
Ceklek
“Aiden??”
Semua mata menoleh. Aiden, Ken, Heris, dan Helios. Sosok di depan pintu itu mungkin tampak aneh karena pakaiannya. Namun, mereka bisa langsung tahu kalau itu Zura. Aiden pun menatap tajam ke arah Ken. Membuat laki-laki itu merasa gugup.
“Selamat datang, nyonya.” Ucap Ken, berusaha mengabaikan Aiden. Zura yang masih di depan pintu hanya mengangguk singkat.
“Selamat datang nona.. Silahkan masuk, kami akan keluar.” Sapa Helios sembari pamit. Membuat Heris menatap kakak nya itu dengan mata berbinar. Helios memang selalu cepat menangkap situasi. Dan Ken, laki-laki itu merasa sangat terbantu. Mereka dengan cepat keluar dari ruangan. Terutama Ken, karena dia pasti akan menjadi kambing hitam yang disalahkan Aiden. Kabur adalah pilihan paling baik dan benar sekarang.
Zura masuk setelah 3 orang itu pergi, lantas menutup pintu. Ditatapnya sosok yang kini tengah memalingkan wajahnya itu. Perlahan Zura mendekat dan duduk di kursi sebelah ranjang Aiden. Melepaskan syal, topi, masker, dan kacamata yang membuat tampilannya aneh. Zura menatap lekat tubuh Aiden. Laki-laki itu tampak berada dalam kondisi yang lebih buruk dibanding saat terakhir kali mereka bertemu. Padahal, baru kemarin. Apa yang telah terjadi dalam waktu dua hari satu malam?
Zura mengalihkan pandangan, menatap piring berisi bubur yang hanya berkurang sangat sedikit. Juga sisa-sisa potongan apel yang kini mulai menguning. Perlahan, ia menghembuskan nafasnya. Entah bagaimana dia harus menghadapi Aiden, dia sendiri tak tahu. Hubungannya dengan Aiden sekarang terlalu canggung.
‘Lagi-lagi seperti ini, seperti kemarin. Kami hanya akan berakhir saling diam.’ batin Zura.
Malam 2 malam lalu saat kejadian nahas antara mereka terjadi, mereka berakhir diam. sampai Aiden keluar meninggalkan Zura sendiri di sana. Saat Zura masih terhanyut dalam pemikirannya, Aiden membalik badannya hingga menghadap kea rah Zura. Membuat gadis itu dengan refleks menegakkan tubuhnya. Hatinya berdebar kacau karena gugup.
Mata Aiden sayu. Perlahan, tangan laki-laki itu bergerak dan menggenggam jemari Zura yang berada di atas ranjang tempatnya berbaring. Sekali lagi, Zura berdebar dengan hati yang cemas.
“A- ada apa? Apa kamu butuh sesuatu?” tanya Zura, sedikit gugup dan panik.
Aiden masih diam. Dia mengggenggam jemari Zura dengan erat, namun tidak sampai membuat gadis itu merasa tak nyaman karena sakit. Rasa gugup, cemas, dan panik yang mendera Zura berkurang perlahan. Gadis itu ikut menunduk, pandangan matanya menatap jari jemari Aiden yang tengah menggenggamnya.
“Maafkan aku..” ucap Aiden dengan suara serak. Membuat Zura mendongak dan menatap wajah Aiden dengan penuh keterkejutan.
__ADS_1
Gadis itu hendak bersuara, namun urung. Melihat wajah Aiden yang tampak masih menyimpan sesuatu membuatnya memilih diam sejenak, menunggu. Dan penantiannya berbuah, karena kini Aiden tampak kembali menatapnya dengan mata yang sayu itu.
“Maafkan aku.. Aku telah menyakitimu malam itu.” ucap Aiden lirih. Genggaman tangannya semakin erat. Laki-laki itu mengangkat jemari Zura dan mengecupnya dengan pelan.
“Apa masih terasa sakit?” tanya Aiden lembut.
Hati Zura berdesir. Wanita itu tak mampu menahan senyum tipisnya. Inilah Aiden yang pernah ia lihat. Laki-laki yang bersikap begitu lembut hingga hati wanita meleleh. Entah sudah berapa banyak wanita yang jatuh dalam pesona laki-laki ini.
“Aku tak apa..” jawab Zura singkat. Hanya itu jawaban yang terpikirkan olehnya.
“Aku..” Aiden menelan ludahnya, hatinya bimbang. Namun melihat Zura yang hanya diam menunggu, perlahan Aiden pun kembali berucap dengan suara lemah dan lirih.
“Aku melecehkan mu.” Suara Aiden bergetar.
Mengakui hal semacam itu bukanlah hal yang mudah. Tentu saja Aiden bersalah, namun dia saat itu tak sadar dan tengah dalam pengaruh alkohol. Keadaan itu membuat kesalahan Aiden semakin fatal, namun di sisi lain, Aiden tak bisa disalahkan sepenuhnya.
Aiden tertegun sejenak, lantas genggamannya kembali mengeras. Tangan Zura terasa sedikit pegal, namun ia membiarkan Aiden melakukannya. Jawaban Zura yang seolah tak mempermasalahkan sikap Aiden justru membuat Aiden semakin menyalahkan dirinya sendiri.
“Aku memaksa kamu melakukannya.”
Mata Aiden mulai berkaca. Dia akan merasa lebih lega jika Zura memukul atau memaki. Kenapa Zura malah memakluminya?
Zura menatap Aiden dengan tatapan lembut.
“Aku sama sekali tidak merasa terpaksa. Aku melakukannya dalam keadaan sadar, Aiden. Jika memang tak mau, ada banyak cara yang bisa membuat ku kabur dan menolak mu.”
__ADS_1
Lagi-lagi Aiden diam. Sebuah senyuman kecut tampak samar menggurat wajahnya. Bagi Aiden, Zura adalah wanita yang luar biasa, dan dirinya tak lebih dari seorang lelaki berengsek.
“Apa kamu tidak sakit hati? Aku melakukannya dengan sangat kasar. Terlebih lagi, aku melakukannya dalam kondisi tak sadar hanya demi memuaskan nafsu ku.”
Ya. Bukankah Zura seharusnya merasa direndahkan? Dia telah dijadikan pemuas ranjang. Memuaskan seorang lelaki yang diburu oleh hasrat dan dirasuki mabuk. Tak ada bedanya dengan para wanita murahan dan pelacur yang menjajakan tubuh mereka. Bukankah seharusnya Zura memaki Aiden? Kenapa wanita itu malah membujuk dan menenangkannya?!
Ucapan Aiden kini membuat Zura menghela nafasnya panjang. Ia kembali mengingat pagi itu saat Aiden bangun. Laki-laki itu begitu terkejut. Ia sangat marah melihat Zura. Dan Aiden pergi setelah pertengkaran mereka yang berujung saling membisu. Zura kembali memikirkan pagi hari itu.
Perlahan, Zura berdiri. Ia lantas duduk di samping Aiden. Ranjang itu memang tak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Melihat Zura yang duduk di sampingnya membuat Aiden dengan sigap menggeser tubuhnya. Zura menatap Aiden yang masih setia menggenggam jemarinya dan mengelusnya perlahan. Laki-laki itu benar-benar tahu cara memberikan perhatian kecil. Meski bagi orang lain itu hanya hal sepele, bagi Zura itu merupakan sesuatu yang cukup menyentil hati.
“Pagi itu, saat kamu marah, apa karena kamu merasa sangat bersalah?” tanya Zura.
Aiden kembali mengerutkan dahinya dengan raut wajah yang buruk. Bagaimana bisa ada gadis seperti Zura, yang tetap tampak sangat berlapang hati meski ia baru saja diperlakukan buruk. Sejak dulu, Zura selalu begitu. Saat Aiden membuat masalah yang menyulitkan Zura, saat Zura tengah mendapat kecaman publik, saat Zura mendapat kesulitan karena aktris lain, bahkan kemarin saat Aiden membuat gadis itu tak memiliki pilihan lain selain dirinya. Zura selalu sama, dengan wajah yang tenang dan tanpa kemarahan atau pun dendam.
“Lebih dari sekadar perasaan bersalah. Aku merasa aku sangat berengsek. Seharusnya kamu marah, memaki, atau memukulku.” Ucap Aiden dengan sebuah senyuman getir.
“Bukankah sejak dulu kamu memang sudah begitu?”
Pertanyaan Zura dengan senyuman mengejek yang ramah, membuat Aiden mengerjap, menatap gadis itu. Lantas ia terkekeh pelan, menertawakan dirinya sendiri yang tampak mengenaskan. Selalu begini, Zura membuat hatinya terenyuh, terharu sekaligus sedih sekali.
“Benar. Tapi entah kenapa pagi itu membuat perasaan ku sangat kacau dan tersiksa. Aku mengingat semuanya dengan jelas, Zura. Mengingat saat kamu menangis menahan sakit. Dan mengingat saat aku dengan gila menjadikanmu objek pemuas nafsu.” Aiden terdiam sejenak, “- bahkan, aku melakukannya berulang kali dalam keadaan itu.” sambung Aiden dengan suara tercekat, menahan diri agar air matanya tak tumpah. Jika saat ini ada seseorang bertanya siapa manusia yang paling dibenci Aiden di dunia, maka jawabannya adalah dirinya sendiri.
Zura menatap Aiden yang kembali memalingkan wajahnya.
“Hem.. Kamu juga menangis dan terisak. Apa kamu ingat?” tanya Zura, berusaha membuat Aiden kembali merasa nyaman.
__ADS_1
Lagi-lagi, Aiden terkekeh pelan untuk waktu yang singkat. Meski begitu, hatinya justru merasa semakin sakit. Hanya saja kini laki-laki itu kembali memiliki keberanian untuk menatap wajah ayu Zura. Gadis itu tengah tersenyum tipis, meneduhkan hati Aiden, juga membuatnya semakin sesak.
“Mungkin sebaiknya kita bercerai, Zura..” ucap Aiden.