Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Aiden Kembali Beraksi


__ADS_3

Bi Inah kini telah selesai mengobati pelipis Zura yang terluka. Hanya ada Aiden di kamar itu, sedang para lelaki sisanya menunggu di bawah, menginterogasi Helios mengenai apa yang terjadi pada Zura.


Zura menatap Aiden, yang kini tengah balas menatapnya dengan wajah memelas. Ada apa sih dengan Aiden? Belum ada 15 menit pertemuan mereka, dan Aiden bersikap sangat aneh sejak tadi. Memanggil Zura dengan sebutan sayang, istriku, dan bersikap manis. Terlebih tatapan mata yang seolah sengaja menunjukkan puppy eyes nya.


“Aiden..”


“Ya?!! Ada yang kamu butuhkan? Apa sakit? Perlu ku panggil dokter?”


Tuh kan, aneh!! Zura menghela nafasnya.


“Ada apa?” tanya Zura, membuat kening Aiden berkerut.


“Apanya yang ada apa?”


“Sikap mu sangat aneh, Aiden.”


Aiden masih tak mengerti.


“Apa kepalamu sakit, apa kamu baik-baik saja?” tanya balik Aiden.


“Aku baik-baik saja. Luka kepala ini memang melenceng dari perkiraan. Tapi aku baik-baik saja.” Jawab Zura akhirnya. Sepertinya Aiden akan terus bertanya sampai ia memberikan jawaban.


“Jadi, apakah insiden ini disengaja, adik ipar?”


Sosok Varlos muncul di balik pintu, berdiri bersandar dengan dua tangan terlipat di depan.


“Disengaja?” tanya Aiden.


Zura menatap ke arah Varlos, dan di belakang pria itu, para lelaki lain ikut berdiri dengan wajah yang berbeda. Ken dengan raut penasaran, Heris dengan raut terkesima, Helios dengan raut khawatir, dan Varlos, yang tampak datar-datar saja. Varlos masuk, diikuti oleh yang lain. Membuat kamar itu menjadi penuh.


“Jika mendengar penuturan Helios, sepertinya dia memang sengaja membuat keributan itu.” Ujar Varlos menjawab pertanyaan Aiden. Ia mengangkat dagu dan menunjuk sosok Zura.


Semua tatapan mata kini mengarah ke arahnya.


“Aku hanya berimprovisasi, kakak ipar.” Ujar Zura tenang.


“Jadi, kamu juga sengaja terkena serangan dari Andre dan Rebecca?” tanya Aiden. Wajahnya nampak sedikit marah, kesal, iba, dan cemas.


Zura mengerutkan keningnya sejenak. Benar-benar, ia belum terbiasa dengan sosok Aiden yang kini di depannya.


“Aku terkejut saat tiba-tiba Rebecca menampar pipiku. Tapi hal semacam itu memang sering terjadi. Dan karena aku membenci mereka berdua, aku secara refleks saja melakukan itu.”


“Jadi kamu benar-benar sengaja menerima serangan mereka?” ulang Aiden dengan suara yang naik satu oktaf.

__ADS_1


Zura menghembuskan nafasnya. Sebenarnya, situasi yang ia hadapi sekarang terasa asing sekali. Entah bagaimana, euforia pertengkaran besar mereka sebelumnya tak tersisa sama sekali. Zura memang sudah memantapkan hati untuk memaafkan Aiden, tentu saja dengan beberapa ketentuan dan setelah masalah mereka benar-benar terselesaikan. Tapi perilaku Aiden yang sekarang membuat semua rencana Zura berjalan terlalu mulus, sampai rasanya berantakan. Kadang begitu kan, saat jalanan yang kamu lewati terlalu halus, justru rasanya jadi licin. Itulah kiranya yang sedang dirasakan oleh Saffir Azura.


“Aiden, apa kamu lupa kalau aku menjadi pemeran utama beberapa film laga?” tanya Zura kemudian.


Aiden hanya mengernyit. Entahlah, apa dia lupa atau ingat. Yang Aiden pikirkan pokoknya hanya fakta bahwa Zura sekarang terluka, titik.


“Aku cukup mampu menjaga diri sendiri, Aiden. Jika aku memang menginginkannya. Bukan hal yang sulit bagiku untuk membalas mereka. Juga untuk menghindar dari tamparan mereka. Juga untuk melepaskan diri dari jambakan Rebecca.” Jelas Zura, yang malah membuat Aiden semakin berang.


“Lalu kena-


“Aiden!” tatapan tajam Zura membuat Aiden terdiam seketika. Bungkam.


“Aku hanya kesal saja. Dan lagipula, itu kesempatan bagus untuk membalas dendam pada Andre.” Ujar Zura santai. Gadis itu lantas menatap lekat ke arah Varlos.


“Jadi kakak ipar, apa kakak berniat membantuku?” tanya Zura.


Varlos mengangkat satu alisnya.


“Baiklah. Akan ku pastikan rumor mereka merebak. Dan aku akan membuat mereka berdua mendapat ganjarannya.”


Zura mengangguk singkat. Sayangnya, semua kelegaan di hatinya harus sirna mendengar apa yang Varlos ucapkan setelah itu,


“Tentu bayaranku akan sangat mahal. Dan itu bukanlah uang, adik ipar.”


Zura mendengus. Apalagi Aiden malah masih membeo tak peduli padanya. Menyebalkan.


Zura menggelengkan kepalanya.


“Aku tahu kamu sengaja menahan diri karena memahami rencanaku, Helios. Aku lah yang menjebak mereka, bukan kamu yang tidak mampu melindungiku. Aku tahu tanganmu setengah bergerak saat Andre berniat memukulku. Dan kamu benar-benar menahan diri melihat semua itu. Tapi, aku justru berterimakasih atas kesabaran itu, Helios. Kamu membuat rencana dan rasa sakitku tak sia-sia.”


Aiden mendesaah pelan. Tangannya yang besar menggenggam jemari Zura den memberikan kecupan kecupan singkat.


“Tetap saja, aku tak suka kamu terluka, sayang..” lirih Aiden.


Zura berdesir. Kalimat yang manis dan pelan itu sungguh tedengar penuh dengan ketulusan. Ah, kenapa hatinya menjadi sangat rapuh jika berurusan dengan Aiden? Jujur saja, saat melihat Andre dan Rebecca, salah satu alasan yang membuat otak licik Zura bekerja adalah karena rasa marahnya saat melihat Rebecca. Rasanya jauh lebih menyebalkan mendengar wanita itu memanggilnya dengan sebutan jalaang. Lebih daripada fakta saat ia mengetahui duo mantan sialan itu bersama.


Varlos dengan peka mengajak semua orang keluar, dan tak lupa juga menutup pintu kamar. Kini, lagi-lagi hanya tersisa Aiden dan Zura di dalam kamar, berdua.


Melihat waktu yang sangat pas itu, tanpa pikir panjang lagi, Aiden dengan segera mengangkat tubuh Zura. Membuat wanita itu duduk di atas pahanya. Memeluk Zura dari belakang dan menghujani kecupan kecupan singkat.


Zura menelan saliva.


“Aiden..” lirih Zura, menahan diri karena tubuh gadis itu, sialnya merasa nyaman.

__ADS_1


“Hanya pelukan ringan, ku mohon jangan larang aku..” rengek Aiden dengan nada manja. Ia masih memberi kecupan singkat di tengkuk dan punggung Zura. Dan tangannya yang merengkuh perut Zura juga bergerak dengan sangat halus dan pelan.


Sial! Apa Aiden tengah memancing gairahnya?!


Hei, sejak kapan pula Zura terbiasa mengucapkan makian? Ia sekarang kecanduan mengucapkan kata ‘sial’.


“Kamu bukan hanya memeluk-


“Aiden!!!” Zura sedikit menjerit. Pasalnya tangan Aiden mulai bergerak kemana-mana.


“Haha..” Aiden terkekeh ringan, namun ia segera menghentikan aksinya. Aiden justru lagi-lagi mengangkat tubuh Zura. Membaliknya agar kini posisi mereka saling berhadapan. Tubuh mereka sangat dekat, nyaris bersentuhan.


Otak Zura sudah traveling. Apa Aiden ingin bercinta? Apa mereka akan bercinta? Astaga, pintu kamar memang tertutup, tapi tidak terkunci. Tunggu dulu, Zura memang berniat memaafkan Aiden, tapi bukan begini juga kan? Kenapa ia malah rasanya tak keberatan jika Aiden meminta haknya? Ah, iya, memang Aiden masih suaminya dan berhak meminta jatah.


Tapi..


Ah, entahlah.


...**...


“Apa anda berniat mengurus masalah Zura?” tanya Ken. Entah kenapa, samapai sekarang ia masih sulit bersikap akrab dengan Varlos. Rasanya canggung.


Varlos menoleh sekilas.


“Hem, tentu saja. Dia adik iparku. Dan Aiden sangat mencintainya. Aku akan mencarikan pengacara yang berbakat.”


“Tuan, apa anda akan tetap berkecimpung di dunia hukum?” kini Helios yang bertanya.


Varlos bergeming sesaat. Ia kemudian menatap Helios dengan lekat.


“Ibu memintaku mengambil alih perusahaan. Jadi tahun ini aku akan resign dari dunia Hukum. Aku akan pensiun dan beralih mengurus perusahaan. Lagipula, para kapitalis licik itu semakin menekan Aiden. Aku harus turun tangan secepatnya mengurus itu.”


Heris menghembuskan nafasnya.


“Saya harap anda segera mengurus para bajingan tamak itu.” Ujar Heris.


“Ya. Lagipula, Aiden juga akan segera pensiun dari dunia entertainment. Jadi, nantikanlah aksi kami mengguncang industri negeri nantinya.”


Varlos terkekeh ringan. Begitu pula ketiga laki-laki yang lain.


“Ah, kalian juga harus cepat-cepat mencari pacar. Mulailah memikirkan kehidupan kalian sendiri. Apa kalian berniat menjomblo seumur hidup heh?”


Seketika, tawa tiga orang itu lenyap. Berganti dengan raut wajah sebal dan bibir yang tertutup rapat.

__ADS_1


“Hei, kenapa jadi kaku begitu. Aku juga belum menikah dan belum memiliki kekasih. Jadi kita akan berlomba-lomba nanti, oke?”


...**...


__ADS_2