
Udara semakin dingin. Seorang penjaga dengan baik hati memberinya kursi dan minuman hangat. Namun, meski waktu terus berlalu, Zura tak kunjung dapat bertemu dengan orang-orang yang dicarinya. Penjaga itu menolak membantunya karena dia bisa dipecat. Zura hanya bisa tersenyum dan berterimakasih.
Malam semakin larut dan Luci memutuskan turun. Sudah 4 jam Zura menunggu di tempat itu. Luci membujuk dan memaksa gadis itu untuk pulang. Zura akhirnya mengangguk, kembali ke kamarnya. Dia mengganti pakaiannya dan memakai penyamaran.
Zura kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia harus memikirkan cara lain.
“Bukankah Aiden pemilik hotel ini? Apa kamu tak berniat meminta bantuannya? Aku juga bisa membantu mencarikan nomor ponselnya atau hal lain mungkin.” kata Luci. Dia merasa iba melihat sahabatnya. Sulit pula mencari nomor ponsel artis lain sekarang saat dia sudah diabaikan oleh dunia Entertainment. Luci juga tak bisa meminta pada reporter karena akan menimbulkan skandal lain yang lebih besar.
“Aku tahu. Tapi aku tidak akan meminta bantuannya.” Ucap Zura tegas.
“Apa? Kenapa?”
“Kamu masih ingat? Beberapa kali aku mempermalukannya. Aku sangat membatasi hubunganku dengannya dengan sengaja. Lalu sekarang tanpa tahu malu aku menghubunginya meminta bantuan? Aku tak mau melakukan itu. Ayo kita pulang.” Jawab Zura.
Itu benar bahwa dia memang beberapa kali membuat Aiden dalam posisi canggung dan memalukan. Dia sengaja melakukannya agar gosip tentangnya dan Aiden tak muncul. Berkat itu pula batas hubungannya dengan Aiden menjadi semakin jelas. Jadi, mana mungkin sekarang dia malah meminta bantuan pada orang itu?!!
Zura dan Luci pu pulang dengan selamat sampai rumahnya. Mereka segera beristirahat karena lelah.
Tersisa 2 hari, sebelum tenggat waktu pernikahannya.
...**...
Lagi-lagi. Diam-diam Aiden memantau Zura dari kejauhan. Dia terus mendengus kesal. Semakin lama, intensitasnya semakin sering, dan Aiden hanya terus berdecak melihat kegigihan gadis itu. Dia semakin frustasi melihat Zura tak kunjung menyerah.
Berkali-kali Aiden ragu apakah harus menemui gadis itu atau tidak. Saat Aiden hampir menyerah, Luci datang dan Zura pun menyerah tak lama setelahnya.
'Bagus. Pergilah karena aku akan datang pada saat terakhir. Aku akan menjadi satu-satunya pilihanmu yang tersisa. Mi amor!'
“Ken! Suruh seseorang membuntuti Zura. Aku harus tahu dimana gadis itu tinggal sekarang.” Perintah Aiden. Ken dengan sigap pun mengangguk, lantas mengetikkan beberapa pesan di ponselnya. Dia malas bertanya atau menggoda.
Dengan itu, satu masalah teratasi. Tapi entah kenapa Aiden masih saja merasa ragu dan gelisah. Bagaimana jika Zura menemukan cara lain uuntuk menghubungi para bajingan itu? Aiden sadar dia lebih bajingan, tapi entah kenapa dia merasa kesal pada orang-orang yang tengah dicari Zura.
Ck!!
__ADS_1
Dahi Aiden mengkerut, matanya menatap tajam, pikirannya sedang terbang menuju banyak arah. Dan semuanya tentang Zura.
"Apa yang harus ku lakukan? Tetap saja aku merasa semakin gelisah."
Ah!!
Tiba-tiba sebuah ide bagus terlintas dalam benak Aiden. Dia pun menyeringai lebar.
“Ken, pastikan jadwal orang-orang ini penuh untuk 3 hari, tidak, seminggu ke depan. Krish, Johan, Gun, Ilpo, dan Rui. Kalau bisa, kirim mereka ke tempat yang jauh. Berikan harga 3 kali lipat atau lebih. Yang jelas, aku tak ingin mereka memiliki waktu luang sedikitpun.” Ucap Aiden. Sekarang, giliran Ken yang mengerutkan dahinya.
“Apa kamu gila?” tanya Ken. Entah kenapa dia merasa sebal dan stress dengan atasannya itu.
“Diam dan lakukan saja.” Jawab Aiden tenang dan serius.
Ini lebih membuat Ken bingung. Ada apa dengan atasan gila ini?
Hanya Aiden yang tahu. Bahwa dia diam-diam menyelipkan penyadap suara saat pelayan hotelnya masuk membawakan makanan untuk Luci. Itu sebuah ide yang brilian. Aiden segera keluar, meninggalkan acara itu tanpa pamit. Dia tak lagi peduli dengan jalannya acara. Toh acara pasti akan tetap baik-baik saja tanpanya.
'Suasana hati ku cukup bagus malam ini.' batin Aiden.
Zura bangun di pagi hari dengan tubuh demam. Ia tak menyangka bahwa dia terlalu memaksakan diri malam itu. Zura terus bersikeras bangkit dan beraktifitas, atau setidaknya membantu membereskan rumah atau memasak. Namun, Luci dan keluarganya melarang Zura dengan keras.
Luci terus marah sepanjang hari sambil merawat Zura. Berkali-kali dia harus meyakinkan Zura untuk beristirahat. Zura hanya menjawabnya dengan hembusan nafas dan sesekali meminta maaf karena merepotkan.
'Masalah pernikahan itu masih sangat mengganggu ku. Tenggat waktu tersisa dua hari. Bukankah terlalu mendesak jika aku harus mengurusnya besok?'
“Pikirkan hal ini, jika kamu mengurusnya hari ini dan hasilnya nihil, lalu kamu tumbang besok maka semuanya akan semakin buruk. Toh kamu tak bisa bergerak dengan leluasa. Lebih baik kamu memulihkan diri dan mengurus semuanya saat tubuhmu baik-baik saja.” Ucap Luci, membujuk. Zura memikirkan kata-kata itu dengan seksama. Itu memang benar.
“Baiklah, kurasa aku harus tidur seharian ini.” jawab Zura kemudian.
Zura benar-benar menghabiskan hari itu dengan beristirahat. Dia hanya berolahraga ringan sebentar di dalam ruangan, memakan makanan dan obatnya, serta banyak minum air putih. Terkadang, hal-hal remeh semacam ini masih membuat Luci merasa takjub.
'Bagaimana bisa seseorang begitu disiplin pada dirinya sendiri! Selama itu adalah pertimbangan terbaik menurut Zura, atau keyakinannya. Maka Zura akan melakukannya dengan sangat bersungguh-sungguh.'
__ADS_1
Zura merasa ia benar-benar menyedihkan. Padahal sebenarnya banyak orang kompeten yang bisa dimintai tolong. Tapi sekarang, situasinya bukan pada tempat dimana dia bisa meminta tolong pada siapapun.
Begitulah hari berlalu. Dan sekarang adalah hari terakhir. Zura sudah bersiap sejak pagi. Memilah data yang didapatkan Luci.
“Bagaimana bisa mereka semua sangat sibuk disaat yang bersamaan? Dan juga, mereka kebanyakan berada di luar?” Zura mengernyitkan dahi.
Bagaimanapun, sangat aneh saat mereka semua memiliki jadwal gila semacam ini. Bahkan, jam istirahatnya sangat sedikit. Luci menatap Zura dengan wajah mengantuk. Dia hanya melihat itu sekilas semalam.
“Memang sepenuh apa?” ucapnya sambil menguap.
“Lihatlah. Ini sangat gila. Bahkan aktor sekelas Aiden takkan memiliki jadwal sampai seketat ini di hari biasa.” Zura menggerutu.
"Itu benar. Ini bukan pertama kalinya aku melihat jadwal aktor aktris lain. Tapi jadwal mereka terlalu padat untuk hari biasa tanpa event. Dan kebanyakan juga terlihat seperti sesuatu yang tak terlalu penting. Aneh sekali."
"Bahkan Rui yang seorang penyanyi baru memiliki jadwal sepadat ini? Terlalu aneh untuk disebut kebetulan."
“Astaga.. Ini bukan kontrak besar. Apa manajer mereka gila?” ucap Luci. Dia sendiri tercengang setelah melihatnya.
“Benar. Tapi aku pernah melihat jadwal mereka sebelumnya dan tak seburuk ini.” Ucapku.
Kenapa tak ada satu hal pun yang berjalan dengan baik?
Zura berusaha kembali menenangkan diri. Bukan saatnya untuk berpikir negatif. Ini adalah saat terakhirnya untuk berjuang.
“Luci.. Kita kan berperang dengan waktu. Ayo jalan.” Ucap Zura tegas. Luci mengernyitkan dahi melihat Zura yang sudah beranjak berdiri.
“Apa? Kemana? Hei.. Aku belum mandi.”
“Tak perlu.”
“Ugh.. Setidaknya biarkan aku cuci muka!”
“Baiklah. Cepat dan ku tunggu di dalam mobil.” Zura mengakhiri katanya dan beranjak pergi. Dia membawa data-data itu di tangannya.
__ADS_1
Sekarang saatnya untuk melihat lebih seksama dan membuat rencana.