
“Bagaimana hubungan mu dengan Aiden sekarang?” tanya Luci intens. Sekarang para laki-laki tengah duduk acuh dan sibuk sendiri. Sedang para wanita itu duduk sambil menikmati cemilan, kecuali Zura yang memang enggan.
Siapa pula yang bisa menikmati cemilan ketika dia tengah diinterogasi.
“Kami baik-baik saja.” Jawab Zura berusaha tetap santai.
“Kau pikir aku akan percaya?”
“Bukankah kamu juga melihatnya? Kami baik-baik saja.”
“Maka seorang Saffir Azura takkan bermalam di rumah ku dengan wajah pucat. Apa kamu pikir aku sudah pikun? Aku masih ingat percakapan kita kembari saat kamu ke rumah ku.”
Zura menggeram kecil.
“Kami memang sudah baik-baik saja sekarang. Bukankah wajar jika sepasang kekasih atau suami istri bertengkar?”
“Baiklah. Lalu, masalah apa yang kemarin menimpa kalian?”
Pertanyaan jebakan yang menyebalkan. Luci selalu pandai bersilat lidah saat berhadapan dengan Zura.
“Apakah tak masalah membahas itu? bukankah itu privasi?” tanya Selen.
Luci yang mendengarnya berkedip sesaat. Memang benar apa yang dikatakan oleh Selen.
“Huuuft.. baiklah. Ku rasa aku memang sedikit kelewatan.”
Zura sedikit terkejut melihat Luci mudah menyerah. Terlalu mudah malah. Meski wajah sahabatnya sekarang tampak sangat masam dan gelap karena mati-matian menahan rasa penasaran.
“Memang benar, ini privasi. Namun, ku rasa bukan masalah besar membaginya. Setidaknya, karena aku percaya pada kalian.” Ucap Zura kemudian. Manik Luci berbinar membesar.
“Sungguh??” tanya Luci memastikan.
“Ya. Lagipula, ku rasa aku akan membutuhkan bantuan masukan.”
“Jadi, apa terjadi masalah dalam hubungan kakak dengan kak Aiden?” tanya Selen.
“Kamu penasaran juga huh?!” sindir Luci. Selen hanya mengangkat bahu dengan acuh.
“Tidak ada hubungan yang sempurna dan tanpa masalah, Selen..” ujar Zura sembari menatap adiknya itu. Zura lantas melirik sekilas ke arah para pria yang notabenenya dekat dengan Aiden. Mereka bertiga tampak acuh dan tak peduli. Melihat itu, Zura tak ragu lagi berbagi kisah dengan sahabat dan adiknya.
“Bagaimana aku memulainya ya.. intinya, em.."
Semua orang masih diam menunggu, membuat Zura mendengus kasar. Benar-benar sulit mengatakan apa yang terjadi antara dia dan Aiden.
"Aiden bercinta dengan wanita lain.”
“What!!!”
“Apaaa?!!!”
Selen dan Luci berseru bersama. Wajah mereka jelas shock berat.
“Daamn!! Pernikahan kalian bahkan belum satu bulan!” mata Luci berkilat penuh kemarahan.
“Ja- jadi kak Aiden sungguh berkhianaat??” wajah Selen malah tampak sedih. Entah sedang kasihan, tak percaya, atau apa. Selen memang sedikit tahu mengenai masalah ini saat insiden ayahnya yang marah besar. Tapi dia tak tahu banyak, hanya sekilas.
“Aiden tidak berkhianat. Em.. lebih tepatnya, tidak sengaja.”
“Mana ada tak sengaja?!!” geram Luci.
__ADS_1
“Dengarkan aku dulu, Luci..” Zura menenangkan. Luci mendengus kesal, namun gadis itu diam dan tak lagi berkeluh kesah.
“Aku belum mendengar ceritanya dengan jelas. Hanya saja, Aiden saat itu mabuk dan mungkin melakukan kesalahan dengan seorang wanita asing. Aiden merasa sangat bersalah sehingga dia tak pulang ke rumah.”
“Tentu saja!!” Teriak Luci, bahkan tangannya menggebrak meja. Jika Aiden tak merasa bersalah, Luci pasti akan mencincang laki-laki itu sekarang juga. Persetan dengan perasaan Zura ataupun masa depannya.
“Luci..” Zura lagi-lagi berusaha menenangkan sahabatnya.
“Baiklah, aku akan diam dan mendengarkan.” Lirih Luci kemudian. Dia tahu, jika sekarang dia terlalu terbawa emosi, Zura malah nanti enggan melanjutkan ceritanya.
“Aiden merasa sangat bersalah dan bimbang. Lagipula, kami sudah berjanji jika salah satu berkhianat atau berselingkuh, pihak lain boleh mengajukan cerai. Paman yang membuatku tahu kabar ini juga marah besar. Dia ingin aku dan Aiden bercerai.”
“Lalu??” tanya Luci, tak sabar mendengar kelanjutannya.
Selen lebih banyak diam. Dia di sana saat Zura dan ayahnya bertengkar hebat.
“Aku menolak usul itu. Saat itu, aku belum tahu kebenarannya. Aku juga tak bisa menghubungi Aiden. Pernikahan kami bahkan baru berlangsung seminggu lebih. Dan juga, terlalu cepat jika kita bercerai bukan? Sudah pasti masalah akan datang dalam sebuah pernikahan. Aku tidak ingin menyerah begitu saja.”
“Jadi kakak baikan?” tanya Selen kemudian. Setelah pertemuan mereka saat Andhika Ansana meminta Zura bercerai dengan Aiden, Selen tidak tahu kelanjutannya. Dia hanya tahu bahwa Zura meminta Andhika Ansana membiarkannya mengambil pilihan dan keputusannya sendiri.
“Aku berniat mendatangi Aiden dan bertanya tentang kebenarannya. Saat aku menghubungi Aiden, Ken yang menjawabnya dan mengatakan Aiden tengah berada di VCB dalam kondisi mabuk berat. Jadi, aku mengunjunginya karena khawatir. Aku juga takut ada pihak tertentu yang memanfaatkan Aiden yang tengah sendirian.”
“Lalu??” tanya Selen, giliran gadis itu yang mencecar tak sabar.
“Ehm.. Intinya, karena mabuk, kami bercinta. Lalu Aiden merasa semakin bersalah karena berpikir dia melecehkan ku.”
“Lalu bajingan itu mengusir mu?” tanya Luci, berspekulasi dengan pikiran liarnya.
“Tidak Luci.. Aiden merasa bersalah. Kami bertengkar dan saling diam. dan karena aku butuh pelarian, aku ke rumahmu.”
“Lalu bagaimana kalian bisa kembali bersama?” tanya Selen.
Luci dan Selen saling menghembuskan nafas dengan kasar.
“Zura, apa aku boleh bertanya?” Sela Ken. Padahal laki-laki itu sejak tadi diam dan acuh. Heris dan Helios juga termyata mendengarkan percakapan dengan seksama.
“Tentu.” Jawab Zura. Lagipula, tiga laki-laki itu juga sebelumnya memang sudah mendengar percakapan Aiden dengan Zura melalui alat penyadap.
“Apa yang membuatmu mempertimbangkan Aiden? Maksudku, aku tahu kamu orang yang sangat tegas dalam hal seperti ini.” Ujar Ken. Luci dan Selen yang mendengarnya ikut menganggukkan kepala setuju. Heris dan Helios hanya diam, meski mereka tak melewatkan pembicaraan itu barang sedetik.
“Aku tak setegas itu sebenarnya. Meski memang benar, aku cukup keras kepala dengan pemikiranku sendiri. Saat berada di VCB, aku sempat memikirkan tentang perceraian. Kami adalah suami istri, jadi aku melakukan percin— Ehem.. maaf, rasanya membahas itu sedikit memalukan.”
“Tidak masalah. Tidak akan ada yang berpikir tentang hal itu. Kami sangat penasaran sekarang, Zura!!” Luci mengerjap dengan binar mata yang menyala.
“Em.. Yah, saat kami bercinta, aku tak merasa terpaksa. Maksudku, Aiden memang sedang mabuk. Dan kondisinya saat itu sangat buruk. Ia tampak tak tidur berhari-hari dan tersiksa. Aiden merasa jauh lebih tersiksa daripada aku. Lalu saat dia melihatku, kami bercinta. Aiden bersikap sedikit kasar. Karena itu ku pikir hubungan kami hanya akan semakin buruk. Aku mempertimbangkan untuk menceraikan Aiden.”
Semua orang diam. menunggu. Mereka tak berniat menyela cerita Zura. Lagipula, menceritakan hal semacam ini pasti sangat sulit bagi seorang Zura.
“Aku mempertimbangkan untuk menceraikan Aiden. Tapi pada akhir percintaan kami yang.. sedikit buruk itu, Aiden menangis. Entahlah.. hanya saja, aku merasakan sedikit kesungguhan Aiden di sana. Dia tak menganggap pernikahan kami sebatas permainan. Jadi, aku merasa aku juga harus sedikit berjuang dan berlapang dada.”
“Tidak ada hal yang sempurna di dunia ini. Aku, Aiden, atau pernikahan kami. Sejak awal, aku selalu mengingat baik-baik fakta itu.”
...**...
“Apa ibu juga tahu?” tanya Aiden, dijawab dengan gelengan pelan oleh Varlos.
“Tidak. Bukankah kamu ingin memberi tahu sendiri?”
Aiden diam sejenak.
__ADS_1
“Ya. Tapi tidak sekarang.” Jawabnya kemudian.
Varlos lantas menatap semua orang satu per satu.
“Bisakah kalian ke bangsal vvip di kamar sebelah? Aku sudah memesannya. Aku ingin berbincang berdua dengan Aiden.” Pinta Varlos.
Semua orang hanya bisa mengangguk setuju. Keluar dari ruangan itu dan pindah ke ruang sebelah.
Kini tersisa Varlos dan Aiden. Melihat adiknya yang masih termenung, Varlos merasa sedikit iba dan khawatir. Varlos mengenal Aiden dengan sangat baik. Tidak ada yang mengenal Aiden lebih baik daripada Varlos. Dan jawaban Aiden sebelumnya membuat Varlos bertanya-tanya.
“Kamu tak berniat memberi tahu ibu mengenai pernikahan kalian?” tanya Varlos setelah beberapa saat ditinggal berdua. Hanya ada dia dan Aiden dalam ruangan itu.
“Kakak mendengar semuanya, bukan?” tanya Aiden balik.
Saat ia melihat alat penyadap yang terpasang itu, Aiden langsung tahu Ken yang memasangnya. Dan orang lain yang terlibat pastinya Varlos, sang kakak. Ken pasti mendapat alat itu dari Varlos. Aiden yakin mengenai itu 100%. Karena itu pula Aiden membiarkan alat itu dan Varlos mendengar percakapan mereka sampai akhir. Yang akhirnya tetap terpotong oleh kedatangan para wartawan.
“Kamu bilang gadis yang bermalam denganmu saat itu masih virgin?” Varlos juga balik bertanya.
“Ya.” Balas Aiden singkat.
“Bagaimana bisa kamu melakukan kesalahan fatal ini, Aiden?” tanya Varlos lagi. Kesalahan Aiden kali ini memang sudah fatal. Ia mengambil kesucian seorang gadis, tapi setelah menikah. Dan dalam kondisi mabuk pula.
“Aku tak tahu.”
“Apa maksudnya tak tahu? kamu ingin lari dari tanggung jawab?”
“Tidak, kak. Aku sungguh tak tahu. Ini pertama kalinya aku tak mengingat apa pun setelah bercinta dengan wanita. Apalagi wanita itu masih virgin. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi malam itu, tapi aku tak berhasil. Aku masuk ke dalam kamar dan pingsan di depan pintu. Hanya sampai situ aku mengingatkanya. Aku benar-benar tak tahu apa yang terjadi malam itu.”
“Maksudmu, bisa jadi kamu dijebak?”
“Entahlah. aku tak ingin membela diri. Nyatanya, pagi itu aku dan dia tak berbuasana. Dan jejak percintaan kami terukir di seluruh tubuhku. Aku sangat.. sangat…” Aiden diam, memejamkan matanya dengan erat.
Varlos pun menghela nafasnya dan mulai membelai rambut adiknya.
Baru kali ini, ia melihat sang adik sangat frustasi karena masalah wanita.
“Zura telah memaafkanmu bukan?” hibur Varlos. Jujur saja, melihat tingkah Aiden sekarang membuatnya merasa iba, terharu, namun juga lucu.
“Jangan bersikap kekanakan dan manja, aku sangat terkejut melihatmu seperti ini.” Gurau Varlos. Kedua laki-laki itu terkekeh ringan, namun hanya sebentar. Aiden kembali memasang wajah sedihnya.
“Aku takut wanita itu hamil dan tiba-tiba datang, kak. Aku.. tak bisa melepaskan tanggung jawab itu bukan?” Ucap Aiden sedikit terbata.
Varlos kembali menghela nafasnya.
“Karena kamu tidak mengingat apa pun malam itu?”
“Ya. Tak mungkin aku membawa pengaman dalam acara itu, aku juga sudah menikah. Artinya, jelas mustahil aku menggunakan pengaman jika aku dan dia benar-benar bercinta.”
“Karena itu juga kamu tak berniat mengenalkan Zura pada ibu?”
Aiden diam sejenak.
“Ya. Aku takut.. aku hanya.. takut. Zura pasti akan menyuruhku bertanggung jawab atas wanita itu. Dan aku juga tak mungkin menelantarkan darah dagingku sendiri. Tapi.. entah lah. Aku sendiri tak tahu apa yang ku rasakan.” Lirih Aiden.
“Kalau begitu sudahlah, tak apa. Fokus saja lebih dulu mengenai kesehatanmu. Kita akan memikirkannya lagi nanti. Aku juga akan mencarikan orang-orang terbaik untuk mengurus masalahmu saat ini. Selama pemberitaan itu tak benar, kamu tak perlu khawatir.”
“Terimakasih, kakak. Sungguh, aku sangat berterimakasih atas semua yang kakak lakukan untukku selama ini.”
...**...
__ADS_1