
Sebenernya, aku gak yakin bisa bikin feel bab ini pas. Tapi, tetep aja, selamat membaca
**
Air asin itu meluruh sangat deras, membasahi pelupuk dan wajah Zura. Bahkan hidungnya terasa mampet. Ia menggertakkan gigi. Sungguh, tak pernah ia menyangka bahwa masa lalu Aiden akan semenyesakkan itu. Tangan Zura mengerat memeluk tubuh Aiden, yang sekarang terlelap di bahunya setelah lelah menangis.
Zura baru tahu, ternyata di sana juga sudah ada bi Inah, yang terisak dan ditenangkan pak Awit.
Sementara itu, Heris juga terisak. Ken yang wajahnya sangat sendu. Dan Helios, yang menunduk dalam. Mereka memang tahu sedikit, bahwa Aiden adalah seorang anak tidak sah, dan masa lalu Aiden tak menyenangkan. Tapi kisah ini, mereka baru mendengarnya.
Saking mendalaminya dengan kisah yang tengah diceritakan oleh Varlos, semua orang sampai melupakan cemilan dan bir yang ada di atas meja.
Zura perlahan mendongak, menatap ke arah bi inah, masih dengan sesekali menarik ingusnya.
“Bi, tolong ambilkan selimut.” Lirih Zura.
“I-iya non..”
Tak lama, bi Inah kembali dengan selimut di tangannya. Helios dan pak Awit yang sigap membantu Zura meluruskan tubuh Aiden, dan pahanya dijadikan bantal kepala Aiden. Lalu, tubuh Aiden diselimuti. Ken dan Heris nampaknya masih belum bisa mengendalikan diri, masih syok mendengar masa lalu Aiden.
Di seberang, Varlos hanya tersenyum simpul. Varlos mungkin lebih sempurna dalam banyak hal, tapi tetap saja, ia tak memiliki apa yang Aiden miliki. Dia sangat bersyukur. Aiden yang memiliki berjuta kekurangan, masih diterima dan disayangi oleh banyak orang dengan sangat tulus. Bi Inah dan pak Awit, Heris dan Helios, Ken, Ibunya, Zura mungkin, dan bahkan dirinya sendiri.
“Bi- bisakah, ceritanya dilanjutkan..” ujar Zura kemudian, menatap lekat ke arah Varlos. Dan semua orang pun kembali menatap Varlos dengan lekat.
...**...
Mata Varlos berbinar cerah melihat bocah kecil itu sangat lahap memakan berbagai hal. Varlos tertawa ringan. Bocah itu menggemaskan. Terlalu menggemaskan. Sayang, semua itu harus rusak saat telinga bocah itu ditarik dengan sangat kasar.
“BOCAH SIALAN!! Sialan!! Beraninya kamu malah makan hah?!”
“Aaaakh..”
Praang!!
“HEI!!” Varlos berteriak kalap, melihat bocah itu yang kini mengaduh lirih menahan sakit. Dengan geram, ia memberanikan diri menggigit tangan wanita itu dengan keras.
__ADS_1
“AAAAARGHHH!!!”
Brakk!!
“Varlos!!”
Nyonya Monica dengan sigap mendekat dan memeluk Varlos yang terlempar. Dan Varlos justru memberontak. Hatinya sangat terluka melihat bocah malang yang sekarang sedang ditendang dengan brutal, padahal wanita itu mengenakan hels. Manik Varlos beralih, menatap ke arah ayahnya, yang hanya diam dengan tatapan tajam.
Sungguh, seperti ditusuk ribuan sembilu. Kenapa semua orang hanya diam? Bocah kecil itu kini tengah meringkuk kesakitan. Mata ibunya hanya fokus pada Varlos. Para pembantu hanya menatap iba. Sebagian malah tersenyum mengejek. Sedang ayahnya? Ayahnya menatap bocah itu dengan tatapan jijik.
Semua orang tak waras.
“Aaaaaargghhhhhh!!!” Varlos memberontak dari pelukan ibunya, setelah beberapa satpam menyeret pergi wanita kejam itu. Varlos berlari, merengkuh tubuh kecil yang kini tengah memuntahkan makanan dan darah.
Sungguh. Untuk pertama kalinya, Varlos merasa kecewa dan benci dengan sikap orangtuanya.
“BEDEBAH!!” teriak Varlos, menatap tajam ke arah ayahnya. Yang malah balik menatapnya lebih tajam. Tapi Varlos tak takut. Rasa takutnya telah dimakan amarah.
“VARLOSS!! Jangan jadi anak durhaka kamu!!” bentak sang Ayah.
Varlos kini menatap ibunya, yang hanya terpaku dengan mata memerah. Ia kembali menatap ayahnya nanar. Tangannya gemetar, merasakan tubuh kecil dalam rengkuhannya mulai terkulai. Air matanya terjun bebas.
Tangan Varlos mengerat. Ia sesenggukan. Menatap ke mana pun, semua orang hanya diam. Mendiamkannya. Mendiamkan seorang bocah yang sekarat, bahkan mungkin sudah mati.
Varlos tahu apa yang tengah terjadi. Ia tak bodoh. Ia tahu bahwa orangtuanya tengah bertengkar hebat. Ia tahu wanita kejam tadi adalah perusak kebahagiaan keluarganya. Varlos tahu!! Tapi, apa salah bocah ini? Bocah kecil yang bahkan tak tahu superhero dan permen. Bocah kecil yang melangkah pincang tanpa menangis. Bocah kecil yang ringkih, kumal, kurus kering, dan penuh lebam. Apa salahnya? Bocah kecil yang bahkan berjalan pincang, namun tak menangis.
Tiba-tiba Varlos bangkit. Matanya tak sengaja melihat spatula yang cukup besar. Bahkan rasanya sedikit berat. Dengan berang, Varlos mendekati Ayahnya.
“Argh!! Argh!!”
“Varlos!! Bajingan!!”
Teriakan itu terdengar memilukan. Kemarahannya memuncak. Ia memukul ayahnya dengan membabi buta. Apalagi setelah mendengar umpatan kotor ayahnya yang memaki dirinya. Gerakannya semakin menggila memukul ayahnya tanpa ampun.
“VARLOS!!”
__ADS_1
Brak!!
Untuk kedua kalinya, tubuh Varlos terjerembap. Terlempar karena elakan ayahnya. Punggungnya menabrak lemari. Rasanya sakit, ngilu, dan, entah. Ia kini menerka-nerka apa yang bocah itu rasakan.
Dipukuli, dihina, ditendang, apalagi?
Varlos kembali mendongak, menatap ayahnya yang kini mulai berkaca-kaca dengan tubuh gemetar. Ia tersenyum sinis, lantas dengan brutal Varlos mulai melemparkan piring dan gelas. Ia berteriak, bersamaan dengan teriakan semua orang di sana. Varlos tak peduli. Ia terus memberontak saat pengawal mulai mencekal tubuhnya.
Plak!!
Mata Varlos menatap tajam ke arah ayahnya. Bekas tamparan itu terasa perih, tapi tidak seperih hatinya. Varlos kembali memberontak, melepaskan cengkeraman pengawal.
“Kenapa? Apa ayah marah? Kenapa marah?”
“LUKA AYAH BAHKAN BUKAN APA-APA DIBANDING LUKA BOCAH ITU! KENAPA MARAH HAH?!!”
“Ayah bahkan masih bisa berjalan, sedang bocah itu sudah pincang. Ayah bahkan hanya terkena goresan ringan. Sedang bocah itu...”
Varlos diam, hanya terus sesenggukan. Ia tak kuasa. Tak kuasa melanjutkan ucapannya. Perlahan ia menjauh, meraih kain korden yang sepertinya bari dilepas dan belum sempat disingkirkan. Ia kembali mendekati bocah itu. Tiba-tiba, ia terpikirkan untuk membawa bocah itu ke rumah sakit. Ya, rumah sakit. Jika sakit, semua orang ke sana bukan?
Varlos melepas pakaian bocah itu, yang penuh dengan bekas muntahan. Ditutupi tubuh mungilnya dengan kain korden. Lantas, ia membopongnya. Varlos masih kecil, masih tak tahu apa-apa. Ia bahkan tak tahu kalau butuh prosedur untuk berobat. Butuh kartu identitas dan pendaftaran. Yang ada dalam pikirannya sekarang hanya satu, segera membawa bocah itu ke rumah sakit.
...**...
“Setelah itu, semua berjalan apa adanya. Sopir yang kebetulan membantu, termasuk mengurus pendaftaran. Dan bocah mungil itu dirawat. Saat itu, kondisinya bahkan sudah kritis, dan tengah di ambang kematian. Butuh sampai 5 atau 6 bulan sampai bocah itu benar-benar sembuh. Dia, sangat malang, bukan?”
“Di sisi lain, ayah dan ibu merasa malu. Aku bahkan belum sempurna menginjak 10 tahun. Dan mereka yang dewasa, malah egois dengan hati mereka masing-masing. Karena itulah mereka bersedia menanggung beban biaya bocah itu.”
Semua orang kini sesenggukan. Bahkan Helios dan pak Awit berkali-kali menitikkan air mata. Hanya Varlos, yang tersenyum pahit di seberang sana. Dan Aiden, yang tengah nyenyak dalam tidurnya.
Zura bahkan sampai lelah. Menyeka ingus dan air matanya yang seperti bendungan banjir. Dan di sisi lain, Varlos malah semakin melebarkan senyumannya.
“Yah, mungkin karena itu lah aku malah bersyukur sekali saat bocah itu tumbuh menjadi anak yang usil dan sangat nakal. Bahkan bakat sok jago dan jahilnya itu sudah nampak sangat jelas sejak ia masuk taman kanak-kanak. Bukannya sengit, aku malah semakin menyayangi bocah itu.” Ujar Varlos kemudian.
Zura yang masih terisak pun tertawa renyah, yang akhirnya memancing tawa semua orang. Sejak umurnya sekecil upil sekali pun, rasa sayang Varlos ternyata sudah melebihi batas sampai overload dan meledak. Bahkan, laki-laki yang selalu patuh itu sampai berani berteriak, melawan, dan mengancam ayahnya. Ia sampai harus ikut mendapat tamparan, makian, bahkan sampai kena pukul.
__ADS_1
Sangat luar biasa bukan?
Sebesar itu lah, rasa sayang Varlos untuk adiknya, Aiden.