
Aiden membalikkan badannya. Ia menatap Zura dengan sebuah senyuman licik dan wajah yang seolah merasa puas.
“Ya, mulai sekarang, ini kamar kita.” ucap Aiden.
Zura berdiri mematung dengan wajah terkejut, cemas, dan malu. Ia kehilangan kata-katanya. Aiden tak berhenti di situ. Dia melangkah mendekati Zura yang berwajah pucat. Perlahan, jarak mereka semakin terkikis.
Aiden menelan ludahnya. Hanya memikirkan situasi itu saja membuatnya merasa terangsang. Dia tak lagi mau menahan dirinya atau bersikap hati-hati. Debaran jantungnya semakin cepat seiring keinginannya meluap.
'Zura, gadis sialan ini sekarang milikku.' dalam hati Aiden sungguh ingin tertawa puas.
Gadis seksi keras kepala ini sekarang miliknya.
Aiden berhenti. Jarak mereka sangat dekat sampai mereka bisa merasakan nafas satu sama lain. Aiden bisa melihat tubuh Zura tampak gemetar. Namun gadis itu masih berdiri dengan teguh di sana, menatapnya dengan dahi berkerut, dengan tatapan frustasi.
'Pffft..'
Aiden menahan tawanya. Matanya semakin garang menatap Zura. Lucu sekali melihat gadis itu tak bisa kabur atau menolaknya. Benar. Dia miliknya.
Saffir Azura adalah milik Aiden Azam sepenuhnya.
Sreek.. tak..
"Uhm..." Zura tersentak.
Dengan beringas, Aiden mencium bibir merah ranumnya. Tangannya yang besar menarik tengkuk leher dan pinggangnya. Astaga, betapa terkejutnya Zura mendapat serangan mendadak.
Aiden semakin menggila. Ia meraup habis bibir merah itu. Membukanya paksa, mengobrak abrik isinya. Menautkan lidah mereka. Merasakan manis yang membuatnya semakin candu. Aiden merasakan tubuh Zura yang bergetar. Namun, dia tak peduli. Malah dengan lihai melepas dan menautkan kembali, merubah posisi dan memberikan ciuman dalam pada bibir manis itu berkali-kali.
"Ai.. Uhmm..."
'Sial.. sejak dulu aku sudah tahu laki-laki ini memang tak waras.' sungut Zura dalam hati.
Gadis itu bisa merasakan betapa gilanya ciuman itu. Tubuhnya semakin gemetar dan kakinya perlahan terasa lemas. Lantai tempatnya berpijak rasanya akan runtuh. Zura mencengkeram lengan dan pinggang Aiden, kewalahan dengan tingkahnya yang terus menuntut. Wajahnya memanas, antara sensasi ciuman yang pedas dan aroma manis yang terasa memabukkan.
Perlahan kaki gadis itu mundur, dan Aiden terus mengejarnya. Menciumnya dengan gila. Membuatnya kehabisan nafas. Cengkeraman tangannya mengeras. Aiden seolah takkan berhenti.
__ADS_1
'Aiden, bisakah dia lebih lembut?! Oh sungguh malang nasib ku..'
Namun, sepotong memori tiba-tiba mengganggu kerja otaknya. Zura mengingat kembali keadaannya sekarang. Bagaimana bisa dia malah lupa?
Zura menyentak, mencoba mendorong Aiden, menghentikan ciumannya. Namun laki-laki itu malah semakin menekannya. Zura mengumpulkan kekuatannya pada tangannya dan..
Tak..
'Haah.. haah..'
Zura berhasil mendorong Aiden, dengan nafas yang kini menderu. Dengan cepat ia memalingkan wajah.
Aiden merasakan tubuhnya yang dihentikan secara tiba-tiba dengan sentakan keras, membuatnya sedikit jengkel. Dia hendak menautkan kembali bibir ranum menggoda itu, namun Zura berpaling dengan cepat. Aiden pun mulai mengatur nafasnya. Dahinya berkerut, dia merasa sedikit kesal.
'Apa Zura berniat menolak aku lagi?' batin Aiden dipenuhi amarah.
Tidak! Aiden takkan membiarkannya.
Jangan harap!!
Aiden sungguh kesal, ia tak pernah menyentuh perempuan manapun dengan paksaan. Karena itulah dia bahkan tidak pernah mengambil keuntungan apapun dari Zura secara paksa. Bahkan tidak terhitung berapa kali ia bersolo karir karena itu.
'Tidak lagi!! Jika Zura berniat menolak ku lagi, bahkan jika Aku harus memaksa, aku akan memaksa Zura melakukannya.' Batin Aiden, menatap Zura dengan kilatan penuh dendam.
Grep!!
Aiden mengencangkan tangannya, menarik Zura lebih erat. Tangannya menarik paksa wajah Zura untuk kembali menatapnya. Zura merasakan Aiden yang agresif, tentu dia bisa menebak niat lelaki itu. Dengan cepat gadis itu mencekal bibir Aiden, menahan gerakannya. Sukses membuat Aiden merasa semakin kesal. Haruskah ia ikat saja tangan itu? Haruskah ia paksa Zura dengan brutal?
“Tunggu!!” seru Zura gugup, matanya berbinar seolah meminta belas kasih
Bagaimanapun, Aiden merasa semakin frustasi melihatnya. Sekalipun ia tahu itu hanya akal bulus. Dan Zura yang menangkap hal itu pun tidak berniat menyia-nyiakan kesempatannya.
“Tu-tunggu.. tunggu.. A-ada yang ingin ku tanyakan, pleasee!” seru Zura dengan gugup.
Pertanyaan? Aden mengerutkan dahinya. Kali ini untuk alasan yang sedikit berbeda. Tentu saja dia masih kesal. Dia bertanya-tanya apakah mungkin gadis itu hanya berniat membuat alasan. Namun, Aiden melemahkan cengkeraman tangannya.
__ADS_1
“Apa?” tanya Aiden singkat.
Zura menatap Aiden. Dia merasa malu karena mereka dalam posisi yang aneh. Tubuh mereka masih saling menempel satu sama lain. Aiden memeluknya sangat erat.
“Bi-bisakah kita berbicara dengan posisi yang lebih normal?” tanya Zura.
Aiden kembali mengeratkan tangannya di pinggang gadis itu.
“Haruskah aku tidak usah mendengarnya?” ucapnya, seolah bertanya pada diri sendiri.
Zura pun merasa semakin gugup. Dengan sigap menahan tubuh Aiden lebih keras.
“Se-sebentar saja.. Bi-bisakah kamu melepasnya sebentar?” ucap Zura.
Tangan Zura perlahan beralih ke arah tangan Aiden yang mencengkeramnya dengan erat, menyentuhnya lembut, seolah sedang membujuk. Aiden pun melonggarkan tangannya, memberi sedikit ruang pada Zura. Tentu saja masih memeluk pinggang kecil gadis itu, sembari matanya menatap tajam. Aiden diam, seolah menunggu Zura berkata. Zura dengan ragu membalas tatapan laki-laki itu.
“Kamu.. apakah kamu tak peduli dengan berita itu?” tanya Zura kemudian.
Aiden mengerutkan keningnya, memutar otak. Berita?
“Ah.. maksudmu rumor bodoh itu?” tanya Aiden.
“Ru-rumor bodoh?” Zura balik bertanya, ia tak menyangka akan ada orang yang mengatakan hal itu.
“Ya. Bagaimanapun aku melihatnya, rumor itu terlalu bodoh.” balas Aiden.
Zura menatap Aiden lekat. Tatapan mata gadis itu tampak tenang. Padahal sebenarnya ia merasa terharu. Aiden balik menatap mata Zura yang tampak membual. Bulu mata yang lentik, dan bola mata yang jernih.
'Ah, sial. Lagi-lagi..' batin Aiden.
“Sudah bukan? Jadi.. aku akan melanjutkan apa yang-
“Tunggu!! Tunggu sebentar.” Zura kembali menahan Aiden, memotong ucapannya.
'Shitt!! Gadis ini!!'???!
__ADS_1