Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Kemarahan Dalam Mimpi


__ADS_3

“Kalau begitu, kami permisi, nyonya.” Pamit Ken dengan wajah datar professional nya.


Heris hanya menunduk sekilas dengan sebuah senyuman di wajahnya. Dia merasa senang karena Zura benar-benar datang. Zura menatap dua orang itu yang menyambutnya di parkiran dan kini telah mengantar Zura secara khusus ke depan pintu kamar vvip nomor 3 yang telah di pesan Aiden.


“Ken..” panggil Zura kemudian.


“Ya, nyonya.”


“Tidak perlu memanggilku nyonya. Kamu bisa memanggilku Zura dengan nyaman. Bukankah kamu juga memanggil Aiden dengan nyaman?”


Mendengar itu, Ken tampak sedikit salah tingkah.


“I-iya.. tentu..”


“Ken adalah sahabat baik tuan Aiden, nona..” sambung Heris, dan dia seketika mendapat sikutan pinggang yang cukup menyakitkan, membuatnya mengaduh pelan.


Zura tersenyum.


“Kamu juga bisa memanggilku dengan nyaman, Heris.”


“Oh!! Kalau begitu, boleh ku panggil kakak ipar?” tanya Heris antusias. Ken menatap laki-laki itu tajam, namun Heris mengacuhkannya.


“Em.. baiklah.” Jawab Zura akhirnya.


“Kalau begitu, kami pamit dulu, nyonya. Ini kartu masuk untuk kunci kamarnya.” Ucap Ken sembari mengajak Heris pergi. Ia memberikan sebuah kartu. Dan kali ini mereka memang benar-benar pergi.


Kini Zura seolah ditinggalkan. Padahal, dia masih merasa sedikit canggung untuk masuk ke dalam kamar. Ken sempat bilang bahwa Aiden mabuk berat. Dan Zura sebaiknya hati-hati karena bisa jadi Aiden kehilangan kendali.


Zura menghembuskan nafasnya perlahan. Setelah memantapkan diri, ia pun mulai memasukkan kartu akses dan membuka pintu ruangan itu.


Tidak seperti yang Zura bayangkan, ruangan itu rapi. Mungkin, Ken dan Heris memang sudah membereskannya sebelum pergi. Hanya nampak Aiden yang masih duduk di samping ranjang dengan separuh kesadaran. Kepalanya tertunduk dan ia tengah memijitnya perlahan. Entah seberapa banyak minuman yang ia habiskan. Semakin mendekat, bau alkohol semakin pekat tercium.


“Ken.. atau Heris??” suara parau Aiden terdengar pelan.

__ADS_1


Zura menghembuskan nafasnya dan mendekati Aiden.


“Ini aku..” ucap Zura kemudian.


Dari dekat, kondisi Aiden yang mengenaskan semakin jelas. Kesadarannya telah dimakan oleh mabuk. Dan kantung matanya tampak menghitam parah. Wajahnya juga sedikit lebih tirus. Aiden menyipitkan matanya, berusaha melihat sosok dengan suara yang telah di kenalnya.


Apakah sekarang ia sedang bermimpi? Pasti begitu. Bagaimana mungkin sekarang Zura ada di depannya!


“Aiden??”


Panggilan Zura dengan suara yang terasa begitu manis seperti biasanya terdengar sangat merdu di telinga Aiden. Ah! Dia pasti tengah bermimpi karena terlalu memikirkan gadis ini bukan? Ya. Ini mimpi.


Aiden menarik tangan Zura dengan kencang, dan gadis itu megaduh karena kaget. Tarikan itu membuat Zura kini setengah terjatuh di atas tubuh Aiden yang duduk di tepi ranjang.


“A-aiden??” tanya Zura dengan sedikit panik, lebih karena kaget.


Belum puas dengan itu, Aiden lantas kembali menarik Zura dan merebahkannya di atas ranjang. Mengungkung gadis itu di bawah tubuhnya.


“Ump..”


Zura membuka mulutnya berniat berbicara. Sayangnya Aiden lebih cepat membungkam bibir gadis itu dengan ciuman yang panas dan liar. Bahkan kini ciuman itu terasa menyakitkan. Zura mendorong tubuh Aiden dengan keras saat nafasnya semakin terkikis habis.


“Ah. Haa.. haa.. haa…”


Tersengal, tentu saja. Gadis itu berusaha meraup udara sebanyak mungkin. Dan saat matanya menatap wajah Aiden, laki-laki itu tampak dikuasai oleh amarah. Zura menatap wajah itu, antara takut, namun juga ingin menenangkan perasaan Aiden yang telah gundah berhari-hari.


“Aiden.. Ada apa?” tanya Zura dengan suara lirih.


“Ha! Aku benci sekali wajah itu.”


Sreeekk!!


“Aiden!!”

__ADS_1


Belum selesai kebingungan Zura dengan gumaman Aiden, laki-laki itu kini telah mengoyak pakaian yang dipakai olehnya. Astaga! Dia tak membawa pakaian ganti.


“Apa yang kamu lakukan, Aiden?” tanya Zura, masih berusaha mengendalikan suaranya agar tak menunjukkan amarah.


Dibanding marah, Zura merasa tak mengerti dan tak dapat memahami Aiden. Lagipula, bisa jadi Aiden malah semakin kasar. Dia tahu Aiden tengah berada dalam dilema. Dia tahu Aiden tengah frustrasi dan terpuruk. Tetap saja, dia tak mengerti apa yang sebenarnya membuat Aiden seperti ini. Apa yang Aiden pikirkan?


Aiden menatap gadis itu dengan tajam, namun matanya berkaca-kaca dan menyiratkan kesedihan yang sangat jelas.


“Kenapa?! Kamu milikku! Kita sudah menikah! Apa aku tak boleh menyentuh mu?” Gertak Aiden setengah berteriak. Lantas laki-laki itu mulai mencium Zura dengan ganas. Perlahan ciumannya turun dan menyesap leher gadis itu. Ia ingin meninggalkan jejak sebanyak mungkin.


“Ahh..” Zura mengerang lirih. Ia menggertakkan giginya karena ulah Aiden. Tangannya perlahan naik dan mencengkeram rambut Aiden, menelisik sensasi kasar sekaligus lembut di sela jemarinya.


Aiden meningkatkan aksinya. Ciuman dan sesapan disertai permainan tangannya yang lihai. Menyentuh tiap inci tubuh Zura dan memanikannya. Zura bisa merasakan seberapa besar nafsu yang membara dalam diri Aiden. Dan nafsu itu seolah tengah meledak. Berbeda dengan saat ia melewati malam pertama. Malam itu penuh dengan gelora gairah dan hasrat. Sedangkan malam ini, Aiden tengah menjadikannya objek pelampiasan atas amarah dan kesedihan yang mendera lelaki itu.


“Aaaaakkhhh!!! Ai… deen!! Saakit!!”


Teriakan Zura terdengar sangat nyaring, memenuhi ruangan kedap suara. Sakit. Bukan hanya itu, bahkan rasanya sangat menyiksa. Aiden memasukkan paksa senjatanya saat tubuh Zura belum benar-benar siap menerimanya. Apalagi milik Zura masih sempit. Ini baru kali kedua dia melakukan hubungan ranjang.


“Pelaa- Akh!!”


“Peelaaan!! Aideen!!”


Zura menjambak keras rambut Aiden. Tangan satunya mencengkeram seprai. Dan matanya terpejam erat dengan air mata yang tumpah. Zura menggertakkan giginya kala permainan Aiden semakin ganas dan kasar, mengabaikan teriakan dan rasa sakit yang mendera gadis itu.


Aiden menggila. Ia bukan hanya bergerak membabi buta. Aiden juga memaksa Zura bergerak memenuhi kegilaan yang ia miliki. Tangannya yang kokoh kini bukan tengah melindungi, tapi tengah mempermainkan tubuh Zura seperti boneka pemuas.


Lagipula, ini hanya mimpi.


Dan hanya dalam mimpi saja, Aiden bisa kembali menikmati tubuh Zura.


...***...


...Well, seperti biasa, jangan lupa tinggalkan jejak...

__ADS_1


__ADS_2