
Aiden berdiri dengan kaku.
'Ugh..' Aiden mengeluh dalam hati. Ia tahu bahwa bagaimanapun dia harus minta maaf, tapi tak mungkin dia dimaafkan semudah itu bukan? Suasana mereka semakin canggung dan itu membuat Aiden frustasi.
“Ughh.. yah.. aku..”
Aiden yang tergagap kembali menelan ludah. Dia menatap Zura, yang diam dengan tatapan datar dan saru alis terangkat.
'Sudah bagus kita menikah. Apakah Zura marah? Sakit hati? Trauma gara-gara kejadian semalam? Bagaimana jika dia meminta cerai?'
'Argh.. Sial. lupakan itu.'
Pikiran Aiden kusut. Namun dia menyimpulkan satu hal. Aiden harus meminta maaf, itu yang paling penting sekarang.
“Aku.. maaf..” ucap Aiden lirih.
Aiden bahkan tak bisa mengatakannya dengan baik. Ia menatap Zura dengan hati-hati. Dan gadis itu masih tampak bertanya-tanya.
'Maaf?? Ah. Apa Aiden merasa bersalah? Sungguh??'
“Apa kamu sedang meminta maaf karena bersikap kasar semalam?” tanya Zura.
“Yah.. aku..” Aiden tergagap
Aiden lantas diam, menelan ludahnya.
"Maaf.. sungguh.. Jika.."
"Tidak, ini salahku." Aiden pasrah. Dia tak ingin membela diri.
'Sial. Awas saja jika Zura berani meminta cerai. Aku tidak akan pernah membiarkannya.' Aiden mengacak rambut belakangnya pelan. Dia mendengus kesal. Zura melihat tingkah Aiden dengan rasa tak percaya.
__ADS_1
“Pffft.. Haha..” Zura akhirnya tertawa renyah.
Lucu sekali melihat Aiden yang biasanya angkuh kini tengah meminta maaf. Seorang raja aktor yang sangat mendominasi dan ditakuti, sekarang sedang merasa bersalah.
Aiden mendongak, menatap Zura dengan bingung. 'Kenapa malah tertawa?'
Zura yang melihat ekspresi Aiden menahan tawanya dan bersikap seolah mengabaikan laki-laki itu. Dia berjalan anggun menuju ke atas kasur, lantas duduk meminum air di tangannya dengan elegan.
“Jadi, apa aku terlalu membosankan sehingga sang penggila ranjang ini tak merasa puas?” tanya Zura, ia menatap Aiden dengan senyum jahil dan satu alis terangkat.
Untuk sejenak Aiden diam. Dia lagi-lagi terpesona pada gadis itu. Zura seolah sama sekali tak marah padanya.
Aiden pun tersenyum kecil. Ia lantas mendekat dan duduk di samping Zura. Tatapan mereka saling beradu.
“Omong kosong apa itu? Justru sebaliknya. Kamu terlalu seksi, menggoda, dan memberikan sensasi nikmat luar biasa sampai aku tak bisa menahan diri dan bersikap kasar.” Aiden terkekeh kecil, dan Zura hanya menatapnya lekat dengan wajah yang sedikit merona.
“… Ooh, ba-baguslah. Tapi, kamu memang sangat kasar dan keterlaluan, dan aku sangat menderita karena itu.”
“Ugh.. aku sungguh minta maaf. Dan juga, aku tak tahu itu --pertama kalinya untukmu. Harusnya kau mengatakannya.”
'Aiden tahu itu pertama kalinya untukku? Tapi bagaimana? Tak melihat ada noda darah di atas seprai. Apa karena Aiden memang sangat berpengalaman jadi dia bisa tahu?'
Zura sangat ingin kesal dan marah. Tapi dengan segera ia kembali menata pikiran konyolnya.
'Ayolah.. Jangan bersikap seperti perempuan yang sedang cemburu. Aiden akan salah paham dan besar kepala.'
Zura menatap Aiden.
"Apa akan berbeda jika aku mengatakannya?" tanya Zura kemudian, menepis otaknya yang mulai tak waras.
"Te-tentu aku akan lebih berhati-hati.." Jawab Aiden, sedikit meninggikan suara.
__ADS_1
“Um.. Terimakasih. bahkan jika aku mengatakannya, aku takut kamu akan menganggapku melakukan operasi, maksudku operasi untuk mengembalikan selaput keperawanan. Apa yang tidak mungkin di zaman ini?”
Itu memang salah satu alasan Zura. Namun, Zura sendiri merasa bimbang saat hendak mengucapkan hal itu pada Aiden. Dia tak ingin membebani Aiden. Dan dia juga merasa sedikit khawatir dengan tanggapan Aiden nantinya. Bagaimana jika seorang cassanova seperti Aiden enggan menyentuh perawan? Dunia ini aneh. Ada yang sangat bangga mengambil keperawanan seorang wanita. Ada pula laki-laki yang anti dan tidak doyan, menganggap wanita perawan itu kuno dan tak berpengalaman. Karena itulah Zura memutuskan untuk diam.
“Bahkan jika seluruh dunia tidak percaya, aku akan mempercayainya.” ucap Aiden dengan sebuah senyuman bangga yang menawan.
Zura menatap Aiden, matanya hampir tak berkedip. Hatinya sedikit mencelos mendengarnya. Ia merasa lega sekaligus sedih.
Perasaan aneh macam apa itu?
Aiden sudah berkali-kali mengajak Zura berkencan, tapi tak pernah sekalipun dia mengucapkan ungkapan cinta. Perilaku manis saat ini terasa mengganggu bagi Zura yang menjalani pernikahan terpaksa ini dengan tulus. Sebenarnya, hubungan apa yang mereka miliki satu sama lain?
Perasaan macam apa yang dimiliki Aiden untuknya? Zura merasa perasaannya begitu rumit. Jika Aiden menginginkannya, maka sekarang dia sudah menjadi milik Aiden. Mereka telah menikah. Jika Aiden ingin melakukan hubungan seksual, maka mereka telah melakukannya. Setelah semua itu, apakah sekarang masih ada yang Aiden inginkan darinya?
“Oh ya.. Bi Inah sudah datang di bawah. Apa kamu keberatan menyapanya? Dia yang mengurus rumah ini, tepatnya dia yang mengurus orang-orang yang bekerja di mansion. Aku memintanya datang sendiri untuk beberapa hari ini.” Ucap Aiden.
Aiden sengaja mengalihkan topik karena dia merasa situasinya aneh.
'Shitt!! Sebenarnya ada apa dengan diriku? Setiap kali berhubungan dengan Zura, aku mendadak menjadi pengecut, merasa gugup sendiri, dan terkadang malah bersikap berlebihan dan kasar seperti semalam.'
“Den..” ucap Zura lirih, memanggil laki-laki itu. Membuat Aiden sedikit terperanjat dan berdebar entah untuk alasan apa.
“Hm?” Aiden menatap Zura lekat dengan ekspresi bertanya.
“Apa kamu tahu alasanku selalu menolak dan membangun perisai di sekitarmu? Tidak mungkin aku melakukannya tanpa alasan bukan?”
Deg!!
Aiden terkesiap. Dia tak menyangka Zura akan membahas hal semacam ini. Alasan? Apakah ada sesuatu seperti itu? Aiden tak pernah benar-benar memikirkannya. Dia hanya selalu ingin menghabiskan malam pasan dengan gadis itu. Dan selalu kesal setiap kali Zura dengan tegas dan teguh menolaknya.
“Karena aku kurang ajar? Playboy? Maniak ranjang? Tak bermoral?” tanya Aiden memberikan beberapa opsi yang terpikirkan, dia tak tahu alasannya.
__ADS_1
Zura tertawa kecil. Lucu rasanya melihat Aiden mengakui semua itu dengan mulutnya sendiri. Dia lantas menatap Aiden tepat pada kedua manik matanya.
"Karena laki-laki itu kamu."