
Di suatu malam, di mana semua aktivitas telah berakhir lebih awal, Tommy berkunjung ke kediaman Rudi. Sudah lama rasanya Tommy tidak mengobrol dengan sangat dekat bersama sahabatnya itu. Minuman keras, candaan-candaan berbau pembahasan orang dewasa, atau sekedar membuang-buang harta demi kesenangan sesaat, semua itu tidak lagi dilakukannya bersama Rudi.
“Hai, Tommy. Apa kabar? Emh, masih Tommy kan? Atau kamu sekarang punya nama lain? Ahmad? Yusuf?” ucap Rudi yang merentangkan tangannya menyambut Tommy masuk ke dalam ruangan baca Rudi.
Tommy menyambut sambutan sahabatnya itu. Mereka berangkulan sejenak sembari menepuk-nepuk bahu satu sama lainnya. “Ayolah, kamu kira aku baru saja dibaptis versi seberang? Hahaha… Namaku masih Tommy, Bro!” ucap Tommy.
Rudi pun mempersilahkan Tommy duduk. “Brandy? Oh, tentu saja tidak, ya?” ucap Rudi yang menyingkirkan gelas kacanya dari atas meja. “Teh,” jawab Tommy. Mereka saling beradu senyum meledek satu sama lain. “Baiklah,” ucap Rudi. Rudi pun berteriak memanggil pembantunya untuk dibuatkan dua cangkir teh.
“Aku kira kamu sudah melupakanku,” ucap Rudi. “Hei! Kamu kira kepalaku baru saja terbentur? Apa terlihat benjolan di sini?” ucap Tommy memegang dahinya. “Hanya amnesia yang bisa membuatmu melupakanku? Hahaha… bisa saja, kau, Bro!” ucap Rudi.
Tommy dan Rudi pun membicarakan tentang perkembangan kegiatan mereka masing-masing. Rudi dengan kegiatan seninya dan Tommy dengan kegiatan perpolitikannya, terutama kegiatan barunya sebagai pembelajar islam.
“Aku ingin kamu menemaniku besok ke klinik,” ucap Tommy. “Klinik? Kamu sakit?” tanya Rudi. Tommy menggeleng. “Tunggu sebentar, kita sedang membicarakan mengenai aktivitas keislamanmu… Sebentar, sebentar… Oh, tidak… Jangan bilang… “ ucap Rudi yang kemudian memandang ke arah bawah perut Tommy. “Dipotong?” lanjut Rudi dengan tatapan ngilu.
“Hei, apa yang kau katakan? Mana mungkin dipotong, hanya dikerat sedikit,” jawab Tommy. “Oh, ya, baiklah. Dikerat,” ucap Rudi mengangguk-angguk kecil lalu mengatur napasnya seperti hendak menenangkan diri. Tommy menyukai raut wajah sahabatnya itu. Ia memang sengaja ingin mengerjai Rudi seperti ini.
“Kamu sudah yakin, Tom?” tanya Rudi. “Tentu saja,” jawab Tommy. “Demi Nurul?” tanya Rudi lagi. Tommy terdiam. “Apa yang terjadi? Apakah ada gadis lain?” tanya Rudi. “Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya, bahkan tidak menyisakan waktu untuk sekedar menyapanya meski lewat chat sekalipun,” jawab Tommy.
__ADS_1
“Sudah sejauh itu perjalanan kalian, Tom,” ucap Rudi. “Sampai detik ini pun aku tidak tahu apakah gadis itu sudah dipinang orang lain atau belum,” ucap Tommy.
“Kukira kamu melakukan ini semua demi gadis itu, tapi kenapa…” ucap Rudi. “Awalnya iya, aku melakukannya demi gadis itu. Tapi, semakin aku kutekuni hal ini, semua semakin membuatku mencintai…” ucap Tommy. “Mencintai?” ucap Rudi heran. “Mencintai kereigiusanku sendiri. Maaf kalau aku terkesan egois,” lanjut Tommy.
“Emh… begitu rupanya. Tidak apa-apa, Tom. Aku akan selalu mendukungmu. Setiap orang punya pengalaman spiritualnya masing-masing. Kamu berhak memilih sendiri jalan hidupmu, Tom,” ucap Rudi.
“Lalu, apa yang kamu lakukan apabila gadis itu sudah dipinang orang lain?” tanya Rudi. “Belum terpikirkan. Entahlah. Mungkin akan lama sekali bagiku untuk mendapatkan penggantinya,” ucap Tommy.
*
Hari esok pun tiba. Tommy menjemput Rudi untuk menemaninya pergi ke klinik. Di perjalanan, Rudi mengobrol dengan Tommy. “Ngomong-ngomong apakah kamu benar-benar tidak ingin menghubungi Nurul sama sekali?” tanya Rudi. Tommy tidak menjawab, ia hanya tersenyum.
“Ya ampun, kemana semua aplikasi sosial mediamu? Kau benar-benar sudah membersihkan isi HP-mu,” ucap Rudi. Tiba-tiba sebuah dering melalui loudspeaker terdengar.
TUUUT… TUUUT… “Halo? Assalamu alaikum?” terdengar suara seorang perempuan dari ponsel Tommy. Suara itu terdengar gemetaran. Tommy segera membelalakkan matanya kepada Rudi. Tak menyangka bahwa Rudi menelepon Nurul melalui ponsel Tommy.
“Bicaralah!” bisik Rudi. “Ehm… emh… “ Tommy begitu ragu-ragu untuk berkata-kata. “Ah, kelamaan. Halo. Nurul, bagaimana kabarmu di sana?” ucap Rudi. “Oh, Kak Rudi. Baik, Kak. Alhamdulillah. Kak, ini nomornya… nomornya Tommy, kan?” ucap Nurul.
__ADS_1
“Iya benar, tapi Tommy sekarang sedang bersiap-siap melakukan sunat,” ucap Rudi. “Sunat? Masya Allah! Tommy!” panggil Nurul bahagia. “Iya, Nurul. Aku akan melakukannya pagi ini,” ucap Tommy.
“Tommy melakukannya demi kamu, Nurul. Tidak lama lagi dia akan mendatangimu ke Madura. Kamu masih belum menikah, kan?” ucap Rudi menyerobot. “Benarkah itu, Tom?” ucap Nurul. “Benar, Nurul. Kalau kamu mengizinkan kudatang,” ucap Tommy. “Alhamdulillah. Aku kira kamu sudah melupakanku,” ucap Nurul.
“Emh… beberapa hari yang lalu memang ada rekan Bapak yang datang. Mereka mengenalkan seseorang denganku,” ucap Nurul. “Mengenalkan seseorang? Maksudmu…” ucap Tommy. “Perjodohan?” sela Rudi. “Ya, bisa dibilang begitu,” jawab Nurul. “Apakah kamu menerimanya? Menerima perjodohan itu?” tanya Tommy.
“Tidak, aku tidak menerimanya. Aku pikir aku masih harus memfokuskan diri dengan perkuliahanku. Aku ga berpikir untuk menikah,” ucap Nurul. “Jadi, Tommy harus menunggu kamu selesai kuliah dulu baru bisa meminangmu, begitu?” tanya Rudi. Rudi begitu tidak sabar dengan keragu-raguan Tommy dalam berkata-kata, oleh sebab itu ia selalu menyerobot percakapan melalui sambungan telepon itu.
“Mana mungkin aku bisa melewatkannya,” ucap Nurul malu-malu. “Melewatkan kuliahmu?” tanya Rudi. “Bukan,” ucap Nurul. Tommy yang mendengarkan ucapan Nurul itu pun segera menghembuskan napas dengan lega. Raut yang sumringah sama-sama melengkung di wajah Tommy dan Rudi sambil beradu pandang.
“Semoga kamu dan Tommy menjadi pasangan yang samawa, Nurul,” ucap Rudi. Percakapan melalui sambungan telepon itu pun berakhir dengan kabar yang menggembirakan bagi Tommy. Ia tidak menyangka Nurul telah menolak pinangan laki-laki lain demi menunggu dirinya.
Baginya apa yang telah dilakukannya selama ini tidak sia-sia. Dengan semangat, ia melanjutkan perjalanannya ke klinik. Tommy melakukan prosedur sunat itu dengan tenang.
*
Beberapa waktu kemudian. Tommy baru saja keluar dari ruang bedah dengan menggunakan sarung. Jalannya terlihat agak kikuk, tapi wajahnya biasa saja. Seperti tidak ada yang baru saja terjadi.
__ADS_1
“Ah, kamu payah, Rudi. Tidak punya nyali untuk menemaniku di dalam,” ejek Tommy sembari berjalan beriringan dengan Rudi di koridor klinik. “Ih. Masa aku kamu minta untuk melihat barangmu itu! Memangnya aku cowok apaan!” ucap Rudi. Gagal sudah Tommy mengerjai Rudi. Sebenarnya Tommy ingin mengerjai Rudi dengan memaksanya mengikuti proses sunat, tapi sayangnya Rudi tidak mau.
“Alah, dasar kamu yang tidak punya nyali. Siapa tahu suatu saat kamu akan menyusulku melakukannya,” ucap Tommy. “Apa? Ah! Daripada bicara yang tidak-tidak lebih baik secepatnya kita pulang. Aku yang akan menyetir. Aku pun sudah tidak tahan denga aroma obat-obatan di sini,” ucap Rudi.