susah bener! Asik pacaran rupanya! Kemarin lu dicariin dosbing lu!” lanjutnya kepada Brian. Melihat kehadiran Tommy, Brian merasa puas bisa memamerkan Nurul bersamanya. Brian tahu betul kalau Tommy tertarik dengan Nurul.
“Ya, jadi gua harus gimana?” tanya Brian yang juga meninggikan suaranya. “Lu mau kemana sekarang? Jangan sampe lu nanti telantarin tu cewek buat ngurusin SP-lu yang mandek di dosen pembimbing lu!” ucap Tommy. “Iya, ini gua sama Maria emang mau ngampus, Bro!” jawab Brian. “Yaudah, baek-baek lu! Gua juga ngampus. Maria, kalau ada apa-apa, ntar kamu baliknya sama Kakak aja. Daripada kamu gabut. Urusan ni anak ribet banget soalnya,” ucap Tommy.
__ADS_1
“Apa sih lu, Tom? Elu yang ribet. Gua memang mau gabut di kampus buat cuci mata. Udah, lu jangan ngurusin urusan orang deh,” ucap Nurul. Mendengar respon Nurul, Tommy semakin terbakar. Apakah sedekat itu hubungan antara Maria dan Brian, sampai Maria rela apabila harus terkatung-katung di kampus saat Brian menyelesaikan urusannya?
Nyatanya Tommylah yang telah terbakar api cemburu. Ia akan menganggap siapapun sebagai saingannya ketika seseorang itu sudah dekat dengan Maria. Termasuk Brian, cowok yang sebelumnya tidak pernah masuk dalam hitungannya sebagai saingan.
Setiba di kampus, Brian pun mengajak Nurul untuk duduk di kantin. Mengendarai motor dengan kondisi panas dan terkena radikal bebas membuat Brian berpikiran untuk mengajak Nurul minum. Sebenarnya karena dirinya sendiri yang tidak terbiasa dengan kondisi seperti itu. Biasanya ia ke kampus atau kemanapun dengan menumpang di mobil Tommy.
Nurul pun penasaran dengan sosok Tommy. Pembicaraan Brian yang sempat menyinggung diri Tommy pun ingin Nurul teruskan. “Sama, Kak. Gua juga eneg sama tu orang. Lu tahu ga, Kak, sebelum gua sama dia dansa di pesta itu… Dia sokap banget sama gua. Datang ujug-ujug ngaku-ngaku kenal sama gua, eh tahunya salah nyebut nama. Masa gua dipanggil Nurul?” ucapnya.
“Iya, gua tahu cerita itu. Jadi, ceritanya dulu itu Tommy katanya pernah ketemu cewek di kampung gitu. Nah, pas ngelihat elu dia bilang elu itu mirip banget sama tu cewek. Kalau menurut gua sih itu cuma akal-akalan dia aja buat ngedeketin lu,” jelas Brian. “Ngedeketin gua? Emang dia ga punya cewek? Katanya dia cowok populer, digandrungi cewek-cewek, mahasiswa unggulan yang berprestasi, aktivis lagi. Udah segitunya emang dia masih ga laku juga, Kak?” tanya Nurul.
“Bukan ga laku, Maria. Dia itu bebas mau jalan sama cewek manapun. Dia itu playboy kelas kakap. Cewek-cewek yang jalan sama dia itu cewek-cewek kelas atas, bahkan yang udah menikah pun banyak. Kalau urusan cewek mah gampang banget buat dia. Dia ga pernah ngejar-ngejar cewek, yang ada dia yang justru dikejar-kejar,” jelas Brian. “Walaupun mereka tahu kalau Tommy playboy?” tegas Nurul.
__ADS_1
“Ya, kan soalnya hubungan kaya gitu adalah hubungan sebatas pemuas nafsu doang. Udah biasa orang-orang ngelakuinnya. Yang gua tahu seumur-umur si Tommy itu ga pernah serius sama cewek. Dia ga pernah mau kalau kedekatannya sama cewek itu disebut sebagai hubungan pacaran. Hatinya itu keras banget sampe ga ada istilah ‘cinta’ dalam kamusnya,” jelas Brian.