
Aiden menuruni tangga, berjalan menuju ruang tamu. Ada dua alasan kenapa dia harus keluar dari kamar.
Pertama, Aiden tadi hampir kelepasan, mengajak Zura bercinta. Entah perempuan itu menerimanya atau pun tidak, tetap saja Aiden ingin menghormati perasaan Zura. Mereka tengah berada dalam badai masalah yang rumit. Dan lagi, Zura masih terluka. Lebam di pipinya bahkan semakin jelas.
Lalu alasan kedua, Aiden harus menanyakan beberapa hal kepada Varlos. Kakaknya itu kadang memiliki kesibukan yang lebih padat daripada Aiden. Jadi mumpung mereka bertemu, ada banyak sekali hal yang ingin Aiden tanyakan. Termasuk masalah Andre dan Rebecca, masalah sidang Aiden besok, masalah perusahaan, dan masalah wanita yang bermalam dengan Aiden tempo lalu.
“Kakak..”
Panggilan itu membuat semua orang di sana menoleh. Varlos yang sangat mengenal suara adik tercintanya mengulum senyum.
“Oh.. apa ini. Ku pikir kalian sedang bercinta.” Gurau Varlos.
Aiden berdecak.
“Zura sedang dalam kondisi seperti itu.”
“Lalu kenapa, kamu tak tega?” satu alis Varlos terangkat. Satu lagi, hal yang membuatnya yakin bahwa Aiden memang jatuh cinta pada Zura. Laki-laki yang selalu terlibat dengan wanita sekarang menahan diri dari urusan ranjang.
Aiden duduk di samping Varlos dengan wajah cemberut.
“Kakak, jangan menggoda ku. Lupakan soal itu. Ada sangat banyak hal yang ingin aku tanyakan.”
Varlos berdiri sambil berkacak pinggang.
“Aku sibuk.”
“Kak...”
Melihat tingkah lucu Aiden, Varlos pun terkekeh. Adiknya benar- benar menggemaskan.
“Jadi, soal apa?”
Ken yang merasakan ponselnya bergetar mengalihkan perhatian. Bagaimana pun, sebagai asisten Aiden, dia terus mengawasi berbagai hal. Dan di sana, salah satu bawahannya melaporkan tentang sebuah berita terbaru.
“Permisi, maaf mengganggu sebentar. Sepertinya, kita mendapat jackpot.”
Ken mengambil remote televisi dan menyalakannya, mengganti channel beberapa kali. Kini, semua orang pun menatap sebuah hot news terbaru.
Video kekerasan terhadap Zura tempo lalu.
“Ya. Ini memang jackpot.” Ujar Varlos.
“Oh.. nona sangat malang..” Heris yang selama ini bungkam kini bersuara. Laki-laki itu memang masih kikuk terhadap Varlos. Jadi sebisa mungkin ia akan diam karena takut salah bicara.
“Kak. Aku tak mau tahu. Pokoknya buat mereka semua mengalami ganjaran karena telah mengusik istriku.” Geram Aiden.
“Sebelum itu, Aiden. Pikirkan mengenai sidang mu lebih dulu.”
...**...
“Zura.. makanlah dulu..” ujar Aiden dengan lembut.
__ADS_1
Zura perlahan bangun. Hari sudah kembali pagi. Rupanya ia tertidur cukup lama setelah kejadian tadi siang.
“Aku belum menyapa bi Inah dan pak Awit.” Gumam Zura. Meski telah bertemu sebentar, ia belum menyapa dengan baik.
Aiden tersenyum.
“Nanti saja.”
Melihat sikap lembut dan perhatian Aiden membuat Zura menghembuskan nafasnya. Entah kenapa hubungan kaku semacam ini menyebalkan. Zura lebih menikmati waktu saat dulu. Saat Aiden semena-mena. Dan dia juga. Saat mereka bertengkar. Saat Aiden menggoda dan menjahili Zura. Namun apa daya, badai masalah mereka memang belum berakhir.
“Aiden..” panggil Zura dengan lirih.
“Iya sayang, kenapa?” lagi-lagi balasan yang manis terdengar dari bibir Aiden.
Zura diam sejenak, melihat ke depan, tanpa menatap Aiden. Pikirannya menerawang. Hidupnya benar-benar seperti sinetron.
“Kita..”
Aiden menelan ludah. Was-was menunggu ucapan Zura selanjutnya.
“Setelah aku mengingat kembali, hubungan pernikahan kita baru berjalan sehari semalam. Malam saat kita menikah dan melewati malam pertama. Dan..”
Zura menoleh, menatap Aiden dengan seulas senyum tipis.
“Pagi hari pertama kita.” Ujar Zura, melanjutkan kalimatnya.
Aiden kembali menelan ludah. Hatinya cemas dan gundah. Ya, ternyata, kehidupan mereka berdua hanya itu. Kenangan mereka berdua hanya itu. Dan ikatan mereka berdua juga hanya itu.
“Jika dipikir kembali, rasanya tak jauh berbeda dengan one night stand, bukan?”
“Zura!!” Aiden mendesis, ia takut. Takut dengan kalimat selanjutnya yang akan Zura ucapkan.
Kini Aiden beralih, menggenggam kembali jemari Zura, menciuminya dengan penuh cinta. Entah sejak kapan, hanya hal itu yang berani Aiden lakukan. Kadang ia mengecup kening, wajah, dan bibir Zura. Tapi Aiden sudah tak memiliki keberanian melummat gadis itu.
Hatinya rindu. Tapi Aiden takut. Takut Zura akan benar-benar menghilang.
“Aiden..”
“Ku mohon, tetap lah bersamaku, sayang. Aku tak masalah jika kita tak lagi sama. Aku tak masalah jika tak ada lagi malam penuh gairah. Aku akan menanggung hukumanku selama apa pun. Aku telah berkhianat. Tapi, kumohon, tetaplah bersamaku..”
Hati Zura semakin terenyuh. Zura bisa merasakannya, sebesar itulah cinta Aiden untuknya. Aiden, seorang skandal maker yang tak pernah lepas dari perempuan, kini ia rela tak lagi melewati malam-malam panas di atas ranjang.
“Aiden..”
“Sayang..”
Zura tersenyum. Aiden terus saja memanggilnya dengan lembut. Dan dengan sangat mesra.
“Pagi ini kamu sidang, bukan?”
“Iya. Tapi semua akan selesai dalam sekali sidang. Kamu tak perlu khawatir.”
__ADS_1
Zura terkekeh ringan.
“Ya. Aku tak khawatir. Meski bukan Varlos yang menangani kasusnya secara langsung, tapi dialah yang menangani segalanya di balik layar.”
...**...
Sidang pertama Aiden berakhir sukses. Bahkan hasil sidang sudah diputuskan saat itu juga. Aiden dinyatakan tak bersalah.
Di rumah, Zura yang mendapat kabar dari Heris merasa lega. Aiden melarangnya datang karena lebam di wajahnya masih sangat jelas. Jadi Zura menyibukkan diri mengurus mansion sambil bercengkerama dengan bi Inah, mengalihkan perhatian.
Sekarang, satu permasalahan telah selesai. Satu badai telah terlewati. Gadis itu kini menikmati lemontea yang dibawakan oleh bi Inah sembari menunggu kepulangan Aiden. Tapi, dia pasti akan lama. Aiden harus berurusan dengan para wartawan yang merepotkan.
“No.. nona..”
Panggilan bi Inah membuat Zura menoleh, urung menyalakan televisi. Terlebih, melihat wajah bi Inah yang tampak cemas, membuat Zura mengerutkan keningnya.
“Ada apa, bi?” tanya Zura.
“Nyo.. Nyonya besar Antarest datang..”
“Apa?!”
Terlambat, wanita paruh baya dengan wajah tegas itu telah berdiri di seberang Zura, beberapa langkah di belakang bi Inah. Zura menelan ludah. Dari cara berjalan saja sudah penuh kharismatik, membuat gadis itu gugup. Ah, apalagi wajahnya kini tampak lebam. Penampilannya yang ala rumahan juga pasti tampak kampungan.
Wanita paruh baya yang kini berdiri di depannya itu mengernyit. Direktur Antarest Group sekaligus ibu Aiden dan Varlos, Nyonya Monica Freya Antarest.
“Saffir Azura?” suara rendah yang terdengar merdu. Bahkan meski usianya telah menginjak akhir kepala 4, suara itu masih saja terdengar manis, renyah, namun tegas.
“Y-a? Ya!!”
Zura benar-benar gugup. Bertemu mertuanya untuk pertama kali, namun sendirian dan saat Aiden sedang tidak di rumah.
Lagi-lagi Monica mengernyit, membuat Zura semakin gugup.
“Oh, God!! Apa yang terjadi dengan wajahmu? Apa ini karena masalah dengan Rebecca itu kemarin?”
“Ya? Apa?? Oh, benar, nyonya..”
Jemari ramping Monica menyentuh wajah Zura dengan sangat perlahan. Nada bicaranya memang dingin, namun sikapnya terasa hangat. Atau itu hanya halusinasi seorang Saffir Azura?
“Ck. Untung saja wanita ular tak tahu malu itu tak menjadi menantuku.”
Oh, apa kabar Zura setelah ini? Dia telah menikahi Aiden dalam keadaan penuh skandal, dan tanpa restu beliau.
“Astaga, ayo duduk. Kamu pasti lelah berdiri bukan?”
“Ya? Tidak, em, iya.”
Kacau, Zura diam sejenak, menelan saliva dan menghembuskan nafas. Dia harus tenang atau dia akan semakin membuat suasana indah ini hancur.
...**...
__ADS_1
...Tunggu up selanjut selanjut selanjut dan selanjutnya lagi. Love you all...