Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Hobi


__ADS_3

Zura bosan. Sekian lama dia hanya berada di dalam rumah, menonton, melihat-lihat, dan tak memiliki kegiatan apapun. Padahal sampai kemarin dia masih harus kesana kemari seharian mengejar jadwal Krish.


"Ck!! Berita tentangku masih sangat panas." gerutu Zura.


Selama ini dia memang tak membuka sosial media. Membuka ponsel pun sangat terbatas saat mendesak. Dia baru melihatnya sekarang. Memang ramai sekali. Mulai dari dugaan perselingkuhan, aborsi, batal nikah, keluar agensi, demo haters, sampai hujatan netizen. Namun ternyata, memang masih ada fans setia yang mendukungnya.


Zura memutuskan menelepon Luci dengan telepon rumah. Zura belum sempat membeli ponsel baru.


"Oh shitt!! Hei pengkhianat! Ku pikir kamu melupakan ku!!" Teriak Luci di seberang sana.


Zura hanya tertawa dan meminta maaf.


"Maaf Luci ku sayang, aku sibuk.."


"Ck!! Sibuk apa hah??"


"Bercinta!"


"Heiii!! Fuuck you!!"


"Haha.. Aiden memang melakukan itu padaku." Zura tertawa renyah.


"Sepanjang malam." sambungnya, lantas tergelak sendiri.


Bahkan Luci yang di seberang telepon bersemu merah. Dia memaki sahabatnya dengan semua kosakata kotor yang ia tahu.


"Lupakan lah!! Jadi, bisakah kamu ceritakan bagaimana kamu berakhir menikahi Sang Cassanova Negeri sekaligus Raja Aktor itu??" Tanya Luci akhirnya. Berdebat dengan Zura hanya membuat darahnya naik ke ubun-ubun dan mendidih.


Zura menceritakan sebagian besar inti ceritanya pada Luci. Dia juga meminta Luci mebereskan barang-barangnya. Sahabatnya pun dengan enggan akhirnya mengiyakan.


Luci sebenarnya ingin mengantarkan semua barang Zura secara langsung sekaligus menemui sahabatnya. Namun Zura menolak. Untuk masa sekarang, itu akan berbahaya. Luci pasti masih menjadi sasaran para reporter. Zura bilang bahwa ia akan meminta bantuan Bi Inah.


"Baiklah.. Kamu memang benar. Oke byee.." Tanpa menunggu jawaban Zura, Luci mematikan panggilan.

__ADS_1


"Ah, gadis ini masih saja pendendam." Gumam Zura.


Gadis itu pun naik ke kamarnya dengan membawa sepiring buah segar dan teko minuman beserta gelasnya. Ini sudah menjadi rutinitas tersendiri gadis itu yang memang sangat menyukai buah-buahan dan gaya hidup sehat.


Zura lantas merebahkan diri. Tubuhnya serasa hancur setelah gempuran Aiden. Bukan hanya penuh hasrat, laki-laki yang kini menyandang status suaminya itu juga cukup kasar. Dia menghujam berkali-kali dan menumpahkan benihnya. Dan meninggalkan kissmark di seluruh tubuh.


"Haaaahhhh.." Zura menghela nafasnya panjang setelah berbaring dengan nyaman di atas ranjang.


"Aku tak boleh menjadi gadis pendendam." Wajah aktris cantik itu bersemu merah.


"Yaa. Aku tak boleh lupa kalo semalam aku juga--"


"Ooh.. Berapa banyak bekas cakaran di punggung dan lengan Aiden? Aku juga menggigit bahunya saat dia membobol keperawanan ku tanpa ampun."


"Ah!! Kita impas!! Sudahlah.. Aku--"


Suara gadis itu melemah, sampai akhirnya ia sempurna terlelap.


...*...


Dia harus berhenti berpikir bahwa Aiden akan memberinya kabar. Zura pun bersiap untuk kembali tidur. Ia menatap ruangan itu dengan sedikit hampa. Kamar Aiden luas. Dan dia merasa aneh sendirian di sana.


Zura terjebak dalam konflik batinnya sendiri. Dia selalu mendambakan keluarga, namun sudah sejak lama dia mulai membencinya karena rasa putus asa.


Zura berusaha percaya pada tunangannya. Namun ia merasa kepercayaan itu sia-sia. Sekuat apapun dia berusaha mengabaikannya, Zura tetap merasa terluka.


Dia sudah sejak lama membentuk tembok yang sangat kokoh mengelilinginya, namun Aiden masuk ke dalamnya seolah menjadi bagian hidupnya. Meski begitu, Aiden seolah seperti turis yang berkunjung dengan perasaan sangat senang.


Bukankah turis hanya seorang pendatang yang bersenang-senang lalu pergi?


Dan kini ia kembali terjebak dalam situasi sulit. Sayangnya ia terjebak dengan Aiden, orang yang seringkali membuatnya goyah dan kewalahan.


Zura tak berhenti mengingatkan hatinya sendiri. Selama Aiden tidak melanggar kontrak mereka, maka tak masalah. Zura tak boleh menjadi terlalu serakah.

__ADS_1


...**...


"Selamat pagi bi.." ucap Zura. Kini tubuhnya sudah lebih baik setelah kemarin tidur seharian.


"Pagi non.. sudah sarapan?" Tanya bi Inah sopan. Ia berhenti mendorong troli dengan satu keranjang cucian yang akan dijemurnya.


"Ya. Mari saya bantu, biar saya yang bawa." Ucap Zura.


"Eh, non--"


Terlambat, gadis itu dengan cekatan sudah membawa baju itu keluar.


"Sudah non, bias saya yang--"


"Tidak apa. Saya biasa kok bi." Gadis itu tersenyum. Lagi-lagi dengan cekatan menjemur pakaian-pakaian di dalam troli. Isinya pakaian Aiden, bahkan pakaian dalam. Ada juga baju Zura kemarin dan beberapa kaon seperti selimut, seprai, dan lain-lain


"Mulai besok saya sendiri yang akan mengurus pakaian kotor Aiden dan selimut seprai kamar. Bibi urus yang lain saja." ucap Zura kemudian.


"Eh, tidak perlu. Saya digaji untuk ini."


"Tidak apa. Saya menyukainya. Dan tolong jangan larang saya membantu membersihkan rumah atau memasak. Itu termasuk hobi saya."


"Tapi..."


"Lagipula Bi Inah bekerja sendiri karena saya kan? Tolong jangan ditolak."


"Baiklah." Bi Inah pun tersenyum.


Dalam hati, ia sungguh bersyukur sekaligus prihatin. Aiden benar-benar beruntung karena gadis sebaik ini mau menjadi kekasihnya.


...***...


...Maaf ya up hari ini telat, sedikit pula...

__ADS_1


Sebagai gantinya, aku akan up lebih banyak lain kali pas senggang


__ADS_2