
Tungguu!!
Aiden kembali memungut ponsel yang sebelumnya ia banting ke sembarang arah.
Nomor itu..
Benar. Nomor terakhirnya sama dengan nomor yang digunakan Zura saat menelepon Aiden sebelumnya. Hatinya membuncah. Ponsel itu masih bergetar, jadi tanpa menunggu Aiden segera mengangkatnya.
“Astaga.. aku merasa tersanjung.” Ucap Aiden.
Sebuah senyum merekah di bibirnya. Ken hanya melirik sekilas dengan ekspresi bingung di wajahnya. 'Sedetik lalu marah, sedetik kemudian sudah tersenyum dan bersikap ramah. Apa yang sebenarnya terjadi?'
“Saya di taman hotel Antares 2.” Ucap suara di seberang telepon itu singkat.
Itu benar-benar suara Zura. Aiden terkesiap.
'Zura memintaku menemuinya? Sungguh??'
Dia benar-benar meminta Aiden menemuinya bukan?
“Tunggu dan aku akan segera datang.” Ucap Aiden.
Kali ini Aiden yang lebih dulu mematikan sambungan. Dia menyeringai lebar.
Meski begitu, rasanya aneh. Aiden merasa menyesal dia menutup telepon itu begitu saja. Dia masih ingin berbincang lebih.
'Ugh! Hal gila apa yang baru ku pikirkan?'
Aiden merasa bodoh sendiri.
“Ada apa? Siapa itu?” Ken memecahkan suasana.
Aiden pun menatap Ken dengan wajah sumringah.
“Kita ke Hotel Antares 2. Ada hal baik yang menungguku di sana.”
__ADS_1
Ken hanya diam. Lebih tepatnya dia menyimpan pertanyaannya karena melihat ekspresi Aiden.
Tak lama kemudian mereka sampai. Aiden pun segera keluar. Dia menelusuri taman hotel dengan sedikit tergesa. Taman itu terawat dengan baik, dan lampu-lampu kuning yang cantik menggantung. Aiden menyapu pandangannya. Taman itu sedikit luas dan ada beberapa orang yang tengah berjalan malam berpasangan.
'Di mana Zura?'
Aiden kembali menyapu pandangannya. Sesaat kemudian, matanya terpaku pada sesosok anggun yang tengah duduk di salah satu bangku taman itu. Bahkan dari kejauhan, Aiden bisa tahu siapa orang itu.
...**...
Sosok Zura tampak duduk di sana dengan anggun. Wajahnya tampak tenang. Sejenak, Aiden berdebar. Dia kira Zura akan marah-marah, kesal, memaki, atau lainnya. Tapi gadis dengan paras cantik dan tubuh indah itu justru duduk dengan elegan. Sangat memikat. Aiden pun mendekati Zura.
“Aku sudah di sini.” Ucap Aiden dengan senyum yang memikat.
Zura mengangkat wajahnya. Dia menatap Aiden dengan tenang. Aiden masih takjub karena gadis itu benar-benar tak bisa ditebak. Wajahnya tampak lelah. Namun, seolah tak ada kemarahan.
'Apa gadis manis ini benar-benar tak marah? Bahkan setelah Aku melakukan hal yang sangat buruk?' batin Aiden.
Aiden memang sadar sih perbuatannya benar-benar keterlaluan. Karena itu dia semakin takjub, bagaimana bisa Zura sangat tenang?
“Yah.. um..” Aiden tergagap.
Zura menatap Aiden lekat. Mengingat kembali kenapa ia meminta Aiden datang.
Dia lelah setelah seharian bepergian. Dia sangat sedih dan kecewa karena Krish tak percaya padanya. Dia merasa sangat lelah. Dan Zura bimbang dengan pernikahannya yang semakin mendesak. Hanya 2 jam lagi dan kantor pencatatan sipil akan tutup. Hari sudah mulai gelap.
'Apa yang harus ku lakukan?' batin Zura, merasa berada di ujung tanduk
Saat itulah Zura mulai berpikir dengan tenang. Zura menutup matanya untuk mengambil sebuah keputusan. Menikah dan tunduk pada pamannya seutuhnya, atau menikah dengan pilihan terakhir yang ia punya, Aiden.
Aiden adalah pilihan terakhirnya.
Karena itulah Zura datang ke taman hotel ini. Tempatnya luas dan cukup sepi, tenang, dan indah. Dan Aiden pasti tahu tempat ini dengan sangat baik.
Aiden adalah pilihan terakhirnya.
__ADS_1
Meski begitu, Zura sebenarnya ragu.
'Apa Aiden akan menerima permintaan bodoh ini? Apa Aiden akan mengangkat teleponnya? Apa Aiden benar-benar akan datang?' batin Zura kacau. Merasa ragu dan bimbang.
Dan di sini lah, laki-laki itu kini berdiri dengan sebuah senyum memikat.
Aiden tampak sangat bungah saat Zura merasa sangat lelah. Tapi entah kenapa, senyum itu membuat hati Zura sedikit berdebar. Saat semua orang sekarang melihatnya dengan tatapan benci, marah, atau kecewa. Bahkan Luci menatapnya dengan tatapan iba. Untuk pertama kalinya, Zura melihat seseorang yang tersenyum padanya dengan sangat bahagia saat melihatnya.
“Apa anda sungguh tertarik pada saya?” tanya Zura, tanpa sedikitpun basa-basi.
Aiden menatapnya seolah bingung.
“Apa? Apa itu pertanyaan?” ucap Aiden, balik bertanya dengan dahi berkerut, namun terkekeh ringan.
“Kalau begitu saya akan mengubah kalimatnya. Anda tertarik pada saya bukan? Jika anda benar-benar menginginkan saya, menikahlah dengan saya.” Ucap Zura.
Terasa aneh saat ia mengajak menikah dengan sangat tenang. Namun, sebenarnya hati Zura berdebar. Antara harapan, gugup, dan rasa cemas hinggap di hatinya.
Aiden menatapnya seolah terkejut. Dalam waktu sesingkat itu, sudah sangat banyak ekspresi yang ditunjukkannya karena Zura.
“Menikah?! Aku??” Aiden menaikkan satu alisnya.
“Benar. Hanya ini kesempatan yang saya berikan. Menikahlah dengan saya.”
“Apa kamu tahu apa itu menikah? Apa kamu mengenal ku?”
Zura sedikit terkejut.
Benar. Mana mungkin maniak **** bebas seperti Aiden menikah. Dan dengan gadis sepertinya yang sekarang memiliki reputasi terburuk. Zura menghembuskan nafas.
"Baiklah.." Zura pun beranjak berdiri.
“Benar. Ini memang tak masuk akal. Karena itu, saya akan pergi.” sambungnya.
Grepp!!
__ADS_1
Aiden meraih pergelangan tangan Zura sesaat setelah gadis itu beranjak melangkah pergi. Zura pun menatapnya. Sosok Aiden tampak mengerutkan dahinya dengan ekspresi wajah yang tak bisa dia mengerti.
“Aku belum menjawab!!” Ucap Aiden tegas.