
“Hai semuanya!! Kembali lagi dengan live streaming bersama Ai dan Az. Saya Luci akan memandu siaran kali ini.”
Luci mengarahkan kamera untuk memperlihatkan pemandangan yang sangat ramai di belakangnya.
“Oh oh oh.. apa nih apa nih.. Yups. Hari ini sedang ada pertemuan besar keluarga Antarest dan Ansana. Hei, lihat, siapa ini?!!”
“Hai semua..” Selen menampakkan wajahnya. Seketika, siaran itu pun dibanjiri komentar.
[Wait. Dia Sellena Ansana!! Astagaaaa.. ada apa nih konglo pada ngumpul?]
[Sellen yang putri konglo? AS Group? Seriusan??]
[Ngapain nih dua konglomerat negeri kumpul.]
[Beneran Muse tuh keponakan AS group?]
“Haha.. kalian kaget kan iya kan iya kan.. pasti lah. Jadi, Saffir Azura tuh sebenarnya adalah.. jeng jeng jeng.. paman, kasih halo dong.”
“Hallo.. saya datang untuk syukuran kehamilan ponakan saya.”
[Woi.. mana yang punya akun?]
[Iya ih, bajak.]
[Abang Aiden sayang..]
[Mami Muse sayang..]
“Jangan pake sayang sayang ya.. kalian mau jadi pelakor rumah tangga aku hah?”
[Wehh, tukang selingkuh mulai posesif.]
[Berani bilang ayang aku tukang selingkuh?!!]
[Hiks.. My Muse udah nikah aja si, hamil pula. Awas ya. Beruntung banget tukang selingkuh dapet virgin. Aku juga mauuuuuu]
[Padahal dirinya sendiri pelakor. Muse apaan?! ***** banget. Sok polos lagi ya?]
[Hei. Awas ya jarinya aku potong sama pusakanya sekalian!!]
Kemunculan Aiden yang singkat itu sukses membuat komentar semakin ramai. Di sampingnya, Zura hanya melambai singkat. Mereka sama-sama memilih mengabaikan komentar negatif. Lagipula, hidup Aiden dan Zura sudah melewati sesuatu yang lebih pahit daripada komentar negatif.
__ADS_1
“Hai semua, lihat nih, istri kesayangan Aiden Antarest sedang latihan merajut. Eh sayang, sejak kapan kamu bisa bikin pola ini?”
“Barusan ibu ngajarin.”
“Terus ibu ke mana?”
“Jemput kak Varlos sama kakak ipar.”
“Wah.. Ya udah. Ayo kita tutup aja streaming nya. Kamu ada pesan buat semua pemirsa?”
Zura lantas menatap ke arah layar.
“Kalian harus tahu, tidak ada yang jauh lebih membahagiakan daripada bersatunya dua orang yang saling mencintai. Jujur aja, Aiden itu sama sekali bukan tipe aku. Sejak awal, dia tipe yang paling aku benci. Nyatanya, menyangkal sebesar apa pun, laki-laki yang berhasil membuat hatiku ketar ketir hanyalah Aiden. Saat aku terpojok karena harus menikah sekalipun, Aiden ada di list terakhir. Ah, kalian gak paham ya? Intinya, menikah dengan Aiden itu sebuah keterpaksaan.”
“Yups. Waktu itu dengan liciknya aku memaksa istriku menikah denganku. Aku bahkan sampai mengancamnya pakai embel-embel Antarest Group. Barulah kemudian aku tahu, ternyata wanita yang ku nikahi adalah orang terhormat. Keponakan paling disanya di ASeana.”
“Tapi, aku sangat bahagia. Aiden percaya bahwa skandal buruk tentangku palsu. Dan dia juga memperlakukanku dengan sangat baik. Aku sangat bersyukur memiliki suami sepertinya.”
“No, sayang. Aku lebih bersyukur. Mereka yang percaya pada skandal murahan itulah yang bodoh.”
...**...
Ternyata, memang sangat membahagiakan sekali saat hidup bersama orang yang dicintai. Zura maupun Aiden sama-sama tahu bahwa banyak hal yang akan terus merintangi jalan mereka. Dan mereka berjanji untuk menghadapinya bersama. Aiden dan Zura resmi keluar dari dinia akting. Mereka masih menerima beberapa tawaran iklan dan modeling. Zura ikut membantu mengurus Antarest Entertainment. Hamil tidak menyurutkan semangatnya. Terlebih, ada Aiden yang terus saja memperhatikannya terlalu teliti sampai Zura tertawa lelah. Ya. Dia bahagia.
“Ayolah, Lios. Ya, please..” pinta Zura. Sejak hamil, ia memang jadi semakin manja. Di usia kehamilan yang menginjak 8 bulan, sifat manjanya itu malah semakin menjadi.
“Siaaang..” suara semangat itu membuat semua orang menoleh. Termasuk Aiden yang tengah membawa potongan buah dari arah dapur.
“Oh, hai kakak ipar yang lebih muda dari aku..” sapa Aiden. Ia menyerahkan potongan aneka buah kesayangan istrinya itu.
“Sayang, aku juga ingin buah..” ujar Jeska. Ia tahu jika meminta Zura, Aiden pasti akan marah-marah.
“Oke. Sebentar aku ambilkan.”
Jeska tersenyum melihat kepergian Varlos. Ia pun ikut duduk di sofa bersama yang lain.
“Ibu bilang ia ingin kita semua satu kompleks rumah. Aku juga ingin begitu. Mansion yang baru didekorasi sedemikian rupa agar ramah untuk bayi.” Ujar Jeska.
“Di sini malah udah selesai tuh dekorasinya. Kamu dan kakak aja yang jaga ibu. Kami bakal sering main kok.” Ujar Aiden.
“Aku masih tak bisa percaya melihat seorang Varlos jatuh cinta.” Ujar Zura. Memang rasanya masih aneh.
__ADS_1
“Ck. Cinta apaan. Yah, meski aku sendiri sudah kelabakan berdebar-debar karena perhatiannya yang kaku.” Ujar Jeska sebal. Pasalnya, Varlos sama sekali belum pernah menyatakan ia mencintai Jeska.
“Eh, untuk resepsi, kira-kira jadinya pas si unyu dan si unyil umur berapa kak?” tanya Selen.
Ya. Karena hamil, resepsi pernikahan Zura dan Jeska diundur. Baik Aiden maupun Varlos terlalu posesif dan takut istrinya kelelahan. Apalagi, mereka berdua kompak ingin menggelar pesta besar selama 7 atau 10 hari.
“No. Bukan resepsi Selen sayang. Ini pesta bayi.” Jelas Zura. Memang benar. Ia lebih antusias menggelar pesta untuk bayinya nanti dibanding resepsi itu sendiri.
“Tetep aja Zura sayang, kamu gak berniat membatalkan WO yang sudah aku pesan kan?” tanya Luci dengan raut menahan kesal. Zura hanya meringis.
“Oke.”
“Hei, Asisten Ken sejak kapan hari cuek terus deh. Punya pacar baru ya?” ledek Heris. Semua orang pun melempar pandangan.
“Ck. Sejak kapan hari kak Heris panggil asisten Ken terus deh. Ken aja gitu, atau kak.” Protes Selen. Aneh rasanya mendengar Ken dipanggil dengan sebutan asisten terus menerus. Mereka sudah jauh lebih dekat daripada dulu.
“Heris, bukannya kamu juga harusnya mulai berhenti merahasiakan hubungan kalian?” ujar Helios santai, yang seketika membuat Heris salah tingkah.
“Eh. Ah..”
“Loh, kamu udah punya pacar?” tanya Ken ikut antusias. Pasalnya, dia sih santai meski ketahuan. Toh bukan sengaja menutupi juga. Tapi Heris? Tak ada tandanya sama sekali.
“Oh.. sama siapa kak Heris?” tanya Selen semangat.
“Iya. Siapa sih?” tanya Zura juga.
Aiden mengangkat alis. Melihat Heris yang salah tingkah. Helios yang tersenyum simpul menatap.. Luci yang wajahnya merah padam.
“Wow. Sejak kapan kalian pacaran diam-diam? Ah, jadi karena itu akhir-akhir ini kalian sering berkumpul di sini hm?” ujar Aiden. Luci dan Heris sama-sama mulai pucat.
“Kalian? Kamu tahu pacar Heris?” tanya Zura.
“Oh, kalian tak tahu?” Suara Varlos menginterupsi. Ia menyerahkan piring berisi potongan buah untuk istrinya.
“Makasih sayang..” ujar Jeska.
“Kak Varlos, emang kak Heris pacaran sama siapa?”
“Perempuan yang sekarang wajahnya merah padam karena malu.”
Semua orang mengedarkan pandangan. Seketika, tatapan mereka terkunci pada sosok Luci dengan penuh intimidasi.
__ADS_1
...**...