
“Jika kamu punya harapan besar bahwa Brian akan menikahimu, lebih baik kamu melupakan harapan bodohmu itu. Kalau dia tahu dirimu yang sebenarnya, dia ga akan sudi menikahimu bahkan mendekatimu sekalipun,” ucap Tommy. “Iya makasih banget udah mengingatkanku lagi tentang rendahnya statusku,” ucap Nurul dengan pahit.
“Aku menjadi sasaran empuk untuk kalian para laki-laki, sangat mudah untuk dimanfaatkan tapi ga cukup baik untuk kalian nikahi. Gitu kan? Jangan khawatir, Tommy. Aku ga akan pernah lupa dari mana tempatku berasal,” lanjutnya.
Tommy baru menyadari dampak ucapannya saat Nurul berbalik dan membuka pintu. “Tunggu, Nu… Maria. Aku ga bermaksud… “ ucap Tommy menyesal. Tapi Nurul sudah berjalan menjauh dari pintu. Kepala Nurul diangkat begitu tinggi sehingga merupakan keajaiban karena kepala itu tidak jatuh dari leher kecilnya yang jenjang.
Mengutuki dirinya karena telah bersikap kasar, Tommy mulai mengejar Nurul, lalu melihat Rudi dan para tamu lain sedang berjalan berdatangan. Dengan cepat, Tommy kembali ke ruangan sebelumnya. Percakapan sopan adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya pada saat kecemburuannya menguasainya dengan dahsyat.
Tommy mendengar seorang pelayan mengumumkan bahwa makan malam telah siap. Lalu, Rudi berkata, “Bagaimana kalau Bapak Ibu dan saudara semuanya pergi duluan ke ruang makan untuk makan malam? Saya akan menjemput para tamu yang lain,” ucap Rudi.
Tommy melihat sekilas ke seluruh ruangan. Ia mencari tempat untuk melarikan diri. Tapi ia tidak menemukannya. Hal selanjutnya yang ia tahu, Rudi telah berjalan santai menuju ke ruangan itu. Rudi memandang ke sekeliling, ia merasa heran. “Dimana Brian dan Maria?” tanya Rudi. “Mana saya tahu,” jawab Tommy.
Tommy tidak bisa mencegah kegetiran suaranya. “Dia mungkin sedang ‘menghibur’ Brian dengan cara yang hanya bisa dilakukan seorang perempuan. Kamu mungkin bisa mencari mereka di kamar tidur,” ucap Tommy. Rudi melengkungkan alisnya. “Kecemburuanmu terlihat jelas, Tom. Kamu pasti tahu dengan pasti kalau Maria tidak akan pernah masuk ke kamar tidur bersama Brian,” ucap Rudi.
__ADS_1
“Oh, ya?” Tommy memandang sudut ruangan lain dengan tatapan kosong, ia merasakan dorongan kekanak-kanakannya untuk meninju dinding di hadapannya. “Brian mungkin berpikir sebaliknya. Dia menyiratkan kalau dia hampir bisa mendapatkan Maria,” ucap Tommy. “Brian akan mengatakan apapun yang dia suka untuk memancingmu. Kamu tahu banget hal itu. Itu semua hanya kebohongan,” ucap Rudi.
“Terus kenapa Maria tidak menyangkalnya?” protes Tommy. “Kamu itu benar-benar bilang semua yang dikatakan Brian kepada Maria?” tanya Rudi lalu menggelengkan kepala. “Ya iyalah!” ucap Tommy. “Astaga! Apa kamu sama sekali ga punya perasaan? Itu berkaitan dengan kehormatan seorang perempuan, kamu menyepelekannya!” ucap Rudi.
“Ya ampun, Tommy… Kamu ga boleh menuduh seorang perempuan dari keturunan terhormat bebas menebarkan kasih sayangnya, kecuali jika kamu dengan sengaja ingin menghinanya. Dan terutama karena kamu ha mengatakan kepadanya bahwa kamu mendengarnya dari seorang laki-laki bodoh penggosip terus mempercayainya begitu saja,” lanjut Rudi.
Tommy mengingat kembali seluruh percakapannya dengan Nurul. “Apa Maria mengakui kalau Brian telah menyentuhnya?” desak Rudi. “Ga kaya gitu. Tapi dia merona setiap kali nama Brian disebut,” jawab Tommy. “Oke, aku paham. Ini bukti menurutmu. Aku berharap kamu mendengarkannya. Jika laki-laki lain mengatakan dongeng semacam itu, kamu pasti akan menertawainya saat dia kebingungan.” Rudi menggelengkan kepalanya. “Lagi pula, apa pedulimu? Jika kamu ga berminat menikahi gadis itu, apa masalahnya kalau Brian mendekatinya?” lanjut Rudi.
Rudi ragu sebelum menjawab. “Sebenarnya mengundang Brian itu adalah ide Tante Lupita. Aku ga mau mengundangnya, tapi Tante Lupita memaksaku,” jawab Rudi. Tidak habis pikir bagi Tommy, bagaimana jika Tante Lupita dan Tuan Sudarsono punya sejumlah ide aneh untuk menikahkan Nurul dan Brian. “Apa kaitan Tante Lupita dengan hal ini?” tanya Tommy.
“Jamuan makan malam ini adalah idenya. Dia berjanji untuk mendukung hubunganku dengan Icha di depan Tuan Sudarsono. Tapi, pertama-tama dia ingin mengenalku lebih jauh apakah cocok sebagai seorang suami,” ucap Rudi. Penjelasan Rudi mengejutkan Tommy. “Apa maksudmu?” tanya Tommy.
“Apakah segala sesuatu telah berkembang sedemikian jauh dengan Icha? Bahkan kamu belum pernah melihatnya lagi selama berminggu-minggu!” ucap Tommy. “Itu ga merubah apapun. Aku masih serius dengan keinginanku untuk menjalin hubungan dengannya,” jawab Rudi. Tommy ingat tentang apa yang dikatakan salah satu orang kepercayaannya, asistennya, kepadanya. “ Kayanya ada sesuatu yang perlu kamu waspadai, Bro. Icha bahkan kabur dari rumah. Ga ada yang tahu apa yang udah terjadi pada cewek itu,” ucap Tommy.
__ADS_1
“Ya, aku tahu,” ucap Rudi. “Kamu tahu?” tanya Tommy terkejut. “Tante Lupita menceritakannya padaku. Sekarang Icha berada di tempat yang aman. Ia terlindungi dari para ‘bajingan’ sepertiku,” ucap Rudi. Rudi tersenyum.
“Tapi Tante Lupita bilang kalau kakaknya itu sungguh bodoh. Tante Lupita bilang jika akku bisa membuktikan kalau aku layak diterima, dia akan mencari cara untuk menghadapi setiap keberatan yang diajukan Tuan Sudarsono,” jelas Rudi. Itu menjadi sesuatu yang masuk akal bagi Tommy. Itu seperti kebiasaan Tuan Sudarsono untuk melakukan sesuatu yang sangat dramatis, dan juga menjadi kebiasaan Tante Lupita untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya.
Jadi kepergian Icha tampaknya tidak berkaitan dengan penyamaran Nurul. Lalu apa rencana mereka berdua kalau begitu? “Mengundang Brian adalah ide Tante Lupita,” batin Tommy. “Brengsek! Ini pasti ada hubungannya dengan Brian! Jika tidak seperti itu, kenapa Nurul bersedia mendekati laki-laki itu? Dan sekarang karena ia memikirkan hal itu, Nurul juga telah menggunakan waktunya bersama Brian sejak pesta pertunangan itu,” batin Tommy.
Pikiran tentang Brian dan Nurul bersama membuat Tommy merasa takut. “Apa kamu baik-baik aja, Tom?” tanya Rudi. “Kok kamu kelihatan pucat gini ya?” tambah Rudi. “Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lapar,” ucap Tommy. “Ya udah. Kalau begitu sebaiknya kita ke ruang makan sekarang,” ajak Rudi.
Rudi mengikuti Rudi berjalan berpindah ruangan. Ia memang lapar. Lapar untuk tahu apa yang sedang terjadi. Setidaknya sekarang ia punya cara untuk membuat Nurul mengatakan kebenaran padanya.
Oh, ya, Tommy punya suatu kejutan kecil yang tidak terduga untuk Nurul saat ia bisa berdua saja dengan perempuan itu. Tidak akan ada lagi air mata atau permohonan yang bisa membuat Tommy luluh kali ini.
Nurul melirik ke seberang meja makan tempat Tommy duduk di sebelah seorang janda muda yang memikat. Syukurlah perhatian Tommy sepenuhnya tertuju kepada perempuan itu. Mungkin perempuan penggoda itu akan meyakinkan Tommy untuk segera meninggalkan jamuan ini. Nurul pasti akan senang jika janda itu melakukannya.
__ADS_1