Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Ditinggal Pergi


__ADS_3

'Ini dia sang biang kerok'


Seketika setelah Zura mendengar suara laki-laki itu, amarahnya memuncak. Ia sungguh sangat kesal luar biasa. Gadis itu berbalik dan memelototi Aiden sambil berlalu pergi.


"Hei.. ada apa?" tanya Aiden tak mengerti. Tapi jujur saja. Jika Zura tidak tiba-tiba marah, Aiden sekarang pasti sedang meluncurkan rayuan maut. Karena Zura.. sangat seksi sampai..


'Ugh sial!! Demi Tuhan aku menyesal menyuruh Zura memakai baju itu. Shitt.. Lagi-lagi senjata pamungkas ku menegang.'


Zura mendengus kesal, ia kembali menatap Aiden sebentar dan berucap dengan kesal.


"Tebak saja sendiri!"


Zura hendak pergi. Namun, setelah beberapa langkah melewati Aiden, Zura kembali berbalik dengan dahi terlipat.


“Kemana kamu mau pergi?” tanya Zura.


Baju Aiden sangat rapih, dia pasti berniat pergi bukan? Aiden yang masih syok karena sikap marah Zura menatapnya dengan bingung dan sedikit perasaan bersalah.


“Um.. maaf.. Ada hal sangat mendesak di kantor. Aku harus dinas keluar selama 3 atau 4 hari.” Ucap Aiden.


Dinas? Belum cukup dengan kekesalan karena Aiden membiarkan bi Inah mencuci seprai dengan bercak darah keperawanan, kini Zura semakin kesal sampai ingin meledak.


Setelah puas menindihnya semalaman, memberikan pakaian tak layak, dan sekarang bajingan ini berniat meninggalkannya dinas keluar pagi hari setelah pernikahan mereka?


Keterlaluan!!


“Maka pergilah, dan aku juga akan pergi dari rumah ini.” Ucap Zura kesal. Dia tak benar-benar berniat pergi, hanya terlalu kesal pada bajingan binatang amoral itu.


Zura segera berbalik untuk pergi saat tangan Aiden dengan kasar menariknya.


“Hei!! Apa maksudmu pergi hah?” teriak Aiden penuh amarah. Bahkan tanpa sadar tangannya mencengkeram Zura terlalu keras.


Bagaimanapun Aiden panik. Ingatan semalam dan perlakuannya seharian ini yang keterlaluan, serta fakta bahwa ia pergi begitu saja setelah semua itu. Aiden takut Zura benar-benar berniat pergi. Gadis itu sangat penuh pendirian dan tekad. Atau bagaimana jika tiba-tiba dia diceraikan dalam sehari??


Zura mendengus kesal. Tangannya terasa sakit, Aiden mencengkeramnya terlalu keras.

__ADS_1


Zura sebenarnya sudah bertekad untuk menjalani kehidupan dengan Aiden sebaik mungkin. Tapi bukan berarti dia akan menerima begitu saja diperlakukan seenaknya oleh bajingan itu.


Zura menatapnya tajam dengan dingin, seolah melawan amarah Aiden yang berapi-api. Sementara itu, Bi Inah diam-diam pergi. Meski dia sangat-sangat ingin tahu, tidak sopan baginya mencuri dengar pertengkaran seorang kekasih.


Dan juga, ia harus segera kabur atau dia akan ikut terkena getahnya.


“Apakah kamu akan terus bersikap kasar, seenaknya, keterlaluan, dan menyakitiku seperti ini?” ucap Zura dengan dingin.


Aiden terkejut dengan kata-kata itu. Tubuhnya seolah membeku. Dia menatap Zura frustasi. Aiden yang menyadari telah melukai Zura lantas melepaskan tangan itu, namun dengan sigap ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


Sontak saja Zura terkesiap kaget.


“Maaf.. Aku sungguh minta maaf. Apa maksudmu pergi dari sini? Kamu tak boleh pergi!” ucap Aiden.


Kali ini, giliran tubuh Zura yang membeku. Aiden yang bersikap manja membuat perasaannya seketika luluh. Ah sial, pesona lelaki ini benar-benar membuat hatinya meleleh dengan sangat mudah.


Zura pun menghembuskan nafasnya dengan kasar. 'Dasar bajingan sialan!! Beraninya bersikap memelas dan manja!! Dan lebih lagi, kenapa hatiku serapuh ini??'


“Aku hanya bercanda karena kesal.” Ucap Zura kemudian.


"Maaf bersikap kasar semalam. Maaf karena sengaja membelikan dress seperti ini. Maaf karena harus pergi."


"Hm.."


'Oh sial!! Berapa banyak kelinci yang berlompatan di jantungku?'


Aiden lagi-lagi merengkuh Zura.


"Kau tahu? Aku lah yang menderita. Senjata ku di bawah sana saangat menderita."


"Kau!!!" Zura memukul punggung Aiden kesal, lantas melepas pelukan mereka. Sungguh, ia kehabisan kata.


"Haha.. Tidak apa. Toh aku akan pergi.." Ucap Aiden, terkekeh ringan. Dia lantas memberi sebuah pil pada Zura.


“Apa ini?” tanya Zura.

__ADS_1


“Kontrasepsi darurat. Aku lupa menggunakan pengaman semalam.” balas Aiden tanpa dosa.


Dia memang terlalu menggebu. Aroma manis, tubuh yang seksi dan indah, serta suara yang merdu milik Zura membuatnya gila. Aiden lupa diri. Satu-satunya hal yang terlintas dalam pikirannya adalah segera menyatu dengan gadis itu.


Zura mengerutkan keningnya.


“Apa kamu tak mau anak?” tanya Zura frontal. Dia sendiri kaget dengan pertanyaannya. Ia sungguh tak sengaja mengucapkan hal itu begitu saja. Semburat merah muda tampak samar di kulit putihnya.


“Apa? Bukan begitu!! A-apa kamu sudah menginginkan anak? Aku hanya masih ingin menikmati lebih banyak waktu berdua. Ta-tapi aku akan menghargai pendapat mu..” Jawab Aiden.


Sebenarnya Aiden sangat terkejut. Apa Zura menginginkan anak? Apa Zura tak masalah memiliki anak dengannya? Pikiran itu membuatnya merasa senang, namun untuk alasan lain dia merasa hatinya kacau.


Aiden tak terlalu menginginkan anak, bahkan tak pernah terpikirkan olehnya. Jika ada seorang wanita yang mengaku hamil anaknya, Aiden hanya bilang akan memberi uang sampai anak itu lahir, lalu melakukan tes dna dan menghidupinya jika itu memang anaknya. Beberapa kali itu terjadi dan sebenarnya ia selalu bersyukur saat tahu anak itu bukan anak kandungnya.


Aiden tak pernah memikirkan pernikahan, namun dia menikah dengan Zura begitu saja. Tapi, bagaimana dengan anak? Aiden tak tahu. Lalu ada apa dengan secuil rasa senang yang hinggap di hatinya?


Zura menatap Aiden dan pil kontrasepsi yang masih ia pegang.


“Baiklah. Tapi aku tak butuh pil itu. Aku memiliki pil sendiri yang sudah ku konsumsi beberapa hari terakhir.” Jawab Zura.


Ya, sejak dia akan menikah, dia mulai mengonsumsi pil bulan ini. Bagaimanapun, saat itu dia berpikir untuk menunda memiliki anak karena dia butuh beradaptasi untuk hidup bersama Andre, orang yang sebenarnya tak dicintainya.


Meski begitu, Zura selalu berpikir memiliki anak adalah sesuatu penuh berkah. Jadi dia secara naluriah bertanya pada Aiden mengenai hal ini.


Lalu kenapa ya dia secara terus terang bertanya soal anak pada Aiden? Apa dia tak ingin saling mengenal dulu? Apa di sudut hatinya ia merasa sudah mengenal Aiden?


Entahlah..


"Kamu mengonsumsi pil kb?" tanya Aiden.


"Iya. Aku tadinya akan menikah dengan Andre, apa kau ingat? Aku memang menginginkan anak, tapi mungkin mental ku belum siap." karena aku tak mencintai Andre. Tapi entah kenapa sekarang rasanya sedikit berbeda.


“Kamu harus pergi kan? Berangkatlah..” ucap Zura kemudian, menepis pikiran anehnya.


“Ah.. tentu.” Jawab Aiden.

__ADS_1


__ADS_2