Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Kebohongan yang Terkuak


__ADS_3

“Lios, apa menurutmu kak- ehm.. maksudku, Tuan Aiden, benar-benar berselingkuh?” tanya Heris pada saudara kembar sekaligus kakaknya, Helios. Mereka bertiga, dengan Ken, tengah menikmati sarapan pagi di kedai dekat rumah sakit. Sengaja meninggalkan Zura berdua dengan Aiden agar mereka bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama.


Mereka tidak tahu saja, jika ternyata dalam bangsal itu, Zura malah tengah tertidur lelap. Lagipula gadis itu sangat mengantuk dan tersiksa karena menstruasinya membuat perutnya terasa nyeri. Ia dan Aiden bahkan tak banyak bicara, apalagi menghabiskan waktu dengan mesra.


Kembali ke tiga orang yang tengah sarapan. Ken yang mendengarkan pertanyaan Heris ikut menoleh. Sejak insiden Helios membungkam Aiden, Ken merasa (lebih) tertarik dengan laki-laki itu.


Helios yang merasa dipehatikan oleh dua orang menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia tak suka menjadi pusat perhatian. Wajahnya sedikit menunjukkan rasa enggan.


“Menurutku, tuan Aiden mungkin saja melakukannya.” Jawab Helios kemudian, dengan suara yang sangat santai raut wajah yang kini menjadi sangat tenang.


Heris mengerjap, ia tak bisa mempercayainya, namun ia juga tak bisa menyangkalnya.


“Jika itu Aiden, memang benar sih. Bajingan itu mungkin saja melakukannya!” gumam Ken sambil menggertakkan gigi.


“CK!! Jika itu bukan Zura, aku tak akan mempermasalahkannya!!” gerutu Ken lagi.


“Jadi, ka- tuan Aiden benar-benar melakukannya??” tanya Heris yang masih tidak puas dengan jawaban itu. Ia belum bisa menerimanya.


“Aiden memang bajingan! Dulu hal semacam ini juga sering terjadi. Dia memang sering berselingkuh.” Ujar Ken. Rasa kesal membuatnya membuka aib Aiden tanpa rasa berdosa.


“Jadi, sejak dulu kak Aiden sudah sering berselingkuh??” tanya Heris. Saking syok nya, dia bahkan sampai khilaf menyebut Aiden dengan sebutan kakak. Padahal ada Helios di sana.


“Hm.” Jawab Ken dengan sangat singkat. Amarahnya semakin naik mengingat hal itu.


“Ta- ta- tapi kan.. Bukankah kak Aiden menyukai Zura sejak lama?” tanya Heris lagi, masih belum bisa percaya dan belum puas.


“Cih. Mungkin Aiden hanya menginginkan tubuhnya!” Ken membuang muka.


Heris kini menatap saudara kembarnya Helios.


“Helios.. apa menurutmu kak – Eh!! Maksudku, tuan Aiden, apa.. ehm..” Ah sial! Sejak kapan aku menyebut kakak?!!


Heris yang terlanjur salah ucap kini kehilangan kata-kata. Padahal ia masih sangat penasaran.


Ken mendengus kesal.


Sedangkan Helios lagi-lagi menghela nafas dengan kasar. Seolah ia manusia paling lelah di dunia.


“Tuan Aiden mungkin saja melakukannya. Hanya saja, menurutku, mustahil tuan melakukannya pada waktu itu.”


Ken dan Heris menatap tak percaya. Ayolah, dua orang itu sama-sama mengakui feeling Helios. Mendengar laki-laki itu mengatakan sesuatu dan hanya setengah-setengah membuat mereka berdua merasa kesal.


“Heli--”


“Uh, tak jadi, lanjutkan.” Ujar Ken. Dia tadinya mau komplain, tapi diurungkan saat melihat tatapan lekat Helios. Baiklah. Dia akan sabar menunggu ucapan Helios selanjutnya.


Pun Heris. Laki-laki itu diam menunggu dengan manis.


Ah, andai Helios jujur pada dunia, ekspresi Heris saat ini adalah ekspresi favorite dan paling ia sukai. Sangat menggemaskan. Namun tentu saja, bukan Helios namanya kalau ia menunjukkan perasaannya.


“Ehm..” Helios berdehem sejenak. Ia harus menetralkan jantungnya yang gemas ingin mencubit dan mengusili adik sekaligus saudara kembarnya.

__ADS_1


“Jadi, menurutku, situasinya tak sesederhana itu. Tuan Aiden takkan melakukan hal itu, selingkuh, dalam keadaan sadar. Pernikahan dengan nona belum lama, dan tuan masih tergila-gila dengan tubuh nona. Dia bahkan galau karena belum sempat memuaskan hasratnya. Tuan Aiden sejak dulu memang bajingan, kita semua tahu itu. Dan tuan Aiden juga sejak dulu mengejar nona, kita juga tahu.”


Helios diam sejenak, menatap Heris dan Ken yang masih menyimak. Ia lagi-lagi berdehem. Astaga, mereka seperti anak kecil dan itu terlalu berbahaya untuk jantung Helios.


“Aku tak tahu apa yang terjadi. Namun menurutku, terlalu mustahi tuan melakukannya jika ia dalam keadaan sadar.”


...**...


Sudah 5 hari berlalu sejak Aiden berada dalam bangsal vvip, dan hari ini ia boleh pulang. Aiden juga sudah sangat tak betah berada dalam kamar itu, terkurung. Ia ingin setidaknya berjalan-jalan melihat taman, atau melakukan olahraga ringan.


Setelah selesai bersiap, Aiden segera diantar oleh Ken dan Heris. Sedangkan Helios dan Zura akan berada dalam mobil lain. Terlalu beresiko jika mereka berada dalam satu mobil. Mereka akan menyusul setelah Ken memberi kabar.


“Sepertinya anda tengah senggang, nona.” Suara rendah itu membuat Zura dan Helios menoleh, menatap seorang laki-laki yang tinggi dan tampan kini tengah berdiri, mengulas senyum.


“Selamat sore, tuan Varlos.” Salam Helios. Meski ia juga tak tahu kalau Varlos akan datang.


“Sore, Lios. Aku tak sempat menyapa dengan baik kemarin.”


“Tak masalah, tuan. Tapi, tuan Aiden baru saja diantar pulang, anda bisa langsung ke kediaman jika ingin bertemu dengannya.”


“Tidak perlu. Aku tidak datang untuk itu.”


Zura mengangkat alis. Jika melihat dari sisi ini, orang-orang pasti akan menganggap Helios dan Varlos adalah kakak adik. Mereka memiliki sifat dan kepribadian yang sangat mirip, meski tetap berbeda juga.


“Aku sebenarnya ingin mengucapkan sesuatu pada mu, Lios. Tapi mungkin lain kali. Untuk sekarang, bisakah aku meminjam Zura? Ada yang ingin ku bicarakan secara pribadi dengannya.”


Helios dan Varlos menatap Zura, meminta persetujuan. Sekali lagi gadis itu termenung. Benarkah mereka tak memiliki ikatan apa pun? Mereka sangat mirip. Ekspresi wajah dan gerak gerik tubuh mereka bahkan selaras.


“Nona?” tegur Helios, membuat Zura kembali tersadar dari lamunannya.


Tanpa pikir panjang, Helios keluar dan memilih menunggu di depan kamar, meninggalkan tuan dan nonanya berbincang di dalam.


“Lios memang sangat mirip dengan ku. Laki-laki itu juga pasti menyadarinya.”


“Apa??” Zura mengerutkan dahi, tak memahami ucapan Varlos.


Tunggu, apa sekarang Varlos tengah membaca pikirannya?


“Aku hanya menerka apa yang kamu pikirkan. Lios juga mungkin begitu. Kami memang memiliki penilaian jeli.” Ucap Varlos lagi, sukses membuat Zura ternganga.


“Kamu sangat hebat, kakak ipar.” Balas Zura singkat.


Varlos terkekeh ringan.


“Jadi, ada keperluan apa kakak datang kemari?” tanya Zura kemudian.


“Aku tahu kamu belum sepenuhnya memaafkan Aiden, Zura.”


Ucapan ambigu itu lagi-lagi membuat Zura mengernyit.


“Bisakah anda menjelaskan dengan runtut menggunakan bahasa manusia? Aku sedikit tak paham.”

__ADS_1


Jelas saja Zura bingung. ia masih tak tahu jika Varlos juga mendengar percakapan dalam alat penyadap tempo lalu.


“Aku tahu kesalahan Aiden sangat fatal. Kamu mungkin memutuskan untuk mempertahankan pernikahan kalian. Namun kamu belum benar-benar memaafkan Aiden bukan?” tanya Varlos kemudian.


Zura terdiam sejenak.


“Benar. Akan lebih mudah jika Aiden tak mengatakan padaku kalau gadis yang ia tiduri malam itu masih seorang perawan.” Jawab Zura dengan lirih.


“Kamu tahu kronologi ceritanya secara utuh?”


“Tidak, --ehm.. belum.”


“Kalau begitu, kamu tanyakan dulu pada Aiden. Dengan begitu, beban hati mu mungkin akan sedikit terangkat.”


“Begitukah?”


“Aku menjamin itu, Zura.” Varlos tersenyum simpul.


“Bisa beri aku clue?” pinta Zura. Ia kini sedikit penasaran dengan kebenaran Aiden pada malam itu. Kenapa seorang Varlos yang sangat ia idolakan sampai membela Aiden? Meski Varlos ternyata kakak Aiden, Zura pikir pengacara ini takkan membela Aiden tanpa alasan.


“Sejak dulu adikku memang bajingan. Ini bukan pertama kalinya laki-laki itu selingkuh. Dulu juga Aiden pernah selingkuh, meski karena pengaruh obat perangsang. Lalu hubungan dengan kekasihnya putus begitu saja.”


“Aku belum mengerti, kakak ipar..”


Varlos kembali tersenyum.


“Aiden tak pernah keberatan dengan semua itu. Aiden selalu menghormati kekasihnya dengan caranya sendiri. Terlepas dari cinta atau tidak, jika sudah berhubungan, Aiden akan berniat melanjutkannya entah sejauh apa. Ia tak pernah memutuskan kekasihnya lebih dulu. Tapi kekasih-kekasih Aiden itu takkan mampu bertahan. Aiden adalah bajingan. Berciuman dengan banyak wanita, bersikap manis dengan semua wanita, itu lah yang selalu adikku lakukan. Dan beberapa kali, mungkin ia berselingkuh.”


Zura mendengus kesal.


“Aku sudah tahu jika Aiden memang bajingan.”


“Haha.. karena itu kamu memutuskan untuk mempertahankan pernikahan kalian?” tanya Varlos.


“Ya. Karena bajingan itu menunjukkan sedikit kesungguhannya dalam hubungan ini. Aku menghargai sikap itu, tuan Va- maksud ku, kakak ipar.”


“Terimakasih. Ini pertama kalinya Aiden mengahargai seorang wanita sedikit lebih tinggi. Bahkan adikku bersedia menikah kilat. Sungguh sangat ajaib.”


“Benar. Bahkan sampai bersusah payah membuat calon pengantin yang aku incar berkeliling negeri.”


“Haha..” Lagi-lagi Varlos terkekeh. Ia lantas kembali menatap Zura.


“Aiden tak pernah, sekali pun, melupakan saat ia tengah bercinta dengan wanita. Menikmati atau tidak, terpaksa atau tidak, setidaknya Aiden akan mengingat sekilas mengenai hal itu. Ia tak pernah tidak mengingatnya, meski percintaan itu sebuah kesalahan karena mabuk ataupun afrodisiak. Mungkin untuk ukuran seorang bajingan seperti Adikku, itu adalah caranya menghargai wanita.”


Zura mengerutkan dahinya, lagi-lagi ia tak mengerti.


“Dan Aiden, untuk pertama kalinya, dia bilang dia tak bisa mengingat percintaannya dengan gadis malam itu.”


Zura terdiam sejenak, lidahnya sedikit kelu.


“Maksudnya apa?” tanya Zura kemudian.

__ADS_1


Varlos kembali menunjukkan senyuman manisnya.


“Aku tak tahu kebenarannya. Tapi menurut ku, malam itu Aiden tak benar-benar berselingkuh. Atau mungkin, dia terlalu traumatis karena perasaan bersalahnya hingga ia tak mampu mengingat memori malam itu sedikit pun.”


__ADS_2