Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Bagaimana Kalau Nurul Hamil? (revised)


__ADS_3

“Nurul, Sayang, bersikaplah praktis.  Kita ini harus menikah.  Itu satu-satunya yang bisa menyelamatkan kehormatanmu,” ucap Tommy.  “Sudahlah, Tom.  Ga ada seorang pun yang tahu tentang hal ini.  Kayanya ini juga ga akan berdampak banyak pada kehidupan kita masing-masing.  Lagipula… “ ucap Nurul.


“Lagipula apa?” potong Tommy.  “Kita berbeda keyakinan.  Keluarga kita ga akan menerimanya,” ucap Nurul.  Keyakinan?  Sejak kapan Nurul memperhatikan hal itu?  Tommy pun tidak pernah memikirkannya.  “Keluargamu yang ga bisa menerima, kamu lupa keluargaku seperti apa?” ucap Tommy.


“Jadi, ucapkan selamat tinggal untukku, Tom,” ucap Nurul.  Tommy turun dari tempat tidurnya dan mendekati nurul.  Ia memeluk Nurul dan meskipun Nurul berdiri dengan kaku, Nurul membiarkan Tommy memeluknya.  “Masalah itu ga ada, aku bisa menyesuaikannya,” ucap Tommy.  Mata Nurul membulat, Tommy akan berpindah keyakinan demi Nurul?


“Aku ga bisa membiarkan kamu pergi sekarang, Sayang.  Bagaimana kalau kamu hamil?” ucap Tommy.  Mengangkat dagu Nurul ke atas, Tommy memandangi wajah Nurul yang gelisah.  “Apa kamu akan menjauhkan anak ini dari ayahnya?” ucap Tommy.


*


“Ga mungkin kan kalau aku hamil, Tom?  Kita hanya melakukannya sekali,” ucap Nurul.  “Percayalah padaku,” ucap Tommy dengan getir, ia memikirkan orang tuanya.  “Cukup dilakukan sekali aja untuk membuat seorang perempuan hamil,” lanjutnya.


Wajah Nurul memucat.  “aku akan mengatasi masalah ini sendiri nanti.  Tapi aku ga akan membiarkanmu menikahiku.  Aku tahu kamu pasti berpikir kalau aku telah merencanakan semua ini sejak lama.  Merayu kamu agar kamu menikahiku dan seperti perempuan-perempuan lain yang kamu sangka hanya ingin hidup enak dengan hartamu itu.  Aku benar-benar datang ke sini sama sekali tidak mengharapkan kamu menikahiku!” ucap Nurul.


“Aku tahu, Nurul,” ucap Tommy.  “Aku pkir kamu akan senang mendapatkanku tanpa dibebani dengan kewajiban apapun.  Aku ga mengharapkan hal lain. Serius, aku ga mengharapkan apapun!  Aku ga akan pernah memaksamu untuk menikah!” ucap Nurul.


Tommy tak tahu apakah dirinya harus merasa senang atau terhina dengan kemauan keras Nurul untuk meyakinkannya.  “Aku mempercayaimu, Sayang” Tommy memeluknya dengan erat.  “Aku menawarkan pernikahan karena aku memilih untuk melakukannya.  Aku serius ingin menikahimu,” ucap Tommy.


“Kamu ga mungkin menginginkannya.  Kamu telah mengatakan ribuan kali kalau kamu ga akan mengambil keuntungan dari para perawan,” ucap Nurul.

__ADS_1


“Aku tahu yang aku inginkan, Sayang.  Jika keadaannya berbeda, aku ga akan mencari seorang perawan.  Tapi, aku telah mendapatkan seorang perawan, jadi kehormatan mewajibkan aku menikahinya,” ucap Tommy.


Nurul menggeliat untuk melepaskan diri dari Tommy.  Wajahnya terlihat terluka.  “Kehormatan?  Apakah itu alasan kenapa kamu ingin menikahiku?  Untuk menjaga kehormatanmu?” tanya Nurul.


“Dengar, Sayang…” kata Tommy dengan suara yang menenangkan saat ia meraih Nurul lagi.  Menepiskan tangan Tommy, Nurul meraup gaunnya untuk menutupi dadanya seperti perisai.  “Aku ga menginginkan kehormatanmu!” ucap Nurul.


Dengan geraman marah, Tommy menemukan pakaian dalamnya dan mengenakannya.  Ini akan berubah menjadi suatu diskusi yang panjang, hal terakhir yang ingin dilakukan Tommy sekarang.  Yang diinginkan Tommy adalah membawa Nurul kembali ke ranjang dan bercinta dengannya lagi.


Tapi, tampaknya Nurul tidak akan mau melakukannya.  Jelas sekali, Nurul ingin membuat Tommy mengucapkan janji cinta yang bodoh.  Sepertinya Nurul tidak akan mendapatkannya dari Tommy.  Sudah cukup buruk Tommy sangat terobsesi dengan Nurul sehingga pikiran untuk menikahinya bahkan membuat darah Tommy bergejolak.  Tangannya gatal ingin menyentuh Nurul lagi.


“Kita akan menikah, Nurul,” kata Tommy dengan tenang saat bergerak mendekati Nurul.  “Itu satu-satunya cara untuk memperbaiki situasi ini,” lanjutnya.  “Ga ada yang perlu diperbaiki,” ucap Nurul.


“Serius?  Ayolah, Nurul.  Kamu begitu putus asa untuk membuatku tutup mulut sampai kamu mau menghancurkan masa depanmu demi mencapainya.  Menurutku ada banyak hal yang perlu diperbaiki, dan menikah denganku sudah pasti akan memperbaiki semua itu.  Si tua Sudarsono tidak akan bisa memerasmu lagi,” ucap Tommy.


“Kenapa?” tanya Tommy.  Tommy meraih bauh Nurul saat ia berusaha menarik gaunnya.  “Kenapa penyamaran ini sangat penting bagimu sampai kamu bersedia bertindak sejauh ini untuk melindunginya?” tanya Tommy.


Untuk sesaat, Tommy berpikir Nurul mungkin akan mengatakan alasannya kepada Tommy.  Nurul terlihat seolah ingin mengatakannya kepada Tommy.  lalu wajah Nurul berubah menjadi kaku, ia mengarahkan pandangannya ke pintu di belakang panggung Tommy


“Biarkan aku pergi, Tom.  Kecuali jika kamu bermaksud menjadikan aku sebagai tawanan di sini.  aku akan pergi sekarang, Tom,” ucap Nurul.

__ADS_1


Tommy mencengkramkan jemarinya di bahu Nurul, melawan desakan untuk mengguncang tubuh perempuan di depannya dengan sekuat tenaga.  “Apa yang perlu kulakukan untuk membuktikan kalau aku hanya menginginkan kesejahteraanmu?  Kamu pernah mengatakan bahwa kamu ga bisa mempercayaiku karena aku hanya merasakan hawa nafsu saja,” ucap Tommy.


“Tapi, aku menawarkan pernikahan kepadamu.  Jika itu membuktikan kalau kamu bisa mempercayakan kepadaku tentang kebenaran itu, hal lain apa yang bisa kulakukan?” ucap Tommy.


Nurul melemas dalam cengkeraman Tommy.  “ini bukan masalah mempercayaimu… Jika aku bilang padamu maka aku beresiko mengalami lebih banyak kehancuran yang jauh lebih besar daripada kehilangan keperawananku.  Lebih dari yang ga bisa kukatakan,” ucap Nurul.


“Sialan Sudarsono!  Aku ga akan membiarkan dia melukaimu, paham!” ucap Tommy.  “Kamu ga bisa menghentikannya,” ucap Nurul.


Tommy mendorong Nurul menjauh dan bergegas menuju ke tumpukan bajunya yang ada di lantai.  “Kita akan melihat bagaimana mengatasinya,” tukas Tommy sambil mengenakan bajunya.


“Tidak!”  Nurul menyentakkan gaunnya lalu berlari mendekati Tommy dan meraih lengan laki-laki itu.  “Tidak, Tom.  Jangan mengusiknya!” ucap Nurul.  “Dia memanfaatkan seorang perempuan muda yang lugu.  Aku ga akan membiarkannya!” ucap Tommy.


“Kamu udah janji!” ucap Nurul saat ia berpaut pada lengan Tommy.  “Kamu bilang jika aku mau tidur di ranjangmu, kamu akan tutup mulut!” ucap Nurul.


Tommy membeku, menunduk untuk menatap Nurul yang pucat dan melihat kepanikan di mata Nurul.  Gaun Nurul belum terkancing, gaun itu tergantung sedemikian rendah hingga Tommy bisa melihat ujung berenda dari baju dalam Nurul.  Di bawah renda itu gundukan lembut dadanya terlihat.


“Aku udah melakukan tugasku,” kata Nurul dengan suara menderita.  “Jadi tolong lakukanlah tugasmu, tepati janjimu,” lanjutnya.


Tommy tidak bisa menolak saat ia tahu betapa besar pengorbanan Nurul untuk membuatnya tutup mulut.  Namun, Nurul telah meminta Tommy untuk tidak mengatakan apapun kepada Brian atau Sudarsono.  Tommy hanya bisa menduga kalau Nurul juga akan menganggap ia melanggar persetujuan mereka jika berbicara dengan Tante Lupita.

__ADS_1


Namun, ada seseorang yang bisa diajak bicara oleh Tommy, seseorang yang bisa membuat Nurul menyadari kebijaksanaan untuk menikah dengan Tommy.


“Baiklah,” ucap Tommy.


__ADS_2