
“Nyonya..”
Zura terkesiap. Mobil yang ia tumpangi berjalan pelan membelah kota menuju kediaman Aiden. Helios, yang kini tengah menjadi sopir Zura, untuk pertama kalinya laki-laki itu memanggil Zura dengan sebutan ‘nyonya’.
“Cukup Ken yang memanggilku dengan itu, Helios.” Ujar Zura. Rasanya enggan sekali mendengar panggilan itu saat sekarang posisinya tidak jelas.
“Saya memanggil anda demikian agar anda mengingat siapa anda sekarang, nyonya.”
Helios justru mengulas senyum. Senyuman manis yang menurut Zura terasa menyebalkan. Laki-laki dingin seperti Helios kini tersenyum padanya sambil mengingatkan bahwa ia masih berstatus sebagai istri
Aiden.
“Saya mengucapkan ini karena saya menganggap Aiden sebagai kakak saya.” Ujar Helios lagi.
Kali ini Zura tak bisa menahan diri, ia mendengus sebal. Helios melirik sekilas ekspresi Zura. Menurut penafsirannya, wajah wanita itu menyiratkan rasa lelah, kecewa, dan sedikit putus asa. Mungkin putus asa karena dirinya sendiri. Lebih banyak rasa benci kepada dirinya sendiri dibanding rasa benci untuk Aiden yang telah membuatnya berada dalam keadaan ini.
Helios merasa, Zura tengah kesakitan sendiri menahan semua kecamuk perasaannya yang ingin meledak. Mungkin, perasaan yang telah ia tahan bertahun lamanya.
“Saya, Heris, Bi Inah, Pak Awit, dan juga Ken. Kami pasti akan memberikan pukulan telah untuk tuan, memaki dan menyalahkan laki-laki itu. Kami semua, nyonya!”
“Kami semua menyalahkan tuan Aiden dan ingin membela anda. Kami semua akan membantu anda mencari titik terang anda. Namun, kami semua sangat menyayangi tuan Aiden. Tuan yang dikenal bajingan dan berengsek adalah penyelamat kami. Beliau adalah idola kami. Dan beliau selalu memperlakukan kami dengan baik. Karena itu, saya mohon, berikan kesempatan untuk kalian.”
Zura menghela nafasnya.
“Aku tak mengerti maksudmu, Helios. Bukankah aku telah memberikan kesempatan untuk Aiden?”
Helios masih fokus ke arah jalanan. Ia sengaja mengemudikan mobilnya perlahan, bahkan memutari kota agar perjalanan mereka lebih lama. Zura juga menyadarinya. Dan gadis itu memilih diam. Seenggan apa pun ia mendengar apa yang Helios ucapkan, Zura tetap ingin mendengarnya.
“Saya ingin anda memberikan kesempatan bukan hanya untuk tuan Aiden, nyonya.”
“Lalu??”
“Berikanlah kesempatan untuk hati anda juga. Untuk mempercayai dan menerima tuan seperti sebelumnya, bahkan lebih.”
Sekakmat!!
Kenapa sekarang semua orang tiba-tiba menjadi bijak? Mereka tiba-tiba cerdas dan peka sekali sampai bisa membaca hati seorang Saffir Azura. Yang mana Luci bahkan tak bisa.
“Tuan Aiden juga tahu anda hanya memberi kesempatan palsu, nyonya. Bahkan mungkin, beliau adalah yang paling tahu. Anda memberi kesempatan tuan tetap berada di sisi anda dengan status kalian. Anda mungkin benar-benar memaafkan tuan untuk kesalahan sebelumnya. Namun anda menutup hati anda dan masih memendam kebencian untuk tuan.”
__ADS_1
Lagi-lagi kata-kata Helios membuat Zura serasa ditampar. Mengelak pun enggan. Karena Zura paling membenci kebohongan. Meski selama ini ia hidup dalam kebohongan.
“Lalu, apa yang harus ku lakukan?” tanya Zura kemudian.
Meski belum sepenuhnya menerima, hati kecilnya membenarkan Helios. Meski ia mungkin tak menepati saran Helios, ia ingin mendengarkannya.
“Sebenarnya, ini saran Heris. Dan tuan Ken juga mendukung saran ini. Dan saya pikir tak terlalu buruk.”
“Aku akan mendengarkan lebih dulu.”
Helios tersenyum sesaat, senyum yang sangat tipis sampai hampir tak terlihat.
“Mengirim wanita ke kamar tuan Aiden. Bahkan jika anda belum puas dengan itu, kita bisa memasukkan obat perangsang.”
“Ka- ka- kalian!! Gila!!”
“Uhukk..” Sesaat Helios terbatuk, terlalu kaget mendengar makian Zura untuk pertama kali.
“Ehm.. Tentu saja, dengan beberapa pertimbangan, nyonya. Pertama, menunggu keadaan tuan benar-benar stabil. Kedua, memasang cctv dan membuat sedemikian rupa hingga seseorang akan melerai sebelum benar-benar terjadi sesuatu yang buruk. Dan ketiga, menyiapkan dokter untuk mengobati tuan. Lalu sebagai rencana cadangannya, anda harus siap jika tuan Aiden membutuhkan anda untuk memuaskan hasratnya yang membara dibawah pengaruh obat perangsang.”
“Si- sial!!”
Zura bungkam dengan wajah pucat pasi. Bagaimana tidak, rencana itu TERLALU GILA!! Dia bahkan tak punya tenaga untuk memaki Helios. Dan Hei!! Jika Varlos mendengarnya, laki-laki itu akan memaksa Zura menyetujui rencana gila ini dengan segala trik liciknya. Tanpa peduli Zura menerima atau tidak. Varlos adalah yang paling tidak waras dalam menyayangi Aiden, adiknya!
kemudian, sebuah suara memecah keheningan.
“Aku ingin menyendiri.” Lirih Zura.
Helios menatap sekilas tanpa berkomentar. Zura kembali menghela nafas.
“Aku ingin menyendiri. Tolong antar aku kemana pun. Aku benar-benar butuh waktu untuk memikirkan
semuanya. Dan untuk menerima keadaan ini.”
Mata Zura terpejam. Ia terlalu lelah. Pikirannya terlalu lelah. Dan hatinya juga terlalu lelah.
“Baiklah. Namun, saya akan menemani anda dan memberi pesan pada tuan Ken.” Ujar Helios akhirnya. Lagipula, menerima semua ini memang bukan hal yang mudah.
“Hm..” jawab Zura singkat.
__ADS_1
Meski Helios tak melakukan itu, Zura juga akan memberi pesan pada Aiden. Dia tak ingin menambah drama kabur-kaburan seperti yang ada dalam novel cinta umumnya. Drama semacam itu menyenangkan pembaca, namun tidak sesuai dengan kriteria Zura.
Kalian tak lupa kan kalau perempuan yang satu ini terlalu berprinsip dengan dirinya sendiri. Bahkan sang author novel ini merasa jengah dan lelah sendiri menghadapi sikap pemeran utama yang satu ini. Ceritanya jadi tak asik.
Namun, inilah adanya Saffir Azura Antarest.
...**...
Sementara itu, kehebohan yang riuh memenuhi pagar rumah Aiden. Entah darimana para wartawan tahu hari ini Aiden pulang dari rumah sakit.
“Tunggu, Ken!” ujar Aiden. Ia menghentikan niat Ken dan Heris yang hendak menerobos kerumunan itu dengan kasar.
Ken menatap Aiden, begitu pula Heris.
“Ucapkan pada para wartawan bahwa aku bersedia melakukan press conference di halaman rumah. Dengan syarat, siapa pun yang masuk tidak boleh membuat kegaduhan. Buat mereka melakukan perjanjian baik secara tulis atau lisan.”
“Kau yakin?” tanya Ken. Ia takut semua itu malah semakin membuat runyam situasi.
“Iya kak, bisa saja malah terjadi hal yang tidak diinginkan.” Ujar Heris. Dia juga merasa khawatir.
Aiden mengangguk dengan yakin.
Akhirnya, Ken pun turun dan menemui wartawan. Ia memilih percaya dengan keputusan Aiden. Butuh tenaga ekstra, dan memakan waktu yang sangat lama sampai para wartawan itu berhasil dikendalikan. Heris di dalam mobil juga tidak diam saja. Dia memberikan kabar dan arahan pada bi Inah dan pak Awit di dalam mansion. Termasuk untuk menyuapkan kursi dan meja. Kondisi Aiden belum pulih sepenuhnya hingga bisa berdiri untuk waktu yang lama.
Setelah semua keributan, Aiden berhasil masuk ke dalam mansion miliknya. Dan dengan bantuan Ken dan Heris, ia dipapah perlahan menuju kursi. Bi Inah dan pak Awit baru kali ini melihat Aiden. Mereka tak bisa menjenguk saat Aiden di rumah sakit. Dan setelah melihat langsung hari ini, mata mereka berkaca-kaca. Wajah Aiden tirus dan tampak kuyu. Meski tersenyum sekalipun, masih tampak pucat. Dengan bibir yang pecah-pecah.
Dan para wartawan sudah sibuk mengambil gambar dengan kamera mereka. Kilau lampu blitz berkali-kali menyala.
“Sesuai kesepakatan sebelumnya, tuan Aiden hanya akan menjawab 5 pertanyaan. Kondisi tuan Aiden masih belum sepenuhnya pulih.” Tegas Ken.
Aiden menatap Ken dengan senyum tipis. Asisten itu memang sangat handal. Meski Aiden tak meminta, Ken ternyata sudah membatasi pertanyaan wartawan.
Para wartawan itu tentu saja masih ribut sendiri. Mereka berebut bertanya.
Ken merasa jengkel. Heris dengan sigap mengarahkan para bodyguard untuk bertindak.
“Jika kalian tetap membuat keributan, kami akan memulangkan kalian dengan paksa!!” teriak Heris, yang wajahnya kini berubah sangar.
Para wartawan yang didesak bodyguard akhirnya mulai mengalah.
__ADS_1
“Kalian diskusikan saja apa yang ingin ditanyakan!” ujar Ken.
Para wartawan yang terdesak mau tak mau mengalah. Meski mereka yang berkumpul di sana adalah saingan, lebih baik bekerja sama daripada tak mendapat kabar yang diinginkan bukan?