Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Isakan Tertahan


__ADS_3

“Haha!! Ya.. Ouh!! Luar biasaa!!” Teriak Aiden, menikmati hentakan yang semakin membuat dirinya melambung tinggi. Menikmati sensasi mimpi yang terasa begitu nyata. Jika hanya mimpi yang bisa membuat Aiden menikmati waktu dengan gadis ini, Aiden bersedia tidur untuk selamanya.


Sedangkan kini, Zura mengerutkan matanya tajam. Aiden semakin mempercepat temponya, seolah ingin sesegera mungkin mencapai puncak kenikmatan. Dan begitulah, teriakannya kembali nyaring beriringan dengan hasrat yang mekar, menyebarkan jutaan benihnya.


“Aaaaakh.. Ai-deen!!” Teriakan itu lolos bersamaan dengan teriakan laki-laki di atasnya. Teriakan yang tak didengar oleh Aiden. Atau mungkin, laki-laki itu hanya bersikap seolah tidak mendengarkan.


...*...


Jika ditanya, bagaimana perasaan Zura sekarang?


Maka jawabannya, perasaan Zura kacau dan hancur. Dia merasakan ngilu dan sakit. Dan Aiden masih belum berhenti. Setelah laki-laki itu mencapai puncak kenikmatan pertamanya, milik Zura sudah cukup basah, sehingga rasanya tak sesakit sebelumnya.


Ya. Gadis itu tak berniat marah, memaki, mendorong, atau menyuruh Aiden berhenti. Bukan karena dia gadis polos yang terbutakan oleh cinta. Bukan karena dia gadis bodoh yang tak bisa melawan dan membiarkan dirinya ditindas. Zura melakukannya karena dia tahu Aiden tengah mabuk.


“Aaaaahh!!! Aideen..” Kini teriakan itu sudah tidak lagi penuh ngilu. Dan Zura cukup bisa ikut menikmati apa yang dilakukan Aiden pada tubuhnya. Perlahan ia membalas Aiden, meski ia masih payah dalam urusan ranjang. Dengan kesadaran penuh, Zura bisa merasakannya. Rasa sakit hati yang tengah melanda Aiden.


Menurut kalian, siapa yang lebih menderita?


Seseorang yang dikecewakan, atau seseorang yang mengecewakan? Menurut Zura, yang lebih menderita adalah orang yang mengecewakan. Jika Zura dalam posisi Aiden, dia pasti akan sangat menderita. Perasaannya hancur, dia didera derita kegundahan, dan dia dihantui tanggapan yang akan diterima olehnya nanti. Ketakutan yang pasti yang kini menggerogoti perasaan.


Zura ingin mendengar langsung kegundahan dan frustrasi yang kini didera Aiden. Pernikahan mereka masih baru. Dan mereka belum cukup mengenal satu sama lain.


Tapi, Zura percaya akan satu hal.


Fakta bahwa seorang Aiden yang sangat bajingan, selalu memperlakukan wanitanya dengan baik.


...**...

__ADS_1


[flashback]


Zura menghentikan langkahnya di ujung taman yang remang-remang. Ia berniat pergi diam-diam sisi samping aula perjamuan, dan ia harus melewati taman ini. Tapi siapa sangka, ia kini justru tak sengaja melihat adegan romantis di depannya. Bukan adegan senonoh di mana seorang laki-laki dan perempuan tengah bercinta di tempat umum. Melainkan adegan yang benar-benar romantis dan melelehkan hati. Dan yang membuatnya terkejut, Zura mengenal jelas siapa sepasang kekasih itu. Aiden, dan seorang wanita yang dikenal publik sebagai seorang dancer, Larci Milarin.


Zura diam sesaat, terpaku melihat siaran langsung drama romansa di depannya. Ah, bukan drama, ini kenyataan di balik layar.


“Hoeekk.. ugh..” Larci tampak mencengkeram lengan Aiden sambil memuntahkan isi perutnya ke atas rerumputan.


“Kamu tak apa?” tanya Aiden lembut sembari tangan yang satunya memijat pelan tengkuk Larci.


“Aku.. hoeekk..” Larci kembali membungkuk, menuntaskan mualnya.


Dengan telaten, Aiden membukakan botol minum dan menyerahkannya para Larci.


“Ini, bersihkan mulutmu dan minumlah..” ucap Aiden.


“Maaf.. aku pasti tampak menjijikkan sekarang..” ucap gadis itu lirih.


“Tidak, kamu tampak sangat kasihan. Tapi tetap saja masih cantik.” Aiden menjawab dengan sebuah senyuman tipis, membuat Larci ikut tersenyum. Aiden lantas melepaskan jas dan pakaian rangkap yang ia pakai, hanya menyisakan kemeja putih. Aiden memakaikan jasnya, menutupi pundak dan punggung Larci yang terbuka. Dan pakaian rangkapnya ia gunakan untuk menyeka wajah Larci dengan lembut.


“Aku tak membawa sapu tangan, apa kamu keberatan dengan ini?” tanya Aiden. Meski begitu, tangannya sudah sibuk membersihkan wajah Larci.


“Tidak sama sekali.” Jawab Larci dengan senyuman manis yang mengembang.


“Baiklah, jadi, ayo kita rumah sakit. Lalu, aku akan mengantarmu pulang.”


“Sungguh tak apa? Kamu pasti sibuk mengurus acara bukan?”

__ADS_1


“Hei.. Lalu apa gunanya bawahan ku?”


Mereka berdua terkekeh ringan sambil melangkah pergi. Aiden menuntun kekasihnya dengan lembut.


Zura yang melihat adegan itu hanya menghembuskan nafasnya. Sebuah senyuman tipis menarik ujung bibir gadis itu. Lantas, ia segera melanjutkan aksi kaburnya, sebelum ada wartawan atau orang lain yang menyadari kepergian gadis itu.


[flashback off]


...**...


“Aaaahhhh!!” Kedua insan itu lagi-lagi mengerang. Mereka telah sampai pada puncak percintaan mereka yang kesekian kali.


Zura melemahkan cengkeraman tangannya dari rambut Aiden. Laki-laki itu kini setengah ambruk di atas tubuhnya. Setelah berbagai posisi, Zura kini kembali berada di bawah kungkungan Aiden. Gadis itu mengatur nafasnya yang masih sedikit memburu. Matanya melirik ke arah Aiden, yang menelungkupkan wajahnya di atas bahu Zura.


Zura diam. Dia berniat mengistirahatkan diri, namun niatnya ia urungkan kala ia merasakan tetesan hangat di atas bahunya. Zura mengerutkan wajahnya yang tampak lelah. Tangannya kembali terangkat dan mengelus kepala Aiden pelan. Dan tangan yang satunya menyentuh kulit punggung Aiden.


Sebuah isakan tertahan terdengar sangat lirih.


Ya. Aiden tengah menangis. Laki-laki itu dengan pelan menempelkan dahinya di atas bahu Zura. Ia lantas menarik pelan gadis itu. Mereka kini berpelukan, masih dengan posisi Aiden yang menyembunyikan wajahnya.


Laki-laki itu masih menangis. Dan Zura hanya terdiam. Ia tak berniat bertanya atau memberikan petuah bijak. Hanya tangannya yang terus bergerak lembut, mengusap rambut belakang Aiden. Hanya itu yang Zura lakukan.


Sampai beberapa saat kemudian, laki-laki yang mendekapnya tampak lebih tenang. Nafasnya mulai berhembus lirih dan beraturan. Aiden telah tidur.


Zura pun menghembuskan nafasnya.


“Jika kamu tak mengatakannya, aku takkan tahu apa yang kamu pikirkan, Aiden..” ucapnya lirih. Lantas, gadis itu menyusul Aiden pergi ke alam mimpi. Tubuhnya sangat lelah setelah beberapa kali menyelesaikan pergulatan panas dengan Aiden.

__ADS_1


...**...


__ADS_2