Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Menenangkan Hati


__ADS_3

“Tuan Aiden, apakah skandal mengenai penggelapan dan HIV itu benar?”


Pertanyaan pertama. Para wartawan itu menanyakan dua hal sekaligus. Dua hal yang paling panas sekarang.


Aiden menatap para wartawan, Ken dengan sigap mendekatkan microphone agar Aiden tak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk bersuara.


“Itu tidak benar.” Jawab Aiden kemudian. Ia berdehem sebentar.


“Meski aku mendekam dalam bangsal rumah sakit, bukan berarti aku diam saja. Tim kuasa hukum ku sudah melakukan penyelidikan dan hampir tuntas. Tim penyidik dari kejaksaan juga sudah berkunjung menanyakan beberapa hal. Mereka bisa mengonfirmasi bahwa aku tak kabur dalam penyelidikan ini. Dan mereka bisa mengonfirmasi penyakit apa yang tengah melanda ku.”


“Anda tertangkap kamera tengah bersama aktris Saffir Azura yang menghilang karena skandal selingkuh dan aborsi, apakah kalian memiliki suatu hubungan tertentu?”


Pertanyaan kedua. Trending topik selanjutnya yang melanda negeri. Skandal Zura yang sebelumnya redam kini kembali panas setelah foto mereka terekspos di media. Terlebih, sang aktris yang menjadi buah bibir masih menghilang dari publik.


Mata Aiden sedikit menajam, meski semua itu tersamarkan oleh wajah pucatnya.


“Saat seluruh negeri kehilangan kepercayaan kepada sang Muse, hanya segelintir orang yang masih mempercayai gadis itu. Dan diantara segelintir orang itu, aku adalah salah satunya. Publik tahu pasti bahwa kami terjerat banyak hal yang menyebalkan. Gadis itu juga yang sempat membuatku mendekam beberapa jam dalam penjara. Tapi karena hal tak menyenangkan yang terjalin diantara kami, aku merasa aku lebih mengenal Zura. Bahkan tunangan dan beberapa keluarganya tak percaya pada Zura. Namun aku tahu pasti, Zura tak melakukan itu.”


“Dia orang yang terhormat. Dia takkan memberikan tubuhnya untuk sembarang pria. Bahkan jika dia mengalami hal buruk, yang, misal saja, membuatnya hamil di luar nikah. Aku yakin, aku 100% yakin dan percaya, gadis itu akan lebih memilih mengakui dan mempertahankan janinnya, serta pamit dari hadapan publik. Meski ia harus menerima hujatan selurun negeri, diusir, dihina, dimaki, atau apa pun. Itulah Zura yang aku kenal.”


“Aku belum selesai. Tolong bersabar sejenak.”


“Kalian bertanya apakah kami memiliki hubungan tertentu? Jawaban ku, ya. Kami menjalin suatu hubungan setelah insiden itu. Aku membantu Zura menyelesaikan skandal. Dan kami sekarang adalah teman.”


“Apakah kalian menghabiskan malam panas bersama di atas ranjang?”


Pertanyaan ketiga. Sebenarnya, ini sedikit melenceng dari niat awal para reporter. Namun, pertanyaan ini lebih menarik daripada menanyakan sampai mana kuasa hukum Aiden sudah bertindak.


Aiden tersenyum sekilas.


“Zura hanya bersedia melakukannya jika kami menikah. Ia menjaga keperawanannya untuk suaminya.”


“Aku minta maaf, kondisiku sepertinya memburuk. Aku tak bisa menepati janji 5 pertanyaan. Kalian bisa menanyakan itu lain kali.”


Mendengar itu, para reporter mulai kembali membuat kegaduhan. Aiden menampakkan senyum simpul dan berdiri. Dengan dibantu bi Inah dan pak Awit, dia mulai melangkah. Sampai kemudian tubuhnya limbung jatuh. Ken dan Heris dengan cepat datang, membopong tubuh Aiden yang matanya kini terpejam. Dan para bodyguard menggiring reporter keluar mansion.


...**...


“Kau sudah bisa membuka mata sekarang, Aiden..” ujar Ken. Dia tahu Aiden segaja berpura-pura pingsan agar para reporter itu berhenti bertanya. Lagipula, wajah pucat Aiden sangat mendukung semua akting itu.

__ADS_1


Aiden membuka matanya perlahan.


“Sepertinya, aku masih seorang raja aktor.” Gumamnya pelan, disertai kekehan ringan.


Ken dan Heris menggeleng pelan.


“Kakak memang luar biasa.” Ujar Heris. Jujur saja, dia benar-benar panik dan mengira Aiden pingsan sungguhan.


“Kau sudah membuat rekaman tadi kan, Ken?” tanya Aiden.


Ken mengangguk.


“Sudah, dan akan segera dipublikasikan. Rekaman tanpa jeda dan tanpa editan. Dengan begitu, para reporter sialan itu takkan bisa membuat berita miring yang semakin mengacaukan rumor tentangmu.”


“Bagus. Lalu, di mana Zura? Apa dia belum pulang?” tanya Aiden lagi.


Ken membuka ponselnya, hendak memanggil Helios untuk bertanya, namun ia urung setelah melihat ada pesan yang belum terbaca dari Helios.


“Em.. Helios bilang Zura ingin menenangkan diri. Haruskah aku menyuruhnya pulang saja?” tanya Ken.


Aiden mengerutkan keningnya sebentar.


“Tidak perlu. Dia memang butuh waktu sendiri. Suruh Helios menemani dan memberi kabar secara berkala.”


Ponsel Aiden bergetar, menunjukkan panggilan dari Varlos.


“Ada apa kak?” tanya Aiden.


“Sidang pertama akan diadakan seminggu lagi. Semua persiapan sudah siap. Sidang ini juga tertutup. Dan status Zura sebagi istrimu sebisa mungkin akan ditekan.”


“Aku juga akan mengirimkan berkas lain kak. Aku sudah di rumah sekarang, banyak hal yang bisa ku lakukan.”


“Bagus. Ngomong-ngomong, dimana Zura?”


“Kami terpaksa berpisah untuk sementara.”


“Oh.. baiklah.”


Panggilan terputus. Aiden menghembuskan nafasnya dengan pelan. Sebentar lagi, semua masalah akan berakhir sebentar lagi. Setelah kondisi Aiden membaik seperti sekarang, banyak hal yang bisa ia lakukan.

__ADS_1


...**...


Tempat yang direkomendasikan oleh Helios benar-benar sesuai dengan keinginan Zura. Terpencil, tidak ada sinyal, dan tenang. Tempat ini juga digunakan oleh beberapa orang yang depresi untuk menenangkan diri. Karena lokasinya yang terpencil, susah diakses, dan dekat dengan pesisir, membuat tempat ini menjadi destinasi yang sangat tepat untuk Zura.


Para penduduk dan pengunjung yang datang ke tempat ini memiliki 1 kesepakatan tak tertulis. Yaitu tak boleh membincangkan aib orang lain. Mereka akan bersikap seolah Saffir Azura bukanlah aktris yang tengah terjerat skandal. Dan mereka juga dilarang menceritakan pengalaman mereka di sini ke media sosial selama 2 tahun ke depan. Jadi, identitas Zura akan aman, seridaknya sampai 2 tahun ke depan.


“Terimakasih mengajakku kemari, Helios.” Ujar Zura, ia menapaki pesisir pantai, menikmati jalan-jalan sore.


Ombak di lautan itu sangat ganas, dan badainya juga sangat berbahaya. Desa terdekat bahkan berjarak sekitar 700 meter dari pesisir pantai. Dan pasirnya membentang selebar 270 meter. Karena itu pula tempat ini tidak dijadikan tempat wisata. Ombak bisa menggulung kapan saja, dan orang-orang yang berlalu lalang hanya bisa berjalan di bibir pantai dari kejauhan.


Meski begitu, setiap orang yang datang ke desa dilarang bunuh diri. Ada sebuah mitos jika orang yang berniat datang untuk bunuh diri di pantai ini akan meninggal sebelum mencapai desa. Dan faktanya, memang belum ada berita bahwa ditemukan mayat dari pengunjung yang datang dengan niat bunuh diri. Atau mungkin berita itu ditutup sebelum terkuak.


Zura menghembuskan nafasnya perlahan. Ia tak peduli. Yang ia inginkan sekarang adalah menata hati dan pikirannya yang kusut. Zura memutuskan duduk di atas batang kayu besar yang tergeletak di atas pasir. Matanya menatap senja yang begitu memesona dan indah.


“Padahal aku selalu berjanji akan menjadi anak yang kuat.” Gumam Zura lirih.


Helios ikut duduk di atas pasir, beberapa meter jauhnya dari Zura. Ia memilih menjaga sang nona dalam diam.


“Mom, dad, apa kalian tengah melihatku dari atas sana? Apa kalian kecewa padaku? Jika kalian masih hidup, nasihat apa yang akan kalian berikan padaku?”


“Mom, dad, aku meninggalkan suamiku yang sedang diterpa badai masalah. Tubuhnya sakit. Dan aku meninggalkannya karena terlalu terbebani dengan masalah hatiku. Aku.. aku bimbang mom..”


Mata Zura mulai berkaca-kaca.


“Mom.. Dad..”


“Apakah aku telah gagal menjadi putri yang baik?”


Kini air matanya mulai mengalir perlahan. Dan isak tangisnya semakin lama semakin kencang. Wajah sendunya membuat langit yang jingga seolah ikut merasakan duka.


Gadis itu lelah. Lelah bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Lelah bersikap kuat menjalani hidupnya yang kesepian.


Ada Luci, Selena, paman dan keluarganya, kolega, dan banyak orang lain. Namun yang benar-benar dekat dengan Zura hanya Luci dan Selena. Padahal ia sangat berusaha keras untuk membangun jati dirinya sendiri. Menjaga diri agar tetap berprinsip.


“Maaf.. hiks.. aku.. hiks.. Maaf.. Mom.. hiks.. Dad..”


Tidak kuasa lagu Zura mengucapkan sepatah kata. Hanya isakan, yang tak kunjung berhenti.


Prinsip yang teguh. Prinsip itu membuat hatinya berdiri sangat kokoh menahan terpaan badai topan dari luar. Namun prinsip itu juga menyisakan kekosongan di dalam hatinya. Banyak hal yang harus ia telan. Keinginan dan mimpi yang harus ia kesampingkan.

__ADS_1


Menjadi kuat membuatnya tangguh. Namun juga lemah pada saat yang bersamaan.


...**...


__ADS_2