
Aiden merasa bersedih dengan kepergian kali ini. Tapi sayang, pertemuan ini adalah proyek besar yang sudah direncanakan sejak setengah tahun lalu.
Tetap saja hatinya terasa sedikit kosong. Hampir saja dia menelepon gadis itu meski baru setengah jam setelah kepergiannya. Pikirannya juga kalut mengingat apa yang dikatakan oleh Zura.
Aiden tak bisa menyingkirkan pikiran itu.
'Zura menyukaiku? Seorang Zura yang memiliki moral tinggi? Menyukai laki-laki bajingan seperti aku?'
Baru kali ini Aiden merasa masam menyebut dirinya sendiri sebagai bajingan.
Ini tak bisa dipercaya. Aiden ingat suatu waktu saat dia mendatangi Zura yang membatalkan kontraknya meski harus memberikan ganti rugi 10 kali lipat. Jumlah itu sangat banyak, bisa untuk membeli mobil yang cukup bagus.
Padahal Zura sendiri saat itu hanya memiliki satu van. Pendapatan yang dimiliki gadis itu belum stabil. Dan semua penalti pembatalan kontrak itu dilakukan hanya karena Aiden ikut program itu lewat jalan belakang. Aiden merasa bersalah, namun dia sangat marah sehingga dia mendatangi Zura.
“Apakah kamu tidak berpikir bahwa kamu tak memiliki etika sama sekali?” ucap Aiden kesal.
Bagaimanapun, Aiden adalah seorang senior. Dan menolak pertemuan berkali-kali adalah hal yang sangat tak sopan. Apakah dunia akan hancur hanya karena gadis itu melihat wajahnya?
Zura hanya membungkukkan setengah badannya penuh hormat.
“Saya sungguh minta maaf.” Ucapnya santai.
Aiden semakin marah melihat bagaimana gadis itu sangat sombong. Namun, mana bisa dia berkata sombong pada orang yang meminta maaf sambil membungkukkan badannya??
Ah. Lagipula reputasinya sudah dikenal buruk, hal itu membuat Aiden memikirkan sebuah balas dendam karena rasa kesalnya.
“Ha? Kau pikir permintaan maaf itu cukup? Jika kau benar-benar merasa bersalah, berlututlah di sini untuk meminta maaf.” Ucap Aiden dingin.
Orang-orang pun menatap Aiden sambil berbisik. Bagaimanapun dia sangat keterlaluan menyuruh seorang wanita cantik dan manis untuk berlutut.
__ADS_1
Namun Zura benar-benar menekuk lututnya.
“Anda benar. Saya menolak ajakan anda untuk menjalin hubungan kekasih lebih dari 10 kali. Saya menolak semua kontrak yang berhubungan dengan anda. Saya mempermalukan anda dalam parade karnaval tahun baru. Dan saya juga merendahkan anda. Jadi, saya sungguh sangat meminta maaf.” Ucap Zura dengan tenang, bahkan sebuah senyum tipis terukir di sana. Sayangnya, senyuman itu begitu manis.
Aiden menatap gadis itu dengan dingin. Zura hanya menunduk sekilas dengan lututnya yang masih menyentuh lantai. Lantas, Zura bangun. Dengan sebuah senyum manis yang masih terpatri di wajahnya, dia menatap Aiden tenang.
“Saya sudah berlutut dan meminta maaf sesuai permintaan anda. Apa anda tahu? Anda sungguh membuat saya terpesona. Anda seperti afrodisiak untuk saya. Karena itulah saya harus menolaknya sebaik mungkin.” Ucap Zura.
Sekali lagi, Zura membungkuk memberi hormat sekilas, lantas ia pergi begitu saja.
Hanya segelintir orang yang menyaksikan itu. Setelah Zura pergi, mereka saling berbisik. Namun Aiden masih bisa mendengar sebagian dari apa yang mereka ucapkan. Dia merasa sangat kesal melihat Zura.
Orang-orang saling bergosip tentang sikap Zura yang sangat tenang dan bermartabat, dan betapa bajingannya Aiden.
Hari itu Aiden memecahkan vas dengan harga ratusan juta. Dia sangat marah. Bahkan Aiden memblokir akses Zura ke hampir semua stasiun tv.
Dan dia kembali menginginkan gadis itu.
Berkat semua kejadian itu, permusuhan mereka menjadi trending topik. Orang-orang mulai berhenti saling mengaitkan mereka. Banyak yang menghujat Aiden meski mereka masih terpesona laki-laki itu. Anehnya, banyak orang-orang yang mengatakan hubungan mereka imut dan membuat platform khusus tentang mereka.
note: (Ini sangat rahasia. Sebenarnya Zura adalah salah satu member vip dalam platform itu dengan id anonim.)
Sekarang aiden memikirkannya. Apakah kata-kata waktu itu adalah asli?
Beberapa kali Zura mengucapkan kalimat yang mirip dalam beberapa pertemuan lain yang membuat Aiden merasa dihina. Zura selalu menolaknya dengan bilang dia terlalu luar biasa dan mempesona. Sebuah penolakan Klise yang sangat menyebalkan
Bagaimana jika semua itu adalah kejujuran?
Zura tak suka mengatakan kebohongan atau omong kosong. Dia orang yang jujur dan bermartabat.
__ADS_1
Aiden merasa gila. Apa Zura benar-benar menyukainya? Sejak lama?
Itu mungkin hanya suka, bukan cinta. Lalu kenapa?
Apa Aiden berharap Zura memiliki perasaan lebih? Apa Aiden berharap Zuraida mencintainya? Untuk apa?
Bagaimana dengan dirinya sendiri? Bagaimana dengan perasaan Aiden? Perasaan apa yang dia miliki untuk Zura?
Dia menginginkannya, dan dia sudah mendapatkannya. Dia ingin tubuhnya, mencabik, memeluk, dan mendorong miliknya dengan keras sampai ia puas. Bermain ranjang dengan panas bersama Zura dan memuaskan hasratnya.
Dan Aiden sudah mendapatkannya. Bahkan dia mendapat kesucian gadis itu.
Aiden pikir dia akan berhenti setelah itu. Membuang gadis itu dan menceraikannya begitu saja. Namun dia seketika marah dan menggila saat gadis itu mengatakan akan pergi, sangat tak rela.
Apakah dia pernah benar-benar berpikir untuk membuang Zura? Entahlah. Itu hanya sebuah kemarahan sesaat yang menggebu. Jauh dalam hatinya, Aiden selalu menginginkan gadis itu.
Aiden merasa frustasi. Dia selalu hidup sambil berpikir tak apa bahkan jika dia menjadi manusia paling bejat di dunia.
Lalu kenapa Aiden kini merasa sesak. Entah kenapa, fakta bahwa kehidupannya rusak membuatnya membenci dirinya sendiri.
Apakah ini cinta? Ataukah obsesi semata?
Aiden menatap ke luar jendela kaca. Hari-hari ia lalui dengan menggila dalam pekerjaannya. Memforsir dirinya sendiri agar dia lupa keberadaan gadis itu.
Namun meski malam semakin larut, dia tak kunjung bisa menutup matanya.
'Saffir Azura.. haruskah aku melepaskannya atau menjeratnya bersamaku?'
...**...
__ADS_1