
"Hanya itu? Shiit.. kau akan menerimanya jika itu orang lain??" tanya Aiden dengan nada meninggi. Namun Zura masih tampak tenang.
“Haha.. Benar, namun tidak sepenuhnya." Zura terkekeh sebentar, lantas melanjutkan kalimatnya.
"Karena kau adalah laki-laki pertama dan satu-satunya yang membuatku terpesona." Zura tersenyum begitu manis, membuat Aiden lagi-lagi merasa jantungnya rusak.
"Terpesona? Kamu??" tanya Aiden, dia sama sekali tak percaya.
"Hem. Tanpa sadar, aku selalu menatap sisi baik dalam dirimu bahkan saat kau melakukan hal-hal yang buruk. Aku selalu merasakan dan memikirkan keberadaan mu bahkan saat aku berbalik pergi dan memunggungi mu. Jika aku jatuh, aku tak yakin aku bisa bangkit. Aku menjauh setiap kali aku berpikir bahwa aku mungkin akan terjebak dalam perangkap orang dengan tipe idaman yang paling aku benci.” Ucap Zura.
Aiden menelan ludah. Pikirannya tiba-tiba terasa berat. Zura pun diam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Jadi, tolong pikirkanlah dengan baik. Dan berikan aku kejelasan. Pernikahan ini mungkin terpaksa, tapi aku menjalaninya dengan tulus. Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? Jika kau hanya ingin menundukkanku, kau sudah berhasil. Jika kau menginginkan tubuhku, kau juga sudah mengambilnya. Sekarang, apakah masih ada lagi yang kau inginkan dariku?” ucap Zura dengan tenang.
Zura memang mengucapkannya dengan santai, namun hatinya sangat berdebar, tangannya dingin dan tubuhnya seolah bergetar.
Orang selalu bertanya pada Zura, bagaimana pendapatnya tentang Aiden? Dan Zura menjawab bahwa tentu saja Aiden adalah sang raja aktor yang profesional, sekaligus maniak wanita dan lelaki buaya. Tipe laki-laki yang paling tidak disukai olehnya.
Namun belum ada yang pernah bertanya pada Zura, apakah dia menyukai Aiden?
Semua orang terlanjur berpikir bahwa mereka tidak cocok. Meski rumor perjodohan netizen tentang mereka pernah muncul, rumor itu tak bertahan lama. Saat itu menyeruak kabar bahwa Zura sempat melaporkan Aiden dan membuatnya berurusan dengan hukum. Begitulah perjodohan netizen hancur, berubah menjadi perang antar fans. Akhirnya kasus itu berakhir dengan Zura mencabut tuntutan.
'Jika ku pikir lagi, betapa buruknya sikapku selama ini.. Saat itu karir ku akan hancur jika bukan karena Aiden.' batin Zura.
'Kenapa ya, Aiden bahkan masih kukuh mengajaknya kencan beberapa kali setelah itu.'
Zura menghela nafasnya, ia tak suka kemunafikan. Jadi, dia bersikeras takkan menipu dirinya sendiri. Dia menyadarinya sejak cukup lama bahwa dia terpesona pada laki-laki yang sangat bertolak belakang dengan sosok idamannya. Dan Zura memutuskan untuk memblokir semua tentang Aiden. Menghindari laki-laki itu sejauh mungkin. Dan entah bagaimana hubungan mereka memburuk. Meski sedikit menyayangkan, Zura harus tegar. Terutama karena pamannya mendesaknya segera bertunangan dengan Andre.
Namun kini ia malah berakhir menikahi laki-laki ini.
Dalam kondisi sekarang, Zura tak bisa berdalih lagi. Perasaannya semakin goyah. Dia tak mau berada dalam ilusi seolah Aiden memiliki perasaan untuknya. Jadi, dia ingin tahu apa yang sebenarnya Aiden rasakan.
Tok tok..
Suara itu datang, memecahkan suasana hening di antara mereka berdua. Seorang wanita yang cukup berumur berdiri di depan pintu. Aiden merasa bersyukur dengan kehadiran Bi Inah. Dia bisa keluar dari situasi itu. Zura yang melihat Bi Inah memutuskan berdiri dan mendatanginya, berhenti bertanya pada Aiden.
__ADS_1
Zura tahu itu bukan hal yang bisa Aiden jawab sekarang juga.
Gadis itu pun tersenyum di depan Bi Inah.
“Anda pasti Bi Inah. Saya minta maaf karena akan menyusahkan anda mulai sekarang.” Ucap Zura ramah.
Senyum Zura kaku. Pikirannya teringat pada artikel buruk tentang dirinya belakangan ini. Hampir semua orang mengenalnya. Dan sekarang ia berdiri dengan pakaian tak sopan. Bagaimana jika Zura memberi kesan buruk lain dan malah membuat rumah itu tak nyaman?
Bi Inah menatap Zura, dia seolah melihat kegelisahan gadis itu. Bi Inah pun tersenyum, mencoba mencairkan suasana.
“Astaga.. anda sangat cantik. Bahkan aslinya lebih-lebih cantik. Saya sangat terkejut karena kehadiran anda disini. Tapi... Sungguh malang sekali, anda harus bersama laki-laki bajingan seperti tuan.” Ucap Bi Inah dengan wajah yang sengaja dibuat sendu.
Zura menatapnya terkejut dan bingung. Bi Inah mengatakan Aiden, tuannya, seorang bajingan? Zura lantas melirik ke arah Aiden yang tampak kesal dengan itu. Namun laki-laki itu tampak menahan amarahnya.
“Ugh.. bagaimana bisa anda menjelekkan tuan anda di hadapannya?” ucap Aiden.
“Loh.. apa saya begitu? Saya pikir saya hanya jujur.” Balas Bi Inah dengan tatapan tak berdosa.
Bahkan Bi Inah tak meminta maaf. Zura tersenyum kecil. Dia sedikit takjub Aiden bersikap sopan pada Bi Inah.
“Astaga.. bagaimana mungkin tuan menjadi tambah bajingan dan memotong gaji pegawai yang sudah tua renta dan lemah?”
“Apa?!!”
“Dan juga, tuan.. saya tidak sedang menjelekkan anda. Saya hanya merasa iba pada seorang gadis cantik yang suci dan baik.”
“Haha..” Zura tertawa, menginterupsi percakapan atasan-bawahan yang aneh itu.
“Terimakasih bibi.. saya merasa sangat terharu.” Ucap Zura.
“Tentu, tuan memang bajingan. Lihatlah bekas merah di tubuh anda. Astaga.. tuan pasti benar-benar seperti anjing!” ucap Bi Inah, memberi tatapan iba, namun juga tersenyum dengan aneh.
Seketika wajah Zura memanas, seolah menjadi kepiting rebus. Zura terbatuk perlahan. Dia bahkan baru sadar dia hanya memakai bathrobe karena tak ada yang bisa dikenakannya. Maksudnya, tentu itu semakin memperjelas jejak kejadian semalam.
Aiden yang mendengarnya sebenarnya merasa kesal dan malu. Namun, melihat Zura yang diam seketika dengan wajah merah membuat Aiden gemas, ingin lebih menggoda gadis itu. Aiden pun mendekati Zura, lantas memeluk pinggangnya dan menggigit tengkuk lehernya dari belakang.
__ADS_1
“Ah!!” Zura yang terkejut tanpa sengaja mengerang kecil dengan suara aneh. Wajahnya semakin merah karena malu.
“Pffft. Haha.” Aiden tertawa. Tanggapan Zura terlalu lucu.
Zura pun menyikut perut Aiden cukup keras hingga laki-laki itu mengaduh dan berjongkok. Gadis itu lantas menatap Bi Inah dengan senyuman profesional.
“Maaf bibi.. Anda benar, dia memang bajingan.” Ucap Zura dengan tatapan bersalah.
Bi Inah menatapnya lekat, kemudian tersenyum. Bi Inah mengangkat sebuah bingkisan di tangannya.
“Benar.. Kalau begitu saya akan turun menyiapkan makanan. Dan ini pakaian yang tuan pesan. Saya meminta anak saya memilihkannya. Namun.. Ah! Tuan benar-benar bajingan. Saya harap anda akan memiliki kesabaran seluas samudra.” Ucap Bi Inah.
Zura menerima bingkisan itu dengan bingung dan berterimakasih. Bi Inah pun pamit dan turun. Sementara Aiden masih memegangi perutnya yang terasa sakit karena sikutan Zura.
'Gadis ini.. bagaimana bisa dia sekuat itu?' Aiden mendesis dan perlahan berusaha bangkit saat Zura tengah melihat pakaian di dalamnya.
Wajah Zura memerah melihat satu stel pakaian lengkap dengan pakaian dalam. Bahkan ukurannya juga sangat sesuai. Masalahnya pakaian ini..
Zura menatap dres itu dengan kesal.
Aiden pun menutup pintu kamar.
“Cobalah. Yah, aku yakin ukurannya pas. Aku mengukurnya secara langsung dengan tanganku.” Ucap Aiden tanpa rasa bersalah. Dia kembali tertawa dengan wajah menyebalkan.
Zura menatap Aiden dengan wajah yang masih merah.
“Sungguh pikiran mesum yang membatu.” Ucap Zura sambil memicingkan matanya.
Dia hanya bisa menghela nafas melihat pakaian itu yang.. sangat terbuka. Meski Zura seorang artis, dia enggan menunjukkan tubuhnya berlebihan.
Zura berniat berbalik dan masuk ke kamar mandi saat salah satu tangan Aiden menahannya.
“Apa yang kamu lakukan? Pakailah di sini!” ucap Aiden dengan nada menggoda sekaligus memerintah.
Zura kembali berbalik dan menatap Aiden dengan tatapan tak percaya. Apakah Aiden serius?
__ADS_1