
“Ahh!!” Sebuah erangan lirih lolos dari bibir kecil gadis itu.
Zura terbaring di atas tempat tidur, terkunci di bawah kungkungan Aiden. Nafas mereka yang sedikit terengah saling beradu. Aiden terus memberikan sentuhan-sentuhan manis yang membuat gadis itu merasakan sensasi geli yang menjalar dengan aneh. Tubuh Zura menggeliat dan mengejang, memberikan respon pada setiap tingkah Aiden.
Bahkan kini tubuhnya sudah sempurna terbuka. Dan Aiden dengan terampil mempermainkannya sembari memberikan ciuman dan gigitan manis yang cukup kasar. Menanggalkan rasa kesemutan yang sedikit sakit.
Sungguh, sensasi yang sangat asing namun memabukkan. Zura hanya bisa mengerang sembari mencengkeram selimut dan rambut Aiden. Menikmati selisik dari tekstur rambut seorang raja aktor yang selalu tampil di film dan iklan-iklan. Entah mengapa, bahkan sensasi itu terasa ikut membawanya melambung bersama. Membawa Zura menuju angan yang tinggi. Membuatnya berteriak hingga sebuah peluh menetes bersama pelepasan pertamanya.
“Haah.. haah..” nafas keduanya kembali beradu.
Aiden berhenti sebentar, matanya menatap lekat manik Zura yang seolah memelas dengan wajah merona. Kedua mata itu berkaca. Namun, wajah Zura yang kini begitu nelangsa justru tampak sangat cantik di mata Aiden. Membuat hasrat laki-laki itu kembali membuncah. Dengan segera laki-laki itu menelan salivanya. Dia telah mendamba Zura sejak waktu yang lama. Dan dambaan itu kembali menyeruak berkali lipat lebih besar.
Namun, Aiden lah yang kini ragu. Padahal sebelumnya dia sangat marah saat Zura menolaknya. Sekarang, Aiden justru ragu untuk melanjutkan aktivitasnya. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Zura saat Aiden begitu berhasrat untuk memuaskan dirinya. Apakah Zura melakukan ini dengan rela atau terpaksa?
Kedua manik Aiden mengunci manik Zura.
“Haruskah aku berhenti?” ucapnya kemudian, memutuskan bertanya.
Zura mengerutkan keningnya. Terkejut, malu, sekaligus bingung. Aiden tengah meminta izin padanya. Sebuah sikap yang entah mengapa terasa begitu manis dalam pandangan Saffir Azura. Apa Aiden mengkhawatirkannya? Ataukah dia ingin berhenti? Apakah dia sebenarnya tak menginginkan Zura?
Zura menghembuskan nafasnya dengan lirih. Pikiran terakhir itu entah kenapa menyentil perasaannya. Aiden bisa merasakan hembusan hangat yang lirih itu menerpa kulitnya. Astaga!! Dia bahkan semakin terangsang. Jika boleh, dia ingin bermain dengan gila memuaskan hasratnya. Namun Aiden tak menginginkan itu. Dia ingin mendengar jawaban Zura terlebih dahulu.
Zura menatapnya lekat dengan kedua matanya yang masih basah.
“Tidak.. Jangan berhenti. Tolong, tolong lanjutkan..” ucap Zura kemudian dengan suara lirih.
__ADS_1
Dia ingin memberitahu Aiden, bahwa ia juga menginginkannya. Bahwa ia merasa beruntung karena Aiden melakukannya. Malam yang akan menjadi malam pertama mereka sebagai sepasang suami istri. Bagi Zura, tak peduli apa pun alasan pernikahan mereka, ia sekarang adalah seorang istri. Dan Aiden adalah suaminya. Kewajiban dan tanggung jawab sebagai istri melekat pada Zura.
Dan sungguh suatu kehormatan, untuk menjalin hubungan ini dengan Aiden. Menyatukan raga mereka, bercumbu dan berhubungan intim. Bagi Zura, ini adalah kehormatan dan kebanggaan. Karena Aiden kini adalah suaminya. Dan karena suaminya adalah Aiden.
Aiden yang menatapnya menyeringai lebar, merasa sangat puas.
“Kalau begitu, jangan salahkan aku bersikap sedikit kasar. Salahkan dirimu sendiri. Saffir Azura, ini salahmu sendiri karena terlalu memesona!” ujar Aiden, sebelum dengan beringas kembali meneruskan permainannya.
Zura terkesiap. Ah! Permainan Aiden terlalu baik, namun ia sungguh kewalahan membalasnya.
“Kau pasti tak tahu betapa menggilanya aku. Aku takut aku akan berakhir sangat kasar. Tapi, aku bahkan semakin menggila karena sangat menginginkanmu. Jadi.. kau harus menyiapkan diri. Aku minta maaf, tapi aku tak berniat untuk berhenti.” Ucap Aiden lagi, memberikan sebuah ciuman sebelum ia mulai menggenggam kedua tangan Zura dan menyatukan tubuh mereka.
“Ahh! Aaaaakhhh!!!” Zura menjerit.
Antara terkejut dan sakit. Padahal ia merasa telah mempersiapkan diri. Namun rasa sakit yang menghujam itu sungguh sangat menyakitkan.
Tangannya beralih memeluk punggung kokoh laki-laki itu, meninggalkan guratan kuku. Sedangkan Aiden berusaha menekan hasratnya yang membuatnya gila. Aiden sungguh terkejut. Dia kini tahu dia sedikit terlalu kasar, namun sungguh dia sendiri terlanjur tersiksa. Aiden menggertakkan giginya sembari mengerang lirih.
“Zura. Ma-aaff.. Aakh!!”
Zura meraih tubuh Aiden. Tidak. Dia juga tidak ingin berhenti. Dia tidak ingin Aiden berhenti. Itulah yang ingin disampaikan Zura.
Kedua insan itu masih meniti jalan mereka. Melewati malam yang panas dan menggebu. Gelora hasrat yang telah terkumpul sangat banyak di hati Aiden, rasanya malam itu menjadi lebih banyak berkali-kali lipat. Dan sebuah rasa rela diiringi keinginan untuk memuaskan Aiden juga menggelora di hati Zura.
Kedua insan itu masih menikmati malam mereka yang dingin dengan saling menghangatkan. Peluh membanjiri tubuh. Alunan erangan beriringan dengan bibir mereka yang saling memanggil satu sama lain. Aiden melakukannya dengan sedikit kasar, memacu tubuh keduanya untuk memuaskan hasratnya.
__ADS_1
“Aaaaaah….” Keduanya menjerit bersama kala Aiden telah berhasil mencapai puncak kenikmatan, menaburkan benihnya yang hangat di dalam Rahim Zura.
Keduanya seakan terbang bersama dalam indahnya surga dunia.
“Haaaah.. haaaaaahh..”
Keduanya berusaha mengambil nafas. Tubuh Aiden kini berada di sisi Zura. Ia memberikan sebuah kecupan kecil di dahi Zura dengan manis. Sebuah senyuman tulus terpatri, dan kedua manik mereka kembali bertemu.
“Maaf. Aku tak mampu menahan diri..” ucap Aiden lirih.
Matanya memancarkan penyesalan, namun senyumnya masih begitu jelas menyisakan keserakahan. Zura mengerutkan dahinya, berusaha menatap Aiden dengan benar di antara deru nafasnya yang masih tak teratur.
“Jadi, sekarang kamu akan menahan diri?” tanya Zura. Dan Aiden terkekeh ringan.
“Maaf.. tapi aku masih terlalu kelaparan.” Aiden menatap Zura dengan tatapan memelas, seolah memohon.
Ah sungguh, wajahnya terlalu manis dan beracun! Wajah Zura dengan cepat memanas, merona sempurna. Ia tahu apa yang dimaksud Aiden. Laki-laki itu seperti binatang kelaparan yang sangat kelaparan. Dan dialah makanannya.
Zura menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar.
Sebenarnya, meski menyakitkan, Zura mengakui sepenuh hati bahwa apa yang Aiden lakukan juga sangat.. menggairahkan.. menyenangkan.. memabukkan..
Ah, pokoknya!! Intinya, tidak apa-apa jika tubuhnya harus sedikit berkorban. Toh, Zura juga menikmatinya. Ehm, maksudnya, tidak masalah jika malam ini ia beusaha memuaskan hasrat Aiden. Mungkin sebagai hadiah pernikahan darinya.
Zura menatap manik Aiden, lantas ia bergerak, sedikit beranjak. Ia memberikan sebuah ciuman lembut yang dalam. Membuat hati Aiden membuncah. Karena kini, Zura lah yang lebih dulu memulainya. Sungguh Aiden sangat bahagia. Seolah seluruh masalah dalam hidupnya melayang bersama awan dan pergi entah kemana. Hanya rasa bahagia dan sejenisnya yang tersisa.
__ADS_1
Dan begitulah, malam yang panas, menyiksa dan memesona itu terus berlanjut.