Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Terjebak Jebakan Sendiri


__ADS_3

Pikiran Aiden dipenuhi ketakutan Zura sudah memutuskan menikah dengan Krish. Jika seperti itu, semua strateginya akan sia-sia. Aiden kembali teringat fakta pahit bahwa dia tak ada dalam pilihan Zura. Dia tahu itu dengan pasti.


'*Dan juga, memang siapa laki-laki bodoh yang akan menolak Zura? Bahkan jika berita itu benar, orang harusnya bisa berpikir bahwa tak mungkin semua kebaikan dan pencapaian Zura selama ini palsu.'


'Lalu yang lebih penting, semua laki-laki waras pasti akan terpesona melihat tubuh elok Zura yang tertutup pakaian sopan*.'


Pikiran Aiden kalut. Terlebih, dia tahu Krish pernah menyatakan perasaan pada Zura.


'Selalu dengan atasan berlengan dan bawahan yang tidak terlalu tinggi. Selalu menjaga sikap dan sopan santun. Selalu ramah bahkan marah pun dengan elegan. Bukankah Zura sangat penuh etika? Betapa bodohnya orang yang tidak bisa melihat itu.' batin Aiden lagi.


“Setelah anda berhasil menghalangi Zura menikah lagi, memangnya apa yang akan anda lakukan?” Tanya Ken kemudian, memecah lengang.


Mereka tengah mengendarai mobil itu melintasi jalan kota.


“Apa?! Tentu saja..” Aiden menelan ludah.


'Terus apa?' Dia belum memikirkannya dengan baik. Dia menginginkan Zura. Tapi apa Aiden benar-benar bersedia menikahi Zura?


Ken mengangkat satu alisnya.


“Jika anda hanya berniat menghancurkan hidup seseorang sebaik wanita itu, lebih baik anda berhenti.” Ucap Ken.


Ken adalah orang kedua yang paling tahu tentang bagaimana Aiden diabaikan oleh Zura. Tentu saja orang pertama adalah Aiden. Gadis itu memang sangat tangguh. Dia menjalani hidupnya dengan penuh prinsip. Sebuah hal yang sangat sulit ditemukan pada masa sekarang.


“Berisik! Intinya aku takkan membiarkannya menikahi Krish.” Ucap Aiden.


Meski tampak acuh, pikirannya masih kacau.

__ADS_1


'Setelah ini apa? Apa dia harus menikah dengan Zura?'


'Aku?? Seorang Aiden?'


'Menikah dengan Zura?'


'Menikah?'


Ugh..


Aiden merasa frustasi. Nyatanya, dia merasa senang sekaligus sangat ragu. Tapi.. apa Zura mau menikah dengannya? Bagaimana jika gadis itu tetap menolaknya? Aiden juga tak tahu alasan apa yang sangat mendesak Zura untuk segera menikah.


“Kalau begitu, bagaimana jika saya saja yang menikah dengannya. Bukankah yang gadis itu butuhkan adalah sebuah pernikahan? Saya takkan menyentuhnya. Bagaimana??” Ucap Ken, menggoda Aiden dengan nada yang sangat serius.


“Apa?! Bajingan! Kamu pikir aku akan percaya? Kamu atau siapapun, aku takkan mengizinkannya. Lihat saja!” gerutu Aiden kesal.


Ken mengenal Aiden dengan baik. Tentu saja dia tahu Aiden sedang kacau. Dia ingin memberikan solusi, atau mungkin dia sebenarnya ingin menambah kacau pikiran Aiden. Atau mungkin Ken ingin menguji perasaan Aiden.


Ken sedikit merasa terkejut. Sepertinya, kali ini Aiden cukup serius dengan perasaannya terhadap Zura. Meski entah bagaimana di masa depan nanti. Dan juga, bisa saja Aiden hanya merasa tertantang karena sikap tegas Zura yang selalu menolaknya.


Mobil itu mulai melaju pelan saat memasuki parkiran tempat Zura bertemu Krish sebelumnya. Aiden segera keluar tanpa sepatah katapun. Ken mulai membuka ponselnya.


Ah, ini salahnya. Ken tak mengecek ponselnya karena sedang mengemudi, dan ternyata ada laporan bahwa zura sudah pindah tempat. Tapi Aiden sudah keluar dulu karena saking gugupnya.


'Ck.. lucu sekali.' Batin Ken, lagi-lagi merasa Aiden telah menjadi bodoh dan naif.


Aiden kembali ke mobilnya beberapa saat kemudian dengan kesal.

__ADS_1


“Dimana gadis itu?” tanya Aiden. Dia tak menemukannya meski sudah mencari.


“Baru saja ada kabar dia sudah tidak di sini. Namun kita kehilangan dia lagi.”


“Apa? Kamu gila? Orang macam apa yang kamu sewa?” Aiden mendengus kesal.


“Aku minta maaf. Sebelumnya mereka kehilangan dia karena mobil Zura sangat cepat. Tapi kali ini mereka kehilangan Zura karena lampu merah. Yah, itu tak merubah fakta bahwa mereka tidak kompeten. Aku takkan memakai jasa mereka lagi.”


“Ugh.. Lalu kenapa kamu memakai mereka sekarang? Kita kehilangan sesuatu yang sangat penting.”


“Aku menyewa mereka karena tadinya kupikir ini hanya hal sepele.”


"Ini hal yang sangat penting, Ken!! Aku takkan bisa mencicipi tubuh gadis itu jika dia sudah menikah!"


"Astagaa!! Ku pikir kamu sedikit berubah. Ternyata masih seorang b*jingan huh?" Ucap Ken. Dia sengaja menggunakan bahasa non formal karena merasa kesal dengan jawaban Aiden.


"Diam!!"


"Lagipula, bukankah kamu yang membuat jadwal mereka sangat rumit?? Sekarang kamu terjebak dengan jebakan licik yang kamu buat sendiri."


“Apa? Apa kamu ingin pengurangan gaji?”


“Saya minta maaf. Saya takkan mengulanginya.”


Ken langsung kembali formal begitu Aiden membahas gaji. Itu sudah seperti lelucon mereka. Tapi mood Aiden sedang sangat buruk. Dia hanya mendengus kesal dan masuk ke dalam mobil ketika kemudian ponselnya berdering.


Ck..

__ADS_1


Aiden mendecak, melihat nomor tak dikenal di ponselnya dengan kesal. Sedangkan mobil itu mulai berjalan pelan menuju rumah. Aiden membanting ponsel itu. Siapa orang kurang ajar yang meneleponnya di saat dia..


Eh.. tunggu!!


__ADS_2