
Aiden menghembuskan nafasnya panjang, menatap Zura yang kini terlelap.
Dia telah memuaskan dirinya. Ia melakukan penyatuan panas mereka seperti binatang kelaparan yang menemukan seonggok daging. Namun rasa lapar itu tak kunjung usai. Semakin lapar seseorang, dia akan makan semakin lahap. Dan dia justru merasa semakin kelaparan.
Untuk pertama kalinya Aiden merasa dirinya sangat gila. Dan untuk pertama kalinya pula ia merasa sangat terpuaskan. Aiden bahkan baru berhenti setelah merasakan tubuh Zura yang terlelap karena terlalu letih. Entah tidur atau pingsan. Dia pun menatap wajah gadis itu. Dia kembali menciumi wajah itu dengan lembut. Aiden menyentuh pipi Zura perlahan. Gadis itu kini tak sadarkan diri.
"Padahal aku selalu bisa mengontrol diri." gumamnya lirih.
Meski Aiden seorang bajingan, dia sebelumnya selalu tahu batasan-batasannya. Dan juga, belum pernah seorang Aiden terlalu berhasrat sampai gila seperti barusan.
Aiden merasa tak pernah ada malam yang begitu menggairahkan dan luar biasa selain malam ini. Sehingga dia semakin liar dan beringas. Dia telah melewati batasannya untuk pertama kali.
Bahkan jika Aiden menyadarinya, tubuhnya menggila seolah dia telah meminum afrodisiak dengan dosis berlebihan. Dia tahu harus menahan diri, tapi dia tak mampu.
"Aku sungguh keterlaluan.." gumam Aiden memaki dirinya sendiri
Aiden menatap wajah Zura yang tampak sangat lelah. Seluruh tubuh gadis itu dihiasi bekas kemerahan karena ulahnya. Sisa kissmark yang memenuhi tiap jengkal tubuhnya. Aiden lantas beranjak. Dia mulai mengangkat tubuh Zura saat kemudian dia melihat sebuah noda merah di atas tempat tidurnya.
"Gadis ini benar-benar --?!! "
Aiden mengerutkan keningnya, menelan ludah dengan tatapan frustasi. Dia lantas menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia merasa semakin bersalah. Aiden pun mulai berjalan, perlahan membopong tubuh Zura ke dalam bath up. Dengan lembut laki-laki itu membersihkan setiap inci tubuh Zura.
"Gadis ini bahkan masih terlelap dan tak sadar sama sekali gara-gara ulahku.. Astagaa..." Aiden lagi-lagi mengutuk dirinya sendiri.
Setelah selesai, Aiden memakaikan bathrobe dan mengangkat gadis itu kembali ke dalam kamar dan membaringkannya di sofa. Aiden terlebih dahulu mengganti seprai dan selimutnya, mengeringkan tubuh dan rambut Zura, lantas membaringkan tubuh gadis itu di atas tempat tidur. Dia melepas bathrobe Zura yang basah dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.
Aiden lantas mengecup pucuk kepala Zura lembut dengan sebuah senyuman tipis yang menawan.
“Maaf.. Dan juga, selamat tidur..”
...***...
Zura mengerjapkan matanya sembari perlahan merasakan nyeri di seluruh tubuhnya, terutama bagian kewanitaannya.
Ugh.. Zura mengaduh pelan, dia terlalu malas sekadar untuk menggerakkan jemarinya. Sudah berapa lama sejak ia tertidur? Entahlah. Tapi, hari sudah sangat terang.
"Tubuhku tak mendengarkan ku sama sekali. Ini semua salah Aiden.." gumam Zura lirih.
__ADS_1
Zura memaksakan matanya untuk terbuka. Sekelebat bayangan semalam kembali mengalir membanjiri ingatannya. Zura sekali lagi mengaduh, kali ini karena kesal dan sangat malu. Bahkan rasanya masih sakit dan lelah sekali.
"Astagaa!! Sebenarnya berapa kali bajingan itu melakukannya semalam?!"
"Aarrghhh!! Entah berapaa jam---"
"Dan bajingan itu adalah suamiku.."
Zura menggerutu pada dirinya sendiri kala menyadari bahwa ia sendirian di kamar itu. Rasa kesal dan malu meningkat tajam setiap kali potongan-potongan kejadian panas semalam terbayang dalam pikirannya seperti kaset rusak.
'Tapi... dimana Aiden??'
Huuuft... Zura akhirnya menghembuskan nafas dengan kasar.
'Sudahlah. Aiden sudah tak ada.'
Zura lantas berusaha bergerak dan bangkit dari tidurnya. Dia duduk sembari menarik selimut menutupi tubuh polosnya.
'Tunggu..'
Rasanya tubuhnya tak lengket dan malah terasa segar. Itu aneh. Zura tiba-tiba terkesiap. Ia teringat akan sesuatu yang sedikit mengganggunya semalam. Dia pun mundur dan sedikit mengangkat selimutnya, melihat ke arah seprai.
Aneh. Gadis itu memang pernah membaca bahwa hal semacam ini kadang terjadi. Namun, aneh rasanya melihat seprai itu tampak bersih. Zura lantas bergerak, mencoba turun dari tempat tidur, dia menapaki lantai dan berdiri.
"Aargh.."
Lagi-lagi ia mengaduh. Sesaat setelah ia berdiri, rasa nyeri seolah menjalar ke tubuhnya. Dan terasa lebih nyeri pada titik tertentu. Zura terhenti dan berusaha mencari pegangan.
Bahkan jika dia kurang berpengalaman, dia tahu bahwa Aiden bersikap kasar padanya semalam.
"Tidak.. Aiden tidak sekasar itu. Mungkin kata terlalu menggebu lebih tepat untuk menggambarkan sikap Aiden." gumam Zura pada dirinya sendiri.
"Benar! Saffir Azuraa.. Aiden sekarang adalah suamiku, bukan hal baik mencari-cari kesalahan dan keburukan laki-laki itu." Zura menganggukkan kepalanya.
"Tetap saja! Aku harus memarahi bajingan itu karena terlalu kasar dan berlebihan semalam Uhh--" Wajah Zura kembali memanas, membuat gadis itu menggelengkan kepalanya agar kembali fokus.
"Dan juga.. skillnya itu memang sangat luar biasa. Tak heran jika dia seorang cassano---"
__ADS_1
Haa…
Zura menghembuskan nafasnya kasar, perlahan ia berjalan ke arah lemari. Tidak nyaman berada dalam kondisi tanpa busana. Setidaknya, mungkin ada beberapa pakaian perempuan dalam lemari Aiden bukan? Mengingat deretan mantan dan skandal yang selalu menghias berita selebriti.
"Ayo lihat! Atau mungkin saja isinya hanya lingerie seksi. Benar-benar bajingan sejati!"
Namun tak ada satupun di sana. Zura mengernyitkan alisnya. Mengapa bisa begini? Dengan terpaksa ia memutuskan mengenakan bathrobe.
Dengan semua reputasi dan skandal yang dibuat Aiden, ini aneh. Kenapa tak ada satupun pakaian perempuan?
Ceklek..
Suara itu membuat Zura secara refleks menengok ke arah pintu. Aiden berdiri di sana dengan membawa makanan.
“Ah.. kamu sudah bangun?” tanya Aiden.
“Ya..” jawab Zura singkat, wajahnya kembali merona tanpa alasan.
"Selamat pagi.." ucap Aiden ramah, ia mendekat, lantas mengecup pelan pucuk kepala gadis itu.
"Selamat pagi.." Jawab Zura dengan sedikit malu.
Aiden kembali berjalan dan meletakkan makanan itu di meja di samping tempat tidur. Lantas, dia lagi-lagi menuju ke arah Zura. Zura hanya diam menatap lekat Aiden yang mendekat. Bertanya-tanya mengapa laki-laki itu berjalan bolak-balik.
Tiba-tiba Aiden malah merasa canggung karena tatapan itu. Dia mengingat kejadian semalam dan apa yang telah dilakukannya.
'Apa Zura marah? Ugh.. tentu saja. Dasar bodoh.' Aiden mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
Dia telah terbiasa menghabiskan malam bersama wanita. Dan bukan hal yang asing pula saat terbangun di pagi hari. Namun di hadapan Zura, dia mati gaya mengingat kelakuannya sendiri semalam.
Laki-laki berdiri canggung, tak tahu harus bagaimana. Zura menatap sikap kaku Aiden dengan tatapan bertanya-tanya.
'Apa yang salah?' Batin Zura yang entah kenapa berdebar, sedikit gugup.
Zura menatap Aiden semakin lekat. Membuat Aiden menelan ludah, semakin gugup. Ah, jika bisa, ingin sekali Aiden mengatakan 'Kau cantik sekali, haruskah kita melakukannya lagi?'
'Uh shiit.. Pikiran kotor apa itu! Aku sungguh bajingan.' Aiden menelan ludah. Ah, ingin sekali dia memukul dirinya sendiri karena terlalu tidak tahu malu.
__ADS_1
??