Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Pertama Kali Jatuh Cinta


__ADS_3

“Ken, aku berubah pikiran.” Ujar Aiden tiba-tiba.


Ken menoleh dengan dahi mengernyit. Tak paham sama sekali dengan apa yang tengah dibahas oleh Aiden.


Aiden ikut menoleh, menatap Ken.


“Aku berubah pikiran soal hubungan ku dengan Zura. Aku akan memberi tahu ibu. Jika perlu, aku akan memberi tahu seluruh dunia.”


Ken semakin mengernyitkan dahinya. Sedangkan Aiden kini menatap lurus ke depan.


“Memang sebelumnya apa yang kau rencanakan?” tanya Ken. Sejak Aiden semakin terbuka dan ramah padanya, kini Ken sepenuhnya melupakan sopan santun antara atasan dan bawahan. Persetan dengan itu semua!!


“Sebelumnya aku berniat menunggu, barangkali gadis malam itu hamil, aku akan bertanggung jawab.” Aiden lagi-lagi menoleh ke arah Ken.


“Dan menceraikan Zura.” Sambung Aiden.


Ken melongo, wajahnya tampak sangat syok.


“Benar bukan?! Setelah aku memikirkannya, itu ide yang konyol.” Ujar Aiden lagi.


Ken mendengus kesal.


“Tidak juga sebenarnya. Namun memang benar, menceraikan sosok istri seperti Zura adalah tindakan yang sangat bodoh.”


Aiden tersenyum samar. Setelah Zura pergi menenangkan diri, Aiden juga kembali memikirkan ulang. Nyatanya, hatinya tak pernah lepas dari Zura. Selalu Zura, Zura, dan Zura. Kini Aiden tahu bahwa perasaan dalam hatinya adalah cinta. Ia mencintai Zura, entah sejak kapan, entah bagaimana, dan entah apa alasannya.


“Lalu, bagaimana jika wanita itu datang dan bilang kalau dia tengah hamil?” tanya Ken.


Aiden tampak berpikir sejenak.


“Kalau begitu, aku akan membahasnya dengan Zura dan Varlos.”


“AHH, VARLOSSS!!” teriak Aiden tiba-tiba, membuat Ken lagi-lagi mengernyit tak paham.


Aiden menatap Ken dengan wajah yang sangat sumringah.


“BENAR, KEN!!!” seru Aiden sangat bersemangat.


“Apa yang benar, Aiden?” suara rendah Varlos membuat Aiden berbalik, menatap kakaknya, dan seketika binar matanya menyilaukan dunia.


“KAKAAAK!!”


Kali ini Varlos yang mengernyit, bingung. Apa kiranya yang membuat Aiden sangat bersemangat dan memanggilnya kakak dengan nada yang sangat manja?! Ah, pasti tentang Zura.


“Kak, aku sudah memikirkannya!! Aku akan memberi tahu ibu. Aku akan memberi tahu dunia. Aku akan mempertahankan Zura! Dan jika wanita malam itu mengandung anakku, aku akan mengandalkan kakak. Kakak bisa merebut hak asuhnya! AKU BISA TERUS BERSAMA ZURAA!!” Aiden sangat menggebu sampai ia tak menjeda kalimatnya sama sekali.


Varlos terkekeh ringan. Seduai dugaan, pasti karena Zura. Varlos jadi semakin yakin jika Aiden bukan hanya jatuh cinta. Adiknya sudah tergila-gila pada sosok Saffir Azura.


Ken hanya mengamati interaksi dua orang itu dengan mulut membeo. Ah, iya. Dia sempat lupa jika memang seperti inilah sifat Aiden yang sebenarnya. Gila dan tak waras. Ken lupa jika dulu Aiden berniat memutar video adegan panas Andre dihadapan seluruh hadirin tepat sebelum dilangsungkannya prosesi pernikahan Zura. Bahkan Aiden sengaja berniat memutarnya sebelum acara dilangsungkan, agar semakin mempermalukan Andre dan membuat Zura sakit hati. Lalu, Aiden akan berlakon sebagai pahlawan bajingan.


“Baru menyadarinya, huh??” tanya Varlos dengan santai.

__ADS_1


Aiden menatap kakaknya tak percaya.


“Jangan bilang kakak sudah memikirkan alternatif ini sejak awal?” tanya Aiden sangsi.


Varlos hanya dengan santai duduk di atas sofa.


“Aku hanya menunggu kamu memikirkannya, Aiden. Kamu menjadi sangat lembek dan payah.”


Aiden mendengus kesal mendengar ejekan sang kakak. Iya. Dia lupa kalau dia memang bajingan sejak dulu. Kenapa pula ia menjadi sangat temperamental.


“Tapi itu wajar saja, kamu baru pertama kali jatuh cinta.” Ujar Varlos lagi, tersenyum mengejek.


Aiden hanya mendengus lagi. Memang benar apa yang kakaknya katakan. Jadi, ia tak berniat membalas.


Ken hanya menghela nafasnya lelah. Entah ia harus bersyukur atau mengeluh dalam hati.


Dua orang kakak adik ini benar-benar gila.


BRAAAKK!!


Suara keras itu seketika membuat Ken, Aiden, dan Varlos menoleh ke belakang, ke arah pintu. Mereka yang tengah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing merasa sangat kaget.


Dan di sana tampak Heris dan Helios tengah memapah Zura.


“ZURA!!” teriak Aiden yang dengan segera berlari, mendatangi Zura yang sangat ia rindukan.


“Sa- sayang.. apa yang terjadi??” tanya Aiden dengan sangat cemas.


Zura mengernyit, menatap Aiden bingung. Apa gerangan yang membuat Aiden bersikap aneh? Bahkan memanggil Zura dengan sebutan sayang? Sikapnya yang tiba-tiba seperti kekasih bucin akut berbanding 180 derajat dengan Aiden yang murung dan lemah 4 hari lalu.


Zura menghela nafasnya pelan. Antara tidak mengerti kenapa Aiden bersikap sangat manis, dan bingung hendak menjelaskan kejadian sebelumnya di restoran.


“Apa yang terjadi dengan nyonya?” tanya Ken ikut khawatir dan penasaran.


“Ken kenapa diam saja?! Cepat bawakan obat!!” bentak Aiden. Yang seketika membuat Ken mendengus, tapi tetap beranjak pergi mengambil kotak P3K.


“Astagaa.. apa yang terjadi?” seru bi Inah. Melihat keributan dan sosok Zura yang terluka membuatnya panik.


“Apa yang terjadi dengan nona, Helios?” tanya bi Inah.


Helios menghela nafasnya.


“Nona diserang saat berniat makan terlebih dahulu di sebuah resto.” Ujar Helios kemudian.


Aiden membelalakkan matanya.


“Siapa yang berani menyerang istriku hah?!” tanya Aiden tajam.


Helios menggeleng pelan.


“Saya tak tahu, tuan. Saya tak mengenal mereka. Mungkin nona mengenalnya.” Ujar Helios. Dia memang tak update berita. Heris justru tahu hampir semuanya.

__ADS_1


“Siapa yang melukaimu, adik ipar?” tanya Varlos, menatap Zura dengan iba.


Kali ini Zura yang menghela nafasnya pelan. Setelah ancaman menyebalkan kemarin, aneh rasanya melihat wajah Varlos yang iba padanya. Meski tetap saja, dalam hati, Zura masih mengidolakan sosok Varlos.


“Andre, mantan tunangan ku. Dan..”


Zura menggantung kalimatnya, melirik ke arah Aiden. Seketika tubuh laki-laki itu menegang.


“Dan siapa, sayang??” tanya Aiden lirih. Padahal ia ragu. Dalam hatinya yang was-was, Aiden yakin pasti seseorang yang berhubungan dengannya.


“Rebecca. Perempuan yang pernah menjalin hubungan paling lama dengan Aiden.” Ujar Zura pelan.


Aiden menggertakkan giginya. Sedangkan Varlos malah menahan tawa.


“Apa yang lucu, kakak ipar?” tanya Zura. Ia berusaha bangkit. Meski kepalanya masih sedikit pusing dan ada sedikit darah di sana, tapi Zura memang merasa sedikit lebih baik sekarang.


Dan entah kenapa melihat Varlos menahan tawa membuat Zura merasa kesal.


“Pfft.. tidak ada. Aku hanya sangat kasihan melihat kamu harus menanggung karma yang sangat berat karena menjadi istri Aiden.” Ujar Varlos degan wajah sumringah tanpa dosa.


“Kakak!!” Aiden merengek, menampakkan wajah kesal.


Zura mendengus kasar.


“Dan aku masih ingat dengan jelas ancaman tempo lalu, kakak ipar.” Ujar Zura.


“Ancaman??” Aiden menatap Zura bertanya-tanya. Apakah Varlos telah mengancam Zura sebelumnya??


“Ya. Varlos mengancam akan menghancurkan kehidupan ku jika aku berani mengajukan gugatan cerai.”


Seketika Aiden menatap nyalang ke arah kakaknya.


“Hei.. aku tak merasa aku mengatakan hal itu, adik ipar.”


“Tapi seingatku itulah intinya, kakak ipar.”


Semua orang hanya menatap drama itu dengan wajah terperangah. Bahkan Helios. Ia tahu Varlos akan meminta Zura mempertahankan hubungannya dengan Aiden. Tapi Helios sama sekali tak menyangka Varlos akan melakukan sampai sejauh ini.


“Aiden!!”


Teriakan Ken membuat semua orang menoleh. Laki-laki itu tampak bergegas dengan kotak P3K di tangannya. Tapi fokus Aiden teralihkan saat ia merasakan ujung kaosnya ditarik perlahan, dan oleh Zura.


“Aku ingin diobati di kamar dan segera beristirahat saja.” Lirih Zura.


Aiden langsung mengangguk.


“Tentu. Bi Inah yang akan mengobati.”


Aiden menatap bi Inah, yang dibalas dengan anggukan. Zura pun beranjak berdiri, hendak berjalan. Dan dengan sigap, Aiden segera membopongnya kembali. Ala bridal style.


“A- Aiden??”

__ADS_1


“Menurutlah.. aku tidak mau kamu semakin terluka.”


...**...


__ADS_2