
“Mmn…” Aiden bergumam pelan. Matanya yang terpejam terasa berat. Dan kepalanya terasa sakit.
Perlahan, Aiden memaksa kedua matanya agar terbuka. Lagipula, ruangan itu masih terasa gelap. Meski sinar mentari semakin meninggi di luar.
“Engh..” Aiden mengeluh pelan, merasakan miliknya yang sedikit berulah di bagian bawah. Mungkin karena masih pagi, entah kenapa rasanya hari ini sedikit berbeda.
Aiden bergerak maju sedikit, dengan kesadaran yang baru bangun separuh. Hidungnya mencium aroma manis yang menenangkan sekaligus memabukkan. Dan lantas, sensasi hangat dan menggoda membuatnya menyesap perlahan. Tangannya bergerak merayapi tubuh kecil yang terasa hangat dalam pelukannya.
“Uhh..” suara lirih seorang wanita terdengar sangat mendayu lembut, merdu. Membuat sudut bibir Aiden tertarik tak berdaya.
“Ai.. den.. ermh..”
Deg!!
Sraakk
“Ugh!!” Aiden mencengkeram kepalanya yang terasa berdenging dan berdentum sesaat setelah ia bangkit duduk dengan kaget. Matanya lantas melirik ke samping. Sebuah punggung wanita tampak terekspos dan begitu menggoda. Aiden memicingkan matanya. Dan sedetik kemudian, tubuhnya kaku membeku.
“Em..” Zura bergumam, ia berbalik pelan dengan mata sedikit memicing. Tatapannya lantas bertemu dengan sosok Aiden yang duduk diam menatapnya. Mata laki-laki itu terbelalak, dan bibirnya sedikit menganga.
Memaksa kesadarannya pulih, Zura lantas ikut duduk di depan Aiden. Tangannya menarik selimut menutupi tubuhnya yang masih tanpa busana.
“Ssshh..” Zura berdesis pelan merasakan bagian bawahnya yang masih berdenyut dan sedikit nyeri. Meski efeknya memang tak separah saat malam pertama mereka. Agaknya, Zura memang masih belum terbiasa.
Sementara itu, Aiden menelan ludahnya dengan kasar. Aiden menatap Zura dengan tajam. Rambut gadis itu tergerai jatuh, meningkatkan aura seksi yang menggoda. Tulang selangka yang begitu menawan. Dan juga, bekas merah keunguan yang tertinggal di sana. Tangan Aiden mengepal erat, melihat gadis itu yang sedikit berdesis dengan dahi terlipat. Menampakkan dengan jelas bahwa ia tengah menahan nyeri.
Ingatan Aiden kembali berkelana. Ingatan tentang apa yang terjadi semalam terpatri dalam memorinya dengan jelas. Meski kesadarannya semalam memang hanya separuh. Aiden menggertakkan giginya. Ia ingat bagaimana pusaka miliknya menembus masuk ke dalam tubuh Zura kala gadis itu belum sepenuhnya siap. Ia ingat seberapa kerasnya Zura berteriak menahan sakit. Air mata gadis itu tumpah sambil bibirnya memohon kepada Aiden untuk bersikap lebih lembut.
__ADS_1
Namun, Aiden malah semakin menjadi. Melihat tubuh sempurna di bawahnya membusung dengan cantik membuat Aiden semakin gencar dengan serangan tanpa ampun.
“Haha..” Aiden tertawa.
“A-aiden??” lirih Zura yang kini menatap wajah Aiden tak mengerti.
Aiden mendongakkan kepalanya ke atas sambil tertawa keras. Ia menutup wajahnya dengan satu tangan, mengusapnya kasar. Lantas, maniknya kembali turun dengan wajah garang, menatap Zura sangat tajam. Zura mencengkeram selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya. Melihat kilat kemarahan Aiden membuatnya sedikit gentar.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Aiden sangat dingin. Matanya terasa menusuk sampai ke ulu hati. Tidak ada sisa tawa sebelumnya.
Zura yang tengah menatap wajah itu tergagap. Sulit sekali menggerakkan kedua bibirnya agar bersuara.
“Aku Tanya Apa Yang Kamu Lakukan Di Sini!!” Teriak Aiden. Suaranya bahkan menggema, membuat tubuh Zura tersentak.
Aiden menggertakkan giginya dengan sangat jelas. Hatinya semakin kacau. Kacau sekali melihat dan mengingat apa yang telah ia lakukan. Itu bukan bercinta. Itu adalah pelecehan. Ia telah melecehkan gadis itu, dengan cara yang paling buruk.
“Aku..” Zura terdiam, menelan ludahnya. Suaranya bahkan parau. Ia menjerit semalaman, dan kini ia menahan diri agar tidak menangis.
Tidak. Ia tidak lagi bisa bertahan.
Zura mendongak. Matanya begitu nyalang menatap Aiden. Matanya berkaca. Dan wajahnya memerah termakan amarah.
“Aku Datang Untuk Bertemu? Apa Salahnya?!” Teriak Zura. Nafasnya menderu, dan matanya semakin panas.
“Aku Datang Menjenguk Karena Kamu Tidak Pulang! Dan.. Dan..”
Zura terdiam, menelan pilu pada lidahnya yang kelu. Ia kembali mengalihkan pandangan. Ia menggertakkan gigi menahan isakan. Karena sekarang, air matanya sudah kembali bercucuran.
__ADS_1
Mereka diam dalam keheningan.
Zura yang masih terisak, enggan menatap Aiden. Pikirannya kembali teringat dengan isakan Aiden semalam. Isakan seorang laki-laki yang menangis begitu pilu sambil mengira dirinya berada dalam mimpi. Isakan seorang laki-laki yang telah meluapkan nafsu sambil tertawa keras, padahal gadis di bawahnya menjerit dan menangis lebih keras. Isakan seorang Aiden, yang telah menjadi suaminya.
Zura masih terisak, tak mampu menghentikan air mata yang meluncur begitu deras melewati kedua belah pipinya.
Sementara Aiden??
Laki-laki itu hanya diam, menatap istrinya yang terisak. Dengan dua manik mata yang memerah dan berkaca. Aiden hanya diam. Pikirannya berkelana, mengingat kembali malam saat mereka memutuskan menikah. Malam saat Zura menemuinya tanpa menampakkan kesedihan dan dendam. Malam saat ia kembali terpesona untuk ke sekian kalinya. Menatap wajah yang begitu menenangkan. Yang mengajaknya menikah.
Oh.. permata penuh warna
Seanggun biru samudera
Semenawan biru langit membentang
Secantik merah muda yang merona
Sesilau sinar putih cahaya
Oh.. permata penuh warna
Hingga kata takjub telah habis
Dan jerat pikat pesonamu tak kunjung berhenti
Menyiksa hati yang mendamba
__ADS_1
Namun tak mampu menggenggamnya