
Mendengar Tommy bicara kepadanya dengan sedikit unsur romantis, Nurul begitu senang. Namun, ia ingin memainkan sedikit perasaan Tommy. Nurul memang terkadang suka jahil mengerjai Tommy. “Tidak semudah itu, Tom. Terkadang perasaan cinta mungkin bukan sebenarnya perasaan cinta. Dari mana aku tahu kalau kata-katamu itu hanya perwujudan dari keinginanmu untuk memiliki saja? Memiliki Maria, si penggoda yang mahir bercinta?” ucap Nurul.
“Nurul…” kata-kata Tommy tercegah. “Lagipula…” Nurul memotong ucapan Tommy. “Ayah belum tahu tentang perbedaan keyakinan kita,” lanjutnya. “Ayolah, kamu tahu kalau aku bersedia menjadi seorang mualaf,” jawab Tommy.
Sebenarnya ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk Nurul ambil. Pernikahan ada di depan matanya. Namun, Nurul pikir, Tommy perlu melakukan pembuktian yang jauh lebih nyata. Pembuktian akan perasaan cintanya.
“Kamu harus membiarkan aku dan ayah pulang ke Madura, Tom. Terlalu banyak kelalaian yang sudah aku lakukan di sini. Biarkan aku memperbaiki diri di sana. Seorang mualaf pun tidak hanya sebatas mengucapkan syahadat melalui mulutnya. Tanpa pendalaman, seseorang hanya berganti status di KTP-nya saja,” ucap Nurul.
Nurul meninggalkan Tommy. Tommy terdiam membatu. Apakah ia tidak paham dengan apa yang baru saja dikatakan Nurul? Tommy baru saja ditolak oleh Nurul? Ataukah…
“Nurul adalah anak seorang ustadz ketua yayasan pesantren. Dia bukan Maria, dia sudah kembali menjadi Nurul yang memang sebenarnya dia adalah Nurul sejak awal. Apa yang membuat kau yakin pantas menikahi Nurul, Tommy?” batin Tommy bergejolak.
Nurul dan ayahnya itu pun kembali. “Jadi, kita lanjutkan pembicaraan kita, Anak Muda?” ucap ayah Nurul. Dengan pandangan yang ragu-ragu, Tommy mengangguk dan pembicaraan di antaranya dan ayah Nurul pun dilakukan.
*
Beberapa saat kemudian, Nurul, Rudi dan Tante Lupita yang sudah menunggu segera bangkit dari tempat duduk mereka ketika ayah Nurul dan Tommy datang. Nurul begitu yakin dengan Tommy. Pernikahan ini pasti akan terjadi, Tommy sudah menunjukkan tekad yang begitu kuat kepadanya. Tapi, apakah Nurul baru saja melakukan kesalahan dengan kembali menggantungkan jawaban kepada Tommy?
__ADS_1
Melihat wajah Tommy yang tidak begitu cerah, tapi tidak juga menunjukkan kekecewaan, Rudi menyambut Tommy dengan bentuk simpatinya. “Apakah semua baik-baik saja, Tom?” bisik Rudi. Rudi mengangguk tanpa berkata-kata.
“Bapak… bagaimana…” ucapan Nurul tercegah. “Kita kembali ke Madura hari ini juga, Nak. Urusan kita di sini sudah selesai,” ucap ayah Nurul. Sebuah kerutan di dahi Tante Lupita mendengar perkataan ayah Nurul itu muncul. Keragu-raguannya berkata-kata begitu tampak. “Emh… secepat itu, Ustadz? Bukankah Ustadz dan Nurul baru tiba di Jakarta tadi? Apakah tidak sebaiknya Ustadz dan Nurul bermalam di sini saja dulu?” ucap Tante Lupita.
Nurul memandangi wajah Tommy, ia berharap mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bersarang di pikirannya. “Terima kasih, Nyonya. Terima kasih atas keramahannya, tapi urusan kami di sini sudah selesai. Oh iya, tentang pernikahan…” Kata-kata terakhir ayah Nurul mendapat perhatian dari semua orang di ruangan itu.
“Pernikahan keponakan Nyonya, Icha… dan Nak Beni, itu akan saya bicarakan kembali dengan Tuan Sudarsono ketika beliau sudah berkepala dingin. Untuk saat ini kami akan pulang ke Madura,” ucap ayah Nurul. Ternyata yang dibicarakan ayah Nurul adalah pernikahan orang lain, bukan pernikahan Nurul dan Tommy. Mungkin mereka berdua, ayah Nurul dan Tommy, telah menyepakati sebuah keputusan.
Ayah Nurul pun membawa Nurul pergi. Melalui bahunya, Nurul memandang Tommy sembari melangkahkan kakinya keluar meninggalkan ruangan ini.
*
Sembari mempersiapkan diri dengan melakukan pembelajaran mandiri, Nurul juga menyibukkan diri dengan kebun herbalnya. Ia juga mulai membuka kembali pengobatan alternatif bagi penduduk desa. Apa yang telah ia alami di Jakarta membuatnya merasa lebih berbeda, seakan menjadi pribadi yang baru. Ia kini tidak lagi dihantui oleh rasa bersalahnya apabila hendak memulai pengobatan tradisional.
Namun, di tengah kesibukannya itu, jauh di dalam hatinya ia merindukan Tommy. Ia tidak bisa membuka hati kepada siapapun karena hatinya itu sudah dipenuhi oleh bayangan Tommy.
“Kalau boleh tahu, bagaimana hasil pembicaraan Bapak dengan Tommy tadi?” tanya Nurul yang ketika itu duduk di sebelah ayahnya di dalam pesawat. “Bapak menanyakan keseriusannya. Bapak bilang menikah itu tidak semata-mata cinta kepada pasangan, tapi juga cinta kepada ilahi robbi. Keutuhan keluarga itu ditentukan oleh keimanan, karena akan banyak tantangan ketika sudah berumah tangga,” jawab ayah Nurul.
__ADS_1
“Lalu?” tanya Nurul. “Ya, kalau Nak Tommy serius mau menikahi kamu, Bapak harap Nak Tommy juga serius dengan keyakinannya kepada Allah. Kamu tenang saja Nurul, kalau Nak Tommy itu memang jodoh kamu, gusti Allah akan membuat kalian bersatu. Tapi, kalau dia bukan jodohmu, akan ada laki-laki lainnya yang jauh lebih baik yang Allah persiapkan untukmu,” ucap ayah Nurul.
“Tommy… Apakah Tommy tidak mengatakan janji apapun atau keputusan apapun tentang rencana pernikahan itu?” desak Nurul. Ayah Nurul menggeleng. “Dia hanya bilang akan mempersiapkan diri dan dia harap dia layak untuk menjadi pendampingmu,” jawab ayah Nurul.
Nurul pun terdiam. Tommy mempersiapkan diri. Nurul hanya berharap Tommy bisa menjadi mualaf yang baik. Apabila usahanya gagal dan terputus di tengah jalan, Nurul harus bisa menerimanya, walaupun jauh di dalam hatinya yang paling dalam Nurul tidak mau hal itu terjadi.
“Mbak, sampean ngelamun? Dari tadi dipanggil-panggil ndak nyahut-nyahut,” ucap salah satu santriwati yang tengah membantunya membersihkan gulma di kebun herbal bersama Nurul. Mereka sedang berjongkok di sore yang ramai ini. Suasana sangat asri, angin sore berhembus sejuk, dan suara-suara santriwati meramaikan lingkungan pekarangan.
“Eh, hehe… Ada apa, Dek Luh?” ucap Nurul tersentak dari lamunannya. "Ini semua kencurnya sudah selesai panen. Mau lanjut ke bedeng sebelahnya atau bagaimana? Mbak daritadi membersihkan gulma, tapi itu sudah bersih mbak. Tuh, sudah gundul begitu," ucap juniornya.
"Oh iya ya?" Nurul menatap tanah di sekelingnya. Nurul begitu larut dalam lamunan sampai tidak menyadari sekelilingnya lagi. "Ya sudah, sore ini kita cukupkan dulu. Tolong beri tahu yang lain juga. Sini, biar saya yang bawa kencurnya. Kamu bantu ke sana saja, jangan lupa alat-alat nanti diinven kalau sudah selesai ya," ucap Nurul kepada juniornya. "Baik, mbak," jawab juniornya.
"Astaghfirullohal adziim… aku kok sampai melamun begitu. Kan jadi malu sama Dek Galuh," batinnya sambil melangkah pergi.
*
Sementara di Jakarta.
__ADS_1
"Kamu kelihatan gugup begitu, Rudi?" ucap Tommy. "Iya kah? Kelihatan sekali ya?" tanya Rudi. "Hahaha… wajahmu itu seperti anak kecil yang ketakutan," ucap Tommy.
Rudi dan Tommy sedang duduk di sebuah klinik kesehatan. Mereka sedang menunggu panggilan dari dokter di balik pintu di hadapan mereka yang sedang tertutup itu. "Tom, kamu yakin akan melakukannya? Saya tidak bisa membayangkannya…" ucap Rudi bicara dalam raut wajah yang ngeri.