Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Awali dengan yang Manis


__ADS_3

Aiden melihat lukanya yang kini tertutup rapi dengan perban. Lantas, matanya mulai menatap tiap inci tubuh wanita di depannya. Tatapannya terkunci pada bibir yang terlihat cantik dan sensual. Aiden merasakan gairah yang meluap dalam dirinya. Hatinya bergemuruh. Keinginan untuk mengulum habis bibir itu bergejolak dalam dirinya.


Bagaimana bisa dia terus terangsang hanya karena melihat gadis ini di depannya? Aiden pun menggerakkan tangannya, hendak menarik tengkuk Zura dan mencium bibir itu. Namun, lagi-lagi Zura seolah mengelak dan menahannya.


"Tu.. tunggu!!"


Ugh!! Seketika emosi Aiden meninggi.


Zura meletakkan tangannya menutupi bibir Aiden dengan gugup. Ada sesuatu yang tiba-tiba terpikirkan lagi dan itu sangat mengganjal hatinya. Dan Zura ingin menanyakannya terlebih dahulu pada Aiden.


“Ck… ini ketiga kalinya.” Ucap Aiden kesal.


Sudah 3 kali Zura terus menolaknya. Sedangkan Aiden semakin tak sabar dan kesal. Dia pun dengan cekatan sedikit mengangkat tubuh Zura dan membopongnya, mendorong pelan dan mengungkung Zura di tengah tempat tidur. Tubuh Aiden mengikuti, mengunci di atas tubuh Zura yang terbaring.


Zura menelan ludah. Bagaimana bisa?? Dia bahkan tak sempat menyadarinya sampai Aiden tahu-tahu sudah di atasnya. Itu licik. Licik sekali. Hatinya berdebar semakin kencang dan wajahnya semakin panas.


Tatapan mata Aiden sangat tajam, seperti binatang kelaparan yang tengah menatap mangsanya. Zura merasa terancam, namun dia tetap menatap Aiden dengan tenang, berusaha tetap kokoh. Meski nafasnya sudah memburu.


“Ada hal terakhir yang ingin kutanyakan.” Ucap Zura lirih, menatap Aiden seolah memelas.


Meski tubuhnya gemetar karena gugup, suaranya yang lirih tetap tenang. Nafas Aiden semakin memburu. Dia merasa Zura hanya berdalih untuk semakin menunda waktu atau mungkin malah berniat menolaknya. Aiden ingin mengabaikan semua itu dan memeluk tubuh itu dengan paksa. Membuka bathrobe dan menikmati tubuh indahnya. Memberi sentuhan pada tiap lekuk tubuhnya.


Tapi dia memutuskan untuk diam dan menunggu ucapan Zura selanjutnya. Zura yang menangkap maksud baik Aiden pun segera melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


“I.. itu.. Aku merasa aku melupakan sesuatu yang sangat penting.”


Zura memejamkan matanya erat. Sulit mengatakannya dalam posisi memalukan itu. Jantungnya semakin berdebar karena jarak mereka. Zura pun mencoba bangkit dan duduk, ia mendorong tubuh Aiden pelan. Aiden tak memprotes. Dia lelah terus merasa kesal sendiri. Dan dia ingin memberikan kesempatan terakhir untuk Zura berbicara. Mereka pun duduk saling berhadapan. Zura mengatur nafasnya, lantas menatap Aiden dengan tatapan tegas dan lekat. Dia menelan ludah, gugup.


“Aku tahu ini agak tak pantas ditanyakan. Tapi ini mengganggu ku.” Ucap Zura, dia merasa ragu melanjutkan kalimatnya.


“Ck.. katakan saja.” Decak Aiden kesal.


Zura menatap Aiden ragu-ragu sembari meneguhkan tekadnya.


“Bukankah.. bukankah kamu masih berpacaran dengan delta?” tanya Zura akhirnya.


Aiden mengerjapkan matanya, mencoba mencerna maksud pertanyaan Zura.


Zura menatapnya, dengan wajah yang semakin memerah. Dia malu karena menanyakan hal tak sopan itu. Dan jauh di dasar hatinya, dia mempercayai Aiden. Dia percaya Aiden laki-laki yang menjaga perasaan wanita yang menjadi kekasihnya.


“Yah.. Maaf.. aku takut aku melakukan hal tak pantas.” Ucap Zura kemudian.


Aiden menatapnya seolah menyelidik. Zura memang gadis yang seperti itu. Dia memiliki prinsip yang selalu ia pegang teguh dengan penuh disiplin diri.


“Jadi.. sudah tak ada hal lain lagi kan? Aku akan sangat kesal jika kamu menghentikanku untuk keempat kalinya.” Ucap Aiden tajam.


Zura balas menatap Aiden dengan tatapan frustasi. Dia lagi-lagi menelan ludahnya. Aiden tanpa pikir panjang mengalungkan tangannya di tengkuk zura, merengkuh punggungnya. Lantas dengan liar dia mencium bibir merah Zura dalam dan intens.

__ADS_1


Kali ini Zura tak berniat untuk menolaknya lagi. Dengan canggung dia ikut mengalungkan tangannya di tengkuk Aiden, menyentuh rambutnya yang masih sedikit basah. Tangannya bergerak menikmati sensasi rambut lelaki itu, seiring ia menerima ciuman Aiden yang liar dan menuntut. Lidah mereka saling bertaut. Aiden lantas kembali mendorong tubuh Zura perlahan hingga mereka kembali merebah bersama.


Zura terbaring di atas ranjang, berusaha mengembalikan oksigen dalam dirinya. Ia terkunci di bawah kungkungan Aiden. Nafas mereka yang sedikit terengah saling beradu. Aiden berhenti sebentar, matanya menatap lekat manik Zura yang seolah memelas dan merona. Ia seringkali melihat tatapan yang sama pada wanita lain, tapi ia ragu dengan apa yang sebenarnya dirasakan oleh Zura. Dan entah kenapa, justru sekarang Aiden lah yang merasa gamang untuk melanjutkan aksinya.


Apakah Zura menginginkannya? Atau sebaliknya?


“Haruskah aku berhenti?” ucapnya kemudian, memutuskan bertanya.


Aiden selalu tahu. Ia melihat sendiri betapa gadis ini sangat menjunjung martabat dirinya. Dia tahu Zura takkan menolaknya, tidak setelah mereka menikah. Tapi apakah Zura benar-benar bersedia atau terpaksa?


Zura mengerutkan keningnya dengan mata yang lucu. Terkejut, malu, sekaligus bingung. Namun sepertinya dia harus menjawab pertanyaan itu. Apa Aiden mengkhawatirkannya? Ataukah dia sebenarnya tak menginginkan Zura?


Zura menghembuskan nafasnya pelan. Aiden bisa merasakan hembusan hangat itu menyentuh kulitnya. Dia bahkan merasa semakin terangsang. Namun dia ingin mendengar jawaban Zura terlebih dahulu.


Zura menatapnya lekat dan mata mereka saling bertemu.


“Tolong.. lakukanlah..” ucap Zura kemudian dengan suara lirih, wajahnya merona sempurna.


Aiden tampak terpaku sejenak. Lantas sudut bibirnya terangkat, dan dia mulai menyeringai. Oh sungguh hatinya membuncah bahagia. Aiden kembali mencium bibir itu, berkali-kali hingga puas, lantas dia mulai bergerak ke tempat lain. Mencium seluruh wajah Zura dan telinganya. Merasakan nafas gadis itu yang memburu. Dan sentuhan tangan kecilnya yang membangkitkan listrik listrik kecil.


Tangan Aiden mulai membuka bathrobe Zura dengan mudah. Dia lantas turun dan mencium leher Zura. Tak puas dengan itu, Aiden mulai menggingit leher itu dan menyesapnya. Meninggalkan tanda kepemilikan yang pasti. Bahkan sebelum ia benar-benar memulai, Aiden merasa bahagia atas hasratnya.


Penantian 4 tahun yang terasa bak kemustahilan. Keinginan yang seolah hanya akan menjadi mimpi. Zura yang anggun dan penuh kehormatan, kini berada di bawah Aiden, laki-laki bejat dan cela.

__ADS_1


__ADS_2