Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Aku Mencintaimu


__ADS_3

“Aku menginginkannya, Aiden..”


“Aku menginginkanmu..”


Nafas Aiden tercekat. Ia membeku sejenak. Seolah terlalu banyak bunga yang mekar sampai hatinya sesak. Perlahan, Aiden tersenyum. Ia mengecup pelan pucuk kepala Zura.


“Kau yakin?” tanya Aiden lagi, suaranya penuh dengan kelembutan.


“Hm..”


Aiden menyentuh pelan kulit wajah Zura yang lembut, mengusapnya. Ia bahagia, sangat bahagia. Ia sangat menginginkan Zura, sampai rasanya ia takut kehilangan. Entah sejak kapan, perasannya beralih sejauh ini.


“Zura.. masih banyak—


“Aiden..”


Zura memotong, menatap Aiden dengan lekat.


“Aku ingin menerimamu apa adanya. Menerima kamu seutuhnya sebagai suamiku dengan tulus dan ikhlas. Kau mungkin telah melakukan sebuah kesalahan, tapi kamu bahkan tak tahu dan tak mengingatnya. Itu.. berbeda.”


“Kamu tidak pernah mengkhianati ku, Aiden. Setidaknya, itulah yang kini aku yakini.”


Menerima Aiden seutuhnya. Artinya, Zura menerima masa lalu Aiden. Menerima kekurangan Aiden. Juga, percaya pada Aiden.


Dalam hidup ini, ada kesalahan yang terlalu fatal untuk dimaafkan. Ada saatnya seseorang harus tegas pada prinsip dan kenyataan. Itu sebabnya Zura berniat melepaskan Aiden. Tapi, hatinya ragu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk tetap bersama Aiden. Tapi hatinya pun masih ragu. Tidak ada kesungguhan di sana. Hanya sebuah keterpaksaan.


Namun sekarang berbeda. Ia telah menerima Aiden sepenuhnya. Bukan karena ia terlalu buta pada cinta. Tapi karena ia tahu Aiden tidak benar-benar bersalah. Ia ingin mempercayai ketulusan Aiden yang terasa nyata.


“Aiden.. aku istrimu. Aku masih istrimu. Tidakkah kamu menginginkan ku?”


Mata Aiden memanas. Tentu ia sangat menginginkan Zura. Bersama Zura membuat hatinya membuncah dengan berbagai rasa. Dan ia merasa ia tak pantas. Ia terlalu bajingan untuk seseorang sesempurna Zura.


Tapi, bolehkah ia egois? Perlu keegoisan untuk memiliki cinta. Ia tak sudi melepas Zura, apalagi jika wanita itu bersama lelaki lain. Ia menginginkan Zura. Tubuh, hati, bahkan jiwanya.


Maka, tak masalah jika ia harus menjadi bajingan lagi.


“Aku.. akan membuatmu menyesali ucapanmu, sayang..”


Zura tercekat. Ia menatap Aiden tak mengerti. Yang dilihat oelhnya sekarang adalah Aiden yang penuh damba.


“Ahh!! Aiden?!!”


“Aahh..”


Tubuh Zura bergetar. Darahnya berdesir karena permainan Aiden yang tiba-tiba. Kenapa? Laki-laki itu memenuhi tubuhnya dengan aroma cinta. Membelai dengan lembut sekaligus ganas. Zura mulai kembali terengah. Rasanya familiar. Mengingatkan Zura dengan malam pertama mereka saat gairah Aiden terlalu menggebu. Saat Aiden menuntut malam panas yang sangat panjang. Membuat tubuhnya remuk redam. Namun, Zura juga masih mengingat dengan jelas. Bagaimana ia melayang dan merasakan surga dunia malam itu.


“Aaaaaaaahhh!!!”


Nafas Zura memburu. Ia telah mencapai pelepasannya dengan cepat. Cengkeraman tangannya melemah, melepas seprai. Tubuhnya telah berkeringat. Ia perlahan membuka matanya yang kabur. Namun, belum usai netra itu menyusuri paras Aiden dengan baik, ia mengejap dan memejamkan mata erat.


“Aaaahh!!”


Erangan itu kembali lolos, memenuhi ruangan. Nafasnya semakin memburu merasakan Aiden yang melesak memenuhi tubuhnya.


“Berhenti! Engh.. Ber- henti seb Ahh!! Aiden!! Seben- tar..”


“Haa- haa- haa-“


Zura memejam kan mata. Ia merasakan Aiden yang sebelumnya menggila kini berhenti bergerak. Namun lelaki itu masih terus mengecupi wajahnya.


“Aiden..” netra Zura terbuka, menatap Aiden dengan mata yang berkabut.


“Em.. sayang..”


“Aku nyata, Aiden..” ujar Zura. Entah kenapa ia merasa kosong saat Aiden hanya menggeram tanpa mengucapkan apa pun. Seolah ia yang kini di hadapan Aiden hanya fantasi laki-laki itu.


“Aku mencintaimu..” lirih Aiden.


“Aku tahu.”


Zura mengamati netra Aiden yang penuh hasrat dan gairah. Ia bisa merasakan bahwa tubuh mereka sama-sama memberontak tak sabar.

__ADS_1


“Bergeraklah. Bergeraklah sambil menatapku dengan baik. Aku nyata.”


Aiden tersenyum kecil. Hatinya tersentil karena Zura tahu apa yang ia rasakan. Dan ya, Aiden kembali bergerak dengan pelan. Lantas ia mempercepat temponya. Bibirnya meracau memuji betapa Zura luar biasa. Ya, itu sebuah percintaan yang asing dan panjang. Memukau dan mengesankan. Tak ada hentinya Aiden dan Zura memenuhi ruangan itu dengan suara yang bersahutan. Mereka meniti bersama. Zura satu dua kali mencapai puncaknya terlebih dahulu. Dan disusul Aiden. Mengakhiri sesi pertama mereka bersama.


Keduanya saling menatap, memiringkan sedikit tubuhnya. Nafas keduanya memburu. Dan Aiden memberikan sebuah lummatan lembut sekilas.


“Kau sangat luar biasa, sayang..”


“Hm.. kamu juga, Aiden..”


Aiden tersenyum. Hatinya penuh oleh kebahagiaan. Ia kembali mengecup kening Zura.


“Aku mencintaimu.. sangat mencintaimu..” lirih Aiden, menarik Zura ke dalam dekapan.


“Aku juga mencintaimu..”


DEG!!


Aiden seketika melepas pelukan. Ia menatap Zura dengan manik membulat sempurna.


“Ka- ka- kau.. tadi bilang apa?”


Zura terkekeh ringan. Lucu sekali melihat Aiden yang tengah gugup. Menggemaskan.


“Ayo tidur. Kamu lelah bukan?”


“Tidak. Tunggu, ulangi lagi!!” protes Aiden tak terima.


“Apa yang diulang? Bercinta?”


“Ya! Tidak tidak!! Sayaang..”


Aiden merengek dengan manja. Tentu saja ia ingin mengulang sesi bercinta mereka. Tapi sekarang Aiden jauh lebih ingin mendengar pernyataan Zura lagi. Memastikan bahwa ia tidak salah dengar,.


“Kau tak mau bercinta lagi? Ba-


“Bukan itu!!” potong Aiden.


“Aku memang ingin mengulanginya sekali lagi..”


“Tapi aku ingin mendengar itu lagi terlebih dahulu..” lanjutnya dengan lirih dan manja.


“Kamu sekarang pintar sekali bertingkah, hm??”


“Iya. Aku harus bersikap imut dan menggemaskan agar kamu tak berpaling.”


Tawa kecil Zura meledak. Dan sesaat kemudian ia diam. Astaga, momen manis semacam ini telah dinantikannya sejak sangat lama. Dan merasakan langsung justru membuatnya seperti mimpi yang tak nyata.


Mungkinkah hal ini yang dirasakan Aiden?


“Aku mencintaimu, Aiden..” ujar Zura, tersenyum kecil dan menatap kedua netra Aiden.


“Aku juga.. jadi, boleh kita satu ronde lagi?”


“Em...” Zura memutar mata, seolah tengah berpikir.


“Hanya sekali?”


“Ya. Andai aku tak lelah, aku ingin melakukannya sampai besok, lusa, besoknya lagi, bes-


“Oke oke aku mengerti! Jangan dilanjutkan.”


“Aku boleh melakukannya?” ulang Aiden, ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Zura.


“Malam ini terlalu indah untuk ku lewatkan. Aku ingin terus terjaga.” Lanjutnya dengan lirih.


Zura mengernyit.


“Bukankah kamu lelah?”


“Ya.”

__ADS_1


“Lalu kenapa?”


“Aku ingin mengenangnya..”


Zura menyisir pelan rambut Aiden.


“Tentu. Tapi Aiden.. Besok, besok, dan besoknya.. kita masih memiliki waktu lain.”


Aiden kini menengadah.


“Jadi, aku boleh melakukannya lagi lain kali?”


“Ya. Kapan pun kamu menginginkannya. Jika aku sanggup, kenapa tidak?”


“Bagaimana jika kamu tidak pernah sanggup lagi?”


Zura tersenyum, ia menggeleng pelan.


“Aku bersedia, Aiden. Dengan sepenuh hatiku. Aku takkan menolaknya tanpa alasan.”


“Karena aku juga menginginkannya, aku juga menikmatinya..” bisik Zura.


Aiden tersenyum, ia kembali mengecup puncak kepala Zura.


“Kalau begitu, ayo tidur, aku lelah.”


“Hmm..”


...**...


“Aidenn-!!!”


“Ya, sayang.. Argh.. sedikit lagi..”


“Aaaaaaahhhh!!!”


Zura mengerang panjang. Tubuhnya menyentak merasakan sensasi itu lagi. Ia perlahan merasakan kedua kakinya lemas, beriringan dengan kehangatan yang memenuhi rahimnya. Ia menyandarkan punggungnya ke belakang, dimana Aiden berada.


Pagi ini, sesaat setelah bangun Zura mandi dan membawakan sarapan untuk mereka ke kamar. Dan ketika kembali, ternyata Aiden juga sudah selesai mandi. Mereka sarapan bersama, lantas entah bagaimana mereka kembali bercinta. Bahkan mereka bercinta berkali-kali.


Aiden mengecup punggung dan leher Zura. Kulit putih gadis itu telah dipenuhi dengan jejak percintaan mereka.


“Kamu menambah kissmark lagi, Aiden..”


“Haha..”


Zura menghela nafasnya. Ia lantas turun dari pangkuan Aiden dan berbalik. Kini tubuh mereka saling berhadapan. Aiden yang merasakan tubuh Zura menjauh dengan segera kembali mendekat, menangkup wajah gadis itu.


“Maaf.. apa aku terlalu berlebihan?” tanya Aiden.


Yang ada, Zura malah menaikkan satu alisnya.


“Em.. sedikit, mungkin.”


“Maaf.. lain kali aku akan menahan diri..”


Kali ini Zura yang tertawa kecil.


“Kenapa kamu berpikir begitu, hm?”


Aiden mengerjapkan mata.


“Tadi kamu menghela nafas.”


“Aku melakukannya karena kamu tertawa bahagia setelah memenuhi tubuhku dengan berbagai jejak.”


“Kamu tak marah?”


Astaga.. sungguh Zura masih tak percaya semua ini nyata. Jika mengingat masa lalu mereka, semua ini tampak mustahil. Apalagi sikap perhatian dan manja Aiden.


“Kenapa harus marah?”

__ADS_1


Perlahan, Zura mengenakan bathrobe, yang selalu ia sediakan di nakas. Ia menyerahkan salah satunya ke Aiden.


“Lupakan soal itu. Aku ingin mendengar tentang permasalahanmu, Aiden..” ujar Zura lagi.


__ADS_2