Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Perihal Bunuh Diri (revised)


__ADS_3

Setiap kemarahan yang seharusnya Nurul rasakan diredam oleh kenyataan bahwa Tommy telah bersedia memberikan pengorbanan terbesar untuknya, meskipun Tommy berpikir bahwa Nurul telah merenggut nyawa ibunya.  Kesenangan yang meluap telah memenuhi hati Nurul.  “Bukan masalah lagi, Tom,” Nurul mengulangi perkataannya dengan tenang.  “Tapi aku tidak membunuh ibuku,” lanjutnya.


Ayah Nurul mengerutkan dahi saat melihat candaan Nurul yang tidak pada tempatnya, lalu menatap marah kepada Tuan Sudarsono.  “Tidak, Nurul tidak membunuhnya, istriku bunuh diri,” ucap ayah Nurul.


Perkataan itu mengejutkan setiap orang, tapi Nurul terdiam, lebih karena siapa yang mengucapkan perkataan itu daripada ucapannya.  Sekarang setelah merasa yakin bahwa ia telah mendapatkan perhatian dari setiap orang, ayah Nurul menambahkan, “Dan yang lebih penting, aku bisa membuktikannya.”


Meraih ke dalam sakunya, ayah Nurul dengan cepat mengambil selembar kertas yang terlipat.  “Anda lihat, istriku meninggalkan catatan tentang bunuh dirinya,” ucap ayah Nurul.


Sekali lagi, Nurul merasakan kelegaan menerpa dirinya.  Ia masih merasa bersalah karena ramuan buatannya yang diberikannya telah membunuh ibunya.  Tapi, cerita ini memberikan perbedaan saat tahu bahwa ibunya tidak hanya mengalah pada rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya dan meminum terlalu banyak obat yang ditinggalkan Nurul secara ceroboh di dekatnya.


Penjelasan menyeluruh dalam pesan itu tentang alasan-alasan ibunya memutuskan untuk bunuh diri membuktikan bahwa ibunya telah merencanakan kematiannya sendiri.  Ia merencanakan dan melakukan bunuh diri.  Nurul tidak bisa menyalahkan ibunya atau dirinya karena hal itu.


“Apa maksud Ustadz?” kata Tuan Sudarsono dengan curiga.  “Tidak ada yang pernah tahu tentang surat semacam ini,” lanjutnya.


Ayah Nurul merona.  “Saya tahu.  Itu membuktikan tidak hanya tentang perbuatan dosa, tetapi juga merupakan suatu kesalahan yang mengerikan,” ucap ayah Nurul.  Ia ragu sejenak, seolah enggan untuk mengungkapkan begitu banyak yang dilakukannya di hadapan banyak orang asing.  Lalu, ia menghela napas, tampaknya menyadari bahwa ia tidak punya pilihan lain.

__ADS_1


“Di hari mendiang meninggal dunia, saat saya pulang ke rumah dan menemukan pemilik yayasan bersama Nurul, bisa dikatakan saya memang sangat kecewa dan terguncang.  Saya mengurung diri di kamar selama beberapa waktu dan saat itu saya menemukan surat ini.


Nurul bergegas mendampingi ayahnya, merasakan lagi semua penderitaannya.  Ayahnya bersandar pada Nurul untuk mendapatkan dukungan.  “Reaksi pertama saya adalah kengerian.  Istri saya telah melakukan dosa besar.  Mungkin almarhumah tidak diterima dengan baik di sisi-Nya,” ucap ayah Nurul.


Ayah Nurul berhenti sejenak, mengatasi emosinya.  “Dan bahkan yang lebih buruk adalah pemahaman bahwa penyakitnya sangatlah menyakitkan sehingga dia berpikir untuk melakukan tindakan mustahil semacam itu,” lanjutnya.


Ayah Nurul memandang wajah putrinya.  “Lalu, saya mulai memikirkan hal-hal lain, hal-hal yang egois.  Jika peristiwa bunuh diri itu tersebar luas, saya akan kehilangan kepercayaan orang-orang kepada saya untuk memimpin yayasan.  Lalu bagaimana pengaruhnya bagi putriku?  Bisa dipastikan akan mustahil baginya untuk menikah atau memiliki sejenis kehidupan yang menyenangkan dengan predikat keluarga seperti ini,” ucap ayah Nurul.


Ayah Nurul terdiam, lalu mengangkat kepalanya dengan ekspresi keras kepala.  “Saya tidak bangga melakukannya, tapi saya tidak menganggap salah untuk melakukan hal-hal semacam ini.  Bagaimanapun keadaannya, itulah saat saya memutuskan untuk merahasiakannya, bahkan dari Nurul.  Saya pikir dia tidak tahu-menahu tentang peristiwa bunuh diri ini.  Sejujurnya, tidak satupun dari kami yang bersedia membicarakan tentang kematian beliau,” ucap ayah Nurul.


“Nurul seharusnya juga menceritakan kebenaran itu kepada Bapak,” sela Nurul, tidak ingin membiarkan ayahnya memikul sendiri semua kesalahan itu.  “Nurul hanya ingin Bapak baik-baik saja,” ucap Nurul.


“Bapak pun ingin melindungimu, Nurul.”  Ayahnya tertawa dengan getir.  “Jadi, kita berdua dihukum karena memilih untuk diam.  Saya layak dihukum.”  Suara ayah Nurul terputus.  “Tapi tidak dengan putriku tersayang.  Seandainya saya pernah membayangkan, seandainya saya pernah memikirkan bahwa Nurul dan Tuan Sudarsono tidak tahu atau jika Tuan Sudarsono akan menggunakannya untuk menuduh Nurul…” lanjut ayah Nurul.


“Bapak tidak akan pernah tahu,” Nurul meyakinkan ayahnya, air mata mengalir di pipinya.  Nurul masih tidak percaya saat tahu ayahnya telah menyimpan sendiri rahasia kelam tersebut selama ini.  Tidak heran ayahnya tidak pernah bisa melupakan dukanya.  Ayahnya itu melakukannya demi Nurul.

__ADS_1


*


“Nurul sayang Bapak,” ucap Nurul.  “Bapak juga sayang kamu, Nurul,” balas ayah Nurul.  “Sungguh adegan yang menyentuh,” ucap Tuan Sudarsono dengan suara keras.  “Tapi surat semacam itu tidak bisa menjadi bukti sama sekali.  Bagaimana saya tahu bahwa itu bukan Ustadz yang menulis?  Atau bisa saja baru saja ditulis atas permintaan Nurul?” ucap Tuan Sudarsono.


Ayah Nurul membelalak kepada Tuan Sudarsono.  “Anda mungkin punya kuasa dan kekayaan, Tuan Sudarsono, tapi bahkan Anda tidak bisa mengabaikan surat yang ditulis sendiri dengan tangan seorang wanita yang telah meninggal dunia.  Setiap orang yang membandingkan tulisan itu dengan tulisan lainnya akan melihat bahwa surat ini benar-benar ditulis oleh beliau,” bantah ayah Nurul.


“Lihatlah, surat ini ditandai dengan tanggal saat dia mennggal dunia dan itu menjelaskan secara rinci bahwa dia berencana untuk mengakhiri hidupnya sendiri.  Itu semua bukti yang kuat,” lanjut ayah Nurul.


Tuan sudarsono mungkin seorang bajingan, tapi ia tidak benar-benar bodoh.  Ia menggeleng sebentar saat menatap melalui kacamatanya pada semua saksi argumen ini.  “Ustadz pikir kalau Ustadz telah menang, termasuk kalian semua.  Baiklah, mungkin saya tidak bisa membuktikan pembunuhan ini.  Tapi, itu tidak akan menghentikanku untuk menghancurkan hidup Ustadz dan Nurul.  Dunia akan tahu bahwa istri Ustadz telah bunuh diri dan Ustadz tidak akan memimpin yayasan lagi bahwan mencoba mencari pekerjaan di manapun,” ucap Tuan Sudarsono.


“Aku meragukannya,” Tommy menginterupsi.  “Di sini ada tiga orang yang lebih dari bersedia untuk memberikan pekerjaan kepada Ustadz, emh, maksud saya Bapak,” ucap Tommy.  Tommy mendekati Tuan Sudarsono, memelankan suaranya sambil mengancam.  “Dan mengenai skandal, aku yakin dunia akan lebih suka mengetahui bagaimana putri seorang Tuan Sudarsono telah melarikan diri, bahkan kabarnya akan kawin lari,” ucap Tommy.


Tuan Sudarsono memucat.  “Atau mungkin,” lanjut Tommy dengan lebih garang, “Aku seharusnya mengatakan pada dunia bagaimana kau telah memanfaatkan peristiwa bunuh diri seorang ketua yayasan untuk memaksa putrinya melakukan penyamaran yang tidak diinginkannya.  Itu akan menjadi bahan pergunjingan yang sangat menghibur dalam semua jamuan makan malam dunia bisnis dan politik,” ucap Tommy.


Sungguh pemuda yang cerdas.  Dengan lihainya Tommy dapat memutar keadaan di mata Tuan Sudarsono.  Kini Tommy yang membuat Tuan Sudarsono berpikir ulang untuk melanjutkan akal piciknya.

__ADS_1


__ADS_2