Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Cinderella Tidak Jadi Tidur


__ADS_3

Nurul pun diserahkan Tuan Sudarsono kepada Tante Lupita.  “Dia sudah menyetujuinya,” ucap Tuan Sudarsono kepada Tante Lupita.  Tante Lupita menyorotkan pandangan kecurigaan kepada Nurul.  “Benarkah?” tanya Tante Lupita kepada Nurul.  “Iya, Tante,” jawab Nurul muram.


“Apa yang telah Mas lakukan kepada Nurul?” tanya Tante Lupita.  “Hanya memberikannya nasihat,” jawab Tuan Sudarsono yang beranjak pergi meninggalkan mereka.  “Mas!  Mas jangan buat yang aneh-aneh, ya!” ancam Tante Lupita yang sudah dipunggungi Tuan Sudarsono pergi.


“Tante… “ panggil Nurul.  “Semua baik-baik aja, kok, Tante,” ucap Nurul dengan suara yang merendah.  “Mama!  Panggil Tante ‘Mama’, Sayang.  Aku yakin kamu benar-benar menyayangi sahabatmu Icha sampai kamu mau berkorban untuknya seperti ini,” ucap Tante Lupita.


“Tidak juga, Tante.  Aku… Aku… Aku baru saja diperas,” batin Nurul yang mengurungkan niatnya untuk mengadukan pemerasan yang dilakukan Tuan Sudarsono kepadanya.  “Kamu harus merahasiakan alasan kenapa kamu bersedia menolong Om, bahkan dari saudariku.  Kalau tidak, Om akan membocorkan semua skandal kematian ibumu itu!”  Perkataan Tuan Sudarsono itu terngiang-ngiang di kepalanya.


“Mulai sekarang, aku adalah Mama kamu.  Dan kamu akan tinggal di sini sebagai anak Mama, Maria,” ucap Tante Lupita sembari merangkul pundak Nurul dan menuntunnya berjalan ke kamar baru Nurul.  “Jadi, nama Nurul jadi Maria, Tante?” tanya Nurul.  Tante Lupita memelototinya.  “Emh… Maksud saya, Mama.  Jadi nama saya sekarang Maria, Ma?” ucap Nurul mengulangi pertanyaannya.  Tante Lupita tersenyum pada Nurul.  “Iya, mulai sekarang dalamilah peranmu sebagai Maria, Sayang,” ucap Tante Lupita dengan langkah mereka yang seirama menuju kamar baru Nurul.


Semenjak Nurul berada di mansion mewah bersama Tante Lupita, segala gerak-gerik Nurul diatur.  Bagaimana cara Nurul berjalan, duduk, bahkan merunduk untuk mengambil benda yang jatuh sekalipun.  Semuanya serba diatur.


“Ingat, Sayang.  Tinggikan lehermu, ya seperti itu.  Dagu ini… ” ucap Tante Lupita sembari memegang dagu Nurul.   “Jangan sampai dagumu ini berjarak kurang dari satu jengkal dengan tulang rusukmu.  Mengerti?” lanjut Tante Lupita.  “Mengerti, Ma,” jawab Nurul.

__ADS_1


Ketika hendak makan malam, Nurul sudah lemas.  Kakinya sudah pegal berlatih menggunakan sepatu berhak tinggi sepanjang hari.  Perutnya sudah keroncongan.  Tapi, ia masih belum bisa menikmati hidangan mewah yang ada di depan matanya.


“Table manner kamu harus benar.  Posisi kaki dan pinggul…  Emh, besok kamu harus memakai celana jins dan kaos lengan pendek saja,” ucap Tante Lupita yang berdiri di sisinya.  Nurul mendongak begitu instruksi itu ia dengar.  Celana jins adalah celana yang ketat, kaos lengan pendek dan bagaimana Nurul bisa menghadapi orang-orang dengan pakaian seperti itu?


“Hanya di dalam rumah, Sayang.  Kamu tetap akan pakai pakaian muslimah ketika di luar nanti.  Soalnya sekarang Mama ga bisa lihat posisi tubuhmu sudah benar atau belum dengan pakaian seperti itu.  Kita harus membiasakan sikap tubuh yang benar,” ucap Tante Lupita.


Nurul pun sudah mempelajari cara bersikap dengan baik.  “Benar kata Mas Sudarsono.  Kamu memang anak yang cerdas.  Daya tangkapmu cepat.  Mama yakin Mama tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk melakukan ini semua,” puji Tante Lupita.  “Berarti saya udah bisa makan sekarang, Ma?” ucap Nurul dengan mata yang berbinar.  “Tentu saja,” ucap Tante Lupita.


Nurul pun melihat tidak hanya satu alat makan di depannya.  Ia memilih yang paling familiar, yaitu sendok dan garpu.  Karena itu adalah potongan daging yang lebar, Nurul pun mengambil garpu di tangan kanannya, menusukkan daging tersebut, membaca basmallah, lalu mengangkatnya dan hendak menggigitnya.


Setelah Nurul memperhatikan Tante Lupita dengan saksama, ia pun mengulangi apa yang Tante Lupita lakukan.  “Kalau begini terus kapan kenyangnya?” batin Nurul.  “Nah, iya, betul seperti itu.  Ayo, ayo lanjutkan makanmu.  Mama yakin kamu sudah lapar,” ucap Tante Lupita.  “Alhamdulillaaah… “ Nurul begitu lega mendengarnya.


Setelah aktivitas yang melelahkan itu, Nurul beristirahat di kamarnya.  Kini ia benar-benar bisa menikmati kamar yang sangat luas dan megah itu.  Nurul merebahkan tubuhnya di ranjang empuk dan luas.  Tangannya ia bentangkan lurus lalu tangan dan kakinya ia gerakkan seperti sayap kupu-kupu.

__ADS_1


Nurul terdiam menatap langit-langit kamarnya yang tinggi itu.  Lalu, pandangan matanya ia luncurkan ke sekelilingnya.  Lemari pakaian.  Benda misterius yang belum ia buka itu menarik perhatiannya.  Lemari itu begitu besar.  Nurul pun bangkit dan mendekatinya.


Nurul menyentuh ukiran indah pada lemari itu kemudian membukanya.  Ia tampak takjub dengan isi lemari yang dipenuhi pakaian.  “Mungkin ini semua punya Maria.  Ga boleh, ga boleh.  Bukan kepunyaanku,” batin Nurul mengurungkan niatnya untuk menyentuh salah satu pakaian tidur yang tergantung di hadapannya.


Sementara, kopernya masih berada di sisi lain.  Koper yang sudah ia buka dan belum ditutup secara sempurna.  Sembari menengok ke kopernya yang jauh itu, Nurul berpikiran lain.  “Identitas Maria kan memang sedang aku pakai.  Jadi, ga masalah dong kalau aku mau nyoba baju Maria sebentar aja?” batin Nurul.


Nurul pun kembali mengalihkan pandangannya ke deretan pakaian mahal yang tergantung di depannya itu.  Ia lalu mengambil salah satu gaun tidur berwarna pink yang begitu cantik.  Nurul lalu melepas pakaiannya dan menggantinya dengan gaun tidur itu.  Ternyata gaun tidur itu begitu pas di tubuh Nurul.


Nurul bercermin dan memutar-mutar tubuhnya di hadapan cermin itu.  Rambutnya yang panjang sepunggung ia urai.  “Cantik bangeeet!” gumam Nurul mengepalkan kedua tangannya di pipinya dan menghentak-hentakkan kaki-kakinya yang mungil.  Ia melihat kakinya yang jenjang terbuka di bagian betisnya yang mulus.  Ia juga melihat bagian dada yang terbuka.  Lalu, rambut yang terurai jatuh membelai dadanya yang terbuka itu.


Nurul menyeka rambut sampingnya ke belakang telinganya.  Ia mengambil sisir yang tergeletak di atas meja rias tersebut.  Nurul menyisir rambutnya perlahan-lahan sembari menikmati pemandangan indah di hadapannya.


“Hai, namaku Maria.  Hihihi…” ucapnya disusul dengan kekehnya.  “Eh, salah.  Gini, gini… Hai, gue Maria,” ucap Nurul sembari mengangkat dagunya lebih tinggi dan mengangkat sebelah alisnya.  Nurul lalu tersenyum sembari menggeleng.  “Astafirullahal adziim… Nurul! Nurul!” ucapnya sambil bangkit.  Ketika ia hendak mengganti kembali pakaiannya, ia membalikkan tubuhnya lagi di depan cermin.

__ADS_1


“Ga ada salahnya nyobain gimana Putri Cinderella kalau tidur,” ucapnya mencegah mengganti kembali pakaian itu.  Nurul pun beranjak ke ranjang dengan pakaian itu.  Ia membaringkan tubuhnya dan menarik selimut lembut untuk menutupi tubuhnya.


Baru beberapa menit ia memejamkan matanya, tiba-tiba ia membelalakkan matanya dengan cepat.  Nurul tidak jadi tidur.  Sesuatu baru saja mengusiknya.


__ADS_2