
"Oh, selamat pagi.." Zura menyapa seorang lelaki yang mungkin berada pada usia 50 an.
"Selamat pagi, nona.." Jawab laki-laki itu sopan, tersenyum. Kerutan wajahnya justru tampak teduh.
"Anda pasti pak Awit, bi Inah menceritakan tentang anda." ucap Zura. Pak Awit adalah suami bi Inah yang sangat mencintai alam dan tanaman. Karena itulah beliau mengurus seluruh halaman mansion, termasuk kebun dan tanamannya. Mereka memiliki rumah kecil tersendiri yang masih berada di area mansion.
Karena menghabiskan hari sebelumnya untuk istirahat, baru sekarang Zura berkeliling. Ketika melihat seorang lelaki tua yang tampak telaten merawat tanaman, gadis itu menebak bahwa lelaki itu adalah pak Awit. Dan saat itulah ia menyapa.
Pak Awit mengangguk dengan wajah berseri.
"Aku harap istriku tak menceritakan hal-hal buruk." jawabnya.
"Tidak, justru sebaliknya. Omong-omong, saya juga suka membaca artikel tentang tanaman. Terutama jenis bunga."
"Bunga? Hem.. bunga apa yang paling anda suka? Saya akan mengusahakan untuk menanamnya di mansion."
"Forget me not, higanbana, baby breath, uhm.. sangat banyak sebenarnya." Zura terkekeh kecil.
"Higanbana?" Pak Awit mengerutkan keningnya.
"Ah, itu nama dalam bahasa china. Saya hanya menyukainya, tak perlu harus menanamnya di sini."
"Haha.. maaf, aku tak tahu segala hal. Aku akan coba mencari dua yang lain."
"Terimakasih, jika itu terlalu merepotkan, tolong jangan paksakan. Ah, apa anda tahu lili kobra?"
"Oh, tanaman penjerat yang memikat mangsa dengan aroma manis?"
"Tanaman yang memberikan harapan palsu dengan jalur kabur yang ternyata perangkap. Bukankah tanaman itu sa~ngat menyebalkan?"
"Haha.." Pak Awit hanya terkekeh ringan.
__ADS_1
Zura tersenyum. Ya, lili kobra. Tanaman itu berbentuk seperti kepala ular dengan lidah menjulur. Bagi Zura, tanaman itu adalah refleksi dari sosok Aiden. Menjerat dengan sikap manis, lalu memberikan jalan keluar yang ternyata perangkap. Artinya, Zura kini sudah terjebak di dalam perangkap bunga itu.
"Permisi.." suara itu menyeruak diantara perbincangan pak Awit dan Zura. Seorang lelaki dengan senyuman riangnya menyapa.
"Ah, perkenalkan, saya Heris. Saya bertugas sebagai wakil keamanan sekaligus sopir pribadi Tuan Aiden." ucap laki-laki itu kemudian.
Zura yang menatapnya lantas tersenyum tipis.
"Salam kenal, tuan Heris."
"Ah, kenapa tuan? Panggil saja Heris." laki-laki itu kembali tersenyum riang. Wajahnya benar-benar menyenangkan untuk dilihat.
"Anda sangat caantik lebih dari yang terlihat di layar kaca." puji Heris kemudian. Zura terkekeh kecil.
"Terimakasih. Sudah sangat banyak yang mengatakan itu." balas Zura bercanda.
"Oh!! Tentu saja.. Haha.." Heris ikut terkekeh ringan.
"Heris. Jika kau tak punya pekerjaan, lebih baik lihatlah para pengawal! Pastikan tak ada berita bocor tentang keberadaan nona!" Hardik pak Awit. Heris hanya menyeringai lebar, menunjukkan deretan giginya. Wajahnya tampak menggemaskan.
"Tidak apa. Lagian, saya malah cukup terhibur." Zura menatap Heris, yang tampaknya tetap santai meski pak Awit memarahinya.
"Ouh! Ibu bilang dia ingin saya membantunya. Lebih baik saya permisi, nona." Heris tampak
"Ibu??"
"Ya. Saya menganggap pak Awit dan bi Inah sebagai orang tua saya. Dan sebaliknya, mereka menganggap saya putra mereka."
Zura ber- oh ria. Dia menganggukkan kepalanya.
"Maaf, karena saya, anda harus ikut membantu membersihkan rumah." ucap Zura.
__ADS_1
Zura tahu. Karena kedatangannya, Aiden meminta bi Inah memulangkan semua pelayan. Para pengawal yang bekerja di mansion adalah orang profesional yang terikat kontrak, sehingga mereka tidak akan membocorkan apa pun. Tapi para pelayan berbeda. Kontrak mereka belum menyebutkan hal itu. Hanya menyebutkan ruangan yang tidak boleh dimasuki atau barang yang tidak boleh di sentuh. Meski Aiden seorang aktris sekaligus penerus Antarest, dia tak terlalu mempermasalahkan gosip para pelayan. Toh dia sebelumnya jarang di rumah. Dan Aiden juga sama sekali tak pernah mengundang wanita datang, meski hanya sebagai teman. Dia tak suka rumahnya dimasuki perempuan.
Tapi sekarang berbeda. Ada Zura. Karena itulah para pelayan dipulangkan dan kontrak baru dibuat. Bahkan Aiden harus memastikan latar belakang para pelayan itu agar nantinya tidak ada rumor yang bocor. Dan Zura juga mengetahuinya. Aiden sempat menyinggung hal itu. Zura berpikir, mungkin karena hal itu lah bahkan Heris yang bertugas sebagai wakil keamanan ikut membantu bi Inah.
Heris menatap Zura dengan senyuman tulus.
"Itu bukan salah anda, nona. Ibu meminta saya membantu karena ibu tidak mau anda terlalu lelah. Ibu bilang anda membersihkan kamar sendiri. Bahkan mengurus pakaian anda sendiri."
"Itu benar. Inah juga belum setua itu." pak Awit menambahkan.
"Saya memang terbiasa mengurus kebutuhan saya sendiri. Dan saya juga merasa lebih puas dengan itu.." Jelas Zura.
"Nona, bisakah anda tidak menggunakan bahasa formal? Kami adalah bawahan anda." Heris menatap Zura seolah setengah memohon. Sungguh, ekspresi wajahnya mampu membuat orang-orang merasa akrab dalam waktu singkat.
"Ah, tetap saja, rasanya canggung karena hari ini kita baru bertemu."
"Tidak apa. Biasakanlah nona."
"Nona juga tak perlu berbicara terlalu sopan pada saya dan Inah." Pak Awit mendukung, tersenyum.
"Baiklah. Tapi tidak dengan pak Awit dan bi Inah. Aiden saja bersikap sopan pada anda berdua." putus Zura akhirnya.
"Heris!!" panggilan bi Inah membuat Heris segera beranjak.
"Saya pergi dulu." Heris mulai berlari kecil. Ia lantas berbalik dan setengah berteriak.
"Oh ya, nona tak perlu merasa bersalah. Besok pelayan sudah datang."
...**...
...Tunggu ya, karena berumah tangga kadang manis di awal, tapi abisnya penuh cobaan dan badai menerjang....
__ADS_1
...Buat hari ini satu aja. Sebagai gantinya, besok up sekitar 3 atau 4 episode. Sekaligus buat mengganti yang kemarin-kemarin. ...
...Karena itu, jangan lupa kasih like, komen, vote, sama hadiahnya. Aku tuh perhitungan, wkwk.....