
“A- Aiden?! Ada Apa??” tanya Zura dengan panik. Gadis itu bahkan berlari mendekat ke seberang ranjang yang tidak terkena pecahan gelas. Ia dengan cekatan menekan interkom. Memanggil suster atau pegawai rumah sakit agar segera membereskan pecahan kaca itu.
Melihat Zura yang panik, Aiden tersenyum kecil. Varlos yang melihat pemandangan itu dari kejauhan mengerutkan dahinya.
“Aku hanya pusing.” Jawab Aiden kemudian, membuat Zura bernafas dengan lega, namun juga tampak sedikit cemas.
“Lain kali ha-
“Apa kamu sengaja memecahkan gelas karena cemburu?”
Lengang.
Suara datar yang dalam itu sukses membuat semua orang membisu. Ken, Heris, Helios, dan Selen yang sebelumnya ikut panik juga sekarang tampak membisu. Mereka menatap Varlos dan Aiden bergantian. Aiden mendengus kesal sambil melengos.
‘Tunggu? Apa itu benar??’ batin semua orang, minus Varlon dan Aiden.
Varlos lantas tersenyum miring, mendekat ke samping Zura.
“Ck! Apa sih kamu di sini! Pergi sana!!” usir Aiden dengan kesal.
Pegawai yang baru saja masuk untuk membersihkan lantai terkejut bukan main, mengira dirinya yang diusir. Varlos tersenyum pada pegawai yang kikuk itu.
“Tidak apa, masuklah.” Ucapnya ramah.
Pegawai itu pun masuk dengan canggung, cepat-cepat membersihkan lantai, lantas bergegas pergi. Sepanjang waktu itu, semua orang hanya diam. Sedang Aiden terus menatap Varlos sengit.
“Seorang Aiden juga bisa cemburu?” tanya Varlos lagi, dengan nada mengejek.
Aiden justru menoleh dan menatap Ken sebal.
“Ken, usir orang ini!!!” titah Aiden.
Zura tiba-tiba merasa ikut kesal. Tak terima jika idolanya diusir begitu saja.
“Apa yang kamu lakukan, Aiden?! Kenapa mengusir tuan Varlos sembarangan?” tanya Zura tak suka.
Aiden berdessah panjang. Sangat amat sangat luar biasa kesal. Sampai kehilangan kata-kata. Ia sedih karena Zura menyalahkannya dan malah membela Varlos.
“Selamat datang, tuan Varlos.” Sapa Ken kemudian.
Lagi-lagi Aiden kesal. Ken tak mengindahkan perintahnya sama sekali.
“Selamat datang, tuan Varlos..” Sapa Heris dan Helios bersamaan.
“Sebenarnya tuan kalian siapa sih?!” gumam Aiden lirih. Tetap saja semua orang mendengarnya.
“Pfftt.. Hahah.. hahaha..” Varlos tergelak, tak bisa menahan diri.
Jujur saja, semua orang di ruangan itu juga sebenarnya ingin menertawakan Aiden. Laki-laki itu sudah tak punya kharismatik sama sekali. Sudah sakit, bertingkah kekanakan, sampai menggerutu seperti anak kecil.
Wajah Aiden semakin menggelap. Lelah dengan semua orang. Ia memilih kembali berbaring dan menutupi diri dengan selimut.
“Hei.. kamu marah?? astagaa!!” Varlos mendekat dan duduk di tepi ranjang, dan Aiden memalingkan wajahnya.
Zura berkedip. Apa ini sungguh Aiden? Apa hubungan Aiden dengan Varlos? Entahlah. sikap Aiden hari ini terlalu aneh sampai Zura tak bisa tidak terkejut.
Terus diacuhkan oleh Aiden, Varlos lantas meraih tangan Zura, membuat gadis itu terlonjak dan kembali berdebar. Idolanya menyentuh tangannya!!
“Nona man-
__ADS_1
Plak!!!
Aiden menepis tangan Varlos. Ia bahkan sekarang duduk dan dengan segera menarik Zura menjauh.
Varlos lagi-lagi terkekeh.
Semua orang melongo, bahkan Zura. Ayolah.. Siapa yang tak tertarik melihat adegan unik ini di depan mata? Kejadian tadi telah membuktikan bahwa Aiden cemburu.
Varlos menatap wajah masam Aiden, ia kemudian tersenyum simpul. Varlos menaikkan tangannya ke pucuk kepala Aiden, lantas mengacaknya pelan.
“Adikku sudah besar.” Ucap Varlos lirih dan lembut.
Seketika, Aiden menatapnya dengan berkaca. Tangannya yang tadi mencekal Zura agar menjauh dilepaskan. Ia menepis lagi tangan Varlos yang memperlakukannya seperti anak kecil.
“Aku-
Diam. Aiden tak bisa melanjutkan kalimatnya. Varlos menatap lembut, lantas membawa Aiden ke dalam pelukannya. Benar-benar seperti keluarga yang berbagi kehangatan dan kerinduan.
“Aku merindukan kakak.” Lirih Aiden.
Varlos melepas pelukan singkat itu. Sebagai laki-laki, aneh rasanya jika mereka berpelukan terlalu lama. Mata Varlos juga tampak berkaca-kaca.
“Aku juga sangat merindukan adikku yang nakal.” Balas Varlos.
“Tubuhmu sangat panas. Tidurlah. Jangan memaksakan diri.” Lanjut Varlos, sembari dengan lembut membaringkan Aiden dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Itu adalah adegan yang sangat mengharukan.
Zura membeku. Pertama kali. Ini adalah kali pertama gadis itu melihat Aiden seperti manusia pada umumnya. Manusia yang rapuh. Anak kecil yang merindukan kasih sayang. Kini Zura menatap Varlos dengan tatapan yang berbeda. Bukan lagi tatapan memuja seorang idola, tapi tatapan segan.
Varlos tersenyum. Garis wajah dingin saat pertama kali bertemu seolah hanya khayalan Zura semata. Varlos menjulurkan tangannya, mengajak bersalaman kembali.
Zura tak berkutik. Saking terkejutnya, ia tak kunjung membalas uluran tangan Varlos. Varlos Barra, itulah yang Zura tahu mengenai laki-laki ini. Seorang pengacara yang sangat luar biasa keren hingga Zura mengidolakannya. Tapi, Antarest??
Melihat uluran tangan Varlos yang masih mengambang membuat Zura kembali tersadar.
“Ah, Eh, ya.. ya..” jawab Zura gugup, segera membalas salam itu.
Aiden yang berbaring di atas ranjang mengamati dengan seksama. Tak lagi merasa cemburu. Mungkin baru sekarang dia ingat dan mengakui kalau Varlos adalah kakaknya.
“Bukankah kamu juga harus memperkenalkan diri lagi dengan baik, nona Zura?” tanya Varlos yang masih saling berjabat tangan dengan Zura.
Zura terkesiap. Ia baru sadar kalau sebelumnya Varlos menyebut nama Ansana. Padahal, publik tak mengetahui itu. Tunggu.. apa mungkin..
“Nona?”
Ah sial! Zura terus saja melamun. Dengan kikuk gadis itu menatap Varlos yang masih menunggunya memperkenalkan diri.
“Saffir Azura.. Nama ku Saffir Azura Antarest.” Ujar Zura kemudian, ditutup dengan senyum simpul.
Tangan mereka kemudian terlepas. Dengan Zura maupun Varlos yang sama-sama tersenyum.
Butuh sepersekian detik, sampai semua orang dalam ruangan itu akhirnya mengetahui apa yang terjadi.
Zura baru saja memperkenalkan dirinya sebagai nyonya Antarest, untuk pertama kalinya.
“Kakak sudah tahu kami menikah?!” tanya Aiden lirih. Lebih seperti pertanyaan retoris.
“Jika kamu menikah di kota lain, aku takkan tahu. Tapi kamu menikah di kota ini, di mana kolega, mitra, dan kenalan ku tersebar di seluruh tempat. Tentu saja aku tahu, Aiden. Bahkan sepersekian detik setelah kamu memasuki biro urusan sipil.” Terang Varlos. Aiden mengerang tertahan.
__ADS_1
“Apa ibu juga tahu?” tanya Aiden lagi.
“Tidak. Bukankah kamu ingin memberi tahu sendiri?”
Aiden diam sejenak.
“Ya. Tapi tidak sekarang.” Jawabnya kemudian.
Varlos lantas menatap semua orang satu per satu.
“Bisakah kalian ke bangsal vvip di kamar sebelah? Aku sudah memesannya. Aku ingin berbincang berdua dengan Aiden.” Pinta Varlos.
Semua orang hanya bisa mengangguk setuju. Keluar dari ruangan itu dan pindah ke ruang sebelah.
Kini tersisa Varlos dan Aiden. Melihat adiknya yang masih termenung, Varlos merasa sedikit iba dan khawatir. Varlos mengenal Aiden dengan sangat baik. Tidak ada yang mengenal Aiden lebih baik daripada Varlos. Dan laki-laki itu juga tak pernah melepaskan mata-mata yang mengawasi Aiden barang sedetik. Varlos tak tahu segalanya, tapi secara garis besar ia selalu tahu apa yang Aiden lakukan, siapa yang tengah dikencani laki-laki itu, atau hal lainnya.
Aiden mungkin tampak seperti orang yang tak punya hati dan semena-mena. Tapi menurut Varlos, Aiden justru orang yang sangat berperasaan. Bahkan mungkin terlalu menggunakan perasaan. Itu menurut Varlos. Meski tentu saja, 99% manusia lain di dunia ini tidak menyetujuinya.
Sungguh Aiden yang malang.
...**...
“Gila, kamu dengar apa yang Varlos bilang tadi?” tanya Luci pada Selen, memecahkan suasana yang sebelumnya sunyi. Zura melirik singkat. Entah sejak kapan adik sepupu dan sahabatnya menjadi dekat. Padahal terakhir kali mereka masih saling bertengkar sampai memfitnah satu sama lain.
Selen menoleh dengan cuek.
“Apa?”
“Dia bilang ‘memesan’!!”
“Lalu??”
“Ini rumah sakit! Bukan hotel! Bagaimana bisa seseorang memesan bangsal vvip hanya untuk didatangi pengunjung, bukan untuk merawat orang sakit.”
“Oh.. benar juga.” Gumam Selen yang akhirnya mengerti.
“Tentu saja tidak bisa jika sembarang orang. Tuan Varlos kan memang bukan orang sembarangan.” Celetuk Heris yang bergabung dalam obrolan. Lagian, diam saja itu membosankan.
“Bukan orang sembarangan bagaimana?”
“Meski tanpa embel-embel Antares, tuan Varlos adalah seorang pengacara terkenal, aktivis, dan pokoknya dia cukup punya pengaruh.” Jawab Heris.
“Woah, keren.”
“Benar kan? Dari mana kakak ipar mengenal tuan Varlos?” tanya Heris kemudian, menoleh ke arah Zura.
“Aku memang lebih hobi mencari berita semacam itu. Lalu kebetulan aku menemukan profil Varlos dan mengaguminya.”
“Woah.. memang idolq ku luar biasa.”
Zura hanya tersenyum simpul. ‘Dan sekarang orang itu malah jadi kakak ipar ku. Aku sungguh sangat beruntung.’
“Sudahlah, Zu. Ada yang lebih penting dari itu sekarang.” Potong Luci. Gadis itu menatap lekat ke arah sahabatnya yang kini kebingungan.
“Lebih penting?”
“Yups!! Girls talk. Ada banyak hal yang ingin ku tanyakan.”
Ah!! Zura menjerit dalam hati. Ia ingin kabur saja. Jika Luci sudah membahas soal girls talk, maka ia akan segera diberondong pertanyaan. Dan semua itu selalu menjebak.
__ADS_1
...**...