Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Tommy Marah (revised)


__ADS_3

Tommy memandang Nurul dengan Muak.  “Nurul, kamu kan ga bodoh.  Apa kamu benar-benar mengira Sudarsono akan berhenti begitu saja setelah menawarkan uang?  Bagaimana kalau kekasih Icha ini menolak uang Sudarsono?  Apakah Sudarsono akan mengancam untuk menghancurkannya?  Atau apa dia akan mengatur agar laki-laki itu harus… dilenyapkan?” ucap Tommy.


Mata Nurul melebar.  “Maksudmu dibunuh?” tanya Nurul.  “Tentu saja!  Aku ga heran kalau Sudarsono melakukannya.  Dia pasti ga akan mengajukan duel, dia tahu dia ga akan menang.  Tapi dia akan menyewa penjahat untuk mencederai Rudi di sebuah jalan gelap,” ucap Tommy.


“Dia ga pernah menyebutkan pembunuhan!” ucap Nurul.  Nurul terdiam sejenak.  Seorang pria yang mengancam akan mengirim dirinya ke penjara jika ia menolak permintaan Tuan Sudarsono pasti tidak akan ragu untuk melakukan pembunuhan pada seseorang.


Nurul menghela napas dengan susah payah.  “Meskipun demikian, aku ga tahu siapa laki-laki yang menjadi kekasih Icha.  Dia sangat mungkin bukan Rudi,” ucap Nurul.  “Ya, mungkin juga memang Rudi.  Aku ga pernah mengira jika Rudi akan berbuat nekat untuk mendapatkan Icha.  Tapi, siapa yang tahu?” ucap Tommy.


Tommy mencondongkan tubuhnya dan wajahnya menegang.  “Bahkan jika laki-laki itu bukan Rudi, kamu menolong Sudarsono untuk menghancurkan hidup seorang laki-laki malang.  Kenapa?” ucap Tommy.


“Icha adalah sahabatku,” ucap Nurul dengan tegas, mengingat semua penjelasan yang pernah dilakukannya dengan Tante Lupita.  “Aku ga mau melihatnya menikah dengan seorang… seorang… “ ucap Nurul.  “Pemburu harta?  Omong kosong!  Jika sahabatmu itu jatuh cinta pada seorang penggembala miskin, kamu pasti bersedia pergi sampai ke ujung bumi untuk menolong mereka menemukan kebahagiaan.  Aku mengenalmu.  Kamu mempercayai pemikiran tolol semacam itu?” ucap Tommy.


Ekspresi Tommy semakin tegang.  “Apa yang terjadi dengan keenggananmu untuk berbohong?  Apa aku bisa merasa yakin kalau kamu melakukan penyamaran yang tidak kamu inginkan itu?  Melepas kerudungmu, memakai gaun yang menggoda, hanya sekedar untuk menolong sahabatmu?  aku ga yakin dengan hal sebodoh itu!” ucap Tommy.


“Terserah.  Aku ga peduli kamu percaya atau enggak!” ucap Nurul.  “Kamu sebaiknya peduli.  Karena aku akan kembali ke Jakarta segera setelah aku mengantarmu pulang.  Aku akan segera menyelesaikan masalah ini, meskipun aku harus mencekik Sudarsono untuk menyelesaikannya!” ucap Tommy.

__ADS_1


Kepanikan melanda Nurul.  “Jangan lakukan itu, Tom!  Kalau perlu kamu bisa mengatakannya kepada Rudi dan Brian.  Peringatkan mereka supaya menjauh.  Tapi, kumohon jangan mendatangu Tuan Sudarsono!” ucap Nurul.


Tommy meraih bahu Nurul dan mengguncang tubuh Nurul.  “Kenapa?  Apa yang telah diancamkan Sudarsono kepadamu?” tanya Tommy.  Air mata mengalir di pipi Nurul.  “Aku… aku ga bisa…. mengatakannya kepadamu!  Kamu ga bisa melakukan apapun untuk mengatasinya dan seandainya aku mengatakannya kepadamu… “ ucap Nurul.


“Apa itu berhubungan dengan sumber penghidupan ayahmu?  Apa karena itu?  Dia mengancam akan menghentikan sumber penghidupan ayahmu?  Dengar, Nurul, aku bisa memberikan ayahmu sepuluh kali lipat sumber penghidupan, dimanapun dia menginginkannya!” ucap Tommy.


“Bukan itu masalahnya!”  Nurul menatap dengan panik.  “Tuan Sudarsono tahu sesuatu tentang diriku… dia mengatakan jika dia akan… “  Nurul tidak bisa mengatakannya kepada Tommy.  Laki-laki itu pasti akan menemui Tuan Sudarsono, meskipun Nurul memohon dengan cara apapun untuk menghentikannya.


Tommy adalah laki-laki yang akan bertindak semacam itu, dan ia tidak akan pernah terima bahwa ia tidak bisa mencegah Tuan Sudarsono untuk menjebloskan Nurul ke penjara.  Jadi, Tommy akan bertindak sembrono dan mengancam Tuan Sudarsono dan tidak menghasilkan apapun kecuali kehancuran Nurul.  Nurul hanya bisa menemukan cara untuk mencegahnya.


Tommy sekarang menatap Nurul seolah ia seperti seekor serangga yang menjijikan.  Setelah melepaskan cengkraman tanga Nurul di bajunya, ia lalu bersandar kembali ke kursinya.  “Sesuatu?  Sesuatu sekeji apa yang diketahui Sudarsono tentangmu sehingga kamu bersedia menawarkan dirimu menjadi istri simpananku, untuk mencegah terungkapnya rahasia itu?” tanya Tommy.


*


“Sesuatu sekeji apa yang diketahui Sudarsono tentangmu sehingga kamu bersedia menawarkan dirimu menjadi istri simpananku, untuk mencegah terungkapnya rahasia itu?” tanya Tommy.

__ADS_1


“Itu tidak menjadi masalah lagi.  Kita akan segera menikah, maka mungkin dia tidak akan… “ Nurul semakin pelan.  “Apa yang kukatakan?  Sudarsono membencimu.  Jika kita menikah, dia bahkan semakin bersemangat untuk memanfaatkan apa yang diketahuinya itu untuk melawanku,” ucap Tommy.


Tommy memandang Nurul dengan tatapan waspada, jantung Nurul serasa terpelintir di dalam dadanya.  “Selain itu, kamu ga menginginkan seorang istri yang punya rahasia gelap kan?  Di satu sisi, kamu merendahkan dirimu sendiri karena menikahi seorang gadis desa bodoh.  Tuhan akan melarangmu untuk menikahi seorang perempuan yang menyimpan rahasia-rahasianya dan tidak menceritakannya kepadamu.  Perempuan itu mungkin seorang pencuri atau seorang… seorang pembunuh,” ucap Nurul.


“Sudah cukup!  Aku memintamu untuk mempercayaiku,Nurul,” ucap Tommy.  “Tapi kamu ga akan melakukannya kan?  Itu bukan hal yang dilakukan seorang konglomerat muda bernama Tommy.  Tidak,kamu harus tahu segala sesuatu, memegang kendali atas segala sesuatu.  Kamu ga pernah bertindak sedemikian bodoh untuk mempercayai orang lain,” ucap Nurul.


“Sialan kamu, Nurul!  Tutup mulutmu!”  Mata Tommy berkilau seperti dua obor yang menyala di tengah gelap malam.  Lalu, ia mengentakkan kepalan tangannya dengan keras ke atap mobil.


Menurut Tommy, Nurul terlalu bertela-tele.  Ia begitu menunggu penjelasan Nurul dengan berapi-api, tapi Nurul justru membahas mengenai perspektif perasaan.  Betapa Tommy ingin Nurul mempercayainya, tapi Nurul menuntut agar dirinyalah yang mempercayai Nurul untuk menyimpan rahasia itu sendiri.


Tommy begitu tidak tega dengan gadis itu apabila ia menyimpan rahasia itu sendiri, sesuatu yang membebani gadis itu.  Proteksi diri Nurul begitu kuat, begitu gigih mempertahankan apa yang menurut Nurul benar.  Tommy tidak habis pikir apa yang membuat Nurul begitu kuat mempertahankan prinsipnya itu.  Sejak dulu Nurul yang dikenalnya memang begitu kuat memegang prinsip, seorang gadis yang begitu berkarakter.  Tapi, bagi Tommy saat ini keputusan Nurul adalah salah.


Tidak demikian dengan Nurul.  Ia begitu mengutamakan perihal posisi dirinya terhadap Tommy.  Baginya, sebuah pasangan adalah sebuah hubungan yang mementingkan posisi keduanya.  Tidak ada salah satu di antara keduanya yang bisa mendominasi lainnya sehingga masalah perasaan diabaikan.  Antara satu dan lainnya diperlukan keterbukaan dan sikap menerima juga menghormati.  Baginya, Tommy perlu menghormati keputusan dirinya.


“Pak, jalan lebih ngebut, Pak!” ucap Tommy kepada supirnya.

__ADS_1


__ADS_2