Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Di Ujung Tanduk


__ADS_3

"Azura sialan!! Jangan terlalu cep- Aargh!!" Teriak Luci.


"Tenang Luci, selagi jalanan ini sepi, kita harus bergegas." jawab Zura santai, fokus dengan kemudi.


Mobil itu dengan cepat melintasi kota. Zura yang mengemudi. Dia jarang menunjukkannya secara langsung tapi sebenarnya dia cukup mahir mengemudi. Dia bahkan mempelajari banyak tipe dan model mobil. Begitulah mobil yang dikendarainya itu kini melesat dan meliuk membelah jalan.


Zura, tak menyadarinya, tapi sebuah mobil hitam yang membuntutinya harus kehilangan arah karena tak sempat bersiap.


"Ah siall!! Bisa-bisa kita gagal mendapat upah" seru pengemudi mobil hitam itu.


"Ck!! Ternyata dia memang bukan wanita biasa." jawab temannya, sama-sama kesal.


Jika begini, misi mereka akan benar-benar gagal.


...**...


Krish. Dialah target utama Zura sekarang.


Krish adalah orang yang menembak Zura sampai 3 kali. Zura sempat mempertimbangkan Krish saat itu, namun dia terpaksa menolaknya karena paman memintanya berhubungan dengan Andre.


Krish adalah orang yang lembut dan ramah. Jadi, mungkin dia memang pilihan terbaik.


"Luci, apa menurutmu Krish akan menerimaku?"


"Aku tidak tahu, yang jelas ini adalah jackpot untuknya. Bodoh sekali jika dia melewatkannya begitu saja."


Zura menurunkan laju mobilnya. Dia berhasil tiba tepat waktu sesuai prediksinya. Butuh 2 jam perjalanan untuk sampai di kota B. Namun siapa sangka, takdi benar-benar kejam.


"Maaf, jadwal Krish diganti mendadak." ucap Luci, memberi kabar buruk.


Zura pun mendengus. Luci dengan cekatan mencari informasi terbaru dan menyewa seorang detektif. Ini sangat tak terduga.


"Bagaimana bisa? Apakah aku memang setidak beruntung itu?" gerutu Zura, ia merasa lelah karena usahanya sia-sia.


"Setidaknya, ayo berjuang sampai titik akhir. Aku akan menemanimu." hibur Luci.


"Terimakasih Luci.. aku mengucapkannya tulus dari hatiku."


"Ayolah! Ini tidak akan gratis. Aku akan menagih hutang budi ini di masa depan."

__ADS_1


Dua gadis itu lantas tertawa bersama. Zura juga merasa lebih lega. Luci benar, ia hanya perlu berusaha saja untuk sekarang.


Mereka akhirnya menunggu selama satu jam sampai data baru sampai di tangan Zura. Tapi, masih belum ada kabar baik.


"Satu-satunya titik temu yang paling mungkin kita kejar adalah Kota M? Sayangnya, butuh sekitar 3 jam perjalanan. Itu akan sangat melelahkan."


"Sekarang saja sudah pukul 9. Bahkan jika siang itu kita sampai di kota M, kemungkinan sulit menemui Krish karena dia berada di pertemuan fan sign tertutup."


"Kota tak bisa masuk sembarangan dan aku tak bisa menunjukkan dirinya karena banyak wartawan. Aku tak mau merugikan Krish."


"Dan juga, aku sudah menghubungi manajer Krish. Sayangnya dia tidak mau membantu."


Zura menghela nafas. Dia berusaha berpikir, mencari cara lain. Dia mulai kembali mengemudikan mobilnya. Dia harus mencoba menemui siapa saja yang paling berpeluang untuk ditemuinya secara rahasia.


...**...


Sementara itu, Aiden yang membatalkan seluruh kegiatannya hari itu tengah duduk di atas sofa ruang kerjanya. Dia terus menunggu kabar terbaru dan mengawasi situasinya.


Pagi itu dia mendapat kabar bahwa anak buah yang disewa Ken dengan bodohnya kehilangan Zura. Aiden yang panik langsung menyuruh Ken mengganti ulang jadwal kelima orang itu.


"Itu hal yang sulit dan merugikan." gerutu Ken, merasa sangat kesal.


"Bahkan jika Zura segera mendapat data terbaru, dia pasti takkan menyangka jika bukan hanya satu data yang berubah. Setelah mengetahuinya, Zura akan sadar bahwa tak mungkin semua ini kebetulan. Tapi tetap saja, semua sudah terlambat." ucap Aiden, membuat Ken hanya menggeleng pelan.


Aiden masih menunggu kabar terbaru dari orang yang mengejar Zura.


Harusnya dia memasang alat pelacak di mobil yang dipakainya.


Cih..


Waktu berlalu. Bahkan setelah tim pelacak berhasil menemukan Zura, mereka berakhir kehilangan mobil itu lagi. Benar-benar tak becus.


Memang Aiden sendiri yang kurang teliti. Harusnya dia mengirim orang yang lebih kompeten dan profesional. Karena itulah, Aiden mulai mengirim lebih banyak orang, tidak peduli sebanyak apa uang yang keluar dari rekeningnya.


"Apa kamu yakin, Aiden?" tanya Ken, memastikan.


"Semua usahaku hanya akan berakhir percuma jika akhirnya aku kehilangan Zura."


Aiden meninggalkan Ken yang tengah sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Dia pun menuju mobilnya. Dia juga tak bisa diam. Dia harus ikut dalam operasi menangkap tikus ini secara langsung. Belum lama sejak mobilnya melaju dan ponselnya mulai berdering.

__ADS_1


Sebuah nomor tak dikenal tampak di layar.


Aiden biasanya langsung memblokirnya. Namun, orang ini harus bersyukur karena Aiden sedang dalam mood cukup baik saat ini. Aiden pun mengangkat ponsel itu.


“Halo..” ucapnya pelan. Sebuah senyum tersungging di bibirnya saat memikirkan situasi Zura yang berada di ujung tanduk sekarang. Lucu sekali.


“Ini ulah anda bukan? Tuan Raja Aktor?”


Deg..


Aiden melihat layar ponselnya tak percaya. Dia mengenal suara itu.


'Zura? Ha?! Pertama kalinya seorang Zura meneleponnya?!!'


“Pfft..” tanpa sadar Aiden terkekeh kecil.


“Anda tertawa, Mr Skandal? Jahat sekali. Apa yang sebenarnya anda inginkan?” suara Zura tampak kesal.


“Ah.. maaf aku tak bisa menahannya. Hem.. Apa kamu akan terus bersikap formal padaku? Bahkan dalam situasi ini?”


“Benar. Kenapa saya harus bersikap formal pada bajingan seperti anda! Bangsat!!” ucap Zura tegas dan dingin.


“Hahh?!! Haha.. Ahahaha..” Aiden tak lagi bisa menyembunyikan tawanya. Dia tahu Zura memang pemberani. Tapi dia tak pernah tahu Zura juga bisa menjadi perempuan yang bar-bar. Ini semakin menarik.


Tuut.. tuut..


'Eh.. apa? Apa yang?? Mati?!!'


Aiden menatap ponsel itu bingung. Benar saja, Zura mematikan panggilan.


“Astaga.. wanita sialan ini!!”


Aiden tersenyum kecil. Sikapnya yang aneh itu mengundang perhatian sopirnya. Tepat pada saat itu, sebuah mobil dengan pengemudi mabuk oleng di depannya, melintasi garis batas dan..


Tiiiin.. tiiiiinn..


Sreeeeekkkk.


Brakk!!

__ADS_1


__ADS_2